Share

Bab 3 Digrebek Warga

last update Huling Na-update: 2025-11-24 09:08:20

Deg!

Tidak terasa tanganku refleks menjatuhkan tas kecil yang aku pegang.

Aku hidup. Namun, seperti mati. Rumah ini ramai. Namun, telingaku tiba-tiba tuli setelah mendengar penuturan pak Rt. Dalam sekejap duniaku terasa berhenti.

Air mataku meleleh, mengalir deras membentuk miniatur anak sungai di pipi. Lidahku terasa kelu, pundakku berguncang hebat.

“Saya mau memberikan sedikit sayuran mentah buat kamu, karena saya habis panen. Saya kira kamu ada di dalam, saya langsung masuk saja tanpa mengetuk pintu. Tapi pas saya ke dalam, saya melihat pintu kamar kamu terbuka, dan … saya lihat suami kamu dengan wanita yang bernama Gita itu sedang berduaan di sana. Saya panik, maka saya panggil tetangga yang lain dan menggerebek mereka,” ujar bu Lisna, salah satu tetanggaku.

“Sabar, Rin. Ini demi menghindari dosa. Kami tidak mau kampung ini ketiban sial karena kelakuan suamimu dan juga temanmu,” lanjut bu Lisna.

Aku mengedarkan pandangan, mencari keberadaan mas Raka dan Gita, yang sedari tadi belum aku lihat batang hidung mereka.

“Ke mana mereka?” tanyaku.

“Sabar, Rin. Jangan emosi, kamu harus tenang, ya! Raka dan Gita ada di dalam kamar. Mereka mengurung diri di dalam sana. Mungkin karena merasa malu,” jawab pak Rt.

Buru-buru aku menyeka air mataku. Emosi ini sudah ada di ubun-ubun. Ingin menahannya. Namun, aku tidak bisa. Aku ingin menemui mereka, meminta penjelasan atas kesaksian tetanggaku.

Aku menghampiri pintu kamarku yang tertutup rapat. Aku membanting pintu itu hingga mengeluarkan suara yang sangat nyaring.

Brak!

Kedua manusia tidak tahu diri itu tengah duduk menunduk di dalam kamar. Gita, dia menangis lalu mendekatiku.

Aku menepis tangannya, saat dia hendak memelukku.

“Aku bisa jelasin semua, Rin!” 

Dadaku bergemuruh hebat, kedua kakiku kupaksa untuk tetap bisa berdiri menopang tubuhku.

“Aku meminta Gita untuk membawakan air minum. Tapi tidak sengaja dia terjatuh menimpaku, yang kebetulan ada tetangga masuk ke sini. Semua ini hanya salah paham, aku berani sumpah, Rin!”

Aku menggelengkan kepala, apakah aku harus percaya dengan ucapan mas Raka begitu saja?

Sementara Gita hanya menunduk menahan malu.

“Kamu berani bersumpah? Kamu berani mempertanggungjawabkan ucapanmu?” tanyaku.

Mas Raka mengangguk kuat.

“Ya, aku berani bersumpah. Aku tidak melakukannya. Aku hanya cinta sama kamu, Arindi. Aku tidak cinta sama Gita!” jawab mas Raka.

Aku menoleh ke arah orang-orang yang ada di belakangku, yang masih setia menunggu di rumahku ini.

“Bapak-bapak, Ibu-ibu, kalian dengar penjelasan suami saya? Dia berani bersumpah, mereka tidak melakukannya. Sebaiknya mereka tidak usah dinikahkan. Gita tidak akan menginap lagi di sini,” ucapku.

“Kenapa kamu berbohong, Mas? Kamu bilang aku lebih cantik, menarik dan menggoda dari istrimu, sampai kamu nekat mengajakku untuk melakukannya!”

Aku membeliak, menoleh kasar ke arah Gita. Beberapa kali aku mengerjapkan mata, mana yang harus aku percaya? Semula Gita hanya diam. Namun, ketika dia bersuara, hanya kalimat menyakitkan yang aku dengar.

“Tuh, teman kamu saja mengakuinya. Sudah-sudah, Pak Rt, daripada kami-kami ini kebagian sial, sebaiknya nikahkan saja mereka sekarang. Dari dulu di tempat kita ini, kita selalu menjunjung tinggi sebuah kehormatan. Apa Pak Rt mau, dicap sebagai Rt yang gagal, karena membiarkan pezina seperti mereka melakukan hal di luar batas tanpa diberikan sanksi?” timpal tetangga yang lain.

“Benar kata dia, nikahkan saja, Pak Rt. Jangan ditunda lagi!”

Suasana di rumahku kembali kacau. Seperti sedang berdemo, rumahku berubah bising dengan teriakan kemarahan mereka yang menggebu-gebu.

“Maaf, Rin. Aku merasa dirugikan, jadi kamu harus siap berbagi suami denganku,” ucap Gita.

Ibarat menolong seekor anjing yang terjepit. Saat lengah, Gita menusukku dari belakang.

Menyesal, satu kata yang tersemat dalam benak, saat mengetahui kelakuan Gita dan suamiku di belakangku. Menyesal karena aku mengizinkan Gita menginap di sini. Keputusan pertamaku memang benar, dengan tidak menawarkan tumpangan pada Gita. Namun, sayangnya harus goyah karena sifat tidak tega mas Raka, yang ujung-ujungnya mereka harus dinikahkan oleh warga.

“Lebih cepat lebih baik, ayo kita nikahkan mereka!”

Sakit hatiku kian terasa. Selama ini aku membangun rumah tangga ini dengan pondasi kesetiaan. Namun, harus roboh karena adanya badai yang tiba-tiba datang memporak-porandakan rumah tangga kami.

Aku tidak kuasa menahan tangis, saat melihat suamiku melakukan ijab qobul di depan penghulu. Aku tidak bisa berkutik jika warga yang turun tangan. Sebagai seorang istri, jujur aku tidak rela berbagi suami dengan wanita lain.

“Bagaimana saksi, sah?”

“Sah!”

“Sah!”

Ingin rasanya aku menghilang saja dari dunia ini. Mereka telah sah menikah, dan aku telah menyandang status istri pertama.

Aku hanya bisa bersandar lemah pada dinding. Beberapa tetangga mencoba menenangkanku. Namun, tetap saja, aku belum bisa menerima semua ini. Begitu tiba-tiba dan sangat menusuk relung hatiku.

Satu persatu tetangga mulai membubarkan diri. Tidak ada perayaan atas pernikahan suamiku, semua terkesan seperti neraka bagiku.

“Rin, aku minta maaf, aku–”

“Tinggalkan aku!” Aku menyela ucapan Gita.

“Tapi–”

“Kamu dengar aku, Git? Tinggalkan aku sendiri!” Aku kembali memotong ucapan Gita.

Gita pun akhirnya masuk ke dalam kamarnya. Aku menyeka kedua mataku, yang sedari tadi berembun, yang siap meluncur membasahi kedua pipi.

Kulihat mas Raka keluar dari dalam kamarnya. Menghampiriku lalu berlutut di kakiku.

“Bagiku, istriku cuma kamu, Rin. Aku hanya korban salah paham. Aku berani bersumpah, tidak pernah melakukan hal yang dibenarkan oleh Gita. Dia fitnah, tolong percaya sama aku, Rin!” mohonnya.

Aku menghembuskan napas kasar.

“Melakukan atau tidak, hanya Tuhan dan kalian berdua yang tahu. Lagi pula, kalian sudah menikah, lalu kamu mau apa? Menceraikan Gita? Aku sudah terlanjur kecewa. Dari awal aku memang tidak mau menampung Gita di sini. Karena apa? Karena memasukkan orang lain ke dalam rumah kita, sama saja memasukkan duri,” sahutku.

“Aku minta maaf, ini salahku. Aku janji, aku tidak akan pernah menyentuh Gita walau sedikit pun. Pernikahan ini tidak berdasarkan cinta. Aku hanya menginginkanmu,” ucapnya.

Aku sudah terlalu lelah dengan hari ini. Aku meninggalkan mas Raka sendirian di ruang tengah. Aku masuk ke dalam kamarku, berusaha menenangkan gejolak sakit hatiku yang kian menggebu-gebu.

Hingga malam hari tiba, mas Raka lebih memilih tidur denganku. Tidak ada komunikasi di antara kami malam ini. Aku butuh waktu untuk menerima kenyataan ini.

Mataku mulai berat, rasa kantuk telah menghampiri. Aku pun terpejam, membawa luka hati ke alam bawah sadarku, hingga aku terbangun sebab merasakan getaran ponselku, yang aku taruh di samping tubuhku.

Sebuah pesan dari operator seluler. Aku kembali menyimpan ponselku dan lanjut tidur. Namun, aku tidak menemukan suamiku di kamar ini.

Aku bangkit, mengedarkan pandangan. Mas Raka memang benar-benar tidak ada. Sadar jika mas Raka memiliki 2 istri, aku pun turun dari ranjang, berjalan keluar dari kamar, mendekati kamar yang ditempati Gita.

“Uh! Aku ingin melakukannya lagi, Git!”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 146 Selesai

    (POV Arin)“Malik!” jeritku.Tidak kusangka Malik akan datang tepat waktu. Namun, aku sedih karena Malik terkena tusukkan Alya.“Alya! Apa yang kamu lakukan?!” berangku.Mata Alya melebar, serta mulut terbuka. Dia terlihat terkejut atas apa yang telah ia perbuat. Pisau yang telah berlumuran darah itu, perlahan jatuh dari genggaman Alya.Malik memekik kesakitan, punggungnya terluka. Mengeluarkan darah yang cukup banyak.“Malik! Bertahan!” mohonku. Malik tersungkur “Ma-malik! Aku minta maaf, aku tidak sengaja, aku–”“Siapa, kamu? Kenapa ada di rumahku?” tukas Malik. Dia berusaha berdiri walaupun harus menahan sakit.Ternyata Malik tidak mengenali wanita yang ada di hadapannya. Perubahan wajah yang sangat jauh, membuat Malik tidak bisa melihat siapa dia.“Aku–”“Dia Alya, mantan kekasih kamu! Dia yang selama ini menerorku dengan berbagai keanehan yang dia ciptakan.” Aku mengungkapkan apa yang diperbuat Alya, dari mulai dia mendorongku sampai ke kolam, keanehan di kamarku, sampai aku dih

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 145 Seperti Monster

    Aku memekik kesakitan, ketika Arin menghantamkan piring bekas ke arah wajahku hingga terpecah belah menjadi beberapa bagian. Bukan hanya satu kali, dia melakukannya lebih dari ini.Pisau yang ada di genggamanku terlepas sudah. Benda itu terlempar ke sembarang arah, hingga aku tidak bisa menemukannya.Wajahku yang hancur, kini harus kembali merasakan sakit yang luar biasa. Pecahan dari piring itu menancap sampai ke daging wajahku. Darah segar seketika mengucur deras membasahi baju dan lantai.“Kurang ajar!” jeritku.Arin berhasil menjauh dariku. Dia menyoroti mataku menggunakan cahaya dari senter ponselnya. Membuat mataku silau dan aku cukup kesulitan untuk menetralkan pandanganku.“Singkirkan benda itu!” pekikku.“Maaf, Alya! Kamu sudah sangat keterlaluan. Dengan terpaksa aku harus melakukan ini,” ucap Arin.Aku menghalangi cahaya itu dari mataku menggunakan kedua tanganku. Aku menunduk, kuraba pecahan piring yang menancap di wajahku. Beberapa saat aku tidak bergerak, aku memandangi a

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 144 Menanggung Sakit dan Malu

    (POV Alya)“Alya!” ucap Arin lirih.Aku memperkuat jambakanku pada rambut Arin. Aku tidak bisa bermanis-manis lagi pada wanita ini. Gara-gara dia aku seperti ini. Apalagi ketika aku mendapat informasi jika Malik dan Arin melakukan pernikahan ulang. Membuatku hancur, seolah dunia tidak pernah berpihak padaku.“Ya! Ternyata kamu masih mengingatku, Arin? Kenapa? Kaget melihatku seperti ini? Em … bagaimana tanggapanmu?” tanyaku.Kulihat dari sorot senter ponsel, Arin terisak. Dia ketakutan ketika kuarahkan mata pisau ini di lehernya.Justru hal ini yang paling aku nikmati. Aku sangat menikmati momen tersiksanya wanita ini. Di setiap detail ketakutan yang dia tunjukkan, menjadi kekuatan bagiku untuk terus membuatnya tersiksa. Aku merasa menang, aku merasa berkuasa atas dirinya.“Kenapa kamu lakuin ini? Yang aku tahu, Alya yang aku kenal, dia wanita baik. Kenapa kamu jadi seperti ini, Al?” tanyanya.Cengkeraman tanganku pada rambutnya sengaja sedikit kulonggarkan. Namun, tidak benar-benar a

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 143 Wanita Menyeramkan

    Dengan mudahnya aku membuka pintu gudang ini. Aku kira pintu ini dikunci. Namun, ternyata tidak.Perlahan kubuka pintu ini, dalam sekejap suara seseorang yang sedang mengasah benda tajam itu tidak terdengar lagi.Gelap, hanya kegelapan yang menyapaku ketika pintu ini terbuka. Perlahan kulangkahkan kaki ini memasuki ruangan tersebut.Huek!Aku tidak tahan, bau itu … bau busuk berhasil membuatku muntah. Sepertinya banyak bangkai tikus di ruangan ini, sebab jarang sekali orang-orang memasukinya, apalagi membersihkannya. Namun, suara benda tajam itu?Kututup hidung ini dengan kerah baju, lalu menyalakan senter dari ponselku. Seketika cahaya berpendar ketika aku menyoroti setiap sudut ruangan.Banyak sekali barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai. Membentuk sebuah tumpukan, terdapat banyak debu yang menempel.Langkahku semakin dalam, mencari keberadaan bangkai yang kuyakini berasal dari tikus. Aku akan memberitahu Bi Saroh nanti, setelah aku menemukannya.Aku mengerutkan dahiku, kean

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 142 Frustrasi

    Kulihat pintu terbuka lebar. Namun, aku tidak menemukan siapa pun di sini. Aku tidak melihat Malik.Aku melirik ke arah jam dinding, masih pukul sebelas malam.Aku mencoba bangun, kulangkahkan kaki ini menuju kamar mandi. Setelah memastikan, memang tidak ada siapa-siapa di sini selain diriku sendiri.Aku kembali ke ranjangku, duduk sambil memikirkan siapa yang baru saja membuka pintu ini.Aku menggelengkan kepala, berusaha berpikir positif, kemungkinan ada angin besar yang membuat pintu itu terbuka.Kuraih gelas berisi air putih di atas nakas, kuteguk air tersebut hingga tandas tak bersisa.Aku kembali bangkit hendak menutup pintu kamar ini. Namun, sekilas aku seperti melihat sesuatu berwarna putih.Mataku kembali kuarahkan ke arah nakas, tepat di samping gelas yang baru saja aku simpan, terdapat sebuah kertas sedikit lusuh. Kuraih kertas tersebut, seperti tadi siang, kertas itu tertulis sebuah kalimat yang menampilkan huruf kapital di keseluruhan kalimat tersebut.“BAGAIMANA, SEGAR A

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 141 Keanehan Terulang

    Aku terkejut membaca tulisan ini. Tulisan yang bermakna sebuah ancaman. Aku tidak tahu siapa yang menuliskan kalimat ini, atau mungkin hanya orang iseng?Aku menggelengkan kepala kuat-kuat, melempar kertas itu ke arah tong sampah. Aku tidak ingin berpikiran yang tidak-tidak. Aku ingin pikiranku bebas, ceria, supaya kandunganku tetap sehat dan terjaga. Tekadku ingin menjaga kandungan ini, sampai nanti waktunya tiba melahirkan.Kembali pada niat awal, aku pun mengganti pakaian dengan yang lebih santai.Malam ini aku memutuskan untuk tidur lebih awal, bahkan tidak menunggu Malik terlebih dahulu. Perutku yang terlalu kenyang, membuatku terlalu cepat mengantuk, dan aku tidak bisa menahannya lagi.“Sayang! Kamu sudah tidur?” Kudengar suara pintu terbuka, dan suara Malik.Dengan mata yang terasa lengket, aku memaksakan diri untuk bangun. Kulihat Malik duduk di pinggiran ranjang.“Iya, ada apa? Kamu butuh sesuatu?” tanyaku. Aku memicingkan mata, berusaha menahan mata ini tertutup.“Tidak, han

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status