Share

Bab 39 Tuduhan

last update Last Updated: 2025-12-25 21:51:13

Aku membisikkan kata-kata itu di sebelah telinga Gita. Biar tahu rasa dia, suami yang dia banggakan, seperti apa di belakangnya.

“Tahu apa kamu tentang suamiku?” tanya Gita.

Aku menyunggingkan senyuman tipis ke arah wanita itu. Dia terlihat curiga padaku. Apatis, dia mau mikir macam-macam tentangku, aku tidak peduli.

“Kenapa hanya senyum?” tanya Gita.

“Menurutmu … aku tidak tahu apa-apa tentang suamimu, gitu? Aih … Gita, kamu bahkan lupa, aku lebih lama hidup dengan suamimu dibanding kamu. Jadi aku tahu siapa suamimu, dan kelakuan suamimu seperti apa,” jawabku terkekeh.

Rahang Gita menegang. Melihat reaksinya, aku cukup terhibur. Lumayan untuk menghilangkan penat.

“Jangan bilang kamu–”

“Menguntit?” potongku.

“Gita … Gita. Untuk apa aku menguntit suami pelitmu. Kayak nggak ada kerjaan saja. Banyak suatu hal yang lebih penting untuk aku urusi,” lanjutku.

Tatapan Gita penuh selidik. Aku menanggapinya dengan sesantai mungkin.

“Lalu, dari mana kamu tahu kalau suamiku bekerja di sebuah rest
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 73 Pelukan Terakhir

    Setelah Alya pergi, bergegas aku berkemas lantas keluar dari ruangan ini.Sepanjang perjalanan aku terus merenungi perasaanku. Bertanya-tanya dalam hati, apa mungkin aku benar-benar telah jatuh cinta pada Arin? Namun, kenapa cinta itu harus datang terlambat, setelah orangnya pergi?Aku menggigit ujung jari jempolku, dengan siku bertumpu di jendela mobil yang sengaja kubuka. Energiku cukup terkuras oleh emosi yang ada dalam diriku.Beberapa kali aku membunyikan klakson saat terjadi kemacetan. Perasaan yang sedang tidak baik-baik saja, ditambah keadaan jalan yang macet seperti ini. Cukup menguji kesabaranku.Sekitar sepuluh menit terjebak macet, akhirnya jalanan pun kembali lancar. Dengan kecepatan tinggi, kulajukan mobil ini hingga aku telah sampai di depan rumah.Menghempaskan tubuhku ke atas ranjang. Mengusap ranjang yang pernah kami tiduri bersama. Ya, aku dan juga Arin. Aku teringat akan kejadian itu, kejadian yang tidak disengaja, yang membuat kami bersatu dalam peluh kebahagiaan

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 72 Terlambat Menyadari

    “Kembalikan, itu bukan apa-apa!” Aku berusaha merebut kertas yang ada di tangan Alya.Alya menjauh, dia turun dari mejaku. Dia berjalan sambil membawa kertas itu.“Kalau bukan apa-apa, kenapa kamu sampai takut segitunya?”Alya menatap serius ke arah kertas itu. Bahkan dia beberapa kali menepis tanganku, saat kucoba merebut kertas itu dari tangannya.“Malik, ja-jadi ….”Aku menghela napas kasar, Alya sudah terlanjur membaca isi kertas yang berupa surat kesepakatan kontrakku bersama Arin.“Kalian nikah kontrak?” tanya Alya. Dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya.Terbongkarlah sudah, Alya telah mengetahui statusku bersama Arin.“Jelaskan padaku, kenapa kalian melakukan hal ini? Jelas ini melanggar, Malik!” ucap Alya. Dia menuntut penjelasan dariku.Aku terdiam menunduk, aku duduk sambil merenung. Alya mendekat, dia mengangkat daguku, terpaksa aku harus beradu mata, walaupun rasanya tidak nyaman dalam keadaan situasi seperti ini.“Jawab, Malik. Kenapa kalian melakukan ini? Pa

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 71 Hambar

    (POV Malik)Hari-hari telah berlalu, bahkan minggu pun telah berganti bulan. Sejak saat kepergian Arin, belum pernah aku berhenti mencari keberadaannya. Bahkan semua anak buahku kukerahkan. Tidak hanya itu, aku pun menambah anggota anak buah, berharap dan berharap bisa lebih membantu menemukan Arin.“Bagaimana? Apakah sudah ada perkembangan?”“Maaf, Pak Malik. Kami sudah berusaha, tapi sampai saat ini kami masih belum bisa menemukannya,” ucap salah satu anak buahku.Aku mengangkat sebelah tanganku ke udara. Mengisyaratkan supaya mereka keluar dari ruanganku.Entah harus berusaha seperti apa lagi. Perginya Arin seperti ditelan bumi. Tidak ada jejak, tidak ada tanda-tanda keberadaannya di mana.“Maaf, Bang Malik. Aku belum bisa menemukan mbak Arin. Temanku juga belum ada yang berhasil. Abangku susah sekali dihubungi, dia terlalu sibuk bekerja. Tapi aku sudah mengirimkan fotonya,” ucap Delon di dalam sebuah pesan masuk.Aku menyandarkan kepalaku pada sandaran kursi. Kuputar-putar kursi y

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 70 Dikabulkan

    (POV Raka)“Mau untung malah buntung, sial sekali aku malam ini, yang seharusnya menang banyak tapi malah mendapat ancaman besar.”Sepanjang jalan terus menerus aku merutuki nasibku yang selalu tidak mujur. Baru saja aku akan mendapatkan uang banyak. Namun, sialnya aku harus gagal.Lelaki itu, aku masih ingat lelaki yang sok-sokan menjadi pahlawan kesiangan itu. Dia adalah suami barunya Arin. Kesal sekali, kini aku tidak mendapatkan uang sepeser pun karena ulahnya.Dipecat dari pekerjaan, rumah disita, tabungan raib, dan Gita pergi. Lengkap sudah penderitaanku. Sempurna sekali nasib burukku. Entah dosa apa yang aku lakukan selama ini.Aku pikir Gita tidak akan seberani itu pergi dariku. Pasalnya Gita tidak memiliki tempat tujuan selain rumahku. Namun, sayangnya dia pergi, bersama hilangnya harta benda yang aku miliki.Awalnya aku mengira Gitalah yang mengambil semua yang aku miliki. Aku marah, aku sempat kecewa padanya. Namun, aku salah besar. Seorang juragan datang ke rumahku, mengus

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 69 Perampok

    “Bang Malik!”Aku terperanjat, melihat seseorang yang nyaris aku tabrak ini. Aku membantunya bangkit lalu membawanya ke pinggir jalan.“Sorry-sorry … apa ada yang luka?” tanyaku.“Tidak, Bang. Aku yang harusnya minta maaf. Soalnya aku yang salah, nyebrang sembarangan!” jawabnya.Aku meneliti keadaannya dari atas hingga ke bawah. Memang tidak ada yang luka. Syukurlah … aku pikir aku akan mendapatkan masalah baru malam ini.“Kamu … Delon, kan?” tanyaku memastikan.“Iya betul, aku Delon, Bang, adiknya teman Bang Malik. Sudah lama kita nggak ketemu, Abang nggak pernah lagi main ke rumah. Bagaimana kabarmu, Bang?” jawabnya.Ternyata benar, dia adalah Delon, adik sahabatku waktu kuliah dulu.“Kabarku baik, aku sibuk kerja, maaf. Kenapa malam-malam begini kamu lari-larian di jalan? Walaupun sepi tapi ini sangat bahaya. Ngomong-ngomong, sama siapa kamu di sini? Apa sama abangmu?” tanyaku. Aku menoleh ke sana kemari.“Aku sendiri, Bang. Aku habis nganter pacarku pulang habis nonton. Tapi tiba-

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 68 Tidak Fokus

    “Sudah kubilang jangan bahas itu lagi!” sentakku.Tanpa sadar aku telah membentak Alya. Seketika Alya terdiam membeku, dia tidak bisa menyembunyikan raut keterkejutannya. Aku cukup merasa tidak enak padanya.“Sorry-sorry, aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya lelah, tolong jangan bahas Arin dulu untuk sekarang ini,” ucapku.Alya menggelengkan kepalanya pelan, tersenyum tipis menanggapi ucapanku.“It’s ok! Aku juga minta maaf,” sahut Alya lirih.Tidak seperti biasanya, jika ada Alya hatiku selalu bahagia. Selalu ada saja cerita seru yang mengalir yang kami ceritakan. Tidak pernah ada kekosongan saat kami bersama. Namun, berbeda dengan hari ini. Aku terlalu banyak diam. Bahkan bergerak pun rasanya aku tidak bersemangat.“Em … pesananku sudah sampai. Aku ke depan dulu sebentar, ya!” Alya menepuk kecil bahuku, setelah ia mendapat sebuah pesan masuk ke nomornya.“Ya!”Alya berlalu ke depan, sementara aku kembali mencoba menghubungi nomor Arin. Namun, tetap saja tidak bisa. Aku menghem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status