Mag-log inSteve, asisten kepercayaan Raka, meneleponnya menjelang malam. Ada pesan dari Areta, ibu Raka, yang memintanya pulang untuk makan malam bersama di rumah.Awalnya, Raka berniat menolak. Namun, ia tahu betul ibunya bukan tipe orang yang mudah menyerah hanya karena satu kali penolakan. Pada akhirnya, ia tetap pulang, meski tak tahu agenda apa lagi yang sudah disiapkan perempuan itu untuknya.Begitu tiba di rumah dan duduk di meja makan, Raka baru menyadari bahwa makan malam kali ini sepertinya tidak akan berlangsung dengan tenang.Areta meletakkan sendoknya, lalu menatap putranya dengan mata berbinar. Senyum di bibirnya terlihat terlalu lebar untuk sekadar menyambut kepulangan anak sendiri.“Arka, kamu menyamar jadi teknisi supaya bisa dekat dengan calon menantu Mama, ya?”Raka yang baru saja hendak menyuapkan makanan langsung menghentikan gerakannya.“Apaan, sih, Ma?”“Ah, so sweet!” Areta merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. “Ah, so sweet! That’s so romantic, son! I love i
Jam istirahat akhirnya tiba. Begitu bel berbunyi, aktivitas di area produksi perlahan mereda. Para karyawan mulai meninggalkan meja dan mesin masing-masing, menuju kantin atau ruang makan. Raka justru mengambil arah berbeda. Sejak percakapannya dengan Mayaka pagi tadi, dan juga kejadian di rumah Pak Subrata, ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya. Mantan yang pernah disebut Pak Subrata. Siapa laki-laki itu? Kenapa hubungan mereka berakhir? Dan yang paling membuat Raka penasaran, kenapa Pak Subrata sampai pernah menyinggungnya ketika berbicara tentang Mayaka? Raka ingin tahu. Sayangnya, bertanya langsung kepada Mayaka bukan pilihan. Ia pasti akan curiga. Karena itu, Raka memilih cara lain. Ia masuk ke ruang makan yang biasa digunakan kelompok cleaning service. Kenapa Cleaning Service? Karena disana segala informasi, bahkan info paling gelap sekalipun bisa ditemukan. Beberapa orang yang sedang menikmati makan siang langsung menoleh ketika Raka datang. “Lho, Mas Raka
Ponsel Raka berdering ketika ia baru saja keluar dari kamar mandi. Melihat nama yang muncul di layar, langkahnya terhenti. Mama Areta. Raka mengembuskan napas pendek sebelum mengangkatnya. “Ya, Ma?” “Arka, perutmu sudah membaik?” Raka mengernyit. “Darimana Mama tahu?” “Steve yang memberitahu. Waktu kemarin Mama ke perusahaan, Mama tanya kamu di mana. Dia bilang kamu sakit perut.” Raka langsung menyeringai. “Oh, iya.” Ia menyandarkan tubuhnya pada meja, lalu berkata dengan nada santai. “Steve membelikan makanan basi, Ma.” Di seberang sana, Areta terdiam. “Hah?” “Sepertinya begitu. Saya makan makanan yang dia belikan, beberapa jam kemudian perut saya langsung bermasalah.” Raka sengaja memasang wajah serius, meskipun sudut bibirnya sudah naik. Berani-beraninya kamu mengadu kepada Mama. Kemarin Steve memang membantunya mencari obat pencahar dengan alasan yang sangat mendesak. Namun pagi ini, rupanya sekretarisnya itu justru menjelaskan kep
Mayaka terdiam. Garpu plastik yang sudah berada di tangannya menggantung beberapa sentimeter di atas mie gelas. Benar juga. Raka membalas pertanyaannya dengan pertanyaan. Ia melirik jam di ponselnya. Sudah hampir tengah malam. Seorang perempuan sendirian makan mie di minimarket pada jam seperti ini jelas bukan pemandangan yang biasa. “Kenapa diam?” tanya Raka. Mayaka mendengus kecil. “Kenapa kamu balik tanya?” “Karena saya penasaran.” “Saya juga.” Raka mengangkat alis. “Penasaran apa?” “Kenapa teknisi pabrik bisa berkeliaran tengah malam dengan saudara-saudaranya.” Raka terdiam. Dua pria di belakangnya kembali saling pandang. Mayaka sama sekali tidak menyadari bahwa kedua orang itu sebenarnya sedang menahan diri agar tidak tertawa. Raka menghela napas. “Urusan keluarga.” “Begitu?” “Iya.” Mayaka mengangguk. “Kalau begitu, urusan saya juga urusan pribadi.” Raka menatapnya. Ada sesuatu dalam tatapan Mayaka yang mem
Mayaka akhirnya sampai di hotel yang ditemukannya melalui aplikasi.Hotel itu tidak besar.Bangunannya sederhana, tetapi cukup bersih dan terlihat nyaman."Ya ... lumayan."Mayaka menarik koper kecilnya, yang sebenarnya lebih sering ia gunakan untuk membawa perlengkapan kerja melewati lobi.Namun langkahnya mendadak melambat.Beberapa orang baru saja masuk.Ada yang datang berdua.Ada pula pasangan yang berjalan berdampingan sambil berbicara pelan.Mayaka mengerutkan kening.Itu pasangan suami istri?Ia memperhatikan sekilas.Rasanya bukan.Tapi ia segera mengangkat bahu.Masa bodoh.Malam ini ia tidak punya tenaga untuk memikirkan kehidupan orang lain.Ia hanya ingin kamar.Tempat tidur.Dan tidur.Mayaka mendekati meja resepsionis."Mas, masih ada kamar?""Masih, Mbak.""Satu malam.""Atas nama?""Mayaka."Setelah proses administrasi selesai, Mayaka menerima kartu kamar.Ia naik ke lantai yang ditunjukkan resepsionis.Begitu pintu kamar terbuka, ia langsun
Mayaka berjalan mengikuti alamat yang tertera di layar ponselnya.Jaraknya tidak terlalu jauh dari warung.Sekitar lima belas menit kemudian, ia sampai di sebuah gang yang cukup tenang. Beberapa rumah berdiri rapat di kiri-kanan jalan. Lampu teras menyala kekuningan, sementara suara televisi terdengar samar dari balik beberapa pintu.Mayaka mencocokkan nomor rumah dengan alamat di ponselnya.“Ini.”Di depannya berdiri sebuah rumah dua lantai dengan papan nama sederhana:KOS PUTRI MELATIDi bawah papan nama itu terdapat tulisan:TERSEDIA 1 KAMAR KOSONGMata Mayaka langsung berbinar.“Syukurlah.”Ia mempercepat langkah.Baru saja tangannya hendak meraih pagar, seorang perempuan paruh baya keluar dari dalam rumah sambil membawa papan kecil.Mayaka tersenyum.“Bu, saya mau tanya kamar kos yang kosong—“Belum selesai kalimatnya, perempuan itu justru mengangkat papan bertuliskan TERSEDIA 1 KAMAR KOSONG, lalu menurunkannya.Sebagai gantinya, ia memasang papan lain.KAMAR PENUH.Mayaka terdia







