Masuk"Kamu tunggu disini. Aku akan mengambil obatnya."Raisa duduk di kursi tunggu setelah Alvin pergi ke apotik. Dengan jari-jarinya, ia menyeka air mata yang sejak tadi ditahannya.Sambil menangis, Raisa memperhatikan satu per satu ibu hamil yang tengah menunggu panggilan untuk diperiksa.Perut-perut buncit itu nampak indah di wanita yang tepat, terlebih ada suami mereka yang setia menjaga.Kini giliran kursi belakang yang tak luput dari sapuan indera penglihatan wanita ini, hingga akhirnya matanya berbenturan dengan seorang wanita yang sejak tadi memperhatikannya.Reflek, Raisa menghapus air matanya."Sedang disini kamu?" Tatap Raisa sinis. Matanya lalu menangkap buku pemeriksaan hamil yang ditangan Arumi."Iya." Ucap Arumi pelan. "Mbak juga disini?""Seperti yang kamu lihat!" Raisa berdecak kesal sambil memalingkan wajahnya.Ia terbalut emosi terlebih melihat buku hamil yang dipegang oleh mantan istri su
Beralih pada Paris yang mengajak Arumi makan malam di kedai nasi goreng kemangi yang tak jauh dari kost sewanya. Dengan berjalan kaki, mereka tiba disana dan mengambil tempat duduk."Pasti berat di tengah mual muntah ini kamu harus berjualan.." Paris membuka pembicaraan."Ya.. begitulah. Terkadang aku harus menutup hidung waktu memasak.""Kamu mau bekerja di Royal Energy? Nanti aku bisa minta tolong untuk dicarikan tempat yang pas untukmu.""Royal Energy?" Arumi langsung menggeleng. "Nggak usah, mas. Biar aku jualan aja.""Gajinya lebih besar dari hasil kamu berjualan, Arumi."Arumi tersenyum getir. "Memang aku bisa mendapatkan posisi apa, mas? Aku cuma tamatan SMA tanpa pengalaman kerja. Paling aku cuma cocok jadi office girlnya aja." Wanita ini menghela nafas panjang. "Kehamilanku semakin besar.. aku ngga bisa bekerja terlalu berat."Paris lalu memandang Arumi lekat."Setelah melahirkan kamu akan tinggal diman
Raisa mengomel lagi karena masakan Nurlela keasinan. Dia pun memuntahkannya secara terang-terangan. "Ibu kayaknya mau buat semua orang di rumah ini jadi darah tinggi kayaknya!" Seru Raisa. "Cukup ibu aja yang sakit! Jangan kami!" "Raisa! Tinggal tambahkan kecap manis aja!" Balas Alvin ikut kesal akan sikap istrinya. "Nggak enak, mas. Aku mau makan diluar aja!" "Raisa.." tegur Alvin lagi. Raisa yang tak perduli lalu bangkit dari duduknya. Namun sebelum mencapai pintu kamar, Nurlela mengeluarkan rasa sakit hatinya. "Ibu bukan pembantu di rumah ini. Kalau kamu mau makan sana masak sendiri! Kalau masakan ibu nggak enak, kamu nggak usah menghinanya." "Yang bilang kalau ibu pembantu siapa?" Raisa lalu berbalik lagi. "Sikapmu itu semena-mena pada ibu!" Desis Nurlela. "Di rumah ini ada tiga orang, kenapa hanya ibu yang disuruh membereskan rumah, memasak sampai mencuci."
"Oh! Jadi ini kelakuanmu, mas!!" Teriak Raisa murka.Alvin terkejut bukan main dengan keberadaan istrinya. Apalagi Raisa menatapnya dengan penuh kemarahan."Sekarang aku mengerti. Kamu bohong padaku waktu itu, kan? Kamu bilang ingin membeli sarapan rupanya malah mengunjungi mantan istrimu!"Giliran Arumi yang ditatapnya dengan kesal. Wanita ini baru tahu jika mantan istri suaminya berjualan nasi uduk."Raisa.." bisik Alvin. Dia mendekat ke arah istrinya. Suara tinggi Raisa barusan memancing perhatian membeli."Kamu brengsek, mas!" Raisa memukul dada suaminya dengan kesal dan pergi begitu saja.Astaga! Alvin sampai bingung harus mengatakan apa. Padahal dia belum melakukan apapun, menyapa Arumi saja tidak.Alvin mengusap wajahnya dengan kasar dan memandang Arumi sekilas. Ia lalu pergi tanpa mengucapkan satu katapun. Raisa sendiri langsung masuk ke mobil dan membanting pintu. Sadar akan sikapnya, Raisa langsung me
"Kamu mencari pak Paris? Mau apa? Ah.. kamu pasti ingin melamar pekerjaan disini, kan? Kebetulan sekali kalau kami memang membutuhkan cleaning service. Kamu bisa melamar disini." Mata Arumi memerah karena mendengar ucapan Raisa barusan. Bukan karena perkataannya tapi lebih pada tatapan wanita ini yang seakan meremehkannya. Tin! Suara klakson menyadarkan Raisa. "Udah, ya. Aku pergi dulu." Raisa melenggang masuk ke sebuah mobil yang baru saja berhenti di lobi perusahaan tersebut. Setelah itu, Arumi tertunduk dengan sedih. "Masih mau ketemu pak Parisnya, mbak? Kayaknya beliau sibuk." Arumi menggeleng. "Boleh dititip saja, pak?" "Boleh. Nanti saya titipkan ke sekretaris beliau." "Terima kasih banyak.." Arumi lalu pulang dengan perasaan sedih. Niatnya memang ingin bertemu dengan Paris, tapi status hingga pakaian yang ia pakai rasanya tak
"Siapa?" Tanya Arumi lagi setelah memastikan ketukan pintu itu berasal dari depan kamarnya. Dengan tertatih, Arumi beringsut bangun dan membuka pintu. Rupanya, ia mendapatkan tamu tak terduga. "Mas Alvin.." Arumi tak menyangka. "Mas tahu dari mana rumahku disini?" Alvin menyapu kamar sempit yang ditempati Arumi ini. Matanya lalu menangkap buah, makanan dan juga susu hamil yang ada disana. "Jadi kamu benar-benar hamil?" Tanya Alvin tercekat. "Apa aku pernah berbohong padamu, mas?" Alvin menghela nafas panjang. "Berapa bulan?" "Sudah jalan 3 bulan sekarang." "Laki-laki atau perempuan?" "Kenapa mas menanyakan hal itu?" Dahi Arumi sampai mengernyit. "Aku hanya ingin memastikan kalau anak itu memang benar anakku." Arumi tersenyum pahit. Alvin memang benar-benar sudah berubah. Atau mungkin.. inilah sifat aslinya?







