Share

Bab 6 Dibawa Pergi

last update Huling Na-update: 2025-12-12 16:07:29

“Eh-eh, apa-apaan ini?”

Aku bingung, kenapa mereka membawaku masuk ke dalam mobil itu?

Mereka tidak menjawab, mereka memaksaku masuk dengan menarik kedua tanganku.

“Aku tidak kenal siapa kalian! Lepas! Biarkan aku pergi!” jeritku.

Dua melawan satu, tenagaku tidak cukup kuat melawan mereka, apalagi mereka berdua seorang lelaki. Aku berhasil dibawa masuk. Lekas mobil itu pergi meninggalkan tempat itu.

Di dalam mobil tersebut, selain kedua lelaki yang menangkapku, ada juga dua lelaki yang duduk di depan, salah satunya yang bertugas mengendarai mobil tersebut. Mereka terlihat sangat asing, aku merasa takut mereka akan berbuat jahat padaku.

“Tolong!” jeritku, berusaha membuka pintu mobil.

“Tolong!”

“Diam!”

Tanganku dicekal kuat, tenagaku tidak cukup kuat untuk keluar melarikan diri. Aku gelisah, kenapa mereka tiba-tiba menculikku?

“Halo, Pak! Target sudah berhasil kami temukan, dan sekarang dia ada bersama kami.”

Salah satu dari lelaki yang duduk di barisan depan menghubungi seseorang.

“Keadaannya baik-baik saja, dia terlihat sehat dan segar.”

Aku membeliak, pikiran buruk seketika berkumpul dalam kepala. Mendengar ucapan lelaki itu, membuatku berhasil ketakutan setengah mati. Aku menyimpulkan, bahwa mereka adalah sindikat penculikan dan perdagangan manusia, atau yang lebih parahnya lagi, mereka akan memperjual belikan organ tubuhku.

“Siap, Pak!” Lelaki itu mematikan panggilan telepon itu.

“Mau apa kalian? Mau dibawa ke mana aku? Aku mau turun! Aku mau pulang!” Aku kembali memberontak.

“Diamlah, Nona. Anda hanya boleh menuruti perkataan kami!” sahutnya.

Aku semakin ketakutan, saat mobil yang kami naiki semakin kencang melaju. Tidak ada yang bisa kumintai pertolongan, kecuali ….

Aku membeliak, aku ingat aku masih ada ponsel di dalam tas. Aku bisa menggunakannya diam-diam, untuk menghubungi adikku di kampung.

Aku terpaksa diam, memeluk erat tasku. Awalnya mereka masih terus memantau gerak-gerikku. Namun, lama kelamaan perhatian mereka teralih pada jalan yang kami lewati.

“Aku harus bisa, aku harus pulang,” batinku.

Sebuah kesempatan saat mereka lengah. Diam-diam aku membuka resleting tasku, untuk mengambil ponselku.

“Tolong Mbak, Vit. Mbak diculik oleh orang-orang yang tidak Mbak kenal. Mbak tidak tahu Mbak ada di mana sekarang. Kemungkinan Mbak mau dijual.”

Sial, sial, sial!

Ingin sekali aku menjerit dalam keadaan ini. Memaki diri sendiri, karena kebodohan yang tidak aku sadari.

Di saat aku berhasil mengetikkan sebuah pesan permintaan tolong. Namun, sayang seribu sayang saat pesan tersebut hendak aku kirimkan, pesan itu gagal terkirim. Aku baru ingat, aku tidak memiliki kuota atau pun pulsa untuk menghubungi adikku.

Pasrah, mungkin hanya itu yang bisa aku lakukan. Ingin keluar pun, rasanya akan sangat sulit.

“Mau dibawa ke mana aku? Siapa kalian sebenarnya?” Aku kembali bertanya pada mereka. Berharap ada setitik rasa iba dari mereka terhadapku.

Seakan tuli, mereka hanya diam tanpa menanggapi pertanyaanku.

Pikiranku buntu, mobil yang kunaiki semakin jauh melaju. Aku tidak tahu aku berada di mana, mereka sangat menakutkan.

“Lepaskan aku! Apa kalian tuli, hah?!” Aku kembali berteriak.

“Sebaiknya Nona diam, semakin Nona memberontak, semakin kami tidak akan melepaskan Nona. Kita akan segera sampai,” sahut lelaki yang ada di barisan depan.

Aku menghembuskan napas kasar. Kembali aku mengamati jalanan yang tampak ramai lancar ini.

Mobil ini beberapa kali berbelok. Aku sangat asing dengan tempat yang kami lewati ini. Aku bingung, bagaimana caranya aku bisa pulang? Bahkan rasanya akan sangat sulit lepas dari mereka.

Mobil yang kami naiki akhirnya berhenti di depan sebuah rumah mewah. Mereka membawaku turun.

Seperti istana, saat aku menginjakkan kaki di tempat itu. Indah, aku sampai terkesima dibuatnya.

Belum pernah aku melihat rumah seperti ini secara langsung. Sebelumnya aku hanya bisa melihat rumah seperti ini hanya di TV.

Salah satu penculik itu menerima telepon.

“Ok, baik!” Hanya kata-kata itu yang dia ucapkan, lantas kembali menaruh ponselnya di dalam saku celana.

“Bawa dia masuk!” titah lelaki itu.

Kedua lelaki yang bertugas memegangi kedua tanganku mengangguk. Mereka mulai melangkah masuk ke dalam. Namun, beberapa kali aku menolak. Hanya saja lagi dan lagi mereka berhasil menggoyahkan pertahananku.

Jantungku semakin berdetak tidak normal. Ketakutan yang aku rasa semakin menjadi. Keyakinanku semakin memuncak, bahwa ada kemungkinan aku akan diperjual belikan atau justru organ tubuhku, karena saat ini sedang marak-maraknya sindikat penjualan organ tubuh manusia.

“Ibu, ayah, tolong aku!” batinku menjerit.

Langkah kaki kami berhenti di sebuah ruangan sempit dengan sedikit cahaya di bawah lampu yang temaram.

“Kami sudah membawa wanita yang Anda cari, Pak!” ucap salah satu penculik itu.

Di hadapanku, duduk seorang lelaki membelakangi. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Namun, yang aku yakini bahwa dialah bos besar dari empat lelaki yang membawaku ke sini.

“Tinggalkan kami berdua,” sahut lelaki itu.

Perasaanku semakin tidak enak. Jantung pun semakin berdegup kencang. Berada di dalam ruangan bersama lelaki asing. Apa yang akan dia lakukan padaku sebelum dia mengeksekusiku? Entahlah, yang aku pikirkan saat ini hanyalah kematian di depan mata.

Mereka pun keluar sesuai perintah. Ketegangan yang hakiki semakin terasa saat suasana di kamar itu berubah hening. Hanya aku dan lelaki asing itu.

“Si-siapa, kamu?” tanyaku gugup. Suaraku cukup menggema mengisi atmosfer ruangan itu.

“Bahkan kamu pura-pura lupa setelah kamu memutuskan untuk meninggalkanku. Hebat!” Lelaki itu tiba-tiba berdiri tegap, cukup lama.

Kedua tangan berada di dalam saku celana, lelaki itu lalu membalikan tubuhnya ke arahku. Aku nyaris menjerit saat dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 146 Selesai

    (POV Arin)“Malik!” jeritku.Tidak kusangka Malik akan datang tepat waktu. Namun, aku sedih karena Malik terkena tusukkan Alya.“Alya! Apa yang kamu lakukan?!” berangku.Mata Alya melebar, serta mulut terbuka. Dia terlihat terkejut atas apa yang telah ia perbuat. Pisau yang telah berlumuran darah itu, perlahan jatuh dari genggaman Alya.Malik memekik kesakitan, punggungnya terluka. Mengeluarkan darah yang cukup banyak.“Malik! Bertahan!” mohonku. Malik tersungkur “Ma-malik! Aku minta maaf, aku tidak sengaja, aku–”“Siapa, kamu? Kenapa ada di rumahku?” tukas Malik. Dia berusaha berdiri walaupun harus menahan sakit.Ternyata Malik tidak mengenali wanita yang ada di hadapannya. Perubahan wajah yang sangat jauh, membuat Malik tidak bisa melihat siapa dia.“Aku–”“Dia Alya, mantan kekasih kamu! Dia yang selama ini menerorku dengan berbagai keanehan yang dia ciptakan.” Aku mengungkapkan apa yang diperbuat Alya, dari mulai dia mendorongku sampai ke kolam, keanehan di kamarku, sampai aku dih

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 145 Seperti Monster

    Aku memekik kesakitan, ketika Arin menghantamkan piring bekas ke arah wajahku hingga terpecah belah menjadi beberapa bagian. Bukan hanya satu kali, dia melakukannya lebih dari ini.Pisau yang ada di genggamanku terlepas sudah. Benda itu terlempar ke sembarang arah, hingga aku tidak bisa menemukannya.Wajahku yang hancur, kini harus kembali merasakan sakit yang luar biasa. Pecahan dari piring itu menancap sampai ke daging wajahku. Darah segar seketika mengucur deras membasahi baju dan lantai.“Kurang ajar!” jeritku.Arin berhasil menjauh dariku. Dia menyoroti mataku menggunakan cahaya dari senter ponselnya. Membuat mataku silau dan aku cukup kesulitan untuk menetralkan pandanganku.“Singkirkan benda itu!” pekikku.“Maaf, Alya! Kamu sudah sangat keterlaluan. Dengan terpaksa aku harus melakukan ini,” ucap Arin.Aku menghalangi cahaya itu dari mataku menggunakan kedua tanganku. Aku menunduk, kuraba pecahan piring yang menancap di wajahku. Beberapa saat aku tidak bergerak, aku memandangi a

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 144 Menanggung Sakit dan Malu

    (POV Alya)“Alya!” ucap Arin lirih.Aku memperkuat jambakanku pada rambut Arin. Aku tidak bisa bermanis-manis lagi pada wanita ini. Gara-gara dia aku seperti ini. Apalagi ketika aku mendapat informasi jika Malik dan Arin melakukan pernikahan ulang. Membuatku hancur, seolah dunia tidak pernah berpihak padaku.“Ya! Ternyata kamu masih mengingatku, Arin? Kenapa? Kaget melihatku seperti ini? Em … bagaimana tanggapanmu?” tanyaku.Kulihat dari sorot senter ponsel, Arin terisak. Dia ketakutan ketika kuarahkan mata pisau ini di lehernya.Justru hal ini yang paling aku nikmati. Aku sangat menikmati momen tersiksanya wanita ini. Di setiap detail ketakutan yang dia tunjukkan, menjadi kekuatan bagiku untuk terus membuatnya tersiksa. Aku merasa menang, aku merasa berkuasa atas dirinya.“Kenapa kamu lakuin ini? Yang aku tahu, Alya yang aku kenal, dia wanita baik. Kenapa kamu jadi seperti ini, Al?” tanyanya.Cengkeraman tanganku pada rambutnya sengaja sedikit kulonggarkan. Namun, tidak benar-benar a

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 143 Wanita Menyeramkan

    Dengan mudahnya aku membuka pintu gudang ini. Aku kira pintu ini dikunci. Namun, ternyata tidak.Perlahan kubuka pintu ini, dalam sekejap suara seseorang yang sedang mengasah benda tajam itu tidak terdengar lagi.Gelap, hanya kegelapan yang menyapaku ketika pintu ini terbuka. Perlahan kulangkahkan kaki ini memasuki ruangan tersebut.Huek!Aku tidak tahan, bau itu … bau busuk berhasil membuatku muntah. Sepertinya banyak bangkai tikus di ruangan ini, sebab jarang sekali orang-orang memasukinya, apalagi membersihkannya. Namun, suara benda tajam itu?Kututup hidung ini dengan kerah baju, lalu menyalakan senter dari ponselku. Seketika cahaya berpendar ketika aku menyoroti setiap sudut ruangan.Banyak sekali barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai. Membentuk sebuah tumpukan, terdapat banyak debu yang menempel.Langkahku semakin dalam, mencari keberadaan bangkai yang kuyakini berasal dari tikus. Aku akan memberitahu Bi Saroh nanti, setelah aku menemukannya.Aku mengerutkan dahiku, kean

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 142 Frustrasi

    Kulihat pintu terbuka lebar. Namun, aku tidak menemukan siapa pun di sini. Aku tidak melihat Malik.Aku melirik ke arah jam dinding, masih pukul sebelas malam.Aku mencoba bangun, kulangkahkan kaki ini menuju kamar mandi. Setelah memastikan, memang tidak ada siapa-siapa di sini selain diriku sendiri.Aku kembali ke ranjangku, duduk sambil memikirkan siapa yang baru saja membuka pintu ini.Aku menggelengkan kepala, berusaha berpikir positif, kemungkinan ada angin besar yang membuat pintu itu terbuka.Kuraih gelas berisi air putih di atas nakas, kuteguk air tersebut hingga tandas tak bersisa.Aku kembali bangkit hendak menutup pintu kamar ini. Namun, sekilas aku seperti melihat sesuatu berwarna putih.Mataku kembali kuarahkan ke arah nakas, tepat di samping gelas yang baru saja aku simpan, terdapat sebuah kertas sedikit lusuh. Kuraih kertas tersebut, seperti tadi siang, kertas itu tertulis sebuah kalimat yang menampilkan huruf kapital di keseluruhan kalimat tersebut.“BAGAIMANA, SEGAR A

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 141 Keanehan Terulang

    Aku terkejut membaca tulisan ini. Tulisan yang bermakna sebuah ancaman. Aku tidak tahu siapa yang menuliskan kalimat ini, atau mungkin hanya orang iseng?Aku menggelengkan kepala kuat-kuat, melempar kertas itu ke arah tong sampah. Aku tidak ingin berpikiran yang tidak-tidak. Aku ingin pikiranku bebas, ceria, supaya kandunganku tetap sehat dan terjaga. Tekadku ingin menjaga kandungan ini, sampai nanti waktunya tiba melahirkan.Kembali pada niat awal, aku pun mengganti pakaian dengan yang lebih santai.Malam ini aku memutuskan untuk tidur lebih awal, bahkan tidak menunggu Malik terlebih dahulu. Perutku yang terlalu kenyang, membuatku terlalu cepat mengantuk, dan aku tidak bisa menahannya lagi.“Sayang! Kamu sudah tidur?” Kudengar suara pintu terbuka, dan suara Malik.Dengan mata yang terasa lengket, aku memaksakan diri untuk bangun. Kulihat Malik duduk di pinggiran ranjang.“Iya, ada apa? Kamu butuh sesuatu?” tanyaku. Aku memicingkan mata, berusaha menahan mata ini tertutup.“Tidak, han

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status