แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: KarenW
"Tentu saja. Apa yang kamu lakukan di sini?" kataku sambil tersenyum dan menjabat tangan Steven.

Steven menjawab, "Ayahku sedang bertemu dengan ayahmu. Tapi, aku bosan, jadi aku pergi."

Dia mengamatiku sejenak, lalu tersenyum. "Kamu butuh tumpangan? Kamu baru pulang kerja, 'kan?"

Naluri pertamaku adalah menolak. Sejak berpacaran dengan Ariel, aku selalu berusaha menjaga jarak dengan pria lain. Namun, saat memikirkan Ariel yang sekarang mungkin sedang mengantar Alisia pulang, membiarkan seorang pria mengantarku pulang tidak terasa seperti sebuah kesalahan besar lagi. Aku tersenyum dan berkata, "Kalau nggak merepotkanmu."

Steven menuntunku menuju sebuah mobil sport mewah yang berkilau dan terparkir di seberang jalan. "Sama sekali nggak, aku justru merasa terhormat bisa antar wanita secantik kamu."

Sebelum aku sempat masuk, kembali terdengar suara klakson keras. Saat mengangkat kepala, aku melihat mobil Ariel baru saja masuk ke tempat parkir yang biasa digunakannya. Begitu keluar dari mobil dan tatapannya tertuju padaku, sorot matanya langsung menjadi muram.

Mengapa aku merasa seperti aku yang baru saja tertangkap basah? Aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Jika ada yang bersalah, orang itu adalah Ariel. Dia mengabaikanku yang merupakan pacarnya dan malah mengantar gadis lain pulang.

Steven juga melihat Ariel. "Pria itu kelihatannya mau bunuh aku ... apa dia itu pacarmu?"

Sebelum aku sempat menjawab, Ariel sudah menjawab untukku, "Ya, aku pacarnya, Ariel Pamungkas. Dan kamu?"

Ariel mengulurkan tangannya pada Steven dengan sopan, tetapi ekspresinya sama sekali tidak terlihat sopan.

Steven terdiam sejenak, lalu senyuman jahil perlahan-lahan muncul di wajahnya. Dia berkata sambil menjabat tangan Ariel, "Hanya teman Nona Rahma. Aku lihat dia sedang berusaha cari taksi setelah pulang kerja, jadi aku menawarkan tumpangan."

Ariel biasanya memancarkan aura dingin dan dominan. Namun, saat sedang merasa kesal, auranya yang dingin dan dominan itu menjadi sepuluh kali lipat lebih mengintimidasi. Dan saat ini, aura itu terpancar dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Dia berkata dengan tenang, "Yah, sekarang aku sudah datang."

Setelah itu, lengan Ariel melingkari pinggangku dan menarikku ke sisinya dengan erat. "Jadi nggak perlu repotkan teman lagi."

Steven sama sekali tidak terlihat gentar. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan berkata, "Kalau kamu tanya aku, sikapmu sebagai pacar ini cukup buruk. Aku lihat Bella berdiri di sini sudah hampir setengah jam. Bukankah harusnya kamu datang tepat waktu saat jemput orang yang kamu cinta?"

Ariel menyipitkan matanya dan suasananya langsung menjadi berbahaya.

Aku segera menarik lengan baju Ariel. "Ariel, ayo pulang."

Setelah itu, aku menoleh ke arah Steven. "Terima kasih, Steven. Sampaikan salamku pada ayahmu."

Steven tersenyum cerah padaku. "Kalau lain kali kamu butuh aku, kamu punya nomorku."

Dengan tatapan yang sengaja beralih ke arah Ariel, Steven melanjutkan, "Aku selalu senang membantu. Kamu tahu, untuk berjaga-jaga kalau pacarmu terlambat lagi."

Lengan Ariel yang melingkari pinggangku langsung menjadi erat. Tanpa mengatakan apa pun lagi, dia membalikkan tubuhku dan membimbingku menuju mobilnya.

Begitu kami berada cukup jauh dari jangkauan pendengaran Steven, Ariel mencondongkan tubuhnya dan berkata dengan pelan, "Maaf, hari ini aku terlambat. Ada sesuatu yang terjadi di kasino."

Mendengar permintaan maaf Ariel dan melihatnya mengernyitkan alis, aku membuka mulut untuk berkata tidak apa-apa dan menjelaskan aku sebenarnya tidak marah karena dia terlambat. Namun, saat Ariel membuka pintu kursi penumpang, aku langsung membeku.

Aroma samar-samar parfum wanita yang menyambutku lebih dulu, lalu aku melihat sebuah boneka kelinci merah muda berukuran besar tergeletak di kursi belakang mobil Ariel. Pikiranku langsung kosong dan semua kata tertahan di tenggorokanku. Aku tidak bisa memaksa kata-kata keluar, tetapi juga tidak bisa menelannya kembali.

Siapa lagi yang mungkin duduk di kursi penumpang mobil Ariel dan memberinya boneka kelinci yang diletakkan di kursi belakang dengan hati-hati? Orang itu adalah Alisia.

Mendengar tentang keberadaan Alisia melalui komentar-komentar itu adalah satu hal. Namun, melihat bukti keberadaannya langsung di dalam mobil Ariel adalah hal yang sama sekali berbeda. Hanya dalam waktu satu hari saja, dia sudah memasuki dunia Ariel dan meninggalkan sesuatu di sana.

Dan Ariel juga memang benar-benar memperlakukan Alisia secara berbeda. Dia membenci boneka, tetapi tetap menyediakan tempat untuk boneka pemberian Alisia di ruang pribadinya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dicintai Lebih Daripada yang Aku Kira   Bab 11

    [ Dia bukan orang asing. Kalian lupa ya kalau Alisia punya cinta pertama sejak kecil? Hubungan mereka pada dasarnya sama seperti Ariel dan Bella, cuma tanpa latar belakang keluarga mafia yang kaya raya. ][ Aku juga pernah dengar soal dia. Namanya Henry. Dia bekerja sambil membiayai kuliah Alisia. Bukannya mereka sudah bersama sejak SMA? ][ Terus Ariel gimana? Bukannya ceritanya harus jadi kisah cinta miliarder yang kabur demi cinta? Ariel seharusnya merebut Alisia dan menjadikan Alisia sebagai istri satu-satunya. ][ Tenang saja. Mungkin selama ini kita membaca versi cerita yang berbeda. Bukankah Ariel sudah melamar Bella? Mungkin memang Bella yang benar-benar dia cintai .... ][ Aku mau bilang sesuatu. Menurutku, Bella memang pasangan yang paling cocok buat Ariel. Dari awal aku mengikuti cerita ini, Ariel selalu bersikap dingin kepada semua orang kecuali Bella. Dan meskipun Bella bukan orang yang jago berbisnis, cuma dia yang bisa membuat Ariel terasa ... seperti manusia biasa. ][

  • Dicintai Lebih Daripada yang Aku Kira   Bab 10

    Ariel seperti pria yang sudah lama kelaparan. Dia menciumku di mana-mana, seolah-olah tidak pernah merasa puas, meski terus berusaha.Sedangkan tubuhku dengan mudah mengkhianatiku, merespons setiap sentuhannya jauh lebih kuat daripada yang kubayangkan.Saat kecupannya bergerak naik dari perutku hingga ke tulang selangka, lalu berhenti di dekat telingaku, suaranya merendah. "Masih mau pindah kamar?"Sebelum sempat menjawab, komentar-komentar itu kembali muncul di hadapanku.[ Ih! Ariel mau tidur sama dia? Aku nggak sanggup lihatnya. ][ Bella benar-benar mengira Ariel melakukan ini karena cinta? Cowok cuma punya kebutuhan. Itu saja. ][ Lihat, 'kan? Sudah kubilang dia cuma jual mahal. Dicium sekali langsung luluh lagi. ][ Apa cuma aku yang merasa Ariel benar-benar peduli sama dia? Selama ini cuma dia yang benar-benar mengkhawatirkan Bella. ]Komentar terakhir itu menarik perhatianku. Untuk sesaat, aku justru memikirkan hal yang sama.Aku terus menjauh darinya, tetapi Ariel malah selalu

  • Dicintai Lebih Daripada yang Aku Kira   Bab 9

    Ariel selesai membilas gaun tidur renda itu. Setelah itu, barulah dia menoleh dan menatapku."Kalau kamu memang sudah berencana pindah, lalu untuk apa kamu masih membutuhkan aku? Sebagai pacarmu? Atau cuma seseorang yang kamu datangi saat merasa kesepian dan pintunya bisa kamu ketuk kapan saja?"Suaranya terdengar serak, tetapi dia belum selesai. "Kalau begitu, lebih baik kita putus saja."Seluruh tubuhku membeku. Pikiranku kosong sesaat, seolah-olah tidak mampu mencerna apa yang baru saja kudengar. Aku sama sekali tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu secepat ini.Sesingkat dan setegas itu.Mataku langsung terasa perih. Air mata yang sedari tadi kutahan kembali mendesak keluar.Kemudian, komentar-komentar itu muncul lagi dengan cepat, bersemangat, dan hampir terlihat gembira.[ Ariel akhirnya mengatakannya! Memang begitulah isi hatinya. Dia sudah lama mau putus. ][ Setidaknya Bella sekarang sadar diri. Dia sendiri yang lebih dulu bilang mau pindah. ][ Nggak, kalian salah. Dia

  • Dicintai Lebih Daripada yang Aku Kira   Bab 8

    Aku bangkit dari tempat tidur dan segera membersihkan diri, membasuh sisa-sisa kantuk di wajahku, sekaligus mungkin menghapus jejak air mata yang tidak ingin kupikirkan lagi.Kemudian, aku membuka pintu dengan perlahan, mengintip ke luar lebih dulu. Aku tidak ingin bertemu Ariel.Selama hampir satu menit aku tidak mendengar suara apa pun. Kukira dia sedang berada di ruang kerjanya ... atau mungkin sudah pergi keluar. Jadi, aku mengendap-endap menuruni tangga.Begitu berbelok di ujung lorong, aku langsung menabrak sesuatu yang keras.Aku mendongak. Ariel berdiri tepat di depanku, menatapku dengan wajah yang jelas-jelas tidak senang."Kamu kedatangan tamu," katanya, mengucapkan setiap kata dengan jelas.Pasti Steven sudah datang.Aku melewati Ariel dan berjalan menuju ruang tamu. Namun, baru beberapa langkah, Ariel berbalik lalu berjalan di sampingku."Aku juga sedang nggak ada kerjaan," katanya tenang. "Aku ikut gabung dengan kalian ya."....Ariel dan Steven duduk berhadapan, sementara

  • Dicintai Lebih Daripada yang Aku Kira   Bab 7

    Kemudian, ratusan komentar kembali memenuhi pandanganku.[ Ohhh, Alisia. Jadi ini pertama kalinya tokoh utama wanita datang ke rumah Ariel. Lihat baik-baik, Alisia. Sebentar lagi kamu yang akan tinggal di sini. ][ Ariel! Mana Ariel? Cepat temui calon istrimu. Cantik banget. ][ Dulu kupikir Bella lumayan cantik dan imut. Tapi kalau dibandingkan Alisia, dia jadi kelihatan biasa saja. ][ Pantas Ariel langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Alisia mungkin wanita paling sempurna yang pernah dia temui. ][ Kalau nggak salah, ini juga pertama kalinya Alisia bertemu Bella. Dia pasti datang buat melihat seperti apa wanita yang dulu bersama Ariel dan sekarang dia sadar bahwa wanita itu bukan saingannya. ][ Benar. Alisia jelas berada di level yang berbeda. ]Membaca komentar-komentar itu, tanpa sadar aku menunduk melihat diriku sendiri.Dibandingkan dengan gaun blazer hitam Alisia yang terlihat begitu rapi dan elegan, aku hanya mengenakan kemeja longgar dan celana pendek. Sederhana dan s

  • Dicintai Lebih Daripada yang Aku Kira   Bab 6

    Ariel tidak bergerak. "Kenapa?"Wajar saja kalau dia bingung. Bagaimanapun juga, akulah yang dulu memohon agar bisa pindah ke kamarnya. Sekarang, tanpa mengatakan apa pun, aku malah pindah ke kamar di seberang lorong.Aku menunduk menatap sandalku, lalu mendorong salah satunya dengan ujung kaki."Dulu kamu bilang kebiasaan tidurku kurang bagus."Aku bergumam pelan. "Aku suka menendang selimut ke mana-mana dan banyak bergerak waktu tidur. Jadi, kupikir lebih baik aku tidur sendiri. Dengan begitu, aku nggak akan mengganggumu."Ariel melangkah mendekat, nyaris memasuki kamar. Suaranya merendah."Nggak masalah. Aku bisa mengatasinya."Aku mendongak. "Apa?""Soal selimut itu," jawabnya dengan wajah yang tetap serius. "Kembalilah. Aku akan memastikan selimutnya tetap di tempatnya."Entah kenapa, tenggorokanku mendadak terasa kering. Aku bahkan tidak tahu harus mengalihkan pandangan ke mana.Kalimat itu sebenarnya biasa saja, tetapi saat keluar dari mulut Ariel, entah mengapa terdengar berbed

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status