Share

Jebakan di balik kelambu

Penulis: Risya Petrova
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-11 11:11:44

Baskara menatap surat di tangannya dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat. Tulisan tangan Nyonya Menur begitu rapi, namun isinya terasa seperti vonis mati.

Datanglah sebelum tengah malam, atau kalau kamu tidak datang, aku akan berteriak kalau kamu mencoba melecehkanku.

Ini adalah ancaman murni. Menur, yang selama ini dikenal paling pendiam dan jarang bicara, ternyata adalah yang paling berbahaya. Ia tidak merayu seperti Lastri atau menggoda seperti Sari.

Ia langsung menodongkan pisau ke leher Baskara menggunakan sebuah pilihan mustahil.

Baskara meletakkan gelas susu yang tinggal separuh. Kepalanya mulai terasa sedikit berat, mungkin karena stres, atau mungkin ada "sesuatu" di dalam susu itu. Ia melirik jam dinding di kamarnya yang kecil. Pukul 23.30.

"Gila ... rumah ini benar-benar gila," umpat Baskara rendah sambil mengacak rambutnya.

Jika ia tidak datang, Menur tinggal berteriak. Di rumah sebesar ini, dengan penjaga malam yang setia pada Tuan Broto, nyawa Baskara bisa melayang sebelum fajar menyingsing. Dengan langkah berat, ia keluar dari paviliun, menyusuri lorong belakang yang gelap dan lembab menuju kamar Nyonya Menur.

***

Pintu belakang kamar itu benar-benar tidak dikunci, persis seperti yang tertulis di surat. Baskara mendorongnya perlahan. Suara engsel pintu yang berderit pelan terdengar seperti suara hantu di telinganya.

Di dalam, ruangan itu hanya diterangi oleh sebuah lampu tidur temaram yang memberikan semburat warna jingga di dinding. 

Harum dupa cendana tercium kuat. Menur sedang duduk di tepi ranjang besar berkelambu putih. Ia hanya mengenakan daster sutra tipis berwarna hijau muda yang memperlihatkan lekuk bahunya yang putih bersih.

"Kamu datang tepat waktu, Baskara," ucap Menur tanpa menoleh. Suaranya datar, tanpa emosi, yang justru membuatnya terasa semakin mengerikan.

Baskara tetap berdiri di dekat pintu, tidak berani mendekat. "Apa mau Nyonya? Saya hanya seorang sopir. Jangan hancurkan hidup saya."

Menur berdiri, berjalan pelan mendekati Baskara. "Hidupmu sudah hancur sejak kamu menginjakkan kaki di rumah ini, Bas. Kamu pikir Mbakyu Lastri dan Sari akan melepaskanmu? Tidak. Mereka akan memperebutkanmu sampai kamu hancur berkeping-keping."

Menur kini berdiri tepat di depan Baskara. Jemarinya yang dingin menyentuh kancing kemeja Baskara yang paling bawah. "Aku tidak ingin memperebutkanmu. Aku hanya ingin ... sesuatu darimu. Sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh pria tua bangka yang impoten dan mandul itu."

"Nyonya ...."

"Diam," potong Menur lembut. "Cukup layani aku malam ini. Dan aku akan menjadi pelindungmu dari keganasan Lastri dan Sari. Tapi jika kamu menolak ...."

Menur sengaja menarik napas panjang, bersiap untuk berteriak.

Baskara terjepit. Hasrat mudanya yang meledak-ledak karena pengaruh susu tadi mulai bereaksi dengan kedekatan fisik ini, namun akal sehatnya masih berteriak untuk lari. Namun, sebelum ia sempat memutuskan, pintu depan kamar Menur diketuk dengan keras.

"Menur? Kamu di dalam? Kenapa pintu depan dikunci?"

Itu suara Nyonya Lastri!

Baskara pucat pasi. Jika Lastri menemukannya di kamar Menur, habislah sudah. Persaingan antar istri ini akan berubah menjadi pertumpahan darah.

"Sembunyi di bawah ranjang! Cepat!" perintah Menur dengan nada berbisik yang tajam.

Baskara tidak punya pilihan. Ia merangkak masuk ke kolong ranjang yang sempit. Dari celah kelambu yang menjuntai, ia melihat sepasang kaki Lastri yang mengenakan selop rumah mewah masuk ke dalam kamar.

"Ada apa, Mbakyu?" tanya Menur, suaranya kembali tenang seolah tidak terjadi apa-apa.

"Aku merasa tidak enak badan. Aku ingin mencari minyak kayu putih di kamarmu," jawab Lastri. Matanya menyapu seisi ruangan, lalu berhenti tepat di arah ranjang. "Kenapa kamarmu wangi sekali, Menur? Dan ... kenapa ada dua gelas di atas mejamu?"

Baskara yang bersembunyi di bawah ranjang menahan napas. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia takut suara detaknya bisa terdengar sampai ke telinga Lastri.

Tiba-tiba, tangan Menur merayap ke bawah ranjang, menyentuh bahu Baskara yang gemetar, seolah memberi kode agar ia tetap diam. Namun di saat yang sama, Lastri berjalan semakin mendekat ke arah ranjang, matanya menyipit curiga melihat sebuah kancing kemeja yang tergeletak di lantai.

Kancing milik Baskara yang lepas saat ia merangkak tadi!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dibasuh Empat Nyonya Cantik dan Menggoda   Nyonya Sekar

    “Bas … aku ingin malam ini tidak sendiri,” bisik suara itu, parau dan bergetar.Baskara tersentak. Jantungnya yang baru saja mulai tenang kembali berpacu liar. Ia mengenali suara itu. Suara yang dulu sering memanggil namanya di pematang sawah saat mereka masih anak-anak. Suara yang selalu membuatnya bertahan di dalam rumah megah Tuan Broto ini.“Sekar …?”Baskara membalikkan badannya perlahan. Di bawah temaram lampu minyak yang tergantung di selasar paviliun, ia melihat wajah Sekar yang sembab. Gadis itu tidak lagi tampak seperti seorang istri taipan bus yang berkuasa. Ia hanya tampak seperti gadis kecil yang tersesat di sebuah istana yang kejam.Melihat air mata yang kembali menggenang di pelupuk mata Sekar, perasaan Baskara campur aduk. Ada rasa sedih, kasih sayang yang mendalam, dan insting lelaki untuk melindungi satu-satunya orang yang benar-benar peduli padanya secara tulus di rumah ini.Tanpa memedulikan risiko jika ada pelayan lain yang terbangun, Baskara merengkuh Sekar ke d

  • Dibasuh Empat Nyonya Cantik dan Menggoda   Andai aku bukan sopir

    "Jadi maksudnya Pak Jono menuduh saya juga? Jangan lupakan kalau saya juga Nyonya di rumah ini ya, Pak. Hati-hati kalau bicara dengan saya." Sekar berusaha berbicara dengan tenang dan juga berwibawa. Ia sadar dirinya juga punya wewenang di rumah ini, seperti tiga istri Tuan Broto lainnya. Lampu senter di tangan Pak Jono masih belum beranjak dari dada Baskara yang bidang. Ketegangan itu terasa begitu nyata, seperti seutas benang tipis yang siap putus kapan saja. "Maksud saya, Nyonya …." Pak Jono berdehem, matanya menyipit menatap kemeja Baskara yang terbuka separuh. "Kenapa pakaian Baskara sampai berantakan begini? Lalu Nyonya Sekar seperti habis menangis, dan wajahnya Baskara ... seperti orang ketakutan saat saya datang?" Sekar menarik napas panjang. Ia melirik Baskara sekilas dengan tatapan yang menusuk, lalu kembali menatap penjaga malam itu dengan ekspresi datar yang meyakinkan. "Dia tadi kaget, Pak Jono. Saat aku panggil, dia sedang memanggul karung beras untuk stok di dap

  • Dibasuh Empat Nyonya Cantik dan Menggoda   Kepergok!

    Langkah kaki Tuan Broto yang berat dan berirama tak-tuk-tak dari sepatu kulitnya semakin mendekat. Suaranya bergema di lorong sunyi, menciptakan simfoni kematian bagi siapa pun yang berkhianat. "Masuk ke lemari! Cepat!" bisik Menur panik, namun Baskara menggeleng tegas. Bersembunyi di lemari hanya akan menunda kematian. Jika Tuan Broto ingin bermalam di sini, ia akan terjebak sampai pagi. Baskara melirik ke arah jendela besar bergaya kolonial di sudut kamar. Tanpa membuang waktu, ia berlari ke sana. "Baskara, itu terlalu tinggi!" seru Menur tertahan. Baskara tidak peduli. Ia membuka gerendel jendela perlahan agar tidak menimbulkan suara. Di bawah sana, kegelapan halaman belakang membentang. Jaraknya sekitar tiga meter dari tanah, cukup tinggi untuk mematahkan kaki jika salah mendarat. Namun, di bawah jendela itu terdapat kanopi beton tipis yang menaungi jendela lantai bawah. Cklek. Gagang pintu depan kamar Menur mulai diputar dari luar. Baskara melompat keluar, mendarat denga

  • Dibasuh Empat Nyonya Cantik dan Menggoda   Bagaimana ini?

    Baskara memejamkan mata rapat-rapat saat melihat ujung selop mewah Nyonya Lastri hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya yang tersembunyi di bawah ranjang. Keringat dingin mengucur deras di punggungnya. ‘Jika Nyonya Lastri menunduk sedikit saja, habislah riwayatku …!’ gumamnya di dalam hati."Kancing siapa ini, Menur?" tanya Lastri dengan nada curiga yang sangat kental. Ia memungut kancing kemeja Baskara yang tergeletak di lantai.Baskara merasa jantungnya seakan berhenti berdetak. Namun, di luar dugaan, Menur justru tertawa kecil. Suaranya terdengar sangat santai, hampir meremehkan."Oh, itu? Itu kancing baju Tuan Broto, Mbakyu," jawab Menur tenang sambil berjalan mendekati Lastri."Tuan? Bukankah Tuan sedang di Semarang? Tuan kan belum pulang.” Alis Lastri bertaut saat menjawabnya."Memang. Tapi sebelum berangkat tadi pagi, Tuan mampir ke kamarku. Katanya kancingnya lepas saat dia sedang terburu-buru. Aku yang memungutnya, tapi sepertinya terjatuh lagi dari meja," dusta Menur ta

  • Dibasuh Empat Nyonya Cantik dan Menggoda   Jebakan di balik kelambu

    Baskara menatap surat di tangannya dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat. Tulisan tangan Nyonya Menur begitu rapi, namun isinya terasa seperti vonis mati.Datanglah sebelum tengah malam, atau kalau kamu tidak datang, aku akan berteriak kalau kamu mencoba melecehkanku.Ini adalah ancaman murni. Menur, yang selama ini dikenal paling pendiam dan jarang bicara, ternyata adalah yang paling berbahaya. Ia tidak merayu seperti Lastri atau menggoda seperti Sari.Ia langsung menodongkan pisau ke leher Baskara menggunakan sebuah pilihan mustahil.Baskara meletakkan gelas susu yang tinggal separuh. Kepalanya mulai terasa sedikit berat, mungkin karena stres, atau mungkin ada "sesuatu" di dalam susu itu. Ia melirik jam dinding di kamarnya yang kecil. Pukul 23.30."Gila ... rumah ini benar-benar gila," umpat Baskara rendah sambil mengacak rambutnya.Jika ia tidak datang, Menur tinggal berteriak. Di rumah sebesar ini, dengan penjaga malam yang setia pada Tuan Broto, nyawa Baskara bisa mel

  • Dibasuh Empat Nyonya Cantik dan Menggoda   Jadi rebutan para Nyonya

    Jantung Baskara serasa melompat ke tenggorokan. Ia segera menarik tangannya dari jangkauan Nyonya Lastri, sementara sang Nyonya Besar itu tampak jauh lebih tenang, meskipun sisa-sisa gairah masih tertinggal di matanya yang sayu. Lastri menurunkan kaca jendela mobil perlahan. Angin panas Djakarta masuk, membawa aroma keringat dan debu, tapi tidak sedingin tatapan Sari yang berdiri di luar. "Sari? Sedang apa kamu di sini? Bukankah katamu tadi ingin ke tukang jahit di Pasar Baru?" tanya Lastri datar, seolah tidak terjadi apa-apa. Sari, wanita berusia tiga puluh tahun dengan bibir yang selalu dipulas merah menyala, menyandarkan tubuhnya ke pintu mobil. Ia melongok ke dalam, menatap Baskara dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan yang membuat Baskara merasa telanjang. "Jahitannya sudah selesai, Mbakyu. Tapi aku tidak sengaja melihat mobil Mas Broto berhenti di tempat sepi begini. Aku takut ada ban kempes ... atau mungkin, sopirnya yang perlu 'dipompa'?" Sari terkekeh, suara

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status