MasukDinda terpaksa menunggu kedatangan Seno. Seno mengaku sedang membeli rokok di warung depan kampus saat ditelpon Dinda. Setengah jam berlalu, tapi batang hidung Seno belum juga tampak. Dinda mulai uring-uringan. Ia sendirian di kampus. Mita sudah pulang lebih dulu karena harus mengantarkan mamanya berobat.
Dinda kembali mencoba menghubungi Seno, setelah tujuh kali panggilannya ditolak. Kali ini, nada sambung terdengar cukup lama.
“Halo.” Akhirnya terdengar suara di ujung sana, akan tetapi suara yang terdengar bukanlah suara Seno.
“Ha-lo?” Dinda menjadi ragu-ragu. Ia kembali melihat nomor yang ia hubungi. Namanya tidak berubah. Tetaplah Seno sahabatnya, tapi mengapa suaranya lain? Apakah telah terjadi sesuatu pada sahabatnya? Apakah Seno telah mengalami kecelakaan dan sekarang yang menjawab telponnya adalah orang yang sedang berusaha menolong Seno?
“Iya, halo.” Suara itu benar-benar terdengar asing di telinga Dinda. 'Apakah Seno baik-baik saja? Apakah ini orang lain? Atau …' Dinda tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Otaknya heng seketika.
“Sedang mencari siapa?” Arya sengaja bersikap seolah tidak tahu maksud pertanyaan Dinda. Mendengar suara Dinda yang begitu lembut di telpon, membuatnya ingin berlama-lama mendengar suara gadis itu.
“Anu- Itu- Kamu siapa?” Dinda akhirnya tidak dapat menahan kesabarannya. “Apa teman saya baik-baik saja? Tolong kirim lokasi biar saya segera meluncur ke sana.” Perasaan Dinda sangat kacau. Apa yang akan ia katakan pada orang tua Seno jika sampai bocah itu mengalami kecelakaan.
“Teman? Apakah kamu pemilik motor V***a putih?”
Dinda menganggukkan kepalanya dengan cepat, lupa jika mereka tidak saling berhadapan.
“Bukan?” suara di ujung meminta penegasan.
“I-I-Iya. Itu motor saya. Katakan ada dimana? Teman saya – Apakah dia terluka parah?”
Ingin rasanya Arya tertawa keras, tapi ia berusaha dengan keras untuk menahannya.
“Temanmu sedang bersembunyi. Dia takut denganmu, karena sudah menjadi teman yang tidak amanah.”
“Mak-Maksudnya?” Dinda menjadi semakin bingung.
“Kamu tahu? Ia menawarkan motor ini kepada saya dengan harga yang sangat murah.” Arya semakin menjadi-jadi. Ia enggan berhenti menggoda Dinda.
“APAAAA!!!!” Teriak Dinda begitu keras, membuat Arya segera menjatuhkan ponselnya. Telinganya menjadi pekak seketika.
‘Sialan! Gadis ini suaranya menggelegar sekali’, gumam Arya langsung cepat-cepat memungut kembali ponselnya.
Panggilan itu terhenti. Dinda menatap kesal layar ponselnya yang kini berwarna hitam. Ia kembali mencoba menghubungi Seno, tapi panggilan dari nomor asing lebih dulu masuk ke ponselnya.
“Dinda?” suara di sana menyapa telinga Dinda yang masih emosi mendengar penjelasan orang asing yang berbicara di ponsel Seno.
“IYA. ADA APA?!” Suara Dinda kini terdengar begitu galak. “Kamu siapa?”
“Saya akan mengantarkan motormu. Tetap di tempat kamu berada sekarang. Jangan pindah sejengkal pun.”
“Tapi –“
Telpon itu telah mati. Dinda berdecak kesal. Ia menyebut nama Seno berulang kali dengan penuh amarah. “Apa yang sebenarnya terjadi dengan motor gua?”
Dinda mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk. Sebuah cahaya berwarna terang menyoroti wajahnya, membuatnya harus sedikit menyipitkan netranya agar dapat mengenali si pengendara.
Sekian menit berikutnya, motor itu sudah berhenti tepat di hadapannya. Dinda ternganga begitu melihat sosok yang tengah turun dari motornya.
‘Bukannya itu dosen baru yang pernah gua ajak ….’ Dinda tidak meneruskan kalimatnya.
“Terima kasih atas pinjamannya.” Arya memberikan kunci motor kepada Dinda yang masih duduk tercengang menatap ke arahnya.
“Bagai-mana bisa … Mengapa bisa?” tanya Dinda tak habis pikir.
“Saya tadi terlambat datang rapat di rektorat. Begitu melihat motor ini, saya langsung meminjam tanpa bertanya dulu siapa pemiliknya. Terima kasih ya… Bensinnya sudah diisi full.”
Arya meninggalkan Dinda yang masih duduk terdiam, menatap punggungnya yang mulai menjauh dari tempat Dinda berada. Arya berjalan sambil bersiul riang. Mimpi apa dia semalam hingga bisa berbicara dengan gadis yang akhir-akhir ini memenuhi kepalanya.
-0-
Dinda berguling ke sana kemari di atas kasurnya. Ia masih tidak percaya jika dirinya hari ini berbicara empat mata dengan pria tampan yang tempo hari ia ajak menikah.
“Emak-Emak!!! Semoga tuh dosen nggak ingat kalau gua yang kemarin teriak-teriak ngajakin dia nikah.” Dinda menutupi wajahnya dengan bantal. “Aaaargh! Kenapa sih ini mulut sembarangan aja kalau ngomong? Kalau udah begini, siapa coba yang susah? Kan gua juga jadinya yang menanggung malu.”
Dinda menjauhkan bantal yang sebelumnya ia letakkan di wajah. Ia kini menatap langit-langit kamarnya. Wajah sang dosen tiba-tiba tergambar jelas di sana. Tiba-tiba wajahnya terasa panas. Ia mendadak merasa malu.
Bukankah Mita kemarin mengatakan jika dosen tampan itu masuk dalam tim penguji yang mengujinya tempo hari? Mengapa dirinya bisa tidak menyadarinya? Orang setampan itu luput dari penglihatannya? Apa yang sedang dia pikirkan waktu itu? Bukankah itu berarti dosen tampan itu juga mengajukan pertanyaan padanya?
‘Oh, Tuhan. Malu gua. Satu-satunya yang nggak lulus sidang, dan dosen tampan itu pasti menyaksikan semua prosesnya.’ gumam Dinda pada dirinya sendiri. ‘Tidak!!!’ Lagi-lagi, Dinda menenggelamkan wajahnya di bantal.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan di pintu kamar mengejutkan Dinda. Ia segera bangun dan buru-buru membuka pintu kamar.
“Ada apa, Ma?”
“Astaga, Nak! Ada apa dengan rambut kamu? Mengapa mengembang kaku begitu?” Sari terkejut melihat penampilan putrinya.
“Nggak kenapa-kenapa, Ma. Ada apa, Ma? Perlu bantuan Dinda?” Dinda segera merapikan rambut ala kadarnya.
“Mama mau pergi ke salon. Ada undangan nikahan nanti malam. Kamu bisa kan nganterin mama ke salon?”
“Nggak bisa dandan sendiri ya, Ma?”
“Mama lagi pengen pake sanggul, jadi harus ke salon. Ntar make up pake sendiri.”
“Oh, cuma nyanggulin rambut. Oke deh, tapi Dinda mandi bentar ya, Ma. Gerah banget soalnya.”
-0-
Sedan putih perlahan memasuki area parkir salon langganan keluarga Broto. Sari keluar lebih dulu sedangkan Dinda memarkir mobil. Di luar perkiraan, salon itu ternyata cukup ramai. Untungnya, Sari sudah membuat janji jadi masih ada waktu cukup untuk berdandan di rumah.
Saat Dinda menjejakkan kakinya di lantai marmer berwarna putih, ia seperti menangkap bayangan seseorang, yang membuat detak jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Kepalanya berulang kali menggeleng, menolak kenyataan.
Sayangnya, kenyataan adalah sesuatu yang tidak dapat Dinda pungkiri. Ia melihat sang mama sedang berbincang dengan seorang wanita cantik, seumuran Sari, dengan seorang pria muda di samping mereka. Pria itu tersenyum lepas, sambil menggaruk kepalanya.
Sari mencari-cari putri semata wayangnya. Ketika sosok yang ia cari sedang terpaku melihat ke arahnya, Sari langsung melambaikan tangannya.
“Dinda…”
Pria yang tadi tersenyum lepas langsung terkejut mendengar nama itu. Netranya mengikuti ke arah mana wanita cantik itu melambaikan tangannya.
‘Bukankah itu …”
Kedua orang muda itu sontak menatap satu sama lain.
"Oh. Itu Bian, Nek. Bian dulu yang punya adek. Om Dani sama Tante Mita menyusul nanti." Celoteh Bian membuat jantung Sari nyaris lepas dari tempatnya."Apa kamu bilang? Bian mau punya adek? Beneran?" Sari yang semula menatap Bian langsung mengalihkan tatapannya ke arah Dinda yang baru saja menambah isi mangkoknya dengan bubur sumsum. Ia tidak mau percaya begitu saja. Dinda terkekeh demi melihat ekspresi Sari. Ingin rasanya ia meneruskan drama ini tapi hati kecilnya melarang. "Menurut mama gimana?" Pertanyaan Dinda justru menambah rasa penasaran Sari semakin menjadi."Lah malah tanya mama? Mana mama tahu." Sari jadi uring-uringan sendiri. Ia tidak tahu akan bagaimana dirinya jika kabar itu benar adanya.Dinda diam sejenak. Ia menarik napas, mengatur perasaannya sendiri. Ia sendiri masih terkejut dengan kabar ini, bagaimana lagi dengan yang lain?"Kalau memang rezeki, enam bulan sepuluh hari, Bian akan resmi menjadi kakak." Dinda mengangsurkan foto hasil usg kepada Sari.Sari tidak s
Dinda menepuk punggung Mita. Ia menenangkan sahabatnya itu. Mita memang sangat sensitif setiap kali hamil. Ia mudah sekal menangis oleh hal-hal sepele. Apalagi menyangkut berita gembira seperti sekarang ini."Padahal kita nggak janjian'kan buatnya, Din?" ucap Mita disela isak harunya. Ia tidak dapat melukiskan perasaannya. Kehamilannya yang kembali berbarengan Dinda tidak pernah terlintas dalam benaknya.Dinda langsung saja tergelak. "Lu bikin gua sakit perut, tau nggak sih, Mit?" "Nah, gua'kan nanya beneran, Din. Mana kita tahu kalau kita bakalan bareng b-... "Dinda langsung menutup mulut Mita. "Ssst! Sudah-sudah-sudah. Jangan lagi lu terusin. Bahaya!"Mita langsung mengangguk-anggukkan kepala, memberi kode agar Dinda segera menyingkirkan tangannya dari mulutnya. Ia langsung menarik napas sebanyak yang ia bisa, lalu menghembuskannya."Semua ini berkat doa mama-mama semua, Mit. Ya tentu saja ada campur tangan Tuhan juga di dalamnya. Sekarang tugas kita merawat dan menjaga kehamilan
Mobil Dani meluncur cepat menuju dokter langganan Dinda dan Mita. Setelah melewati berbagai pemeriksaan, Dani mendapat selembar surat keterangan dan foto. Keningnya berkerut. Memandang foto hasil usg di tangannya dengan tatapan tidak percaya. Dokter harus mengulang tiga kali untuk membuat Dani benar-benar percaya dengan foto dan surat keterangan yang diberikan padanya."Ini serius, Dok? Dokter nggak sedang nge-prank saya'kan?" "Serius, Pak Dani. Delapan bulan lagi, anda akan menjadi seorang ayah."Perlu beberapa menit untuk ia benar-benar memahami jika semua itu adalah benar adanya. Gemuruh di dadanya membuat Dani merasakan sensasi deg-degan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia akan menjadi seorang ayah. Ketika sudah berada di luar ruangan, Dani langsung memeluk Sari yang ikut mengantar Maya ke klinik. Ia mengangsurkan lembaran foto kepada Sari. Wanita itu tertegun sejenak lalu berteriak kesenangan. Ia langsung mengirim pesan pada Dinda."Mama mau punya cucu lagi!" tulisn
Tepat pukul sebelas pagi keesokan harinya, suara lantang Dani menggema di kediaman Yani yang sudah dihias demikian rupa. Harumnya bunga melati dan sedap malam mendominasi. Aneka bunga segar menghiasi mulai jalan masuk hingga ruang tamu yang digunakan sebagai tempat akad nikah. "Saya terima nikah dan kawinnya Maya Safitri binti Marlin Sanjaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.""Sah?" tanya penghulu kepada para saksi."Sah." "Alhamdulillah." Ucapan syukur mengiringi doa yang dipanjatkan penghulu untuk kedua mempelai. Tak lupa juga wejangan pernikahan yang biasa diberikan untuk pengantin baru.Bulir air mata yang tadi menggenang di sudut mata Yani, akhirnya meluncur tanpa kendali. Bahunya terguncang hingga harus ditenangkan Dinda dan Mita. Yani mengangguk, membalas tangan Mita yang menggenggam erat kedua tangannya."Terima kasih. Semoga Maya bisa menjadi istri yang baik dan patuh pada suaminya.""Aamiin. Sekarang, Ibu harus maju ke depan. Itu, di sana. Mama sudah menunggu untuk
Sambutan hangat yang diberikan keluarga Broto, membuat Yani terharu. Yani tidak pernah membayangkan jika keluarga Broto begitu membumi. Padahal mereka termasuk keluarga berada, jauh diatasnya. Namun, mereka tidak seperti kebanyakan. Bahkan, besan mereka tidak jauh berbeda. Yani berulang kali mengucap syukur. Ketakutan yang sempat menggelayutinya saat Dani mulai sering bertemu dengan Maya, hilang sudah. Makan malam itu berjalan lancar, penuh kehangatan. Satu yang disayangkan, Marlin tidak berada di tengah-tengah mereka, dan itu mendatangkan perasaan sedih dalam hati Yani. Ia berulang kali menggumamkan nama Marlin."Andai Bapak ada di sini. Akan terasa jauh lebih seru dan lengkap. Anak kita, pasti akan sangat bahagia." Satu bulir air mata menetes dari sudut luar netra Yani.Maya menggenggam erat tangan Yani. "Bapak melihat kita, Bu. Semoga bapak merestui ini semua."Mobil Dani meninggalkan kediaman Broto menuju tempat tinggal Yani. Acara makan malam berjalan sukses. Lamaran akan dilaks
"Maksudnya?" Yani menuntut Dani untuk memperjelas kalimatnya. Yani masih meragukan kemampuan telinganya menangkap maksud dibalik kalimat-kalimat yang ia dengar barusan. Jangan-jangan pria muda ini sedang menge-pranknya.Seperti sudah menduga sebelumnya, Dani kembali mengatakan hal yang intinya sama, bahwa ia ingin menikahi Maya, putri semata wayang Yani.Bingung dan ragu. Yani justru menatap kedua punggung tangannya lalu membolak-balik keduanya, seakan ingin menunjukkan jika perkara ini bukanlah perkara sepele, dan ia sedang berpikir keras tentang perkara ini. "Kami bukan dari keluarga kaya.""Tidak ada masalah. Keluarga saya pun tidak jauh berbeda.""Anak saya bukanlah seseorang yang sangat pintar.""Justru itu yang saya suka. Berarti saya bisa menjadi suami sekaligus guru untuknya."Maya semakin salah tingkah mendengar jawaban-jawaban Dani. Tekad Dani sepertinya sudah sangat bulat. Ia berhasil menjawab pertanyaan dan pernyataan Yani. "Dia belum lulus kuliah." "Maya bisa menerus
Arya mengungkapkan alasan dibalik permintaannya itu secara gamblang di depan Dinda. Bukan tanpa alasan dirinya meminta Dinda memanggil dengan nama panggilan khusus untuknya. Perhatian Arya tiba-tiba jatuh pada tangan sebelah kiri Dinda. Ada sesuatu yang hilang di sana menurutnya. Ia menatap Dinda de
Arya menatap tajam pergelangan tangannya yang dicekal dengan sangat erat oleh Mega. "Tolong jauhkan tangan itu dari pergelangan tangan saya!" Kali ini, suara Arya berbeda dari sebelumnya. Sangat berbeda malah, dan itu membuat nyali Mega menciut seketika."Saya ada perlu, dan itu tidak ada sangkut pa
Dinda mau tidak mau memberitahu Mita agar tidak menyusulnya. Ia akan mampir ke rumah gadis itu untuk mengambil mobil Dani yang tadi pagi ia gunakan untuk mengantar Arya. "Kenapa? Kamu menyesal memberitahunya?" Arya melirik ke arah Dinda. Jelas terlihat jika Dinda sangat menyesal. "Seharusnya tidak p
Dinda menelan ludahnya. Senjata makan tuan. Niat hatinya hanya untuk memancing dengan kalimat iseng, tapi dirinya justru dibuat salah tingkah sendiri dengan jawaban dari Arya. "Bagaimana jika saat saya jemput kamu besok, saya sekalian saja bertemu dengan papa kamu? Saya sepertinya sudah tidak dapat







