공유

Bab 65 Surat

last update 최신 업데이트: 2026-01-08 16:46:55

“Mbak Arin tidak ada di kamarnya!” jawab bi Saroh.

“Oh!” Aku terlalu malas untuk mendengar hal biasa seperti ini.

Aku meraih pintu, hendak menutupnya. Namun, tiba-tiba bi Saroh menahan pintu ini, hingga aku kesulitan untuk menutupnya.

“Mas Malik kenapa seperti tidak peduli? Mbak Arin tidak ada di kamarnya, loh!” Bi Saroh mengulangi ucapannya. Wajahnya seperti menahan kesal padaku. Tidak seperti biasanya. Nada bicaranya pun terkesan sangat berani.

“Pagi-pagi begini Arin biasanya ada di kamar man
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 146 Selesai

    (POV Arin)“Malik!” jeritku.Tidak kusangka Malik akan datang tepat waktu. Namun, aku sedih karena Malik terkena tusukkan Alya.“Alya! Apa yang kamu lakukan?!” berangku.Mata Alya melebar, serta mulut terbuka. Dia terlihat terkejut atas apa yang telah ia perbuat. Pisau yang telah berlumuran darah itu, perlahan jatuh dari genggaman Alya.Malik memekik kesakitan, punggungnya terluka. Mengeluarkan darah yang cukup banyak.“Malik! Bertahan!” mohonku. Malik tersungkur “Ma-malik! Aku minta maaf, aku tidak sengaja, aku–”“Siapa, kamu? Kenapa ada di rumahku?” tukas Malik. Dia berusaha berdiri walaupun harus menahan sakit.Ternyata Malik tidak mengenali wanita yang ada di hadapannya. Perubahan wajah yang sangat jauh, membuat Malik tidak bisa melihat siapa dia.“Aku–”“Dia Alya, mantan kekasih kamu! Dia yang selama ini menerorku dengan berbagai keanehan yang dia ciptakan.” Aku mengungkapkan apa yang diperbuat Alya, dari mulai dia mendorongku sampai ke kolam, keanehan di kamarku, sampai aku dih

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 145 Seperti Monster

    Aku memekik kesakitan, ketika Arin menghantamkan piring bekas ke arah wajahku hingga terpecah belah menjadi beberapa bagian. Bukan hanya satu kali, dia melakukannya lebih dari ini.Pisau yang ada di genggamanku terlepas sudah. Benda itu terlempar ke sembarang arah, hingga aku tidak bisa menemukannya.Wajahku yang hancur, kini harus kembali merasakan sakit yang luar biasa. Pecahan dari piring itu menancap sampai ke daging wajahku. Darah segar seketika mengucur deras membasahi baju dan lantai.“Kurang ajar!” jeritku.Arin berhasil menjauh dariku. Dia menyoroti mataku menggunakan cahaya dari senter ponselnya. Membuat mataku silau dan aku cukup kesulitan untuk menetralkan pandanganku.“Singkirkan benda itu!” pekikku.“Maaf, Alya! Kamu sudah sangat keterlaluan. Dengan terpaksa aku harus melakukan ini,” ucap Arin.Aku menghalangi cahaya itu dari mataku menggunakan kedua tanganku. Aku menunduk, kuraba pecahan piring yang menancap di wajahku. Beberapa saat aku tidak bergerak, aku memandangi a

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 144 Menanggung Sakit dan Malu

    (POV Alya)“Alya!” ucap Arin lirih.Aku memperkuat jambakanku pada rambut Arin. Aku tidak bisa bermanis-manis lagi pada wanita ini. Gara-gara dia aku seperti ini. Apalagi ketika aku mendapat informasi jika Malik dan Arin melakukan pernikahan ulang. Membuatku hancur, seolah dunia tidak pernah berpihak padaku.“Ya! Ternyata kamu masih mengingatku, Arin? Kenapa? Kaget melihatku seperti ini? Em … bagaimana tanggapanmu?” tanyaku.Kulihat dari sorot senter ponsel, Arin terisak. Dia ketakutan ketika kuarahkan mata pisau ini di lehernya.Justru hal ini yang paling aku nikmati. Aku sangat menikmati momen tersiksanya wanita ini. Di setiap detail ketakutan yang dia tunjukkan, menjadi kekuatan bagiku untuk terus membuatnya tersiksa. Aku merasa menang, aku merasa berkuasa atas dirinya.“Kenapa kamu lakuin ini? Yang aku tahu, Alya yang aku kenal, dia wanita baik. Kenapa kamu jadi seperti ini, Al?” tanyanya.Cengkeraman tanganku pada rambutnya sengaja sedikit kulonggarkan. Namun, tidak benar-benar a

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 143 Wanita Menyeramkan

    Dengan mudahnya aku membuka pintu gudang ini. Aku kira pintu ini dikunci. Namun, ternyata tidak.Perlahan kubuka pintu ini, dalam sekejap suara seseorang yang sedang mengasah benda tajam itu tidak terdengar lagi.Gelap, hanya kegelapan yang menyapaku ketika pintu ini terbuka. Perlahan kulangkahkan kaki ini memasuki ruangan tersebut.Huek!Aku tidak tahan, bau itu … bau busuk berhasil membuatku muntah. Sepertinya banyak bangkai tikus di ruangan ini, sebab jarang sekali orang-orang memasukinya, apalagi membersihkannya. Namun, suara benda tajam itu?Kututup hidung ini dengan kerah baju, lalu menyalakan senter dari ponselku. Seketika cahaya berpendar ketika aku menyoroti setiap sudut ruangan.Banyak sekali barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai. Membentuk sebuah tumpukan, terdapat banyak debu yang menempel.Langkahku semakin dalam, mencari keberadaan bangkai yang kuyakini berasal dari tikus. Aku akan memberitahu Bi Saroh nanti, setelah aku menemukannya.Aku mengerutkan dahiku, kean

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 142 Frustrasi

    Kulihat pintu terbuka lebar. Namun, aku tidak menemukan siapa pun di sini. Aku tidak melihat Malik.Aku melirik ke arah jam dinding, masih pukul sebelas malam.Aku mencoba bangun, kulangkahkan kaki ini menuju kamar mandi. Setelah memastikan, memang tidak ada siapa-siapa di sini selain diriku sendiri.Aku kembali ke ranjangku, duduk sambil memikirkan siapa yang baru saja membuka pintu ini.Aku menggelengkan kepala, berusaha berpikir positif, kemungkinan ada angin besar yang membuat pintu itu terbuka.Kuraih gelas berisi air putih di atas nakas, kuteguk air tersebut hingga tandas tak bersisa.Aku kembali bangkit hendak menutup pintu kamar ini. Namun, sekilas aku seperti melihat sesuatu berwarna putih.Mataku kembali kuarahkan ke arah nakas, tepat di samping gelas yang baru saja aku simpan, terdapat sebuah kertas sedikit lusuh. Kuraih kertas tersebut, seperti tadi siang, kertas itu tertulis sebuah kalimat yang menampilkan huruf kapital di keseluruhan kalimat tersebut.“BAGAIMANA, SEGAR A

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 141 Keanehan Terulang

    Aku terkejut membaca tulisan ini. Tulisan yang bermakna sebuah ancaman. Aku tidak tahu siapa yang menuliskan kalimat ini, atau mungkin hanya orang iseng?Aku menggelengkan kepala kuat-kuat, melempar kertas itu ke arah tong sampah. Aku tidak ingin berpikiran yang tidak-tidak. Aku ingin pikiranku bebas, ceria, supaya kandunganku tetap sehat dan terjaga. Tekadku ingin menjaga kandungan ini, sampai nanti waktunya tiba melahirkan.Kembali pada niat awal, aku pun mengganti pakaian dengan yang lebih santai.Malam ini aku memutuskan untuk tidur lebih awal, bahkan tidak menunggu Malik terlebih dahulu. Perutku yang terlalu kenyang, membuatku terlalu cepat mengantuk, dan aku tidak bisa menahannya lagi.“Sayang! Kamu sudah tidur?” Kudengar suara pintu terbuka, dan suara Malik.Dengan mata yang terasa lengket, aku memaksakan diri untuk bangun. Kulihat Malik duduk di pinggiran ranjang.“Iya, ada apa? Kamu butuh sesuatu?” tanyaku. Aku memicingkan mata, berusaha menahan mata ini tertutup.“Tidak, han

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status