MasukPagi itu, Aruna duduk di mejanya seperti biasa. Rambut rapi. Wajah tenang. Tidak ada sisa ketegangan dari hari sebelumnya.
Ravian datang tepat pukul tujuh tiga puluh. “Kopi.” Aruna menyiapkan kopi seperti biasa. Hitam. Tanpa gula. Tanpa krim. Namun kali ini, ia menaruhnya dengan jarak lima sentimeter lebih ke kiri dari biasanya. Hanya itu. Ravian duduk. Membuka laptop. Tangannya bergerak refleks ke kanan namun ia merasa sedikit kosong. Ia pun berhenti. Matanya turun ke meja. Kopi itu ada di sana hanya tidak di tempat yang tidak biasanya. “Kau memindahkannya,” kata Ravian datar. “Apanya, Pak?” tanya Aruna tanpa mengangkat kepala. “Kopinya.” “Oh,” Aruna menoleh sekilas. “Maaf. Tadi meja Anda dipakai staf IT. Saya geser sedikit.” Hening. Ravian menatap cangkir itu beberapa detik lebih lama dari wajar. Lalu ia mengambilnya. “Jangan ulangi.” “Baik, Pak.” Nada Aruna patuh. Sempurna. Namun di dalam kepalanya, satu kalimat terpatri: Kontrolmu bergantung pada kebiasaan. Dan kebiasaan… bisa digeser. Siang hari, Aruna melakukan hal kedua. Ia menjadwalkan ulang satu panggilan penting yang mana bukan dibatalkan, bukan juga dipercepat, hanya dipindah sepuluh menit lebih lambat. Cukup untuk membuat Ravian harus menunggu. “Kenapa mereka belum masuk?” tanya Ravian. “Sedang dalam perjalanan, Pak,” jawab Aruna tenang. “Perkiraan saya… sepuluh menit.” “Perkiraan?” “Ya.” Nada itu membuat Ravian menoleh. “Kau biasanya tidak memakai kata itu.” Aruna mengangkat bahu kecil. “Kadang perkiraan lebih jujur daripada janji.” Ravian tidak menjawab. Namun jarinya mengetuk meja sekali. Satu ketukan. Aruna melihatnya. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak menunduk. Sore hari, saat Ravian berdiri terlalu lama di dekat jendela,Aruna tidak langsung menegur. Biasanya ia akan bertanya, “Pak, apakah Anda baik-baik saja?” Hari ini, tidak. Ia menunggu. Detik berlalu lebih lama. Napas Ravian terdengar lebih berat. Akhirnya Ravian sendiri yang berkata, “Kenapa kau diam?” Aruna baru mengangkat kepala. “Anda tidak memanggil saya.” Tatapan Ravian tajam. “Kau sengaja.” “Saya hanya menyesuaikan kondisi,” jawab Aruna lembut. Hening. Itu bukan pelanggaran besar, bukan pula kesalahan. Tapi Ravian merasakannya. Karena untuk pertama kalinya, Aruna tidak mengisi ruang kosong yang biasanya ia isi dengan kurang ajar selama beberapa minggu ini. Malam itu, Ravian keluar lebih lambat. “Kenapa kau tiba-tiba berubah?” tanyanya tiba-tiba. “Dalam hal apa, Pak?” “Kau tidak lagi berusaha membuat segalanya nyaman.” Aruna mengemasi tasnya perlahan. “Saya tidak tahu bahwa ada hal seperti itu pak. Saya akan memperbaikinya." Ravian menatapnya lama. “Kau marah padaku?” Aruna berhenti. Apa yang pria ini tanyakan padanya? Memangnya dia pikir Aruna adalah kekasihnya? Ini momen berbahaya. “Tidak,” jawabnya jujur. “Saya hanya berhenti melindungi Anda dari ketidaknyamanan kecil.” Ravian tersenyum tipis. Bukan senyum puas. Senyum orang yang menyadari sesuatu sedang bergeser. “Berbahaya,” katanya. Aruna menatap balik. “Bagi siapa?” Ravian tidak menjawab. Saat Aruna keluar gedung, jantungnya berdetak keras. Tangannya gemetar sedikit, balas dendam itu kecil. Hampir tidak terlihat. Tapi Aruna tahu satu hal. Ia baru saja membuktikan bahwa Ravian Elarion bisa terganggu dengan kebiasaan kecil yang berubah. Dan jika seseorang bisa diganggu, maka suatu hari nanti ia bisa mudah kehilangan kendali. *** Bangunan-bangunan tinggi yang dilaluinya pada malam hari tidak ia perhatikan lagi seperti biasanya. Sepertinya Ravian benar-benar terganggu dengan sedikit perubahan kecil tersebut. Biasanya sekretarisnya itu akan bertindak kecil sedikit kurang kurang ajar namun tak melebihi batasan, dingin namun tetap mengisi sisinya yang terasa kosong. "Sepertinya dia jadi salah paham karena ku traktir kemarin," gumam penguasa Elarion itu. Padahal niat dia kemarin hanya agar perempuan itu jadi lebih lama bertahan disekitarnya. Tidak semua orang dapat bertahan selama Aruna di posisi tersebut sejauh ini. Dan ia juga merasa kepribadian mereka mirip. Sehingga Ravian berpikir untuk melakukan sesuatu agar perempuan itu berada setidaknya 1 tahun di posisi tersebut. "Tuan, anda menerima telfon." Ucap sang supir, menyadarkan Ravian dari lamunannya. Pria itu pun mengalihkan pandangannya ke arah handphone yang ia biarkan tergeletak disampingnya. Sepertinya ia benar-benar melamun hingga tak menyadari bunyi telfon tersebut. Awalnya ia penasaran siapa yang menelfon, namun saat melihat nama yang tertera dilayar, Ravian pun meletakkan kembali handphonenya dengan malas. Ia tak berniat mengangkat telfon itu, karena nama yang tertera bertuliskan nama Helena. "Lebih cepat lagi agar sampai ke kediaman, setelah sampai, beritahu semua keamanan untuk mengunci kediaman dengan rapat, tidak usah berjaga diluar untuk malam ini. Tutup semuanya hingga tak ada celah bagi semut masuk." "Baik, Tuan." Mobil mewah itu pun memacu kecepatan penuh di jalanan raya sesuai perintahnya. 'Menyebalkan,' batin Ravian kembali melihat keluar jendela mobil.Pintu kaca gedung terbuka otomatis saat mereka mendekat.Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut.Lobi J Corps terlihat mewah, tapi dengan gaya yang berbeda dari Elion.Bukan elegan.Lebih ke… mencolok.Terlalu banyak marmer.Terlalu banyak emas.Terlalu banyak hal yang seolah ingin berkata “kami kaya”.Aruna berjalan setengah langkah di belakang Ravian seperti biasa.Pegawai di lobi yang melihat kedatangan Ravian segera berlari kecil menghampiri. "Selamat datang Pak Ravian Elarion, saya akan memandu anda ke ruangan."Ravian tidak membalas apapun, namun pegawai itu langsung menuntunnya dan Ravian juga langsung mengikuti dari belakang. Aruna mengikuti di belakang Ravian, matanya menyapu lorong panjang yang dipenuhi lukisan besar dan lampu gantung berlebihan.Semakin masuk ke dalam, suasananya semakin sunyi.Hingga akhirnya mereka berdiri di depan pintu ruangan yang begitu besar dan mewah. 'Sepertinya CEO perusahaan ini benar-benar ingin menunjukkan kalau dia kaya.' Ba
Aruna keluar dari apartemen Vio dengan langkah pelan.Lorong apartemen sunyi.Hanya suara langkahnya sendiri yang terdengar.Pukul sudah lewat tengah malam.Udara terasa lebih dingin dari biasanya.Ia menekan tombol lift tanpa benar-benar sadar.Pikirannya masih tertinggal di ruang tamu tadi.Di kata-kata Vio.Di foto dokter.Dan entah kenapa… di senyum Ravian sore tadi.Pintu lift terbuka.Aruna masuk.Bersandar di dinding.Menatap pantulan dirinya di cermin.Wajahnya terlihat lelah.Bukan karena pekerjaan.Tapi karena pikirannya yang tak berhenti berjalan."Aku harus segera pulang, besok masih banyak yang harus dilakukan."Termasuk untuk mencari tahu, apakah dokter itu sungguhan dokter Ravian. Pintu lift terbuka di lantai parkir.Langkahnya kembali terdengar pelan di ruangan luas itu.Mobilnya menyala dengan bunyi halus.Ia keluar dari area apartemen dan menyusuri jalanan kota yang hampir kosong.Lampu-lampu jalan memanjang seperti garis tak berujung di depan matanya.Sepanjang per
Bel pintu restoran berdenting pelan saat Aruna masuk.Aroma makanan hangat menyambut.Tempat itu sama seperti biasa.Tenang.Akrab.Dan terasa nyaman.Vio sudah duduk di meja pojok.Topi hitamnya masih terpasang, dan ekspresinya selalu santai seperti biasanya. Ia langsung berdiri begitu Aruna mendekat.“Kau lama sekali.”“Aku dari luar kantor.”"Sepertinya kau bekerja keras setiap harinya." Vio kembali duduk setelah membantu menarik kursi untuk Aruna duduk. "Ya, begitulah." Ia tak akan bilang bahwa ia selesai menghabiskan waktu dengan es krim dan wahana permainan. "Jadi, hal penting apa yang ingin kau tunjukkan padaku?" tanya Aruna dengan cepat, sebelum Vio mulai menanyainya apa saja yang ia lakukan hari ini. "Ah benar," Vio segera mengeluarkan tabletnya dan meletakkan di atas meja. "Aku menemukan hal baru," ia menggeser layar-layar tabletnya dan membuka ke aplikasi Galeri. Aruna bisa menebak bahwa hal penting ini berupa gambar. Dan saat Vio tengah mencari-cari gambar untuk dit
Kabin bianglala berhenti beberapa detik di puncak.Tidak bergerak.Seolah sengaja memberi waktu lebih lama pada pemandangan itu.Dan pada mereka.Lampu kota di bawah sudah menyala penuh.Langit tinggal menyisakan garis oranye tipis di ujung barat.Ravian tidak mengalihkan pandangannya dari Aruna.“Aneh ya,” ucapnya pelan.“Apa, Pak?”“Aku merasa hari ini kau yang membawaku keluar… tapi entah kenapa rasanya seperti aku yang sedang melihatmu keluar dari sesuatu.”Aruna terdiam.Kalimat itu terasa terlalu dekat.Terlalu tepat.Ravian menyandarkan kepalanya ke kaca.“Sejak tadi, kau terlihat seperti orang yang sedang berpikir keras. Bukan tentang pekerjaanku. Tapi tentang dirimu sendiri.”Aruna refleks mengalihkan pandangan.Ke luar.Ke kota.Ke mana saja asal bukan ke pria di depannya.Bianglala mulai bergerak turun perlahan.Suara wahana mulai terdengar lagi dari bawah.Aruna akhirnya menoleh.Menatap Ravian dengan sorot yang sulit dijelaskan."Apakah anda ingin kembali bekerja lembur?"
Mereka berjalan pelan menjauh dari area rollercoaster.Langkah Ravian masih sedikit tidak stabil.Bukan karena lemah.Tapi karena tubuhnya masih mencoba mengejar napas yang tadi sempat tertinggal di tikungan-tikungan tajam itu.Aruna berjalan di sampingnya tanpa bicara.Sesekali melirik.Memastikan pria itu benar-benar masih “di sini”.Bukan kembali tenggelam ke dalam pikirannya sendiri.Mereka berhenti di dekat bangku panjang di bawah pohon besar, agak jauh dari keramaian.Ravian duduk lebih dulu.Mengusap wajahnya pelan.Lalu tertawa kecil lagi.Pendek.Ringan.Seolah ia sendiri heran kenapa bisa tertawa hari ini.“Aku tidak ingat kapan terakhir kali jantungku berdetak karena hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaan,” ucapnya pelan.Aruna ikut duduk.“Berarti terapi kejut saya berhasil, Pak.”Ravian menoleh.Menatap Aruna beberapa detik lebih lama dari biasanya.Tatapan yang tidak tajam.Tidak menilai.Hanya… melihat.“Kau tahu kenapa aku tadi ikut saja waktu kau menarikku ke sin
Aruna mengedip pelan.“…Es krim, Pak?”Ravian sudah mengambil jasnya dari sandaran kursi.“Sekarang.”Tanpa Aruna sempat berpikir lama, mereka berdua sudah berada di dalam Super Mart yang hanya berjarak 7 menit jika berjalan kaki dari Elion Group. Aruna sesekali melirik ke arah pria yang duduk di sampingnya ini. Ia tak menyangka rupanya ia juga bisa makan es krim? Aruna pikir dinginnya sifat Ravian itu sudah tak memerlukan es krim lagi. Mereka duduk tepat menghadap ke jalanan, menatap orang berlalu-lalang dengan es krim di tangan masing-masing. Ravian membuka tutup cup es krimnya pelan.Tidak langsung makan.Ia hanya menatap permukaannya beberapa detik.Putih.Tenang.Rapi.Seperti tidak pernah disentuh.Baru setelah itu ia menyendok sedikit dan memasukkannya ke mulut.Aruna memperhatikannya diam-diam.Aneh.Pria yang biasanya tidak pernah terlihat “berhenti” ini… sekarang terlihat seperti sedang berhenti dari semuanya.Tidak ada dokumen, tidak ada telepon, tidak ada ekspresi tega







