Share

Bab 86 Terkurung

Penulis: Yuni Masrifah
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-21 22:21:32
“Andrio!” gumamku. Aku menduga ini adalah perbuatan anak itu.

Aku berjalan cepat mendekati pintu. Kuputar handle pintu tersebut. Namun, sulit sekali untuk dibuka. Benar saja, pintu ini dikunci dari luar.

“Pak pintunya dikunci!” seruku.

Pak Rivan pun mendekati pintu ini. Hal yang sama ia lakukan sepertiku. Namun, hal serupa pun terjadi, pintu ini sulit untuk dibuka.

“Pasti ini ulah Andrio lagi!” ucap pak Rivan. Dia menduga hal yang sama denganku.

“Andrio! Papa tahu ini ulahmu, kan? Please, Nak! Hentikan sifat jahilmu. Jangan membuat Papa marah lagi!” cetus pak Rivan sambil menggedor pintu.

Tidak ada sahutan sama sekali dari luar. Yang ada hanyalah hening semata. Bahkan penghuni lain pun tidak ada yang mendengar.

Pak Rivan terus menggedor pintu ini. Berharap seseorang membukakan pintu ini. Namun, tidak ada hasil sama sekali. Kami benar-benar terkurung berdua.

“Pak Rivan, sepertinya ini memang ulah Andrio. Saya tidak pernah memanggil Bapak. Saya diminta Andrio menunggu di
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 96 Bahagia

    “Mama!” panggil Andrio, dia berlari dan memelukku erat.Aku mengusap punggungnya, anak itu sudah terlihat lebih sehat dibanding kemarin.“Oh hai … jadi ini pacar barumu, Mas?” sapa seorang wanita muda, cantik, dan berpenampilan modis.Wanita itu berdiri mendekatiku. Sementara aku diam tidak mengerti. Lantas menoleh ke belakang, dan … aku tidak menemukan siapa pun selain diriku. Namun, tidak mungkin yang dimaksud wanita itu adalah aku. Sangat mustahil.“Ya, dia Arin. Cantik, bukan?” sahut pak Rivan.Aku membeliak, situasi ini semakin membuatku seakan mengambang. Berusaha mengerti. Namun, aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa pak Rivan menganggapku adalah pacar barunya? Bahkan pak Rivan pun tidak pernah menyatakan cinta padaku. Namun, kini dia membawaku ke keluarganya, dengan status seorang pacar?“Hai, Mbak Arin! Aku Sheila. Mbak Arin cantik, ya! Pantas Andrio selalu muji-muji Mbak kalau setiap kali menelponku!” seru wanita yang bernama Sheila itu.Aku mengangguk, tersenyum kecil. Nam

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 95 Dijemput

    Aku membeku, mencerna baik-baik kalimat terakhir yang terlontar dari mulut pak Rivan barusan.“Apa maksudnya?” Pertanyaan itu berputar dalam otak.Kulihat mobil pak Rivan telah menghilang dari pandangan. Aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam.“Baru pulang, Rin?” tanya Gita.Gita baru saja terbangun, karena mendengar suara pintu kamar dibuka.“Iya, aku pulang telat malam ini,” jawabku.Kutaruh paper bag ini di atas nakas. Menggantungkan tas kecil pada paku. Gita bangkit, memandangi paper bag.“Apa itu?” tanyanya.“Hanya baju, pemberian majikanku!” jawabku.Aku mengganti pakaianku dengan pakaian santai, bersiap untuk tidur. Sementara Gita meraih paper bag itu, membuka isinya.“Wih … bagus banget, Rin. Kok bisa majikan kamu membelikan gaun sebagus ini?” tanya Gita.Aku menghembuskan napas kasar. Lantas membaringkan diri di atas kasur tanpa ranjang ini.“Entahlah, yang jelas besok jam sepuluh aku harus memakainya. Majikanku mau jemput aku ke sini, dan … katanya adiknya mau datang sama o

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 94 Sikap yang Berbeda

    “Siapa, kamu? Lepas!” teriakku.Aku memberontak berusaha melepaskan diri. Namun, tenagaku kalah kuat, aku terlalu lelah untuk melawan.“Tolong! Tolong!” teriakku. Berharap ada orang lain melewati jalan ini, dan menolongku.“Hei! Ada apa? Kenapa teriak-teriak?”Aku terdiam, seketika aku tersadar ternyata tidak ada yang menyeretku masuk ke dalam mobil.Kedua bahuku berguncang, seseorang tengah berusaha menyadarkanku.“Pak Rivan!” gumamku. Seperti orang bodoh, aku melongo dengan tatapan kosong.“Kamu kenapa? Melamun?” tanyanya.Aku menyibak rambutku ke belakang. Ternyata aku memang melamun, sehingga kejadian yang baru saja yang aku alami, terasa sangat nyata. Bisa-bisanya aku berhalusinasi seperti ini. Kacau!“Iya, sepertinya saya melamun,” jawabku.“Ini malam, gelap, usahakan kamu fokus. Sekarang masuk mobil saya!” titah pak Rivan.Aku mengernyitkan dahiku, bingung mau apa sebenarnya pak Rivan menyuruhku menaiki mobilnya. Padahal jam kerjaku telah selesai.“Kenapa diam? Cepat masuk!” ti

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 93 Pulang Malam

    “Ya! Aku menyukainya! Puas, kamu?!” sentak pak Rivan.Aku membeliak, tidak kusangka jawaban pak Rivan sangat menohok. Namun, aku tidak mampu berkata apa pun, hanya bisa menggeleng kecil sebagai bantahan.“Ka-kamu bercanda, kan?” tanya Liska. Bicaranya pun berubah gugup.“Tidak, aku memang menyukainya. Memang itu, kan, jawaban yang ingin kamu dengar? Aku sudah menjawabnya, sekarang kamu puas?” jawab pak Rivan.Liska mengerjapkan mata dengan hati yang terluka. Cairan kesedihan itu tiba-tiba muncul begitu saja, tanpa bisa dia tahan.“Kenapa kamu tega?” tanya Liska. Suaranya nyaris tidak terdengar.“Tega? Kamu bilang aku tega?” Pak Rivan memalingkan wajah beberapa detik. Sebuah senyuman ia ukir. Bukan manis. Namun, miring.“Dengar! Kamu yang mendesakku untuk menjawabnya. Dan … itu jawabannya, aku memang menyukai Arin. Aku harap kamu puas, karena memang itu jawaban yang kamu tunggu, bukan?”Aku sudah tidak tahan dengan semua ini. Mereka yang memiliki hubungan, kenapa aku yang mesti dilibat

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 92 Cemburu Buta

    “Kamu yakin, Arin orangnya?”Aku yang tengah menyuapi Andrio makan di ruang keluarga. Samar-samar aku mendengar suara pak Rivan tengah mengobrol dengan seseorang di telepon. Di dalam ruang kerjanya, dalam keadaan pintu yang tidak tertutup rapat, menyisakan sedikit celah beberapa centi. Bukan disengaja. Namun, ini kebetulan.Hari ini Andrio telah kembali dari rumah sakit. Keadaan telah pulih, dan kini dia ingin makan di ruang keluarga, sambil menonton acara kartun kesukaannya.“Kenapa pak Rivan menyebut-nyebut namaku?” batinku.Bahkan bukan hanya sekali, tapi berkali-kali pak Rivan menyebut-nyebut namaku. Heran bercampur bingung, entah apa yang dia bahas, sehingga membuat rasa penasaran muncul di benakku.“Minum, Ma!” pinta Andrio.Aku meraih gelas berisi air putih di atas meja. Wajah anak ini tidak terlalu pucat, suhu tubuhnya pun telah kembali normal. Hanya saja dia sedikit manja, tidak ingin aku tinggalkan walaupun hanya sebentar.“Aku kenyang, boleh aku tiduran di pangkuan Mama?” B

  • Dibuang Suami Pelit, Dinikahi Sang Pewaris    Bab 91 Arti Tatapan

    Aku memilih keluar dari ruangan ini, dengan alasan ingin pergi ke kantin. Padahal aku sedang tidak ingin ke mana-mana. Hanya saja … tatapan Vano membuatku risih. Aku tidak biasa ditatap seperti itu, apalagi dia orang asing bagiku.“Saya permisi, Pak, mau ke kantin!” pamitku. Aku berdiri dan mendekati pintu.Mereka berdua menoleh ke arahku.“Oke, tapi jangan lama-lama. Takutnya Andrio bangun dan mencari kamu!” sahut pak Rivan.Aku mengangguk, lantas buru-buru aku keluar dari ruangan ini.Aku menghembuskan napas kasar, setelah menutup kembali pintu ruangan tempat Andrio dirawat. Aku pun memilih duduk di kursi tunggu, tanpa ada niat untuk pergi ke kantin.Aku berharap Vano segera pergi dari sini, supaya aku bisa leluasa kembali menjaga Andrio.Duduk seorang diri di tempat ini, membuat kantukku kembali menghampiri. Rasa dingin pun tidak aku pedulikan. Aku menguap, mataku terasa berat. Ingin sekali aku berbaring di kasurku yang nyaman. Seharian ini aku belum istirahat sama sekali.Aku meny

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status