Share

Nyonya Sekar

Penulis: Risya Petrova
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-12 12:52:13

“Bas … aku ingin malam ini tidak sendiri,” bisik suara itu, parau dan bergetar.

Baskara tersentak. Jantungnya yang baru saja mulai tenang kembali berpacu liar. Ia mengenali suara itu. Suara yang dulu sering memanggil namanya di pematang sawah saat mereka masih anak-anak. Suara yang selalu membuatnya bertahan di dalam rumah megah Tuan Broto ini.

“Sekar …?”

Baskara membalikkan badannya perlahan. Di bawah temaram lampu minyak yang tergantung di selasar paviliun, ia melihat wajah Sekar yang sembab. 

Gadis itu tidak lagi tampak seperti seorang istri taipan bus yang berkuasa. Ia hanya tampak seperti gadis kecil yang tersesat di sebuah istana yang kejam.

Melihat air mata yang kembali menggenang di pelupuk mata Sekar, perasaan Baskara campur aduk. Ada rasa sedih, kasih sayang yang mendalam, dan insting lelaki untuk melindungi satu-satunya orang yang benar-benar peduli padanya secara tulus di rumah ini.

Tanpa memedulikan risiko jika ada pelayan lain yang terbangun, Baskara merengkuh Sekar ke dalam pelukannya. Ia membiarkan kepala gadis itu bersandar di dadanya yang bidang. Tangan kekarnya mengusap lembut air mata yang jatuh membasahi pipi Sekar.

“Kenapa kamu kembali lagi, Kar? Kamu sedang sedih?” tanya Baskara dengan nada suara yang sangat rendah, hampir menyerupai hembusan angin.

Sekar terisak kecil di pelukan Baskara. “Aku merindukan Ibu, Bas. Aku rindu rumah kita di kampung. Di sini … semua orang melihatku seperti barang pajangan. Tuan hanya menyentuhku saat dia merasa perlu membuktikan kejantanannya yang sebenarnya sudah mati, dan istri-istri yang lain hanya memandangku sebagai saingan yang tidak berharga.”

Hati Baskara terasa teriris. Ia tahu betul bagaimana rasanya terasing di tempat yang megah. Perlahan, ia melepaskan pelukannya, namun tetap menggenggam tangan Sekar dengan erat. Kulit tangan Sekar yang halus terasa sedikit dingin.

“Ikut aku,” bisik Baskara tiba-tiba.

“Ke mana?”

“Ada sebuah tempat. Mungkin ini bisa membuatmu merasa sedikit lebih baik,” jawab Baskara dengan senyum tipis yang menenangkan.

Dengan langkah yang sangat pelan dan hati-hati, Baskara menuntun Sekar menjauh dari paviliun. Mereka mengendap-endap di balik bayangan pepohonan, menghindari sorot lampu teras rumah utama yang dijaga oleh Pak Jono di kejauhan.

Tujuan mereka adalah sebuah bukit kecil di belakang properti luas milik Tuan Broto. Tempat itu sebenarnya adalah batas lahan yang ditumbuhi rumput ilalang tinggi dan beberapa pohon akasia. Dari sana, mereka bisa melihat kerlip lampu Djakarta tahun 1955 yang masih jarang, serta langit malam yang bersih tanpa polusi cahaya.

***

Mereka duduk berdua di atas hamparan rumput ilalang yang lembut. Sinar rembulan malam itu sangat terang, memberikan garis perak pada profil wajah mereka berdua.

Sekar menyandarkan kepalanya di bahu Baskara, menghirup udara malam yang segar. “Bas … kamu tahu, satu-satunya hal yang paling aku syukuri di tempat terkutuk ini adalah karena aku bertemu kamu lagi. Andai kamu tidak bekerja di sini, aku pasti sudah benar-benar gila atau mungkin sudah memilih menceburkan diri ke sumur belakang.”

Baskara hanya tersenyum tipis, tangannya membelai rambut Sekar yang hitam legam. “Nasib memang punya cara yang aneh untuk mempertemukan kita kembali, Kar. Meskipun tempatnya tidak pas.”

Tiba-tiba, Sekar mendongak. Tanpa peringatan, ia mengecup pipi Baskara dengan lembut.

Baskara terkesiap. Ia segera menarik kepalanya sedikit, menatap Sekar dengan pandangan penuh kewaspadaan. “Kar … hubungan kita tidak sesederhana seperti dulu lagi. Kamu adalah Nyonya di rumah ini, dan aku hanyalah seorang sopir pribadi. Jika ada yang melihat kita di sini, hal ini akan menyusahkan kita berdua. Tuan Broto bisa menghabisi aku dalam sekejap.”

Namun, Sekar sepertinya sudah kehilangan rasa takutnya. Keputusasaan telah membuatnya berani.

“Aku tidak peduli lagi, Bas. Apa gunanya status Nyonya jika hatiku mati?” jawab Sekar lirih.

Ia kemudian meraih tangan Baskara yang kasar dan berurat, lalu meletakkannya di pinggangnya yang ramping. 

Baskara merasa seolah tersengat listrik saat tangannya bersentuhan dengan kain kebaya merah muda lembut yang dikenakan Sekar.

Melalui celah kebaya yang sedikit terbuka karena posisi duduk mereka, netra Baskara tidak bisa luput dari pemandangan gundukan belahan dada Sekar yang menyembul indah, menggoda naluri lelakinya yang paling dasar.

Suasana di antara mereka mendadak berubah. Udara yang dingin seolah menjadi panas membara. Mata Sekar yang sayu menatap Baskara dengan penuh undangan, seolah ia benar-benar siap menyerahkan segalanya malam ini, bukan karena ancaman seperti Menur, tapi karena kerinduan yang mendalam.

Baskara menelan ludah. Keperkasaan yang sering dipuja oleh para nyonya besar itu kini sedang diuji oleh wanita yang paling ia sayangi. Tangan Baskara yang berada di pinggang Sekar mulai meremas pelan, sementara wajah Sekar perlahan mendekat ke arahnya.

Bibirnya yang penuh dan harum itu menempel di bibir Baskara. 

Suasana di atas bukit kecil itu seolah terpisah dari dunia luar. Di bawah sana, rumah besar Tuan Broto berdiri tegak dengan pilar-pilar putihnya yang angkuh, menyimpan ribuan intrik dan kebencian. 

Ciuman Sekar terasa seperti tetesan air di tengah padang pasir bagi Baskara. Awalnya ragu, seolah takut menyentuh porselen mahal yang mudah pecah, namun perlahan keraguan itu leleh oleh kehangatan bibir Sekar yang gemetar. 

Ada rasa pahit air mata di sana, namun juga ada gairah yang sudah lama terpendam di balik kebaya ketat yang membelenggu hidupnya.

Baskara bisa merasakan detak jantung Sekar yang berdegup kencang di balik telapak tangannya. Remasan tangannya di pinggang ramping itu semakin erat, menarik tubuh Sekar hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Dunia seolah berhenti berputar. Bau parfum mawar yang mahal bercampur dengan aroma alami tubuh Sekar menciptakan mabuk yang lebih hebat dari arak manapun.

Tangan Baskara perlahan menjelajahi lekuk tubuh Sekar di balik kebaya merah mudanya. Ia merasakan setiap tarikan nafas Sekar yang tertahan saat jemarinya menyentuh kulit yang halus itu.

"Bas ...." Sekar berbisik di sela nafasnya yang memburu. "Bawa aku pergi. Jangan biarkan aku kembali ke kamar itu lagi."

Baskara melepaskan tautan bibir mereka sejenak, menatap mata Sekar yang berkilau di bawah cahaya rembulan. "Kar, kamu tahu apa yang kamu minta? Jika kita lari sekarang, Tuan Broto akan mengerahkan seluruh jaringannya. Kita tidak akan sampai ke pelabuhan sebelum mereka menemukan kita. Bunuh diri namanya.”

"Lalu aku harus bagaimana?" suara Sekar pecah menjadi tangis kecil yang menyayat hati. "Setiap malam aku harus melayani lelaki yang kulitnya terasa seperti ular bagiku. Setiap pagi aku harus tersenyum di depan Mbakyu Lastri dan Mbakyu Menur yang selalu mencari celah untuk menjatuhkanku. 

… Aku hanyalah burung dalam sangkar emas, Bas. Dan sangkar itu semakin hari semakin sempit hingga aku sulit bernapas. Kamu satu-satunya penolongku, Bas. Bawa aku pergi dari sini! Aku menikah dengan Tuan Broto itu adalah sebuah paksaan!”

Baskara terdiam, tidak langsung menjawab, karena ia tau jika ia nekat kabur apa lagi membawa Sekar, nyawa taruhannya! Namun ia juga tidak tega melihat Sekar seperti diperkosa setiap malam oleh si tua bangka itu.

“Bas … Tolong bantu aku,” ucap Sekar sembari semakin menempelkan tubuhnya ke badan Baskara. 

Baskara merasakan payudara Sekar yang bulat dan kenyal itu begitu rapat menempel di dadanya. Tangan Sekar terangkat dan melingkari leher kokoh Baskara. Baskara merasakan keperkasaannya semakin meronta karena rangsangan ini.

Bersambung

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dibasuh Empat Nyonya Cantik dan Menggoda   Nyonya Sekar

    “Bas … aku ingin malam ini tidak sendiri,” bisik suara itu, parau dan bergetar.Baskara tersentak. Jantungnya yang baru saja mulai tenang kembali berpacu liar. Ia mengenali suara itu. Suara yang dulu sering memanggil namanya di pematang sawah saat mereka masih anak-anak. Suara yang selalu membuatnya bertahan di dalam rumah megah Tuan Broto ini.“Sekar …?”Baskara membalikkan badannya perlahan. Di bawah temaram lampu minyak yang tergantung di selasar paviliun, ia melihat wajah Sekar yang sembab. Gadis itu tidak lagi tampak seperti seorang istri taipan bus yang berkuasa. Ia hanya tampak seperti gadis kecil yang tersesat di sebuah istana yang kejam.Melihat air mata yang kembali menggenang di pelupuk mata Sekar, perasaan Baskara campur aduk. Ada rasa sedih, kasih sayang yang mendalam, dan insting lelaki untuk melindungi satu-satunya orang yang benar-benar peduli padanya secara tulus di rumah ini.Tanpa memedulikan risiko jika ada pelayan lain yang terbangun, Baskara merengkuh Sekar ke d

  • Dibasuh Empat Nyonya Cantik dan Menggoda   Andai aku bukan sopir

    "Jadi maksudnya Pak Jono menuduh saya juga? Jangan lupakan kalau saya juga Nyonya di rumah ini ya, Pak. Hati-hati kalau bicara dengan saya." Sekar berusaha berbicara dengan tenang dan juga berwibawa. Ia sadar dirinya juga punya wewenang di rumah ini, seperti tiga istri Tuan Broto lainnya. Lampu senter di tangan Pak Jono masih belum beranjak dari dada Baskara yang bidang. Ketegangan itu terasa begitu nyata, seperti seutas benang tipis yang siap putus kapan saja. "Maksud saya, Nyonya …." Pak Jono berdehem, matanya menyipit menatap kemeja Baskara yang terbuka separuh. "Kenapa pakaian Baskara sampai berantakan begini? Lalu Nyonya Sekar seperti habis menangis, dan wajahnya Baskara ... seperti orang ketakutan saat saya datang?" Sekar menarik napas panjang. Ia melirik Baskara sekilas dengan tatapan yang menusuk, lalu kembali menatap penjaga malam itu dengan ekspresi datar yang meyakinkan. "Dia tadi kaget, Pak Jono. Saat aku panggil, dia sedang memanggul karung beras untuk stok di dap

  • Dibasuh Empat Nyonya Cantik dan Menggoda   Kepergok!

    Langkah kaki Tuan Broto yang berat dan berirama tak-tuk-tak dari sepatu kulitnya semakin mendekat. Suaranya bergema di lorong sunyi, menciptakan simfoni kematian bagi siapa pun yang berkhianat. "Masuk ke lemari! Cepat!" bisik Menur panik, namun Baskara menggeleng tegas. Bersembunyi di lemari hanya akan menunda kematian. Jika Tuan Broto ingin bermalam di sini, ia akan terjebak sampai pagi. Baskara melirik ke arah jendela besar bergaya kolonial di sudut kamar. Tanpa membuang waktu, ia berlari ke sana. "Baskara, itu terlalu tinggi!" seru Menur tertahan. Baskara tidak peduli. Ia membuka gerendel jendela perlahan agar tidak menimbulkan suara. Di bawah sana, kegelapan halaman belakang membentang. Jaraknya sekitar tiga meter dari tanah, cukup tinggi untuk mematahkan kaki jika salah mendarat. Namun, di bawah jendela itu terdapat kanopi beton tipis yang menaungi jendela lantai bawah. Cklek. Gagang pintu depan kamar Menur mulai diputar dari luar. Baskara melompat keluar, mendarat denga

  • Dibasuh Empat Nyonya Cantik dan Menggoda   Bagaimana ini?

    Baskara memejamkan mata rapat-rapat saat melihat ujung selop mewah Nyonya Lastri hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya yang tersembunyi di bawah ranjang. Keringat dingin mengucur deras di punggungnya. ‘Jika Nyonya Lastri menunduk sedikit saja, habislah riwayatku …!’ gumamnya di dalam hati."Kancing siapa ini, Menur?" tanya Lastri dengan nada curiga yang sangat kental. Ia memungut kancing kemeja Baskara yang tergeletak di lantai.Baskara merasa jantungnya seakan berhenti berdetak. Namun, di luar dugaan, Menur justru tertawa kecil. Suaranya terdengar sangat santai, hampir meremehkan."Oh, itu? Itu kancing baju Tuan Broto, Mbakyu," jawab Menur tenang sambil berjalan mendekati Lastri."Tuan? Bukankah Tuan sedang di Semarang? Tuan kan belum pulang.” Alis Lastri bertaut saat menjawabnya."Memang. Tapi sebelum berangkat tadi pagi, Tuan mampir ke kamarku. Katanya kancingnya lepas saat dia sedang terburu-buru. Aku yang memungutnya, tapi sepertinya terjatuh lagi dari meja," dusta Menur ta

  • Dibasuh Empat Nyonya Cantik dan Menggoda   Jebakan di balik kelambu

    Baskara menatap surat di tangannya dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat. Tulisan tangan Nyonya Menur begitu rapi, namun isinya terasa seperti vonis mati.Datanglah sebelum tengah malam, atau kalau kamu tidak datang, aku akan berteriak kalau kamu mencoba melecehkanku.Ini adalah ancaman murni. Menur, yang selama ini dikenal paling pendiam dan jarang bicara, ternyata adalah yang paling berbahaya. Ia tidak merayu seperti Lastri atau menggoda seperti Sari.Ia langsung menodongkan pisau ke leher Baskara menggunakan sebuah pilihan mustahil.Baskara meletakkan gelas susu yang tinggal separuh. Kepalanya mulai terasa sedikit berat, mungkin karena stres, atau mungkin ada "sesuatu" di dalam susu itu. Ia melirik jam dinding di kamarnya yang kecil. Pukul 23.30."Gila ... rumah ini benar-benar gila," umpat Baskara rendah sambil mengacak rambutnya.Jika ia tidak datang, Menur tinggal berteriak. Di rumah sebesar ini, dengan penjaga malam yang setia pada Tuan Broto, nyawa Baskara bisa mel

  • Dibasuh Empat Nyonya Cantik dan Menggoda   Jadi rebutan para Nyonya

    Jantung Baskara serasa melompat ke tenggorokan. Ia segera menarik tangannya dari jangkauan Nyonya Lastri, sementara sang Nyonya Besar itu tampak jauh lebih tenang, meskipun sisa-sisa gairah masih tertinggal di matanya yang sayu. Lastri menurunkan kaca jendela mobil perlahan. Angin panas Djakarta masuk, membawa aroma keringat dan debu, tapi tidak sedingin tatapan Sari yang berdiri di luar. "Sari? Sedang apa kamu di sini? Bukankah katamu tadi ingin ke tukang jahit di Pasar Baru?" tanya Lastri datar, seolah tidak terjadi apa-apa. Sari, wanita berusia tiga puluh tahun dengan bibir yang selalu dipulas merah menyala, menyandarkan tubuhnya ke pintu mobil. Ia melongok ke dalam, menatap Baskara dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan yang membuat Baskara merasa telanjang. "Jahitannya sudah selesai, Mbakyu. Tapi aku tidak sengaja melihat mobil Mas Broto berhenti di tempat sepi begini. Aku takut ada ban kempes ... atau mungkin, sopirnya yang perlu 'dipompa'?" Sari terkekeh, suara

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status