Home / Romansa / Dibalik Dendam Sekretaris / 6. Memberi sedikit retakan

Share

6. Memberi sedikit retakan

Author: Pena Random
last update Huling Na-update: 2026-01-15 17:09:29

Pagi itu, Aruna duduk di mejanya seperti biasa. Rambut rapi. Wajah tenang. Tidak ada sisa ketegangan dari hari sebelumnya.

Ravian datang tepat pukul tujuh tiga puluh.

“Kopi.”

Aruna menyiapkan kopi seperti biasa. Hitam. Tanpa gula. Tanpa krim.

Namun kali ini, ia menaruhnya dengan jarak lima sentimeter lebih ke kiri dari biasanya.

Hanya itu.

Ravian duduk. Membuka laptop. Tangannya bergerak refleks ke kanan namun ia merasa sedikit kosong.

Ia pun berhenti.

Matanya turun ke meja. Kopi itu ada di sana hanya tidak di tempat yang tidak biasanya.

“Kau memindahkannya,” kata Ravian datar.

“Apanya, Pak?” tanya Aruna tanpa mengangkat kepala.

“Kopinya.”

“Oh,” Aruna menoleh sekilas. “Maaf. Tadi meja Anda dipakai staf IT. Saya geser sedikit.”

Hening.

Ravian menatap cangkir itu beberapa detik lebih lama dari wajar.

Lalu ia mengambilnya.

“Jangan ulangi.”

“Baik, Pak.”

Nada Aruna patuh. Sempurna.

Namun di dalam kepalanya, satu kalimat terpatri:

Kontrolmu bergantung pada kebiasaan. Dan kebiasaan… bisa digeser.

Siang hari, Aruna melakukan hal kedua.

Ia menjadwalkan ulang satu panggilan penting yang mana bukan dibatalkan, bukan juga dipercepat, hanya dipindah sepuluh menit lebih lambat.

Cukup untuk membuat Ravian harus menunggu.

“Kenapa mereka belum masuk?” tanya Ravian.

“Sedang dalam perjalanan, Pak,” jawab Aruna tenang.

“Perkiraan saya… sepuluh menit.”

“Perkiraan?”

“Ya.”

Nada itu membuat Ravian menoleh.

“Kau biasanya tidak memakai kata itu.”

Aruna mengangkat bahu kecil. “Kadang perkiraan lebih jujur daripada janji.”

Ravian tidak menjawab. Namun jarinya mengetuk meja sekali.

Satu ketukan.

Aruna melihatnya.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak menunduk.

Sore hari, saat Ravian berdiri terlalu lama di dekat jendela,Aruna tidak langsung menegur.

Biasanya ia akan bertanya, “Pak, apakah Anda baik-baik saja?”

Hari ini, tidak.

Ia menunggu.

Detik berlalu lebih lama.

Napas Ravian terdengar lebih berat.

Akhirnya Ravian sendiri yang berkata,

“Kenapa kau diam?”

Aruna baru mengangkat kepala. “Anda tidak memanggil saya.”

Tatapan Ravian tajam.

“Kau sengaja.”

“Saya hanya menyesuaikan kondisi,” jawab Aruna lembut.

Hening.

Itu bukan pelanggaran besar, bukan pula kesalahan.

Tapi Ravian merasakannya.

Karena untuk pertama kalinya, Aruna tidak mengisi ruang kosong yang biasanya ia isi dengan kurang ajar selama beberapa minggu ini.

Malam itu, Ravian keluar lebih lambat.

“Kenapa kau tiba-tiba berubah?” tanyanya tiba-tiba.

“Dalam hal apa, Pak?”

“Kau tidak lagi berusaha membuat segalanya nyaman.”

Aruna mengemasi tasnya perlahan.

“Saya tidak tahu bahwa ada hal seperti itu pak. Saya akan memperbaikinya."

Ravian menatapnya lama.

“Kau marah padaku?”

Aruna berhenti. Apa yang pria ini tanyakan padanya? Memangnya dia pikir Aruna adalah kekasihnya?

Ini momen berbahaya.

“Tidak,” jawabnya jujur.

“Saya hanya berhenti melindungi Anda dari ketidaknyamanan kecil.”

Ravian tersenyum tipis.

Bukan senyum puas.

Senyum orang yang menyadari sesuatu sedang bergeser.

“Berbahaya,” katanya.

Aruna menatap balik.

“Bagi siapa?”

Ravian tidak menjawab.

Saat Aruna keluar gedung, jantungnya berdetak keras.

Tangannya gemetar sedikit, balas dendam itu kecil. Hampir tidak terlihat. Tapi Aruna tahu satu hal.

Ia baru saja membuktikan bahwa Ravian Elarion bisa terganggu dengan kebiasaan kecil yang berubah.

Dan jika seseorang bisa diganggu, maka suatu hari nanti ia bisa mudah kehilangan kendali.

***

Bangunan-bangunan tinggi yang dilaluinya pada malam hari tidak ia perhatikan lagi seperti biasanya.

Sepertinya Ravian benar-benar terganggu dengan sedikit perubahan kecil tersebut. Biasanya sekretarisnya itu akan bertindak kecil sedikit kurang kurang ajar namun tak melebihi batasan, dingin namun tetap mengisi sisinya yang terasa kosong.

"Sepertinya dia jadi salah paham karena ku traktir kemarin," gumam penguasa Elarion itu.

Padahal niat dia kemarin hanya agar perempuan itu jadi lebih lama bertahan disekitarnya. Tidak semua orang dapat bertahan selama Aruna di posisi tersebut sejauh ini.

Dan ia juga merasa kepribadian mereka mirip. Sehingga Ravian berpikir untuk melakukan sesuatu agar perempuan itu berada setidaknya 1 tahun di posisi tersebut.

"Tuan, anda menerima telfon." Ucap sang supir, menyadarkan Ravian dari lamunannya.

Pria itu pun mengalihkan pandangannya ke arah handphone yang ia biarkan tergeletak disampingnya.

Sepertinya ia benar-benar melamun hingga tak menyadari bunyi telfon tersebut.

Awalnya ia penasaran siapa yang menelfon, namun saat melihat nama yang tertera dilayar, Ravian pun meletakkan kembali handphonenya dengan malas.

Ia tak berniat mengangkat telfon itu, karena nama yang tertera bertuliskan nama Helena.

"Lebih cepat lagi agar sampai ke kediaman, setelah sampai, beritahu semua keamanan untuk mengunci kediaman dengan rapat, tidak usah berjaga diluar untuk malam ini. Tutup semuanya hingga tak ada celah bagi semut masuk."

"Baik, Tuan."

Mobil mewah itu pun memacu kecepatan penuh di jalanan raya sesuai perintahnya.

'Menyebalkan,' batin Ravian kembali melihat keluar jendela mobil.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dibalik Dendam Sekretaris   7. Inikah Kelemahanmu?

    Malam itu, Aruna tidak langsung tidur.Ia duduk di tepi ranjang, sepatu sudah dilepas, rambut diurai seadanya. Lampu kamar menyala redup, hanya cukup untuk menerangi meja kecil di sudut ruangan.Tangannya masih sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang lebih mengganggu.Bukan menjatuhkan Ravian, bukan juga melukainya.Tapi berhasil membuatnya terasa.Perubahan lima sentimeter, sepuluh menit keterlambatan, keheningan yang biasanya ia isi kali ini dibiarkan kosong.Hal-hal kecil dan sepele namun cukup untuk menggeser keseimbangan seseorang yang hidup penuh kendali. Aruna menarik napas panjang.Selama tiga tahun terakhir, ia melatih dirinya untuk tidak bereaksi, untuk bertahan, untuk tidak runtuh ketika dunia bersikap kejam.Namun hari ini, untuk pertama kalinya, ia tidak hanya bertahan.Ia juga melawan dalam diam.Ia berdiri, berjalan ke jendela apartemennya. Lampu kota membentang seperti lautan cahaya. Hiruk pikuk yang terasa jauh dari hidupnya sendiri.“Aira…

  • Dibalik Dendam Sekretaris   6. Memberi sedikit retakan

    Pagi itu, Aruna duduk di mejanya seperti biasa. Rambut rapi. Wajah tenang. Tidak ada sisa ketegangan dari hari sebelumnya.Ravian datang tepat pukul tujuh tiga puluh.“Kopi.”Aruna menyiapkan kopi seperti biasa. Hitam. Tanpa gula. Tanpa krim.Namun kali ini, ia menaruhnya dengan jarak lima sentimeter lebih ke kiri dari biasanya.Hanya itu.Ravian duduk. Membuka laptop. Tangannya bergerak refleks ke kanan namun ia merasa sedikit kosong.Ia pun berhenti.Matanya turun ke meja. Kopi itu ada di sana hanya tidak di tempat yang tidak biasanya.“Kau memindahkannya,” kata Ravian datar.“Apanya, Pak?” tanya Aruna tanpa mengangkat kepala. “Kopinya.”“Oh,” Aruna menoleh sekilas. “Maaf. Tadi meja Anda dipakai staf IT. Saya geser sedikit.”Hening.Ravian menatap cangkir itu beberapa detik lebih lama dari wajar.Lalu ia mengambilnya.“Jangan ulangi.”“Baik, Pak.”Nada Aruna patuh. Sempurna.Namun di dalam kepalanya, satu kalimat terpatri:Kontrolmu bergantung pada kebiasaan. Dan kebiasaan… bisa di

  • Dibalik Dendam Sekretaris   5. Hari terberat

    Pertemuan kali ini diatur di luar kantor pusat. Sebuah rumah tua di pinggir kota. Halamannya luas, tapi kosong. Tidak ada papan nama. Tidak ada tetangga yang terlihat. Hanya suara angin dan daun kering.Aruna tahu satu hal sejak mobil berhenti, ini bukan tempat untuk diskusi bisnis biasa.“Masuk,” kata Ravian.Di ruang tamu, seorang pria menunggu.Tubuhnya kurus. Jasnya kusut. Wajahnya menyimpan kelelahan yang tidak bisa disamarkan. Di depannya, sebuah map cokelat sudah terbuka, seolah ia ingin memastikan isinya terlihat.“Pak Ravian,” ucap pria itu cepat, terlalu cepat.“Terima kasih sudah memberi saya kesempatan.”Ravian duduk tanpa menjawab. Aruna berdiri di sampingnya, tablet di tangan.“Kau tahu kenapa kau ada di sini,” kata Ravian akhirnya.Pria itu mengangguk. “Proyek pelabuhan… gagal. Saya bertanggung jawab penuh.”“Bukan gagal,” koreksi Ravian dingin. “Kau membuat Elion Group rugi besar.”Pria itu menunduk. Tangannya gemetar.“Saya tidak punya uang untuk mengganti semuanya,

  • Dibalik Dendam Sekretaris   4. Cara kerja bisnis

    Pagi itu, Aruna datang dengan satu kesimpulan baru: ia tidak boleh terlihat tahu apa pun.Ia masuk kantor seperti biasa. Wajah tenang.Langkah terukur. Tidak ada perubahan sikap, tidak ada perhatian berlebihan.Ravian sudah ada di ruangannya.Itu jarang terjadi.“Pagi, Pak,” sapa Aruna.“Kopi.”Nada yang sama. Dingin. Terkontrol.Aruna menyiapkan kopi hitam tanpa gula. Ia meletakkannya di tempat yang sama seperti kemarin.Ravian menyesapnya.“Rasa kopinya konsisten.”“Saya tidak mengubah apa pun.”“Bagus.”Pagi berjalan tanpa celah.Rapat demi rapat. Telepon masuk tanpa henti. Jadwal padat, ditekan, dipercepat.Ravian terlihat… terlalu stabil untuk orang yang kemarin terlihat begitu kelelahan. Itu justru yang membuat Aruna waspada.Menjelang siang, satu kesalahan kecil terjadi.Bukan kesalahan besar.Hanya satu dokumen yang seharusnya di meja Ravian, belum sampai.“Dokumen keuangan kuartal dua,” kata Ravian tanpa menoleh.Aruna membeku sepersekian detik.“Maaf, Pak. Lima menit.”Ia

  • Dibalik Dendam Sekretaris   3. Ritme

    Pagi itu dimulai lebih cepat dari yang Aruna perkirakan.Belum pukul tujuh, email di tablet kerjanya sudah berderet. Beberapa ditandai prioritas tinggi. Beberapa lain berisi perubahan jadwal yang datang terlalu dini untuk disebut wajar.Aruna baru saja duduk ketika pintu ruang CEO terbuka.“Kopi.”Satu kata. Nada datar.Aruna berdiri tanpa komentar. Lima menit kemudian, ia kembali dengan secangkir kopi hitam tanpa gula, tanpa krim. Ia meletakkannya di meja Ravian, tepat di sisi kanan laptop.Ravian melirik sekilas.“Kau mengingatnya.”“Bukan hal sulit, Pak.”“Banyak orang gagal pada hal-hal sederhana.”Aruna tidak menanggapi. Ia kembali ke mejanya, membuka agenda hari itu, dan menyiapkan daftar panggilan.Menjelang pukul delapan, rapat internal pertama dimulai.“Divisi operasional terlambat,” lapor Aruna pelan saat mereka berjalan menuju ruang rapat.“Berapa menit?”“Sepuluh.”“Catat.”“Baik.”Di dalam ruang rapat, Ravian duduk di ujung meja. Ia tidak menunggu semua orang hadir. Keti

  • Dibalik Dendam Sekretaris   2. Permulaan

    Aruna segera menyadari bahwa menjadi sekretaris pribadi Ravian Elarion bukan tentang kemampuan administratif semata.Ini tentang ketahanan.Hari pertamanya dimulai tanpa orientasi. Tidak ada penjelasan alur kerja, tidak ada perkenalan dengan jajaran eksekutif, bahkan tidak ada catatan singkat tentang kebiasaan sang CEO. Ia hanya diberi satu tablet, akses penuh ke email eksekutif, dan sebuah kalimat pendek sebelum Ravian masuk ke ruangannya.“Pelajari jadwal saya.”"Baik Pak."Tidak ada tambahan. Tidak ada instruksi lanjutan.Aruna duduk di mejanya, tepat di luar ruang CEO, dan membuka kalender yang hampir sepenuhnya terisi. Rapat internal, pertemuan dengan investor, panggilan lintas zona waktu, semuanya tersusun rapat tanpa jeda. Tidak ada ruang kosong, bahkan untuk kesalahan kecil.Ia menarik napas pelan.Baik, pikirnya. Ini standar yang kau mau.Aruna bekerja dalam diam. Ia mencatat setiap perubahan jadwal, memeriksa ulang setiap detail lokasi dan waktu, serta menyusun ulang priori

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status