MasukJantung Baskara serasa melompat ke tenggorokan. Ia segera menarik tangannya dari jangkauan Nyonya Lastri, sementara sang Nyonya Besar itu tampak jauh lebih tenang, meskipun sisa-sisa gairah masih tertinggal di matanya yang sayu.
Lastri menurunkan kaca jendela mobil perlahan. Angin panas Djakarta masuk, membawa aroma keringat dan debu, tapi tidak sedingin tatapan Sari yang berdiri di luar. "Sari? Sedang apa kamu di sini? Bukankah katamu tadi ingin ke tukang jahit di Pasar Baru?" tanya Lastri datar, seolah tidak terjadi apa-apa. Sari, wanita berusia tiga puluh tahun dengan bibir yang selalu dipulas merah menyala, menyandarkan tubuhnya ke pintu mobil. Ia melongok ke dalam, menatap Baskara dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan yang membuat Baskara merasa telanjang. "Jahitannya sudah selesai, Mbakyu. Tapi aku tidak sengaja melihat mobil Mas Broto berhenti di tempat sepi begini. Aku takut ada ban kempes ... atau mungkin, sopirnya yang perlu 'dipompa'?" Sari terkekeh, suara tawa yang terdengar seperti gesekan pisau. Baskara turun dari mobil dengan cepat dan membungkuk hormat. "Maaf, Nyonya Sari. Tadi Nyonya Besar merasa pusing, jadi saya menepi sebentar." "Pusing?" Sari mendekat ke arah Baskara. Ia sengaja berjalan memutar, pinggulnya sengaja disenggolkan ke lengan kekar Baskara saat ia lewat. "Atau mungkin terlalu banyak menghirup wangi melati sampai mabuk?" Sari kemudian menatap Lastri yang masih duduk di dalam mobil. "Mbakyu, ingat umur. Kalau Mas Broto sampai dengar sopir kesayangannya ini 'macam-macam', bisa-bisa Baskara berakhir di dasar sungai Ciliwung." Ancaman itu nyata. Baskara tahu Tuan Broto bukan orang sembarangan. Di balik kesuksesan P.O. Bus-nya, pria tua berusia lima puluh tahun itu punya banyak tangan kanan yang bisa membuat seseorang hilang tanpa jejak. "Jangan mengguruiku, Sari," sahut Lastri dingin. "Pulanglah. Baskara, jalankan mobilnya." *** Sesampainya di rumah megah itu, suasana justru semakin mencekam. Rumah bergaya kolonial itu memiliki lorong-lorong panjang yang sunyi, namun penuh mata yang mengawasi. Baskara baru saja hendak menuju kamarnya di area paviliun belakang ketika sebuah tangan lembut menarik kausnya dari balik pilar besar di selasar. "Baskara ... ini aku." Baskara menoleh dan tertegun. Di depannya berdiri Sekar. Istri keempat Tuan Broto yang baru berusia sembilan belas tahun. Wajahnya masih polos, tanpa riasan tebal seperti Lastri atau Sari. Dia adalah satu-satunya wanita di rumah ini yang membuat pertahanan Baskara goyah. "Nyonya Sekar? Ada apa? Kalau terlihat yang lain—" "Aku tidak peduli dilihat yang lain atau tidak," bisik Sekar. Matanya berkaca-kaca. "Kenapa kamu mau bekerja di sini, Bas? Kamu tahu tempat ini neraka. Kamu tahu pria tua itu ...." Sekar menggigit bibirnya, tak sanggup melanjutkan. Baskara menatap Sekar dengan iba. Mereka tumbuh di desa yang sama sebelum nasib menyeret mereka ke Djakarta dengan cara yang berbeda. Baskara menjadi buruh, dan Sekar "dijual" ayahnya untuk melunasi utang pada Tuan Broto. "Aku butuh uang untuk pengobatan Ibu, Sekar," jawab Baskara pelan, beralih menggunakan nama asli tanpa embel-embel Nyonya karena keadaan sepi. "Pergilah, Bas. Sebelum mereka menghancurkanmu," lirih Sekar. "Mbak Lastri, Mbak Sari ... bahkan Mbak Menur yang pendiam itu, mereka semua sedang merencanakan sesuatu untukmu malam ini. Tuan Broto tidak ada di rumah, dan itu artinya ...." Belum sempat Sekar menyelesaikan kalimatnya, suara ketukan sepatu hak tinggi terdengar mendekat dari arah dapur. Itu Menur, istri ketiga. Wanita berusia dua puluh lima tahun yang paling misterius. Ia membawa nampan berisi segelas susu hangat dan sepucuk surat kecil. Menur berhenti di depan mereka berdua, menatap Sekar dengan senyum tipis yang sulit diartikan, lalu beralih pada Baskara. "Baskara, ini minuman untukmu. Anggap saja tanda terima kasih karena sudah menyetir seharian," ucap Menur tenang. Matanya melirik ke arah surat di atas nampan. "Baca suratnya setelah kamu minum susunya di kamar. Jangan sampai ada yang tahu." Baskara menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Ia terjepit. Di depannya ada Sekar yang mencemaskannya, dan di tangan kanannya ada "pemberian" dari Menur yang penuh teka-teki. Malam baru saja dimulai, dan Baskara sadar, pintu kamarnya malam ini mungkin tidak akan bisa dikunci dari dalam. Baskara masuk ke kamarnya, meneguk sedikit susu itu, lalu membuka surat dari Menur. Isinya hanya satu kalimat singkat: "Pintu belakang paviliun tidak aku kunci. Datanglah sebelum tengah malam, atau kalau kamu tidak datang, aku akan berteriak kalau kamu sudah melecehkanku." Bersambung“Bas … aku ingin malam ini tidak sendiri,” bisik suara itu, parau dan bergetar.Baskara tersentak. Jantungnya yang baru saja mulai tenang kembali berpacu liar. Ia mengenali suara itu. Suara yang dulu sering memanggil namanya di pematang sawah saat mereka masih anak-anak. Suara yang selalu membuatnya bertahan di dalam rumah megah Tuan Broto ini.“Sekar …?”Baskara membalikkan badannya perlahan. Di bawah temaram lampu minyak yang tergantung di selasar paviliun, ia melihat wajah Sekar yang sembab. Gadis itu tidak lagi tampak seperti seorang istri taipan bus yang berkuasa. Ia hanya tampak seperti gadis kecil yang tersesat di sebuah istana yang kejam.Melihat air mata yang kembali menggenang di pelupuk mata Sekar, perasaan Baskara campur aduk. Ada rasa sedih, kasih sayang yang mendalam, dan insting lelaki untuk melindungi satu-satunya orang yang benar-benar peduli padanya secara tulus di rumah ini.Tanpa memedulikan risiko jika ada pelayan lain yang terbangun, Baskara merengkuh Sekar ke d
"Jadi maksudnya Pak Jono menuduh saya juga? Jangan lupakan kalau saya juga Nyonya di rumah ini ya, Pak. Hati-hati kalau bicara dengan saya." Sekar berusaha berbicara dengan tenang dan juga berwibawa. Ia sadar dirinya juga punya wewenang di rumah ini, seperti tiga istri Tuan Broto lainnya. Lampu senter di tangan Pak Jono masih belum beranjak dari dada Baskara yang bidang. Ketegangan itu terasa begitu nyata, seperti seutas benang tipis yang siap putus kapan saja. "Maksud saya, Nyonya …." Pak Jono berdehem, matanya menyipit menatap kemeja Baskara yang terbuka separuh. "Kenapa pakaian Baskara sampai berantakan begini? Lalu Nyonya Sekar seperti habis menangis, dan wajahnya Baskara ... seperti orang ketakutan saat saya datang?" Sekar menarik napas panjang. Ia melirik Baskara sekilas dengan tatapan yang menusuk, lalu kembali menatap penjaga malam itu dengan ekspresi datar yang meyakinkan. "Dia tadi kaget, Pak Jono. Saat aku panggil, dia sedang memanggul karung beras untuk stok di dap
Langkah kaki Tuan Broto yang berat dan berirama tak-tuk-tak dari sepatu kulitnya semakin mendekat. Suaranya bergema di lorong sunyi, menciptakan simfoni kematian bagi siapa pun yang berkhianat. "Masuk ke lemari! Cepat!" bisik Menur panik, namun Baskara menggeleng tegas. Bersembunyi di lemari hanya akan menunda kematian. Jika Tuan Broto ingin bermalam di sini, ia akan terjebak sampai pagi. Baskara melirik ke arah jendela besar bergaya kolonial di sudut kamar. Tanpa membuang waktu, ia berlari ke sana. "Baskara, itu terlalu tinggi!" seru Menur tertahan. Baskara tidak peduli. Ia membuka gerendel jendela perlahan agar tidak menimbulkan suara. Di bawah sana, kegelapan halaman belakang membentang. Jaraknya sekitar tiga meter dari tanah, cukup tinggi untuk mematahkan kaki jika salah mendarat. Namun, di bawah jendela itu terdapat kanopi beton tipis yang menaungi jendela lantai bawah. Cklek. Gagang pintu depan kamar Menur mulai diputar dari luar. Baskara melompat keluar, mendarat denga
Baskara memejamkan mata rapat-rapat saat melihat ujung selop mewah Nyonya Lastri hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya yang tersembunyi di bawah ranjang. Keringat dingin mengucur deras di punggungnya. ‘Jika Nyonya Lastri menunduk sedikit saja, habislah riwayatku …!’ gumamnya di dalam hati."Kancing siapa ini, Menur?" tanya Lastri dengan nada curiga yang sangat kental. Ia memungut kancing kemeja Baskara yang tergeletak di lantai.Baskara merasa jantungnya seakan berhenti berdetak. Namun, di luar dugaan, Menur justru tertawa kecil. Suaranya terdengar sangat santai, hampir meremehkan."Oh, itu? Itu kancing baju Tuan Broto, Mbakyu," jawab Menur tenang sambil berjalan mendekati Lastri."Tuan? Bukankah Tuan sedang di Semarang? Tuan kan belum pulang.” Alis Lastri bertaut saat menjawabnya."Memang. Tapi sebelum berangkat tadi pagi, Tuan mampir ke kamarku. Katanya kancingnya lepas saat dia sedang terburu-buru. Aku yang memungutnya, tapi sepertinya terjatuh lagi dari meja," dusta Menur ta
Baskara menatap surat di tangannya dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat. Tulisan tangan Nyonya Menur begitu rapi, namun isinya terasa seperti vonis mati.Datanglah sebelum tengah malam, atau kalau kamu tidak datang, aku akan berteriak kalau kamu mencoba melecehkanku.Ini adalah ancaman murni. Menur, yang selama ini dikenal paling pendiam dan jarang bicara, ternyata adalah yang paling berbahaya. Ia tidak merayu seperti Lastri atau menggoda seperti Sari.Ia langsung menodongkan pisau ke leher Baskara menggunakan sebuah pilihan mustahil.Baskara meletakkan gelas susu yang tinggal separuh. Kepalanya mulai terasa sedikit berat, mungkin karena stres, atau mungkin ada "sesuatu" di dalam susu itu. Ia melirik jam dinding di kamarnya yang kecil. Pukul 23.30."Gila ... rumah ini benar-benar gila," umpat Baskara rendah sambil mengacak rambutnya.Jika ia tidak datang, Menur tinggal berteriak. Di rumah sebesar ini, dengan penjaga malam yang setia pada Tuan Broto, nyawa Baskara bisa mel
Jantung Baskara serasa melompat ke tenggorokan. Ia segera menarik tangannya dari jangkauan Nyonya Lastri, sementara sang Nyonya Besar itu tampak jauh lebih tenang, meskipun sisa-sisa gairah masih tertinggal di matanya yang sayu. Lastri menurunkan kaca jendela mobil perlahan. Angin panas Djakarta masuk, membawa aroma keringat dan debu, tapi tidak sedingin tatapan Sari yang berdiri di luar. "Sari? Sedang apa kamu di sini? Bukankah katamu tadi ingin ke tukang jahit di Pasar Baru?" tanya Lastri datar, seolah tidak terjadi apa-apa. Sari, wanita berusia tiga puluh tahun dengan bibir yang selalu dipulas merah menyala, menyandarkan tubuhnya ke pintu mobil. Ia melongok ke dalam, menatap Baskara dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan yang membuat Baskara merasa telanjang. "Jahitannya sudah selesai, Mbakyu. Tapi aku tidak sengaja melihat mobil Mas Broto berhenti di tempat sepi begini. Aku takut ada ban kempes ... atau mungkin, sopirnya yang perlu 'dipompa'?" Sari terkekeh, suara