Se connecterLangkah kaki Tuan Broto yang berat dan berirama tak-tuk-tak dari sepatu kulitnya semakin mendekat. Suaranya bergema di lorong sunyi, menciptakan simfoni kematian bagi siapa pun yang berkhianat.
"Masuk ke lemari! Cepat!" bisik Menur panik, namun Baskara menggeleng tegas. Bersembunyi di lemari hanya akan menunda kematian. Jika Tuan Broto ingin bermalam di sini, ia akan terjebak sampai pagi. Baskara melirik ke arah jendela besar bergaya kolonial di sudut kamar. Tanpa membuang waktu, ia berlari ke sana. "Baskara, itu terlalu tinggi!" seru Menur tertahan. Baskara tidak peduli. Ia membuka gerendel jendela perlahan agar tidak menimbulkan suara. Di bawah sana, kegelapan halaman belakang membentang. Jaraknya sekitar tiga meter dari tanah, cukup tinggi untuk mematahkan kaki jika salah mendarat. Namun, di bawah jendela itu terdapat kanopi beton tipis yang menaungi jendela lantai bawah. Cklek. Gagang pintu depan kamar Menur mulai diputar dari luar. Baskara melompat keluar, mendarat dengan ujung kaki di atas kanopi beton dengan bunyi puk yang sangat pelan. Ia segera merapatkan tubuhnya ke dinding tembok yang dingin, menahan napas. Bersembunyi dan waspada. Di dalam kamar, terdengar suara berat Tuan Broto. "Menur? Kamu belum tidur? Kenapa wajahmu pucat begitu?" "Ah ... Tuan ... kaget. Saya kira siapa malam-malam begini," suara Menur terdengar bergetar, berusaha menutupi kepanikannya. Baskara tidak menunggu lebih lama. Dengan ketangkasan tubuh atletisnya, ia bergelantungan di tepi kanopi, lalu melompat turun ke atas rumput Jepang yang basah oleh embun. Suaranya teredam sempurna. Ia segera merunduk, bergerak cepat di balik bayang-bayang pohon kamboja yang rimbun. Tujuannya adalah paviliun belakang, tempat para pelayan dan sopir tinggal. Jaraknya hanya sekitar dua puluh meter lagi. Namun, saat ia nyaris mencapai pintu paviliun, sebuah bayangan muncul dari balik kegelapan tangki air. Baskara membeku. Jantungnya berpacu hebat. "Dari mana saja kamu, Bas? Jam segini baru kembali ke barak?" Baskara menoleh perlahan. Di sana berdiri Sekar, sang istri termuda. Ia tidak mengenakan daster seperti istri-istri lainnya, melainkan kain sarung dan kebaya sederhana, matanya yang sembab menatap Baskara dengan penuh kekecewaan. Sekar menatap Baskara dengan tatapan berkaca-kaca. Wajahnya yang cantik dan manis itu terlihat begitu sayu dan sedih. "Sekar ... aku ...." "Jangan bohong padaku, Bas," potong Sekar lirih. Suaranya bergetar menahan tangis. "Aku melihatmu melompat dari jendela kamar Mbak Menur. Kamu ngapain di sana? Kamu sama saja dengan pria-pria lain, ya? Hanya mencari kesempatan di rumah busuk ini." "Ini tidak seperti yang kamu bayangkan, Kar. Aku dipaksa!" "Bohong. Aku liat kamu tadi." Bakara menggeleng pelan. "Aku tidak bohong, Kar. Aku dipaksa ada di kamar itu. Aku bisa jelaskan," bisiknya sambil mencoba mendekat, namun Sekar mundur dengan jijik. Perasaan kecewa dan cemburu menjadi satu. Tiba-tiba, lampu di teras paviliun menyala terang. Seorang penjaga malam tua bernama Pak Jono keluar sambil menenteng senter besar. "Eh, ada apa ini? Nyonya Sekar? Baskara? Kenapa malam-malam begini berduaan di belakang?" tanya Pak Jono curiga, senternya menyorot tepat ke wajah Baskara yang penuh keringat dan kemeja yang tidak lagi terkancing sempurna. Sontak Baskara dan Sekar terkesiap. Mereka seolah tertangkap basah. Lampu senter Pak Jono bukan sekadar cahaya. Tapi bagaikan pedang tajam yang menguliti rahasia Baskara di tengah kegelapan malam. Cahaya kuning itu memantul di wajah Baskara yang pucat dan baju kemejanya yang berantakan, tanpa satu kancing di dada, saksi bisu yang kini berada di tangan Nyonya Lastri. "Lho, ini ada apa?" Pak Jono mengulang pertanyaannya, nada suaranya berubah dari sekadar heran menjadi curiga yang mendalam. Senter itu beralih menyorot kaki Baskara yang kotor oleh tanah basah, lalu ke arah Sekar yang matanya masih memerah. "Nyonya Sekar, apa pemuda ini mengganggu Anda?" Baskara merasa lidahnya kelu. Jika ia membela diri dengan mengatakan ia baru saja keluar dari kamar Menur, itu sama saja dengan menyerahkan lehernya ke tiang gantungan. Namun, jika ia diam, Sekar bisa saja menuduhnya melakukan hal yang lebih buruk karena sakit hati. Sekar menatap Baskara dengan tatapan yang sulit diartikan. Perpaduan antara benci, rindu, dan kekecewaan yang mendalam. Ia adalah istri termuda Tuan Broto yang merasa terbuang, satu-satunya orang di rumah itu yang sempat berbagi cerita jujur dengan Baskara di bawah pohon kamboja saat sore hari. Pengkhianatan ini terasa lebih menyakitkan baginya daripada semua hinaan Nyonya Lastri. "Dia ...." Sekar menggantung kalimatnya. Bibirnya gemetar. Baskara menahan napas. Katakanlah yang sebenarnya, Kar, tapi jangan seret aku ke lubang kematian, batinnya memohon. "Dia tadi membantuku mencari antingku yang jatuh di dekat tangki air, Pak Jono," suara Sekar tiba-tiba keluar, tenang namun dingin. Ia berbohong. Sebuah dusta yang menyelamatkan sekaligus menghukum Baskara. "Aku yang memanggilnya tadi saat melihatnya lewat. Tapi sepertinya tidak ketemu karena sudah terlalu gelap." Pak Jono mengerutkan kening, sepasang matanya memicing, tidak sepenuhnya percaya. "Tapi kenapa bajunya ... dan kenapa dia berkeringat seperti habis dikejar setan? Saya bisa melapor pada Tuan Broto kalau ada yang tidak beres! Kamu akan dihukum, Baskara! Berduaan dengan Nyonya Sekar malam-malam di sini!" Bersambung“Bas … aku ingin malam ini tidak sendiri,” bisik suara itu, parau dan bergetar.Baskara tersentak. Jantungnya yang baru saja mulai tenang kembali berpacu liar. Ia mengenali suara itu. Suara yang dulu sering memanggil namanya di pematang sawah saat mereka masih anak-anak. Suara yang selalu membuatnya bertahan di dalam rumah megah Tuan Broto ini.“Sekar …?”Baskara membalikkan badannya perlahan. Di bawah temaram lampu minyak yang tergantung di selasar paviliun, ia melihat wajah Sekar yang sembab. Gadis itu tidak lagi tampak seperti seorang istri taipan bus yang berkuasa. Ia hanya tampak seperti gadis kecil yang tersesat di sebuah istana yang kejam.Melihat air mata yang kembali menggenang di pelupuk mata Sekar, perasaan Baskara campur aduk. Ada rasa sedih, kasih sayang yang mendalam, dan insting lelaki untuk melindungi satu-satunya orang yang benar-benar peduli padanya secara tulus di rumah ini.Tanpa memedulikan risiko jika ada pelayan lain yang terbangun, Baskara merengkuh Sekar ke d
"Jadi maksudnya Pak Jono menuduh saya juga? Jangan lupakan kalau saya juga Nyonya di rumah ini ya, Pak. Hati-hati kalau bicara dengan saya." Sekar berusaha berbicara dengan tenang dan juga berwibawa. Ia sadar dirinya juga punya wewenang di rumah ini, seperti tiga istri Tuan Broto lainnya. Lampu senter di tangan Pak Jono masih belum beranjak dari dada Baskara yang bidang. Ketegangan itu terasa begitu nyata, seperti seutas benang tipis yang siap putus kapan saja. "Maksud saya, Nyonya …." Pak Jono berdehem, matanya menyipit menatap kemeja Baskara yang terbuka separuh. "Kenapa pakaian Baskara sampai berantakan begini? Lalu Nyonya Sekar seperti habis menangis, dan wajahnya Baskara ... seperti orang ketakutan saat saya datang?" Sekar menarik napas panjang. Ia melirik Baskara sekilas dengan tatapan yang menusuk, lalu kembali menatap penjaga malam itu dengan ekspresi datar yang meyakinkan. "Dia tadi kaget, Pak Jono. Saat aku panggil, dia sedang memanggul karung beras untuk stok di dap
Langkah kaki Tuan Broto yang berat dan berirama tak-tuk-tak dari sepatu kulitnya semakin mendekat. Suaranya bergema di lorong sunyi, menciptakan simfoni kematian bagi siapa pun yang berkhianat. "Masuk ke lemari! Cepat!" bisik Menur panik, namun Baskara menggeleng tegas. Bersembunyi di lemari hanya akan menunda kematian. Jika Tuan Broto ingin bermalam di sini, ia akan terjebak sampai pagi. Baskara melirik ke arah jendela besar bergaya kolonial di sudut kamar. Tanpa membuang waktu, ia berlari ke sana. "Baskara, itu terlalu tinggi!" seru Menur tertahan. Baskara tidak peduli. Ia membuka gerendel jendela perlahan agar tidak menimbulkan suara. Di bawah sana, kegelapan halaman belakang membentang. Jaraknya sekitar tiga meter dari tanah, cukup tinggi untuk mematahkan kaki jika salah mendarat. Namun, di bawah jendela itu terdapat kanopi beton tipis yang menaungi jendela lantai bawah. Cklek. Gagang pintu depan kamar Menur mulai diputar dari luar. Baskara melompat keluar, mendarat denga
Baskara memejamkan mata rapat-rapat saat melihat ujung selop mewah Nyonya Lastri hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya yang tersembunyi di bawah ranjang. Keringat dingin mengucur deras di punggungnya. ‘Jika Nyonya Lastri menunduk sedikit saja, habislah riwayatku …!’ gumamnya di dalam hati."Kancing siapa ini, Menur?" tanya Lastri dengan nada curiga yang sangat kental. Ia memungut kancing kemeja Baskara yang tergeletak di lantai.Baskara merasa jantungnya seakan berhenti berdetak. Namun, di luar dugaan, Menur justru tertawa kecil. Suaranya terdengar sangat santai, hampir meremehkan."Oh, itu? Itu kancing baju Tuan Broto, Mbakyu," jawab Menur tenang sambil berjalan mendekati Lastri."Tuan? Bukankah Tuan sedang di Semarang? Tuan kan belum pulang.” Alis Lastri bertaut saat menjawabnya."Memang. Tapi sebelum berangkat tadi pagi, Tuan mampir ke kamarku. Katanya kancingnya lepas saat dia sedang terburu-buru. Aku yang memungutnya, tapi sepertinya terjatuh lagi dari meja," dusta Menur ta
Baskara menatap surat di tangannya dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat. Tulisan tangan Nyonya Menur begitu rapi, namun isinya terasa seperti vonis mati.Datanglah sebelum tengah malam, atau kalau kamu tidak datang, aku akan berteriak kalau kamu mencoba melecehkanku.Ini adalah ancaman murni. Menur, yang selama ini dikenal paling pendiam dan jarang bicara, ternyata adalah yang paling berbahaya. Ia tidak merayu seperti Lastri atau menggoda seperti Sari.Ia langsung menodongkan pisau ke leher Baskara menggunakan sebuah pilihan mustahil.Baskara meletakkan gelas susu yang tinggal separuh. Kepalanya mulai terasa sedikit berat, mungkin karena stres, atau mungkin ada "sesuatu" di dalam susu itu. Ia melirik jam dinding di kamarnya yang kecil. Pukul 23.30."Gila ... rumah ini benar-benar gila," umpat Baskara rendah sambil mengacak rambutnya.Jika ia tidak datang, Menur tinggal berteriak. Di rumah sebesar ini, dengan penjaga malam yang setia pada Tuan Broto, nyawa Baskara bisa mel
Jantung Baskara serasa melompat ke tenggorokan. Ia segera menarik tangannya dari jangkauan Nyonya Lastri, sementara sang Nyonya Besar itu tampak jauh lebih tenang, meskipun sisa-sisa gairah masih tertinggal di matanya yang sayu. Lastri menurunkan kaca jendela mobil perlahan. Angin panas Djakarta masuk, membawa aroma keringat dan debu, tapi tidak sedingin tatapan Sari yang berdiri di luar. "Sari? Sedang apa kamu di sini? Bukankah katamu tadi ingin ke tukang jahit di Pasar Baru?" tanya Lastri datar, seolah tidak terjadi apa-apa. Sari, wanita berusia tiga puluh tahun dengan bibir yang selalu dipulas merah menyala, menyandarkan tubuhnya ke pintu mobil. Ia melongok ke dalam, menatap Baskara dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan yang membuat Baskara merasa telanjang. "Jahitannya sudah selesai, Mbakyu. Tapi aku tidak sengaja melihat mobil Mas Broto berhenti di tempat sepi begini. Aku takut ada ban kempes ... atau mungkin, sopirnya yang perlu 'dipompa'?" Sari terkekeh, suara