Share

Andai aku bukan sopir

Penulis: Risya Petrova
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-12 11:56:17

"Jadi maksudnya Pak Jono menuduh saya juga? Jangan lupakan kalau saya juga Nyonya di rumah ini ya, Pak. Hati-hati kalau bicara dengan saya." Sekar berusaha berbicara dengan tenang dan juga berwibawa. Ia sadar dirinya juga punya wewenang di rumah ini, seperti tiga istri Tuan Broto lainnya.

Lampu senter di tangan Pak Jono masih belum beranjak dari dada Baskara yang bidang. Ketegangan itu terasa begitu nyata, seperti seutas benang tipis yang siap putus kapan saja.

"Maksud saya, Nyonya …." Pak Jono berdehem, matanya menyipit menatap kemeja Baskara yang terbuka separuh. "Kenapa pakaian Baskara sampai berantakan begini? Lalu Nyonya Sekar seperti habis menangis, dan wajahnya Baskara ... seperti orang ketakutan saat saya datang?"

Sekar menarik napas panjang. Ia melirik Baskara sekilas dengan tatapan yang menusuk, lalu kembali menatap penjaga malam itu dengan ekspresi datar yang meyakinkan.

"Dia tadi kaget, Pak Jono. Saat aku panggil, dia sedang memanggul karung beras untuk stok di dapur belakang. Katanya dia belum sempat istirahat sejak mengantar Nyonya Besar tadi sore.

… Makanya kemejanya dibuka karena kepanasan, dan dia berkeringat karena kerja berat," jawab Sekar tanpa jeda. "Lalu karena aku panik kehilangan anting pemberian Ibu, aku menangis dan langsung menyuruhnya membantu mencari tanpa memberinya waktu untuk bernapas," lanjutnya mengarang kebohongan.

Pak Jono terdiam sejenak. Logika itu masuk akal bagi seorang penjaga malam yang tahu betapa kerasnya Tuan Broto mempekerjakan orang-orangnya.

P.O. Bus itu besar, dan urusan logistik rumah tangga majikan yang memiliki empat istri itu memang sering kali menyita waktu para pekerja hingga larut malam.

"Oalah ... begitu toh," Pak Jono menurunkan senternya, rasa curiganya sedikit luruh. "Kasihan juga kamu, Bas. Tapi ya sudahlah, namanya juga kerja ikut orang kaya. Ya sudah, Nyonya Sekar, sebaiknya Anda segera masuk kalau sudah selesai. Udara malam tidak baik, apalagi Tuan baru saja pulang."

Pak Jono beralih menatap Baskara dengan tegas. "Bas, temukan anting Nyonya Sekar. Kalau sampai hilang, bisa kena marah Tuan kamu nanti. Mengerti?"

"Siap, Pak Jono! Saya mengerti. Saya akan cari sampai ketemu," jawab Baskara dengan sigap. Ia membungkukkan badannya sedikit, menunjukkan kepatuhan seorang abdi dalem yang tak bercela.

Pak Jono mengangguk, lalu berbalik pergi menuju pos depan sambil mengayunkan senternya. Bayang-bayang pria tua itu perlahan menghilang di balik keremangan lorong paviliun.

Begitu langkah kaki Pak Jono tak lagi terdengar, suasana berubah menjadi dingin. Lebih dingin dari embun Djakarta tahun 1955.

Sekar perlahan berjongkok di atas rumput, jemarinya meraba-raba dedaunan seolah benar-benar mencari perhiasan yang hilang. Baskara mengikuti, ia berjongkok sekitar dua meter dari Sekar, mencoba menjaga jarak aman.

"Bas ...." Suara Sekar terdengar sangat kecil, nyaris tenggelam oleh suara jangkrik malam.

Sekar menggeser posisinya, mencoba mendekat ke arah Baskara. Namun, sebelum Sekar sempat mengucapkan satu kata lagi, Baskara segera berbisik dengan nada memperingatkan.

"Jaga jarak, Kar ... Aku tidak mau Pak Jono menoleh dan melihat kita terlalu dekat begini. Kalau dia curiga lagi, kita berdua bisa celaka," ucap Baskara tanpa menoleh, tangannya terus berpura-pura mengais rumput.

Langkah Sekar terhenti. Ia terpaku melihat betapa waspadanya Baskara menghindarinya. Sebuah senyum pahit terukir di bibirnya yang gemetar.

"Jadi, kamu maunya didekati sama Mbak Lastri, Mbak Sari, dan Mbak Menur? Sedangkan sama aku, kamu tidak mau aku dekati?" tanya Sekar dengan suara lirih yang sarat akan luka.

Tangan Baskara yang sedang meraba rerumputan seketika membeku. Ia merasa seperti ada batu besar yang menghantam dadanya. Kalimat itu bukan sekadar pertanyaan, melainkan luapan rasa sakit dari seorang teman kecil yang merasa dikhianati.

"Bukan begitu, Kar ...."

"Aku tahu, Bas," potong Sekar cepat, suaranya kini tertahan oleh isak tangis yang berusaha ia redam. "Mereka memang lebih menarik dari aku yang bodoh ini.

… Mbak Lastri yang keturunan ningrat dengan segala wibawanya, Mbak Menur yang cerdas dan selalu punya rencana, atau Mbak Sari yang pintar menari dan menggoda ...."

Sekar berhenti sejenak, air mata kini benar-benar membasahi pipinya yang mulus. "Sedangkan aku? Aku hanya gadis desa yang dijual ayahnya sendiri untuk jadi pemuas nafsu pria tua bangka itu. Aku tidak punya apa-apa untuk ditawarkan padamu, kecuali kenangan masa kecil kita di bawah pohon talok dulu."

Baskara menoleh perlahan. Ia menatap Sekar yang kini tertunduk dengan bahu yang berguncang.

Di bawah siraman cahaya rembulan yang keperakan, wajah Sekar tampak begitu cantik namun sekaligus rapuh. Kecantikannya alami, tanpa bedak tebal atau gincu menyala seperti istri-istri Tuan Broto yang lain.

"Kar, dengarkan aku," Baskara memberanikan diri mendekat sedikit, namun tetap waspada. "Aku tidak pernah berpikir mereka lebih baik darimu. Justru karena mereka punya kuasa, mereka bisa menjebakku. Kamu pikir aku senang masuk ke kamar Nyonya Menur? Aku diancam! Dia mengancam akan memfitnahku jika aku tidak datang."

Sekar mengangkat wajahnya, menatap mata Baskara dalam-dalam. "Tapi kamu menikmatinya, bukan? Kamu punya kekuatan yang mereka inginkan, Bas. Aku melihat bagaimana Mbak Sari menatapmu saat kamu mencuci mobil.

… Aku melihat bagaimana Mbak Lastri sengaja menyentuhmu saat turun dari kereta kencana itu. Kamu adalah mangsa di rumah ini, tapi sekaligus penguasa hasrat mereka."

Baskara menghela napas berat. Ia ingin sekali menggenggam tangan Sekar dan berjanji akan membawanya pergi dari neraka ini, tapi ia tahu itu mustahil. Saat ini, ia hanyalah seorang sopir yang nasibnya berada di ujung tanduk.

"Aku hanya ingin bertahan hidup, Kar. Demi Ibuku di desa," bisik Baskara parau.

"Kalau begitu, bertahanlah dengan benar," Sekar menghapus air matanya dengan kasar. Ia berdiri, merapikan kain sarungnya. "Malam ini aku menyelamatkanmu. Tapi ingat, Bas, Mbak Sari sedang mengintaimu.

... Dia tahu apa yang dilakukan Mbak Menur malam ini, dan dia tidak akan membiarkanmu tidur tenang besok malam,” lanjutnya sembari buru-buru membalik badan dan berjalan pergi.

Baskara menatap punggung Sekar yang berjalan menjauh menuju pintu belakang rumah utama. Peringatan Sekar tentang Nyonya Sari membuatnya merinding. Di antara keempat istri Tuan Broto, Sari adalah yang paling berani dan agresif secara terang-terangan.

Baskara akhirnya berdiri dan berjalan menuju kamarnya di paviliun. Kepalanya berdenyut hebat. Efek minuman dari Menur tadi masih meninggalkan sisa-sisa rasa panas yang aneh di tubuhnya.

Begitu sampai di depan pintunya, tiba-tiba dari belakang, sepasang tangan lembut merangkulnya. Ia merasakan dekapan hangat yang penuh kerinduan. “Bas … aku ingin malam ini tidak sendiri.”

Baskara tersentak. Ini suara familiar yang sering ia dengar. “Sekar …?”

Bersambung

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dibasuh Empat Nyonya Cantik dan Menggoda   Nyonya Sekar

    “Bas … aku ingin malam ini tidak sendiri,” bisik suara itu, parau dan bergetar.Baskara tersentak. Jantungnya yang baru saja mulai tenang kembali berpacu liar. Ia mengenali suara itu. Suara yang dulu sering memanggil namanya di pematang sawah saat mereka masih anak-anak. Suara yang selalu membuatnya bertahan di dalam rumah megah Tuan Broto ini.“Sekar …?”Baskara membalikkan badannya perlahan. Di bawah temaram lampu minyak yang tergantung di selasar paviliun, ia melihat wajah Sekar yang sembab. Gadis itu tidak lagi tampak seperti seorang istri taipan bus yang berkuasa. Ia hanya tampak seperti gadis kecil yang tersesat di sebuah istana yang kejam.Melihat air mata yang kembali menggenang di pelupuk mata Sekar, perasaan Baskara campur aduk. Ada rasa sedih, kasih sayang yang mendalam, dan insting lelaki untuk melindungi satu-satunya orang yang benar-benar peduli padanya secara tulus di rumah ini.Tanpa memedulikan risiko jika ada pelayan lain yang terbangun, Baskara merengkuh Sekar ke d

  • Dibasuh Empat Nyonya Cantik dan Menggoda   Andai aku bukan sopir

    "Jadi maksudnya Pak Jono menuduh saya juga? Jangan lupakan kalau saya juga Nyonya di rumah ini ya, Pak. Hati-hati kalau bicara dengan saya." Sekar berusaha berbicara dengan tenang dan juga berwibawa. Ia sadar dirinya juga punya wewenang di rumah ini, seperti tiga istri Tuan Broto lainnya. Lampu senter di tangan Pak Jono masih belum beranjak dari dada Baskara yang bidang. Ketegangan itu terasa begitu nyata, seperti seutas benang tipis yang siap putus kapan saja. "Maksud saya, Nyonya …." Pak Jono berdehem, matanya menyipit menatap kemeja Baskara yang terbuka separuh. "Kenapa pakaian Baskara sampai berantakan begini? Lalu Nyonya Sekar seperti habis menangis, dan wajahnya Baskara ... seperti orang ketakutan saat saya datang?" Sekar menarik napas panjang. Ia melirik Baskara sekilas dengan tatapan yang menusuk, lalu kembali menatap penjaga malam itu dengan ekspresi datar yang meyakinkan. "Dia tadi kaget, Pak Jono. Saat aku panggil, dia sedang memanggul karung beras untuk stok di dap

  • Dibasuh Empat Nyonya Cantik dan Menggoda   Kepergok!

    Langkah kaki Tuan Broto yang berat dan berirama tak-tuk-tak dari sepatu kulitnya semakin mendekat. Suaranya bergema di lorong sunyi, menciptakan simfoni kematian bagi siapa pun yang berkhianat. "Masuk ke lemari! Cepat!" bisik Menur panik, namun Baskara menggeleng tegas. Bersembunyi di lemari hanya akan menunda kematian. Jika Tuan Broto ingin bermalam di sini, ia akan terjebak sampai pagi. Baskara melirik ke arah jendela besar bergaya kolonial di sudut kamar. Tanpa membuang waktu, ia berlari ke sana. "Baskara, itu terlalu tinggi!" seru Menur tertahan. Baskara tidak peduli. Ia membuka gerendel jendela perlahan agar tidak menimbulkan suara. Di bawah sana, kegelapan halaman belakang membentang. Jaraknya sekitar tiga meter dari tanah, cukup tinggi untuk mematahkan kaki jika salah mendarat. Namun, di bawah jendela itu terdapat kanopi beton tipis yang menaungi jendela lantai bawah. Cklek. Gagang pintu depan kamar Menur mulai diputar dari luar. Baskara melompat keluar, mendarat denga

  • Dibasuh Empat Nyonya Cantik dan Menggoda   Bagaimana ini?

    Baskara memejamkan mata rapat-rapat saat melihat ujung selop mewah Nyonya Lastri hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya yang tersembunyi di bawah ranjang. Keringat dingin mengucur deras di punggungnya. ‘Jika Nyonya Lastri menunduk sedikit saja, habislah riwayatku …!’ gumamnya di dalam hati."Kancing siapa ini, Menur?" tanya Lastri dengan nada curiga yang sangat kental. Ia memungut kancing kemeja Baskara yang tergeletak di lantai.Baskara merasa jantungnya seakan berhenti berdetak. Namun, di luar dugaan, Menur justru tertawa kecil. Suaranya terdengar sangat santai, hampir meremehkan."Oh, itu? Itu kancing baju Tuan Broto, Mbakyu," jawab Menur tenang sambil berjalan mendekati Lastri."Tuan? Bukankah Tuan sedang di Semarang? Tuan kan belum pulang.” Alis Lastri bertaut saat menjawabnya."Memang. Tapi sebelum berangkat tadi pagi, Tuan mampir ke kamarku. Katanya kancingnya lepas saat dia sedang terburu-buru. Aku yang memungutnya, tapi sepertinya terjatuh lagi dari meja," dusta Menur ta

  • Dibasuh Empat Nyonya Cantik dan Menggoda   Jebakan di balik kelambu

    Baskara menatap surat di tangannya dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat. Tulisan tangan Nyonya Menur begitu rapi, namun isinya terasa seperti vonis mati.Datanglah sebelum tengah malam, atau kalau kamu tidak datang, aku akan berteriak kalau kamu mencoba melecehkanku.Ini adalah ancaman murni. Menur, yang selama ini dikenal paling pendiam dan jarang bicara, ternyata adalah yang paling berbahaya. Ia tidak merayu seperti Lastri atau menggoda seperti Sari.Ia langsung menodongkan pisau ke leher Baskara menggunakan sebuah pilihan mustahil.Baskara meletakkan gelas susu yang tinggal separuh. Kepalanya mulai terasa sedikit berat, mungkin karena stres, atau mungkin ada "sesuatu" di dalam susu itu. Ia melirik jam dinding di kamarnya yang kecil. Pukul 23.30."Gila ... rumah ini benar-benar gila," umpat Baskara rendah sambil mengacak rambutnya.Jika ia tidak datang, Menur tinggal berteriak. Di rumah sebesar ini, dengan penjaga malam yang setia pada Tuan Broto, nyawa Baskara bisa mel

  • Dibasuh Empat Nyonya Cantik dan Menggoda   Jadi rebutan para Nyonya

    Jantung Baskara serasa melompat ke tenggorokan. Ia segera menarik tangannya dari jangkauan Nyonya Lastri, sementara sang Nyonya Besar itu tampak jauh lebih tenang, meskipun sisa-sisa gairah masih tertinggal di matanya yang sayu. Lastri menurunkan kaca jendela mobil perlahan. Angin panas Djakarta masuk, membawa aroma keringat dan debu, tapi tidak sedingin tatapan Sari yang berdiri di luar. "Sari? Sedang apa kamu di sini? Bukankah katamu tadi ingin ke tukang jahit di Pasar Baru?" tanya Lastri datar, seolah tidak terjadi apa-apa. Sari, wanita berusia tiga puluh tahun dengan bibir yang selalu dipulas merah menyala, menyandarkan tubuhnya ke pintu mobil. Ia melongok ke dalam, menatap Baskara dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan yang membuat Baskara merasa telanjang. "Jahitannya sudah selesai, Mbakyu. Tapi aku tidak sengaja melihat mobil Mas Broto berhenti di tempat sepi begini. Aku takut ada ban kempes ... atau mungkin, sopirnya yang perlu 'dipompa'?" Sari terkekeh, suara

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status