LOGIN“Mana? Coba sini kulihat!”
Sira merebut ponsel temannya dan memandangi berita dengan nama Evelyn terpampang sebagai judul besar. Foto berita itu juga menampilkan Evelyn yang tersenyum cerah setelah mendapat kemenangan dengan piala di tangannya. “Itu benar kakakmu, kan?” Tanya teman Sira dengan sedikit nada mengejek. “Hal apalagi yang dia lakukan agar menarik perhatian orang tuamu?” Teman Sira tidak asal bicara. Dia bisa menebak seperti itu karena Sira sering bercerita tentang kelakuan sang kakak yang selalu membuat ulah hanya agar diperhatikan. Dia masih berasumsi demikian tanpa tahu bahwa Evelyn tidak lagi berada di rumah keluarga Rowan. Sira terdiam sebentar memikirkan jawaban kemudian berkata, “Oh, iya, ini kakakku. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan sekarang.” “Apa ini? Cerita baru tentang kelucuan kakakmu lagi?” Pertanyaan mengejek itu membuat teman-teman Sira yang lain tertawa. Sira memang terbiasa menceritakan hal buruk Evelyn untuk menciptakan citra murni untuk dirinya sendiri. “Yah, seperti biasa … dia sedang membuat masalah di rumah,” kata Sira dengan nada halus. Baginya, masalah Evelyn selalu masalah kecil di matanya. “Mungkin nanti ayah akan menegurnya nanti.” “Bukankah sebelumnya ada gosip yang mengatakan bahwa dia seorang … pengguna?” Kata terakhir diucapkan dengan pelan. Namun, semua oang yang bermain dengan Sira sedikit tahu dengan ceritanya. Sebab mereka juga kalangan atas yang pasti mendapat berita dari para tetua. Sira menggeleng kuat seolah mencoba menepis berita buruk sang kakak, “Itu pasti salah paham. Aku percaya padanya” “Ah, tidak seru! Kamu selalu membelanya.” Teman yang lain hanya bisa menghela napas. Betapa baik Evelyn mendapat adik yang selalu mendukungnya tetapi dia malah berebut perhatian dengannya. Di sis lain, Sira tersenyum kecil melihat respon teman-temannya. Inilah yang dia inginkan, menjadi yang paling dibanggakan meski dia seorang anak angkat. Evelyn seharusnya tetap di belakang tanpa mengganggunya. Ya, Evelyn seharusnya tetap di belakangnya. Dia tidak boleh lebih bersinar darinya. Sira keluar dan menelepon seseorang, “Lakukan sesuatu untukku.” Setelah berbicara sekian lama, senyum jahat Sira tampak seperti hendak memakan orang. Evelyn tidak tahu tentang tindakan Sira dan teman-temannya. Setelah memenangkan lomba yang diadakan restoran Vilma, Evelyn mendapat kontrak kerja di restoran tersebut sebagai Chef de Partie. Bagi Evelyn ini adalah langkah awal yang baik. “Kamu yang menang kemarin itu?” tanya seorang senior di bagian yang sam dengannya. “Iya, itu aku,” jawab Evelyn dengan senyuman. Namun, sikap senior itu agak canggung. “Kamu dapat resep masakan saat lomba itu darimana?” Evelyn mulai bingung dengan pertanyaannya, “Maksudnya apa ya?” “Kamu tidak lihat berita?” Saat pertanyaan itu disebutkan, Evelyn merasakan tatapan orang-orang di dapur sangat beragam. Terutama orang dengan tatapan meremehkan dan mencibir ke arahnya. Evelyn sudah terbiasa dengan tatapan di rumahnya sehingga dia bisa merasakannya. Namun, dia masih tidak mengerti apa yang salah. Senior itu hanya menghela napas. Dia sudah bertemu dengan banyak orang dan mematikan. Jadi, Evelyn bukanlah seperti yang ada di berita. Hanya saja opini publik lebih mematikan, membuat banyak orang berspekulasi buruk tentangnya. “Istirahatlah sebentar, kemudian kamu boleh bergabung kembali.” Evelyn sekarang tahu ada yang tidak beres. Saat dia membuka ponsel dan melihat berita viral, napas Evelyn tercekat. Di berita dengan latar foto dirinya yang tengah memegang piala, dulu berita nya membuat mata Evelyn sakit. Evelyn dituduh melakukan kecurangan! Evelyn memasuki kolom komentar. Diskusi online itu lebih banyak yang menghujatnya daripada berpikir positif tentangnya. “Ya ampun, ternyata aku salah menilai. Aku kira dia anak baik yang mempromosikan hidangan lokal.” “Sudah kubilang ada yang janggal, kan. Bagaimana mungkin dia bisa menyelesaikan setiap tantangan memasak dengan baik.” “Dasar curang!” “Aku akan menjadi pemenang berikutnya jika aku ada uang.” Kebanyakan kolom komentar diisi dengan lelucon dan hinaan terhadap kecurangan yang tidak dia lakukan. Evelyn merasa dadanya sesak. Perasaaan sendirian ketika tidak ada yang percaya padanya kembali membuatnya tidak nyaman. Seolah dia kembali pada rumah yang selalu mengecewakannya. Mengingat tentang rumah, Evelyn tiba-tiba mendapat pencerahan. Namun, sebelum dia sempat melakukan apapun, panggilan datang lebih dulu di ponselnya. “Eve, jangan lihat berita apapun oke! Fokus saja bekerja!” Evelyn tertawa atas sikap Mia. Dia melupakan sahabat yang dia punya. “Jika kamu mengatakan itu, aku akan semakin penasaran,” kata Evelyn dengan nada main-main lalu lanjut bicara sebelum Mia berkomentar. “Aku sudah tahu apa yang terjadi. Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir.” Ada hening sementara, “Benarkah?” “Tentu saja itu benar. Tapi aku ingin meminta bantuanmu untuk ini.” “Oh, apa itu? Katakan saja padaku, aku akan melakukannya demi kamu!” “Kamu romantis sekali,” jawab Evelyn saat menerima usaha sahabatnya agar dia tidak bersedih. Sesaat kemudian nada Evelyn berubah serius, “Carikan aku pengacara.” “Apakah untuk kasus ini, kamu yakin?” “Aku tahu siapa di balik semua ini.” “Jangan bilang kalau itu ….” “Ya, itu dia. Siapa lagi yang tidak suka dengan kesuksesanku selain dia?” ujar Evelyn dengan wajah datar. “Sial! Dia bahkan tidak melepaskanmu meski kamu sudah diusir dari rumah!” Evelyn menatap ke kejauhan. “Tidak apa-apa. Setidaknya aku bukan Eve yang dulu.” Setelah bicara beberapa waktu lagi, Evelyn memutuskan panggilan. Matanya menampakkan kedewasaan yang tidak ada ketika masih di dalam rumah keluarga Rowan. Seolah dia benar-benar menjadi orang yang benar-benar baru. “Kali ini aku tidak akan membiarkanmu, Sira,” bisik Evelyn dengan pandangan yang dingin.“Apa yang kamu katakan?”Alex bertanya dengan wajah penuh ketidakpercayaan. Bahkan mulutnya tanpa sengaja terbuka lebar saking kagetnya.Evelyn tidak menyangka respon semua orang tampak tercengang. Bahkan dia bisa menggambarkan reaksi Ernest lewat lirikan mata yang terdiam dengan tinta pena yang menetes di atas kertas.“Apakah itu terlalu mendadak?”“Tidak–” Alex menggelengkan kepalanya dengan keras. Pertanyaannya sangat menuntut. “Bukan itu maksudku. Aku bertanya … apa yang sedang kamu katakan tadi?”Evelyn entah kenapa justru merasa bersalah. Namun, dia tetap menjawab agar Alex sedikit tenang.“Saya berkata … saat kesehatan Tuan Ernest membaik, saya berniat untuk mengundurkan diri.”Dokter Ziya mendadak memegang tangan Evelyn hingga membuat gadis itu nyaris terperanjat.“Evelyn, apakah ada sesuatu yang terjadi padamu? Berdasarkan kepribadianmu, kamu tidak mungkin bersikap implusif seperti ini.”Dokter Roby yang pendiam pun ikut berkata, “Evelyn, jika kamu merasa tidak nyaman dengan
Evelyn menghela napas dengan lelah. Dipandanginya wajah kalut miliknya yang terpantul di kaca lift. Evelyn hanya bisa berdecak melihatnya. "Seharusnya aku tidak menjadi seperti ini," bisiknya di dalam lift yang kosong. Sebelum dia berada di lift untuk mengantarkan makan siang Ernest, Evelyn sudah lebih dulu berbicara dengan pria itu lewat ponsel. Ernest mempertanyakan keberadaannya. Mungkin Lidya tahu bahwa percakapan mereka terlalu lama dan gak sia-sia, sang nyonya rumah akhirnya membebaskan Evelyn. Tapi tetap saja, Lidya memperingatkan Evelyn agar segera keluar dari pekerjaan ini.“Lagi pula kamu tidak akan rugi jika keluar dari sini. Setidaknya kamu bisa fokus pada bisnis dan karirmu, kan? Aku juga sudah menyiapkan kompensasi untukmu.”Itulah kalimat terakhir Lidya sebelum Evelyn meninggalkan taman kaca, yang sayangnya, terlalu menggoda untuk dia abaikan.Setelah lift berhenti, Evelyn tersadar dari lamunan dan langsung menuju ke ruangan tempat Ernest berada.Evelyn mengetuk p
Pernyataan Lidya tanpa sadar membuat Evelyn tersentak. Untungnya dia sudah terbiasa menjaga tingkah lakunya dengan baik. Meski begitu, tetap saja perasaan yang dikeluarkan Evelyn sangat kentara di mata Lidya. “Aku tidak akan bertele-tele lagi,” ujar Lidya dengan wajah datar. “Dalam waktu dekat, berhentilah menjadi chef pribadi Ernest.” Evelyn yang berusaha menyembunyikan gemetar di tangannya, kini membeku dan menatap Lidya dengan mata terbuka lebar. Evelyn terbata-bata, “Apa–apa maksudmu, Nyonya?” “Kenapa kamu terlihat bodoh sekarang?” Lidya mengerutkan kening dengan tidak senang. “Meskipun kamu bekerja untuk Ernest, aku adalah orang yang pertama kali merekomendasikanmu. Aku juga yang mengizinkanmu tinggal di sini.” “Dengan fakta itu saja, cukup bagiku untuk memiliki alasan mengeluarkanmu dari rumah ini.” Evelyn memandang dengan kerutan kening yang dalam. Sekarang Evelyn merasa Lidya benar-benar menjadikannya musuh. “Nyonya Lidya, bahkan meskipun Anda menebak dengan benar hubun
Evelyn hanya menghela napas lelah. Dua hari terakhir benar-benar melelahkan. Sekarang pun dia tidak bisa mengistirahatkan dirinya dengan secangkir teh sejenak. Ketika Evelyn datang memenuhi panggilan Lidya, sang nyonya besar itu tengah duduk di dalam rumah kaca miliknya. Mata wanita itu terpejam saat dia duduk menunggu di depan meja besi putih dilengkapi dengan teko teh beserta buah-buahan. Di sampingnya berdiri seorang pelayan yang siap untuk menerima instruksi apapun. Termasuk mengganti teh dingin di meja. Evelyn diam-diam mengagumi sosok Lidya yang tenang seperti ini. “Selamat siang, Nyonya,” sapa Evelyn setelah sampai. Sikapnya tenang dan sopan. Tangan di depan perut dan pandangan menunduk tanpa melirik ke sana kemari. Perilakunya menunjukkan bahwa dia hanyalah seorang pelayan yang dibayar oleh Lidya. Tangan di depan perut dan pandangan menunduk tanpa melirik ke sana kemari. Pemandangan itulah yang dilihat oleh Lidya saat dia membuka matanya. Setelah merasa puas memperhatik
Revano menghentikan langkahnya sesuai keinginan Sira. Namun, kerutan di kening dan juga tatapan tajam yang tidak ramah membuat Sira menahan napas. “Bukankah ayah sudah mengatakannya barusan? Apa kamu tidak mendengarnya?” Pertanyaan Revano cukup tajam. Sira tahu dia orang yang netral, bahkan ketika dulu dia bertengkar dengan Evelyn. Tidak disangka sikapnya saat ini lebih tajam dan menyakitkan. Mata Sira mulai berkaca-kaca, “Tapi bagaimana aku bisa hidup di bawah tatapan orang-orang dari keluarga Durant? Sudah pasti mereka tidak senang dengan–” “Sira, apakah kamu selalu bertingkah seperti ini bahkan setelah menikah?” potong Revano cepat. Dia mulai sakit kepala karena menghadapi tangisan yang tidak ada habisnya hari ini. “Kamu bukan anak kecil lagi. Setidaknya uruslah dirimu sendiri.” Setelah mengatakan itu, Revano jadi teringat Evelyn. Adiknya yang satu itu kini telah mandiri. Saking mandirinya, dia bahkan baik-baik saja meski tidak menyandang gelar sebagai putri sulung keluarga Ro
Perasaan orang-orang yang ada di ruang keluarga itu campur aduk setelah melihat kedatangan Jason. Terutama Tiara, dia bingung bagaimana berbicara dengan suaminya saat ini.Setelah kebenaran terungkap kemarin, sikap Jason menjadi dingin. Kemarahan dan murka di depan umum adalah emosi terakhir yang ditinggalkan oleh suaminya.Ketika mereka membubarkan pesta lebih awal, suaminya menjauh dan tidak pulang ke rumah sama sekali.Kini, Jason malah datang sambil mengatakan kalimat pertanyaan itu, membuat Tiara ketakutan.“Apa yang kamu maksud?!” balas Tiara defensif. Dia tidak mau mengakui bahwa dia memang sengaja mengusir Evelyn. “Anak itu keluar dari rumah ini karena kesalahannya. Tidak ada hubungannya dengan kami!”Jason tersenyum sinis, “Oh, bukan karena kamu ingin Sira menjadi anak perempuanku satu-satunya, sehingga kamu mengusir Evelyn?”Tiara tergagap tanpa berani menatap mata Jason, “A-aku, mana mungkin aku tega pada anakku sendiri! Kamu tahu berapa banyak masalah yang telah dibuat Eve
Evelyn kemudian meletakkan kotak mewah itu di meja dapur. Dia meliriknya sekali lagi, lalu memalingkan wajah dengan cepat dan meraih kotak sarapan yang belum diberikan pada Ernest, bersiap untuk pergi mencari dan memberikan kotak itu padanya. Villa mewah itu terkesan besar, tetapi untuk mencari di
“Apa maksudmu?” tanya Sira setelah terkejut sesaat.Sang asisten yang baru saja datang dari luar memberikan ponselnya kepada Sira. Layarnya menunjukkan berita populer dengan latar belakang foto Sira sebagai seorang model iklan bulan lalu.Sira membaca berita itu dengan mata yang membulat. Di berita
“Jika kamu ingin menuntut lebih jauh dan ingin melihat dalang yang sebenarnya, kamu bisa menyewa seorang Hacker.”Evelyn yang tengah membaca berita viral di ponselnya berhenti sejenak. Namun, dia tetap menjawab positif meski dia tidak ingin melakukannya.“Tidak perlu terlalu jauh,” jawab Evelyn den
"Lebih penting dari itu." Sira tidak menyangka kata-katanya dibalas seperti itu oleh Revano. Dia tahu bahwa Revano sosok yang netral di antara dia dan Evelyn. Namun, dia tidak menyangka Revano tetap membubarkan pesta yang dia impikan ini hanya karena sesuatu yang diberikan oleh Evelyn. "Baiklah







