LOGINArumi dilewati begitu saja oleh rombongan yang akan menghantarkan Alvin ke kehidupan barunya. Sebelum Alvin mencapai pintu mobil, pria ini menoleh sekilas dan menatap Arumi.
Kedua mata itu saling bertemu, Arumi yang begitu berharap seakan ingin mengatakan sesuatu membuat langkah Alvin berhenti. "Biarkan kami bicara sebentar." Ucap Alvin pada ibunya. "Jangan macam-macam, Alvin! Kita bisa terlambat!" Mata Nurlela sampai melotot. "Cuma lima menit." Alvin melepaskan tangan Nurlela dari lengannya, ia lalu berjalan mendekat ke arah Arumi yang masih berdiri disana "Ada masalah apa, Arumi? Waktumu hanya 5 menit." Alvin berkata dingin. "Kamu mau menikah, mas?" Tanya Arumi berkaca-kaca. "Seperti yang kamu lihat." "Padahal baru dua bulan kita berpisah, tapi kamu sudah mau menikah lagi." Ucap Arumi sedih. Dia menyayangkan keputusan Alvin yang begitu cepat berpaling darinya. "Kenapa memangnya?" Dahi Alvin sampai mengernyit. "Apa aku harus meratapi hidupku setelah berpisah darimu? Kita sudah nggak punya hubungan apa-apa lagi, Arumi. Aku harus menjalani kehidupanku yang baru." "Siapa wanita itu?" "Raisa. Mantan kekasihku. Wanita cantik dan sempurna. Lulusan S2 dan bekerja sebagai marketing di perusahaan asing. Karirnya cemerlang. Dia adalah istri idealku." Arumi mengerjap menahan air matanya. Ternyata Alvin menemukan pasangan yang setara untuknya. "Aku senang mendengarnya. Kalau begitu selamat atas pernikahanmu, mas." "Terima kasih." Alvin lalu memandang mantan istrinya yang terlihat pucat ini. "Apa tujuanmu kemari?" Tidak mungkin tiba-tiba Arumi datang kemari tanpa alasan. "Aku.. hanya ingin memberitahumu sesuatu." Ucap Arumi tersendat. Mendengar itu, Nurlela datang mendekat. Ia berjaga jika saja mantan menantunya ini mencoba mencari masalah dan menjadi penghalang pernikahan Alvin hari ini. "Aku.. aku hamil, mas." Deg! Alvin terkejut bukan main mendengar ucapan mantan istrinya. Begitu juga mata Nurlela yang hampir keluar dari sarangnya. Mereka terkejut akan pengakuan Arumi. "Aku hamil anakmu. Sekarang usia kehamilanku sudah 9 minggu." "Bohong kamu!" Teriak Nurlela. "Kalau kamu memang hamil kenapa nggak memberi tahu Alvin dari awal, hah? Ini pasti akal-akalanmu untuk mencegah pernikahan Alvin, kan?" Arumi menggeleng sedih. "Nggak, bu. Arumi bersumpah memang sedang mengandung anak mas Alvin. Ketika pengadilan memutuskan kami berpisah, disana juga Arumi baru tahu kalau Arumi tengah mengandung." Nurlela mengibaskan tangannya. Ia lalu menarik lengan putranya perlahan. "Kita pergi sekarang, Alvin. Keluarga Raisa pasti menunggumu!" Sementara, Alvin membeku. Dia menatap kosong wanita yang ada di hadapannya ini. Seketika perasaan gelisah terbit di hatinya. "Aku nggak berbohong, mas. Anak ini memang anakmu." Sambung Arumi yang seperti tahu Alvin meragukan ucapannya. "Kedatanganku kemari hanya ingin memberitahu itu. Aku nggak tahu kalau kamu mau menikah hari ini." Arumi menarik nafas panjang dan tersenyum getir. "Tapi tenang saja, mas. Aku nggak akan menuntut apapun darimu. Aku kemari hanya ingin memberi tahu itu saja.. dan juga, selamat atas pernikahanmu." Sambil memegangi perutnya, Arumi berjalan melewati Alvin yang terdiam tanpa mengucapkan satu kata apapun. Sedangkan, Nurlela langsung berdecak. "Wanita pembawa sial! Itu pasti bukan anakmu, Alvin. Buktinya dia bilang tidak mau menuntut apapun! Sudah mati kutu pasti Arumi itu karena melihatmu akan menikah. Makanya dia nggak bisa cari-cari alasan untuk meminta pertanggung jawabanmu." Arumi meringis mendengar suara lantang mantan mertuanya. Tak hanya dirinya yang dihina, tapi calon anaknya juga diragukan. Sambil tertatih, Arumi mempercepat langkahnya. Ia tak mau lagi mendengar suara-suara yang terus menyakitinya. Yang penting keinginannya sudah tercapai. Biar saja jika Alvin tak mau bertanggung jawab atas anak ini, yang penting dia sudah memberitahu yang sebenarnya. "Ayo, Alvin. Kenapa jadi melamun?" Nurlela menarik Alvin yang mematung. Pria ini masuk ke mobil dengan perasaan hampa luar biasa. "Jangan dipikirin omongan Arumi tadi. Perempuan itu pasti cuma berbohong! Itu cuma akal-akalan dia biar buat kamu ragu untuk menikah lagi." Sambung Nurlela lagi. Alvin mengusap wajahnya kasar. Kini dia sudah duduk di dalam mobil yang melaju keluar dari komplek rumahnya. Menuju ke sebuah altar yang akan mengantarkannya ke kehidupan baru. Saat di perjalanan, Alvin kembali melihat Arumi. Mantan istrinya itu tampak duduk di halte dengan menundukkan kepalanya. Tangan itu terlihat melingkar dan mengusap perut, mulutnya seperti berbicara sembari melihat ke arah sana. Sampai sebuah angkutan umum berhenti di depan wanita tersebut. Alvin mendongak untuk melihat Arumi yang tak terhalang. Sampai akhirnya, Alvin menyadari jika Arumi tak ada lagi disana."Ini.. namanya test pack, kan?" Tanya Paris setelah kesadarannya kembali. Arumi mengangguk. "Garis dua itu.. artinya hamil?" Kali ini, Arumi mengedikkan bahu. Dia pura-pura tak tahu saja untuk melihat ekspresi suaminya. Dahi Paris mengkerut. Ia memang orang awam tapi pernah mendengar makna garis dua yang tertulis di atas benda pipih ini. Dan untuk memastikannya, Paris harus melakukan sesuatu. "Ganti bajumu!" Paris beranjak dari duduknya. Ia menarik tangan Arumi dan mengajaknya berjalan ke lemari. "Mau kemana, mas?" Tanya Arumi keheranan. "Periksa ke tante Winda. Aku ingin memastikannya." Yang membuat sebal adalah tanggapan Paris saat ini. Suaminya Arumi ini tak berjingkrak senang atau memeluk istrinya. Membuat Arumi jadi curiga kalau sebenarnya Paris terbebani dengan kehamilan ini.
Tidak ada yang kekal. Semua akan kembali ke Sang Pencipta di saat yang telah ditentukan. Inilah akhir kisah Nurlela. Tak lama kepergian dari Arumi, wanita itu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Wanita yang dulu sombong namun segera memikul penyakit untuk menebus dosa-dosanya di masa lalu. Di akhir hayatnya, diri ini terkunci karena kesalahan yang belum sempat diutarakannya. Hingga keikhlasan keluar dari mulut wanita yang disakitinya, Nurlela akhirnya bisa melepas beban yang menjeratnya selama ini. Berita duka ini sampai kepada pengantin baru. Padahal keduanya baru sampai ke rumah, Arumi baru saja bermain dengan Hannan. Tapi kabar kesedihan ini didapatkannya dari Alvin. Oleh karena sudah melihat tadi di rumah sakit, Paris dan Arumi akan pergi ke rumah duka saja. Kebetulan almarhumah juga akan dimakamkan besok pagi. Tak hanya pasangan suami istri ini, Lesti
Malam pertama dan kedua selesai. Waktunya Paris kembali ke rumah bersama istrinya. Kali ini dia tinggal di rumah warisan neneknya, ibu dari Lesti. "Kalian nggak mau bulan madu?" Tanya Lesti saat mengantar Paris pindahan. "Mau sih. Tapi aku cuma cuti seminggu." "Pergi saja bulan madu kemana kek. Kasihan istrimu masak dikurung terus dirumah." Arumi jadi tersenyum. "Nggak apa-apa kok, ma. Kasihan mas Paris capek juga." "Apa karena Hannan?" Lesti menebak. "Nggak usah risau. Ada papa dan mama yang menjaganya." Paris menatap ibunya lekat, terutama ayahnya. "Beneran nggak apa-apa kami titipkan Hannan?" "Nggak masalah. Ya kan, pa?" Wirawan mengangguk. "Bersenang-senanglah. Jangan kerja terus yang kamu pikirkan!" Senyuman Paris mengembang. Sekarang tinggal membujuk Arumi untuk berbulan madu saja. Ya, dia
Tujuh hari kemudian.. Sebuah acara pernikahan akan dilaksanakan di sebuah hotel berbintang lima dengan pengawalan yang ketat. Maklum saja. Yang akan menikah adalah anak dari seorang jenderal, Wirawan. Apalagi Paris merupakan seorang manajer perusahaan asing yang terkenal karena prestasinya. Masih muda namun bisa duduk di jabatan eksekutif. Ayat dari kitab suci mulai disenandungkan, sebagai tanda bahwa mulainya acara ijab qabul sebentar lagi akan dilaksanakan. Hingga akhirnya qabul terdengar dan dinyatakan SAH! Arumi keluar dari tempat persembunyiannya. Menemui sang pangeran yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Paris tersenyum penuh haru ketika istrinya muncul ditemani dayang-dayangnya. Arumi menerima uluran tangan Paris dan menciuminya dengan takzim. Begitu juga dengan Paris yang langsung memberikan do'a di pucuk kepala istrinya. Paris dan Arumi saling melempar senyuman. Merek
"Mas Paris.."Aduh.. wajah ini sudah memerah. Mata ini mulai menjalar hangat hingga menumpuk cairan. Apa-apaan ini Paris? Pria ini memberi kejutan untuknya.Percuma mencari Paris di dalam kerumunan sana, dia rupanya muncul dari panggung belakang sambil mengulum senyum.Di layar sana sudah ada kata-kata romantis bertuliskan bahasa inggris. Yang pasti ada nama Arumi disana hingga membuatnya tersipu malu.Arumi ingin bersembunyi saja. Jika ada lubang semut dia ingin kesana. Menyembunyikan wajah yang mulai gerah karena kejutan dari pria ini.Paris berjalan dari arah belakang. Mengenakan kaos polo itu dia nampak gagah. Sebuah mic diberikan kepadanya.Pria ini mendekat bahkan berdiri di samping Arumi.Astaga... Arumi mau pingsan saja! Terlebih detak jantungnya sudah mengajaknya berlari."Arumi.." ucapnya.Arumi menutup mulutnya menahan malu, sementara semua mata penonton sekarang tertuju padanya. Belum lagi r
Di sisi lain, Paris sejak tadi mengulum senyumnya. Alvin sudah tahu rencana pernikahan mereka. Itu artinya pasti tadi Arumi sudah cerita.Rapat itu hanya bualan. Paris sengaja berbohong tak bisa menemani Arumi dan Hannan bertemu dengan Alvin. Dia ingin memberi waktu pada Arumi menyelesaikan masa lalunya. Percakapan mereka juga sudah Paris dengar. Syukurlah, hati Arumi tak goyah atas rayuan mantan suaminya."Mas masih marah padaku?" Tanya Arumi ketika Paris hanya diam di perjalanan."Untuk apa aku marah padamu?""Abisnya aku tahu kalau kamu marah soal kemarin. Sikapmu berubah, mas.." lirih Arumi. "Padahal maksudku nggak ingin merepotkanmu aja.. aku takut menjadi beban untukmu padahal kamu bisa mendapatkan wanita baik selain aku.""Kamu mulai lagi.." gumam Paris menggelengkan kepalanya. Daripada meladeni Arumi lebih baik dia diam saja.Sesampainya di rumah, Arumi dan Hannan turun lebih dulu dan Paris menyusul."M
"Ke rumahmu?" Seketika jantung Arumi ingin copot. "Kenapa, mas? Ibu sakit?" "Nggak. Cuma mau ngenalin kamu aja sama papaku." "Bukannya kami sudah saling mengenal?" "Itu berbeda." Paris berharap Arumi jangan banyak pertanyaan. Ia belum bi
"Aku melanggar janjiku untuk membayar biaya rumah sakit anak kita. Maafkan, aku.. kondisiku saat ini sedang sulit. Pengobatan ibu dan juga kemoterapi Raisa tidaklah murah. Ini saja aku harus menjual mobilku." Alvin lalu mengambil nafas panjang. "Ketiga kakakku tidak mau tahu menahu soal penyakit
Keesokan harinya, jagoan Arumi sudah diperbolehkan pulang. Bayi kecil ini sudah ditutup dengan topi lucu dan selimut berwarna biru. Melihat itu, Lesti menjadi gemas. "Apa boleh ibu menggendongnya?" Tanya Lesti ragu. "Boleh, bu." Arumi menyerahkan bayinya ke dalam pel
"Aduh! Tolong!" Teriak Raisa begitu kuat.Dua orang pria masuk begitu saja ketika mendengar teriakan wanita dari kamar rawat VIP ini."Raisa!" Alvin terkejut ketika melihat istrinya tergeletak di lantai dengan memegang perut.Sementara pria satunya berjalan santai ke ar







