MasukPria asing itu tersenyum melihat sosok wanita yang langsung membuatnya bergairah. Ia pun mulai menyentuh tubuh polos itu tanpa peduli dengan Danu yang sudah duduk manis di kursinya sambil memasang kamera ponselnya.
Walaupun merasa sedikit asing dengan tangan yang menyentuhnya, tapi hasrat Anna yang sudah tak tertahankan, membuat wanita cantik itu tak ingin memikirkan apa-apa lagi, selain sentuhan dari seorang pria. Ia pun menggila. Suara teriakan kepuasannya melengking berkali-kali malam itu. Hal yang tidak pernah didapatkannya dari Danu selama mereka resmi menikah. Danu yang sedang merekam adegan panas istrinya sampai bergidik ngeri mendengarnya.“Nikmatinlah tubuh pria itu sepuas-sepuasnya, Anna, sebelum kamu menangis darah setelah ini,” desis Danu dingin. Adegan panas di depan matanya itu tak membuatnya tertarik sama sekali. Hanya rasa puas di hatinya setelah bisa membalaskan rasa sakit hatinya pada wanita yang telah merampas kebahagiaannya bersama Andara yang dicintainya hingga saat ini. ***Dua hari lamanya, Anna mengurung diri di kamarnya. Ia pun meminta izin ke kantornya dengan alasan sakit. Rasa sakit hati dan kecewa yang dialaminya, membuat wanita itu tak kan bisa melakukan pekerjaannya di kantor. Sedangkan Danu, tidak pernah lagi muncul di rumah kontrakan yang telah mereka tempati sejak menikah setahun yang lalu. Pakaian Danu pun sudah menghilang dari lemari pakaian mereka begitu Anna pulang dinihari itu dari hotel.Walaupun Anna tahu tempat kerjanya Danu, tapi ia pun tak ingin menemui pria itu. Toh, secara lisan mereka sudah bercerai. Anna bertekad akan mencoba melupakan semuanya. Kali ini, Danu sangat keterlaluan. Anna tidak akan pernah mau memaafkan pria tak punya hati itu. Cukup sudah, selama dua hari ini ia menangis, mengeluarkan semua beban yang ada di hatinya. Ia akan mencoba menata kembali hidupnya dengan status yang baru sebagai janda muda.***“Aku sudah cerai dengan Mas Danu,” ucap Anna pada Andara saat makan siang di kantin kantor.“Cerai? Kenapa?” tanya Andara heran. Mata gadis cantik itu membulat menatap Anna yang duduk di hadapannya.“Karena Mas Danu nggak bisa lupain kamu,” jawab Anna santai sambil menyuap makanannya.“Lho? Kok jadi gara-gara aku? Kamu jangan mengada-ada dong, Anna. Hubungan kami sudah lama berlalu. Udah setahun kan, kalian nikah?” ujar Andara seraya tertawa kecil.“Bagi kamu mungkin sudah berlalu, tapi bagi Mas Danu tetap kamu yang ada di hatinya. Jadi, siap-siap aja kalau dia dekatin kamu lagi setelah ini.”“Ngaco ah kamu. Ngapain juga aku ladenin Mas Danu lagi, wong aku dah dapat gantinya sebulan yang lalu, kok.”“Siapa?” tanya Anna menatap lekat sahabat yang pernah ditusuknya dari belakang itu.“Ada deh … kamu nggak usah tahu, ntar kamu embat lagi kayak dulu, hahaha.” Andara tertawa geli melihat wajah Anna yang penasaran.“Ah, enggaklah, kapok aku. Gak enak hidup sama orang yang nggak cinta sama kita. Cukup setahun ini aku ngerasainnya,” ucap Anna getir. “Maaf, Anna. Aku nggak bermaksud membuatmu sedih.” Andara menatap Anna dengan rasa bersalah.“Gak pa-pa. Yuk, ah, kita balik ke ruangan lagi. Kerjaanku numpuk nih,” ucap Anna sembari mendorong piring makanannya yang masih tersisa separo.Andara yang memang sudah menghabiskan semangkuk baksonya itu langsung mengiyakan ajakan temannya itu.*** Anna melemparkan pulpennya ke atas meja dengan kesal. Begitu juga dengan buku diary yang baru dibelinya sepulang dari kantor tadi. Ternyata mencurahkan rasa sesak di hatinya agar terasa lapang melalui sebuah Diary ternyata tidak gampang. Rasa sakit hati yang dirasakannya itu tetap mengendap di rongga dadanya. Padahal sebulan sudah berlalu dari peristiwa malam panasnya bersama pria asing yang disewa Danu. Anna pun tak pernah lagi bertemu dengan Danu sejak hari itu. Laki-laki tak berprikemanusian itu benar-benar langsung menghilang dan pergi seperti angin dari sisi Anna.Keesokan paginya, Anna merasakan tubuhnya begitu lemas dan perutnya terasa bergejolak. Tapi, ia memaksakan diri untuk bangun dari tidurnya. Anna duduk diam sejenak di pinggir ranjang. “Pasti gara-gara aku suka tidur telat akhir-akhir ini.” Anna memijit kepalanya yang juga terasa pusing. Tiba-tiba, perutnya kembali bergejolak. Anna buru-buru berjalan ke kamar mandi. Menumpahkan semua isi perutnya. Tidak lama kemudian, wanita muda itu keluar dengan wajah pucat. Ia pun menyeret langkahnya menuju tempat tidur kembali. Untung saja hari itu adalah hari Sabtu dan kantornya libur.“Duh … apa aku hamil?” pikir Anna dengan air mata yang langsung merembes dari kelopak matanya. Anna tak bisa lagi menahan perasaannya. Ia sangat hafal akan siklus bulanannya. Seharusnya, ia sudah mendapatkannya sejak dua minggu yang lalu. Jika kejadian malam terkutuk itu tidak ada, tentu saja hal ini akan menjadi sesuatu yang sangat membahagiakan bagi Anna. Jika, benih yang tumbuh di rahimnya adalah milik Danu, pria yang dicintainya. Tapi, itu tidak mungkin anak dari Danu, karena sudah lebih dari tiga bulan, Danu tidak pernah menyentuhnya, walaupun Anna sering memancing hasrat dari suaminya itu. Kini, Anna sangat yakin bahwa ia telah mengandung anak dari pria asing yang tidak dikenalnya sama sekali.“Mas Danu yang harus bertanggung jawab atas semua ini. Aku harus menghubungi dia kembali!”Anna meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Ia mencari nomor kontak dari Danu yang masih tersimpan di ponselnya. Dua kali, ia mencoba menghubungi, ada nada panggil, tapi tidak diangkat oleh pria itu.Akhirnya, Anna mencoba mengirim pesan.[Mas, aku hamil! Kamu harus tanggung jawab!]"Alahhh, jangan pura-pura! Kamu pikir saya akan percaya aja dengan kejadian papa saya yang tiba-tiba jantungan saat kamu mengaku hamil saat itu!" balas Harry sinis. "Saya sudah tahu, kalau bayi di perutmu itu adalah hasil hubungan gelapmu dengan Anton!""Apa?! Kamu selingkuh dengan sekretaris suamimu sendiri? Astagaa, perempuan macam apa kamu ini, Melia?" Hendry pun tak bisa tinggal diam mendengar penjelasan Harry."Bohong! Dia pasti ngarang!" bantah Melia keras sembari menunjuk Harry. "Sejak dulu, Harry menentang pernikahan kami! Dia pasti ingin menguasai semua harta suami saya!""Heh, Nyonya! Dengar ya, saya punya data yang akurat serta saksi yang bisa dipercaya. Apa perlu saya buka sekarang juga aibmu itu, Bu Melia? Atau...kita tunggu bayimu lahir dulu, baru kita tes DNA, gimana?" Harry bicara dengan tenang sembari memangku tangan di dada. "Saya hanya ingin kedua orang tua saya tenang di alam sana, jadi saya tidak ingin ribut-ribut tentang warisan mereka. Kalau kamu mau pergi denga
Menjelang waktu magrib, Andara tiba di apartemen sederhana yang disewanya sejak tiga bulan yang lalu sembari menggendong bayinya yang baru diambil dari tempat penitipan bayi. Tiga bulan yang lalu, sepulangnya dari rumah sakit, Andara langsung membawa bayinya ke sana. Ia berusaha menerima kenyataan. Awalnya memang sulit bagi Andara menerima bayinya yang cacat. Bahkan, selama seminggu dirawat di rumah sakit, ia sangat terpuruk. Andara bahkan menolak menyusui bayinya itu. Ia pun tak menghubungi orang tua atau saudaranya yang berada di Jawa Tengah. Andara tidak punya nyali untuk memberitahu keluarga besarnya mengenai kehancuran rumah tangganya dengan Danu. Bahkan, ia pun menyembunyikan kehamilannya pada mereka. Hidupnya sungguh sangat memalukan. Hamil dengan suami orang saat ia masih terikat pernikahan dengan Danu, ditambah lagi bayi yang dilahirkannya cacat.Selama tiga bulan, Andara merawat bayinya sendiri. Ia tak ingin menambah dosa dengan membuang bayi itu. Apalagi, ia pun mulai menc
Anna kembali aktif bekerja di perusahaan yang didirikan oleh mertuanya tiga bulan setelah melahirkan anak keduanya. Saat ini, usia Ameera sudah berjalan tujuh bulan. Jadi, sudah empat bulan, ia kembali aktif menjadi sekretaris sang CEO sekaligus ayah dari kedua anaknya. Sebenarnya, Harry menyerahkan keputusan pada istri tercintanya itu, apakah mau terus bekerja sebagai sekretarisnya atau di rumah saja menjaga kedua anak mereka, tapi karena Bu Ningsih masih betah tinggal bersama keluarga mereka, maka Anna menjadi lebih tenang meninggalkan anak-anaknya di bawah pengawasan Bu Ningsih dengan dua orang babysitter dan dua orang ART. Ditambah lagi, ada tukang kebun, satpam, dan Pak Ilham--suami Bu Ningsih yang sering berkunjung. Jadi tidak ada alasan buat Anna dan Harry untuk tidak tenang meninggalkan anak-anak mereka selama bekerja.Anna malah merasa, menjaga suaminya yang mantan playboy kelas kakap itu lebih penting. Walaupun sudah menikah selama dua tahun lebih, dan terlihat Harry begitu
Akhirnya, keesokan harinya, Anna bersama Harry dan kedua orang tuanya datang ke kantor polisi membezuk Danu. Mereka juga membawa dokter ahli jiwa yang terkenal untuk memeriksa kondisi Danu. Mereka ingin mendengar langsung dari dokter itu, apakah Danu perlu dirawat dokter jiwa atau depresi pria itu hanya sesaat saja akibat terguncang karena tiba-tiba masuk penjara.Di sana sudah menunggu Irsyad dan Rahma. Kedua orang tua Danu itu sudah tiba sejak pagi. Anna langsung menyapa dan menyalami mantan mertuanya itu dengan tulus. Bahkan, Anna memeluk Rahma. Ia benar-benar kasihan melihat kedua orang tua yang juga sangat ia sayangi sejak masih remaja dulu."Gimana keadaan Ayah dan Ibu?" tanya Anna usai menyalami Irsyad dan memeluk Rahma."Alhamdullillah, keadaan kami baik, Nak. Cuma kemarin habis pulang dari rumah kamu, Ayah sedikit drop kondisinya, tapi tadi habis subuh, alhamdullillah sudah membaik," jawab Rahma sambil tersenyum haru melihat kebaikan hati mantan menantunya itu. Andai dulu, Da
Semuanya menatap pada Harry, tak menyangka Suami Anna itu akan langsung bertanya seperti itu pada orang tua Danu.Tak lama, Rahma menunduk, lalu terlihat mengusap matanya dengan ujung jilbabnya. Sedangkan Irsyad, hanya menghela napas panjang."Pas datang ke Jakarta, kami langsung ke kantor polisi menjenguk Danu. Polisi yang menjawab Hp Danu saat Bapaknya telpon Danu hari Minggu itu." Setelah cukup tenang, Rahma menjawab pertanyaan Harry."Bapak tetap memarahi Danu ketika kami bertemu di sana walaupun wajah Danu terluka," sambung Rahma lagi."Dia pantas menerima semua itu! Aku tidak pernah mendidiknya jadi manusia jahat! Kamu yang selalu memanjakannya sejak dulu!" Irsyad malah balik memarahi istrinya."Sudahlah, semua ini sudah terjadi. Semoga Danu bisa menjadi lebih baik setelah masa tahanannya berakhir nanti." Thohir akhirnya tidak tahan juga. Jauh disudut hatinya, ia juga tidak tega pada mantan besannya itu sekaligus sahabat karibnya sejak masa kuliah dulu. Hubungan mereka merenggan
"Di ujung jalan rumah kita. Dia parkir mobilnya di sana. Pas dia mau masuk mobil, kami datang sama polisi," jelas Harry sembari merengkuh bahu istrinya. "Sekarang kamu tenang ya, akan kupastikan dia mendekam di penjara dalam waktu yang lama, biar nggak bikin masalah lagi sama kita!" "Iya, Pi. Aku juga lega sekarang. Tapi, aku nggak habis pikir sama sikapnya tadi. Aku nggak nyangka aja dia bakal minta maaf dan sikapnya sama Arez juga baik banget. Padahal aku sempat kepikiran pas Arez hilang, dia bakal jahatin anak kita, tapi malah diantar sendiri ke sini." Anna mengungkapkan kebingungannya atas sikap Danu yang tidak seperti biasanya. "Mungkin pas bersama Arez dia jadi sadar. Ya, nggak ngertilah, tiba-tiba, dia bisa berubah baik kayak gitu. Tapi yang pasti, kita jangan sampai lengah gara-gara sikapnya itu. Dia harus dihukum, biar tahu rasa," ujar Harry. "Betul, walaupun Arez tidak apa-apa, papa juga tidak mau memaafkannya begitu saja. Dia harus mendapat balasan dari semua perbuatan







