เข้าสู่ระบบ“Baiklah, ini adalah babak terakhir untuk peserta. Para juri saat ini sedang berdiskusi untuk memilih siapa pemenangnya!”
Suara pembawa acara terdengar di seluruh penjuru ruangan. Evelyn mengatur napas dengan tenang. Perasaan gugup dan harapan kecil dia iringi dengan doa. Evelyn telah melewati beberapa tantangan yang membuatnya terus maju ke babak akhir. Pengumuman itu adalah yang terakhir baginya. Hanya satu langkah lagi dia akan bisa menggenggam kemenangan itu. Empat juri membentuk lingkaran dan berdiskusi. Mereka adalah campuran satu orang pecinta kuliner yang terkenal dengan pemilihan makanannya yang ketat dan tiga chef restoran Vilma yang terkenal. “Oh, apakah sudah selesai?” juri bertanya sambil memainkan emosi setiap orang yang menonton saat melihat para juri sudah memisahkan diri. Pembawa acara itu mendapat kertas dengan satu nama pemenang yang tertera di sana, “Wah, ini dia! Sepertinya aku bisa menebak siapa pemenangnya.” Evelyn berdiri menundukkan kepala. “Pemenangnya adalah … Evelyn Ro!” Evelyn mendongak bahagia kemudian menangis haru saat dia diberikan piala dan dan pakaian seorang chef. Di tengah tangis dan kerumunan yang merayakannya, sekelebat ingatan Evelyn yang tak dia inginkan terlintas di kepalanya. Kata-kata meremehkan dari ibunya tentang hobinya membuat dia mengeratkan pegangan di pialanya. ‘Ibu … akan aku buktikan aku bisa sukses dengan jalan yang aku pilih tanpa campur tanganmu,’ kata Evelyn bertekad dalam hati. Di lantai atas tempat tamu VIP hadir, Lidya bertepuk tangan ringan dengan mata berbinar dan senyum tipis di bibirnya. “Sudah aku bilang dia pasti akan menang. Apalagi makanannya sesuai seleramu. Ya, kan?” Lidya menoleh kepada anak lelakinya yang duduk di seberang meja. Anak lelaki berusia tiga puluh satu tahun itu hanya menjawab seadanya saat matanya masih terfokus ke lantai bawah. “Bagaimana kalau kita merekrutnya sebagai chef di rumah khusus untukmu?” tanya Lidya antusias. Bukan salahnya jika dia terlalu antusias. Lidya sudah pusing dari melihat anaknya pemilih dalam hal makanan. Bahkan dengan uang yang banyak pun, dia belum menemukan ahli masak yang bisa membuat anaknya makan banyak. Lidya begitu senang saat kontestan bernama Evelyn itu menggugah selera putranya. Masakan setiap babak yang diberikan pada mereka untuk dicicipi, membuat putranya itu meakan lebih banyak. “Tidak perlu,” jawab Ernest pada akhirnya. “Itu sudah menyalahi aturan lomba. Dia akan tetap mendapat kontrak kerja restoran terlebih dahulu.” Lidya sedikit kecewa, tapi tetap mencoba menawar, “Bagaimana jika kita melihat kinerjanya di sini dulu baru merekrutnya?” Ernest tidak menjawab, tapi Lidya asumsikan sebagai persetujuan. Dia tidak masalah menunggu sedikit lama. Toh, restoran Vilma termasuk dalam jajaran cabang anak perusahaan Avram milik putranya. “Sayang sekali dia tidak bisa memasak untukmu saat ini. Entah kenapa aku yakin dia akan mengembalikan nafsu makanmu.” Ernest tidak menanggapi karena tidak suka bicara, tapi pandangannya pada Evelyn sedikit memiliki arti. Evelyn yang tidak tahu dia menjadi topik pembicaraan Ibu dari pria yang dia tabrak, tengah bertelepon ria dengan Mia. Dia dengan bangga memamerkan hasil kerja kerasnya. “Lihat apa yang aku dapat,” kata Evelyn dengan wajah berseri. “Wah, kamu benar-benar memenangkannya?!” pekik Mia dengan heboh pada panggilan video yang tengah berlangsung. “Aku hanya bercanda saat mendaftarkanmu, ternyata aku memasukkan sang juara ke dalam lomba itu!” Mia memang tidak berharap banyak. Dia hanya ingin agar Evelyn bisa melupakan kesedihannya dengan kesibukan. Evelyn tahu apa yang dia maksud. Dia juga tahu apa yang dia inginkan setelah dua minggu perenungan dalam hidupnya yang baru. Evelyn tersenyum lebar ke kamera, “Ini baru permulaan, aku akan selalu seperti ini ke depannya.” “Wow, ini baru temanku! Apakah ini akan menjadi kebangkitan seorang putri?!” “Berhentilah berbicara omong kosong,” kata Evelyn tidak kuat dengan semangat yang disalurkan sahabatnya. “Aku akan menghadiahimu masakan yang membuat aku menang setelah aku pulang dari sini.” “Wah, hebat! Rasanya aku ingin mengurungmu di rumah agar selalu membuat masakan lezat untukku.” Evelyn mendengkus, “Jangan bermimpi!” Mereka tertawa bersama dan akan makan malam sesuai menu yang telah dijanjikan. “Aku akan menantikannya,” kata Mia lalu mengakhiri panggilan. Evelyn memandang ponselnya dengan haru. Dia pikir telah kehilangan segalanya saat pertunangan yang dia yakini sebagai kebahagian terakhirnya. Namun, sahabat dan kegiatan yang dia sukai tidak dapat diambil siapapun. Bahkan oleh Sira, adik angkatnya yang selalu mendapatkan apapun yang dia punya. Acara telah selesai. Perlombaan itu direkam untuk ditayangkan paling lambat dalam waktu seminggu setelah pengeditan. Nama Evelyn menjadi terkenal saat penayangan karena hidangannya yang melokal dan menghadapi tantangan dengan siap. Teman Sira yang tengah bosan saat bermain di club malam melihat berita Evelyn. Dia dengan semangat menyodorkan ponselnya pada Sira, “Hei, lihat! Bukankah ini kakakmu?!”Evelyn hanya menghela napas lelah. Dua hari terakhir benar-benar melelahkan. Sekarang pun dia tidak bisa mengistirahatkan dirinya dengan secangkir teh sejenak. Ketika Evelyn datang memenuhi panggilan Lidya, sang nyonya besar itu tengah duduk di dalam rumah kaca miliknya. Mata wanita itu terpejam saat dia duduk menunggu di depan meja besi putih dilengkapi dengan teko teh beserta buah-buahan. Di sampingnya berdiri seorang pelayan yang siap untuk menerima instruksi apapun. Termasuk mengganti teh dingin di meja. Evelyn diam-diam mengagumi sosok Lidya yang tenang seperti ini. “Selamat siang, Nyonya,” sapa Evelyn setelah sampai. Sikapnya tenang dan sopan. Tangan di depan perut dan pandangan menunduk tanpa melirik ke sana kemari. Perilakunya menunjukkan bahwa dia hanyalah seorang pelayan yang dibayar oleh Lidya. Tangan di depan perut dan pandangan menunduk tanpa melirik ke sana kemari. Pemandangan itulah yang dilihat oleh Lidya saat dia membuka matanya. Setelah merasa puas memperhatik
Revano menghentikan langkahnya sesuai keinginan Sira. Namun, kerutan di kening dan juga tatapan tajam yang tidak ramah membuat Sira menahan napas. “Bukankah ayah sudah mengatakannya barusan? Apa kamu tidak mendengarnya?” Pertanyaan Revano cukup tajam. Sira tahu dia orang yang netral, bahkan ketika dulu dia bertengkar dengan Evelyn. Tidak disangka sikapnya saat ini lebih tajam dan menyakitkan. Mata Sira mulai berkaca-kaca, “Tapi bagaimana aku bisa hidup di bawah tatapan orang-orang dari keluarga Durant? Sudah pasti mereka tidak senang dengan–” “Sira, apakah kamu selalu bertingkah seperti ini bahkan setelah menikah?” potong Revano cepat. Dia mulai sakit kepala karena menghadapi tangisan yang tidak ada habisnya hari ini. “Kamu bukan anak kecil lagi. Setidaknya uruslah dirimu sendiri.” Setelah mengatakan itu, Revano jadi teringat Evelyn. Adiknya yang satu itu kini telah mandiri. Saking mandirinya, dia bahkan baik-baik saja meski tidak menyandang gelar sebagai putri sulung keluarga Ro
Perasaan orang-orang yang ada di ruang keluarga itu campur aduk setelah melihat kedatangan Jason. Terutama Tiara, dia bingung bagaimana berbicara dengan suaminya saat ini.Setelah kebenaran terungkap kemarin, sikap Jason menjadi dingin. Kemarahan dan murka di depan umum adalah emosi terakhir yang ditinggalkan oleh suaminya.Ketika mereka membubarkan pesta lebih awal, suaminya menjauh dan tidak pulang ke rumah sama sekali.Kini, Jason malah datang sambil mengatakan kalimat pertanyaan itu, membuat Tiara ketakutan.“Apa yang kamu maksud?!” balas Tiara defensif. Dia tidak mau mengakui bahwa dia memang sengaja mengusir Evelyn. “Anak itu keluar dari rumah ini karena kesalahannya. Tidak ada hubungannya dengan kami!”Jason tersenyum sinis, “Oh, bukan karena kamu ingin Sira menjadi anak perempuanku satu-satunya, sehingga kamu mengusir Evelyn?”Tiara tergagap tanpa berani menatap mata Jason, “A-aku, mana mungkin aku tega pada anakku sendiri! Kamu tahu berapa banyak masalah yang telah dibuat Eve
Jason tidak terkejut. Setidaknya Evelyn masih mau menerima niat tulusnya meski dia harus menerima syarat yang dia ajukan.“Tentu saja,” balas Jason atas pernyataan Evelyn sebelumnya. “Ayah akan menerimanya asal kamu mau menerima niat baik ayah.”Evelyn tidak lagi terpengaruh oleh sikap Jason yang melunak. Dia masih ingat betul betapa dingin hati ayahnya untuknya.Bahkan meminta maaf ini pun, pasti dia pertimbangkan terlebih dahulu. Penyesalan dan rasa frustasi yang dialami oleh Jason sudah dipastikan hanya sedikit di hatinya.Evelyn tahu sebentar lagi saham yang dia berikan ini pasti akan kembali dipertimbangkan jika dia sudah menyadari bahwa dia benar-benar bukan keluarga Rowan lagi.Evelyn harus bersiap agar Jason tidak menuntut di masa depan baik sebagai ayah maupun sebagai direktur utama perusahaan Wanna Group keluarga Rowan.“Syarat yang saya ajukan tidaklah sulit. Namun, karena ini menyangkut ketulusan Anda, saya berniat menjadikan penyerahan saham ini ditulis di atas kertas put
Evelyn langsung mengerti apa yang dimaksud oleh Jason. Namun, yang tidak dia mengerti adalah kenapa dia melakukan hal itu? “Ayah telah salah sangka dalam waktu lama oleh ulah mereka. Seharusnya apapun yang terjadi, ayah tidak pilih kasih dan mengabaikanmu, Evelyn.”Kalimat itu keluar bersamaan dengan wajah penuh penyesalan. Sayangnya, Evelyn sudah tidak berharap lagi ketika dia diusir dari rumah. Dia telah mati saat nyaris melompat di jembatan waktu itu.Jadi Evelyn hanya menatap dingin dan membalas, “Benar sekali, Anda telah salah sangka dalam waktu lama. Seharusnya Anda juga tahu, bahwa waktu terlalu mahal hanya untuk diulang kembali.”“Anda tidak perlu repot untuk berpikir memperbaiki kesalahan Anda di masa lalu,” lanjut Evelyn tanpa rasa apapun.Jason tahu Evelyn sakit hati atas perlakuannya yang pilih kasih dalam waktu lama itu. Namun, dia benar-benar merasa bersalah dan ingin menebusnya kembali.“Jika kamu mau, ayah bisa mengusir mereka juga. Agar kamu bisa merasa nyaman saat
Napas Jason memburu. Dia tidak menyangka Evelyn tidak memberinya waktu sedikitpun. Seolah dari awal hingga akhir, wanita itu tidak mau bicara dengannya sama sekali. “Aku ke sini sebenarnya tidak ingin mengatakan hal seperti itu,” kata Jason pada akhirnya. Tangannya yang mencekal Evelyn pun ikut dia lepaskan. Takut membuat Evelyn punya alasan untuk kembali menjauh. “Duduklah dulu,” bujuk Jason. “Aku hanya akan membicarakan hal yang penting saja.” Sebagai laki-laki dan orang tua, Jason masih sulit untuk mengatakan maaf atau hal yang membuat dia menurunkan egonya. Padahal dia datang menemui Evelyn justru karena dua hal itu. Kenyataan pahit tentang kebenaran yang membuat luka cukup dalam padanya itu membuat dia merasa sangat bersalah pada Evelyn. Namun, apalagi yang bisa dia lakukan? Semuanya sudah berjalan sesuai takdir. Keluarga kecil bahagia yang dia bangunjustru ilusi yang dia buat sendiri. Evelyn pun demikian. Dua puluh tahun lebih menjadi anak dan dua belas tahun mencari perha
"Lebih penting dari itu." Sira tidak menyangka kata-katanya dibalas seperti itu oleh Revano. Dia tahu bahwa Revano sosok yang netral di antara dia dan Evelyn. Namun, dia tidak menyangka Revano tetap membubarkan pesta yang dia impikan ini hanya karena sesuatu yang diberikan oleh Evelyn. "Baiklah
“Apa yang aku lakukan ini?” Pertanyaan lewat bisikan Evelyn yang sangat samar itu tidak ada yang membalas. Kesadaran menguasainya dalam waktu singkat ketika dia dengan ganas menyiram wajahnya sendiri dengan air. Sekarang, Evelyn merasa bahwa tindakannya amat sangat bodoh. Kata-kata yang menyuru
Evelyn kemudian meletakkan kotak mewah itu di meja dapur. Dia meliriknya sekali lagi, lalu memalingkan wajah dengan cepat dan meraih kotak sarapan yang belum diberikan pada Ernest, bersiap untuk pergi mencari dan memberikan kotak itu padanya. Villa mewah itu terkesan besar, tetapi untuk mencari di
“Apa maksudmu?” tanya Sira setelah terkejut sesaat.Sang asisten yang baru saja datang dari luar memberikan ponselnya kepada Sira. Layarnya menunjukkan berita populer dengan latar belakang foto Sira sebagai seorang model iklan bulan lalu.Sira membaca berita itu dengan mata yang membulat. Di berita







