Share

Bab 3

Penulis: KarenW
Saat aku selesai berpakaian, Ariel sudah berada di lantai bawah dan duduk di meja makan sambil menyantap sarapan. Biasanya, aku akan cemberut sampai dia menyuapiku sepotong roti dan menikmati caranya merawatku. Namun hari ini, aku tidak mengatakan apa pun dan duduk sendirian di ujung meja yang berlawanan.

Ariel mengangkat kepala saat aku duduk dan menatapku dengan ekspresi yang sulit dibaca. Aku mengambil sepotong roti dan makan dalam diam, sedangkan dia menghabiskan sarapannya jauh lebih cepat dariku. Sejak itu, dia terus memperhatikanku dalam diam dengan ekspresi bingung yang hampir tidak bisa disembunyikan.

"Apa semuanya ... baik-baik saja?" tanya Ariel akhirnya.

Sambil menyesap jus jeruk lagi dan memaksakan senyuman tipis, aku menjawab, "Tentu saja. Kalau kamu sedang terburu-buru, pergi saja dulu. Aku bisa naik taksi."

Ariel bergumam sambil mengernyitkan alisnya makin dalam, "Aku bisa tunggu kamu ...."

Percakapanku dengan Ariel terhenti, lalu komentar-komentar itu kembali muncul. Namun kali ini, konteksnya berubah. Mereka tidak membicarakan aku dengan Ariel lain, tetapi membicarakan orang lain yaitu tokoh utama wanita yang cantik serta sempurna dan cinta sejatinya Ariel.

[ Kalau nggak salah ingat, hari ini tokoh utama pria kita akhirnya bertemu dengan cinta sejatinya. Satu-satunya tokoh utama wanita kita, Alisia. ]

[ Benar! Alisia itu pegawai baru di kasinonya Ariel. Lulusan terbaik jurusan keuangan dari Universitas NY. Bella bisa dapatkan Ariel, tapi dia hanya istri pajangan kalau dibandingkan dengan tokoh utama wanita kita. ]

[ Tepat sekali. Ariel bahkan nggak bisa bahas pekerjaannya dengan Bella. Bella nggak akan memahami sepatah kata pun. Tapi Alisia? Dia bisa bicara dengannya dan benar-benar terhubung. Mereka itu belahan jiwa sejati. ]

[ Pasangan sempurna. Ariel kita sampai harus rendahkan tingkat kecerdasannya demi Bella. Tapi, saat bersama Alisia? Dia nggak perlu lakukan itu. Alisia itu gadis terpintar, terseksi, dan tercantik yang pernah ada. ]

Tanganku gemetar hingga gelas jus itu terlepas dan tumpah ke seluruh meja, ternyata nama wanita itu adalah Alisia. Aku memaksa ekspresiku tetap tenang, meskipun badai sedang mengamuk di dalam diriku. Aku pikir aku sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan suatu hari nanti Ariel akan meninggalkanku.

Namun, saat mendengar nama wanita itu, bagaimana mereka akan memperlakukan satu sama lain, dan membandingkannya dengan cara Ariel memperlakukanku, aku hampir tidak bisa bernapas.

"Bella!" panggil Ariel yang suaranya menyadarkanku kembali ke kenyataan.

Aku buru-buru mengelap jus yang tumpah di meja, lalu berkata dengan suara yang berusaha terdengar normal, "Maaf, aku ... hanya sedang memikirkan sesuatu di kantor."

Ariel mencondongkan tubuhnya dan membantuku membersihkan jus yang tumpah, sedangkan matanya melirikku berkali-kali. Aku memaksakan diriku untuk tetap tenang dan menjaga ekspresiku tetap datar.

....

Setelah sarapan, aku mencoba memberikan alasan agar Ariel pergi terlebih dulu. Aku berkata, "Aku harus ganti pakaian. Ayah bilang hari ini kami akan bertemu klien besar."

Namun, Ariel tidak bergeming. "Pergilah ganti pakaian. Aku nggak terburu-buru."

Ariel biasanya selalu tergesa-gesa karena kasino sangat sibuk dan aku tahu itu. Namun hari ini, dia terlihat ... jauh lebih sabar.

Setelah mengantarku ke kantor, Ariel tidak langsung membuka kunci pintu mobil. Sebaliknya, dia berbalik menghadapku dan membantu melepaskan sabuk pengamanku. Dia bertanya dengan nada tenang, tetapi tegas, "Bella, kamu bersikap aneh karena sedang kesal? Ada sesuatu yang terjadi dan aku nggak tahu?"

Aku menoleh ke arah Ariel. Saat itu, aku ingin menceritakan semuanya padanya, tetapi komentar-komentar itu kembali muncul.

[ Bella bodoh. Sebaiknya dia nggak mengira Ariel tanya karena dia peduli. ]

[ Benar. Dia hanya tanya karena dia selalu ikuti rutinitas yang ketat dan tingkah aneh Bella sejak tadi malam membuatnya bingung. ]

Aku meluangkan waktu sejenak untuk mengamati ekspresi Ariel. Dia terlihat tenang dan bahkan terkesan tidak peduli. Tidak ada rasa khawatir di tatapannya, hanya keinginan untuk mencari tahu masalah apa yang telah mengganggu rutinitasnya. Dadaku pun merasa sesak.

Sambil memalingkan wajahnya agar Ariel tidak melihat mataku yang tiba-tiba berkaca-kaca, aku berkata dengan pelan, "Nggak. Aku hanya terlalu lelah akhir-akhir ini. Pekerjaan sedang ... sedikit kacau."

Ariel menghela napas, lalu meraih tanganku. "Kalau begitu, kenapa kamu nggak biarkan aku antar kamu ke kantor? Aku tahu ganti pakaian itu hanya alasan."

Perutku terasa mulas, tetapi aku tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya ingin kukatakan. "Karena aku tahu kamu nggak mencintaiku dan hari ini kamu mungkin akan bertemu cinta sejatimu, lalu besoknya mencampakkanku."

Namun, aku malah tergagap-gagap. "Aku ... rasa akhir-akhir ini aku terlalu menempel padamu. Aku harus beri kamu sedikit ruang pribadi."

Genggaman tangan Ariel langsung menjadi erat, seolah-olah dia sama sekali tidak menyangka akan mendengar jawaban itu.

Aku tidak berani menatap Ariel lagi, sehingga tatapanku tetap tertuju ke jendela.

Setelah terdiam cukup lama, Ariel menghela napas dan menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi. "Nanti kita bicarakan ini ya? Aku akan jemput kamu setelah pulang kerja."

"Aku ...." Aku mulai berbicara, tetapi aku kembali melihat komentar-komentar itu.

[ Hari ini Ariel akan antar Alisia pulang. ]

Sepertinya tidak masalah apakah aku setuju atau tidak, Ariel tetap tidak akan berada di sini. Oleh karena itu, aku akhirnya tidak mengatakan apa pun.

....

Sepanjang hari di kantor, pikiranku terus teralihkan. Untungnya, aku bekerja di perusahaan keluargaku sendiri. Oleh karena itu, tidak ada yang terlalu mempermasalahkan saat aku menghabiskan separuh hari hanya menatap layar komputer tanpa benar-benar melihat apa yang ada di sana.

Komentar-komentar itu tidak pernah berhenti, jumlahnya bahkan jauh lebih banyak dibandingkan dengan semalam.

Melalui kata-kata yang melayang itu, aku mengetahui Ariel telah bertemu Alisia. Dia memuji pencapaian Alisia dan mengajak Alisia makan siang. Itu bukan kencan, setidaknya tidak secara resmi karena ada orang lain yang ikut bersama mereka. Namun, menurut komentar-komentar itu, kekompakan di antara keduanya terlihat sangat jelas.

Menjelang sore dan saat waktu sudah mendekati pukul enam, komentar-komentar itu menjadi makin bersemangat.

[ Adegan antar pulang akan segera terjadi. ]

[ Ini adalah titik balik terbesar bagi Ariel. ]

[ Di sinilah perasaan Ariel pada Alisia benar-benar mulai berubah. ]

Aku melihat kata-kata itu sambil tertawa getir. Mungkin memang begitulah cara kerja cinta sejati, berapa lamanya waktu dan sejarah tidak berarti apa-apa. Ariel baru mengenal Alisia selama sehari, tetapi kedengarannya dia sudah jauh lebih memedulikan Alisia dibandingkan aku.

Aku meraih tasku, lalu turun ke lantai bawah. Aku melirik melalui jendela depan karena kebiasaan, sebagian kecil dari diriku yang bodoh masih berharap Ariel akan berada di sana. Namun, tempat parkir itu kosong dan hatiku kembali merasa sedih. Tentu saja kosong, sekarang Ariel sedang sibuk dengan Alisia dan mungkin sudah melupakanku.

Aku berdiri di sana, menatap tempat kosong itu begitu lama hingga segala sesuatu di sekelilingku terlihat kabur. Sebuah suara klakson mobil akhirnya menyadarkanku, lalu aku berkedip dan menyadari aku masih berdiri di trotoar. Setelah menghela napas pelan, aku mulai berjalan ke arah jalan dan berniat memanggil taksi.

"Bella!"

Mendengar panggilan itu, aku langsung berhenti dan berbalik. Aku melihat seorang pemuda berdiri tidak jauh dariku dan melambaikan tangannya dengan penuh semangat. Aku pun bertanya, "Kamu ... siapa?"

Wajah pemuda itu terlihat sedikit familier, tetapi aku tidak bisa mengingatnya. Bukan hanya tidak tersinggung, dia malah tersenyum makin lebar. "Steven Tatum. Kita pernah bertemu di pesta keluargamu beberapa hari yang lalu."

Aku langsung teringat saat mendengar nama itu. Keluarga Tatum baru saja pindah ke New York. Dalam salah satu pertemuan mafia di kota itu, aku diperkenalkan pada Steven Tatum, satu-satunya pewaris keluarga mereka. Aku samar-samar ingat pernah mendengar dia kuliah di Columbia. "Oh, benar. Pak Tatum."

"Steven," koreksi Steven langsung.

Setelah itu, Steven berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya. "Aku boleh panggil kamu Bella?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dicintai Lebih Daripada yang Aku Kira   Bab 11

    [ Dia bukan orang asing. Kalian lupa ya kalau Alisia punya cinta pertama sejak kecil? Hubungan mereka pada dasarnya sama seperti Ariel dan Bella, cuma tanpa latar belakang keluarga mafia yang kaya raya. ][ Aku juga pernah dengar soal dia. Namanya Henry. Dia bekerja sambil membiayai kuliah Alisia. Bukannya mereka sudah bersama sejak SMA? ][ Terus Ariel gimana? Bukannya ceritanya harus jadi kisah cinta miliarder yang kabur demi cinta? Ariel seharusnya merebut Alisia dan menjadikan Alisia sebagai istri satu-satunya. ][ Tenang saja. Mungkin selama ini kita membaca versi cerita yang berbeda. Bukankah Ariel sudah melamar Bella? Mungkin memang Bella yang benar-benar dia cintai .... ][ Aku mau bilang sesuatu. Menurutku, Bella memang pasangan yang paling cocok buat Ariel. Dari awal aku mengikuti cerita ini, Ariel selalu bersikap dingin kepada semua orang kecuali Bella. Dan meskipun Bella bukan orang yang jago berbisnis, cuma dia yang bisa membuat Ariel terasa ... seperti manusia biasa. ][

  • Dicintai Lebih Daripada yang Aku Kira   Bab 10

    Ariel seperti pria yang sudah lama kelaparan. Dia menciumku di mana-mana, seolah-olah tidak pernah merasa puas, meski terus berusaha.Sedangkan tubuhku dengan mudah mengkhianatiku, merespons setiap sentuhannya jauh lebih kuat daripada yang kubayangkan.Saat kecupannya bergerak naik dari perutku hingga ke tulang selangka, lalu berhenti di dekat telingaku, suaranya merendah. "Masih mau pindah kamar?"Sebelum sempat menjawab, komentar-komentar itu kembali muncul di hadapanku.[ Ih! Ariel mau tidur sama dia? Aku nggak sanggup lihatnya. ][ Bella benar-benar mengira Ariel melakukan ini karena cinta? Cowok cuma punya kebutuhan. Itu saja. ][ Lihat, 'kan? Sudah kubilang dia cuma jual mahal. Dicium sekali langsung luluh lagi. ][ Apa cuma aku yang merasa Ariel benar-benar peduli sama dia? Selama ini cuma dia yang benar-benar mengkhawatirkan Bella. ]Komentar terakhir itu menarik perhatianku. Untuk sesaat, aku justru memikirkan hal yang sama.Aku terus menjauh darinya, tetapi Ariel malah selalu

  • Dicintai Lebih Daripada yang Aku Kira   Bab 9

    Ariel selesai membilas gaun tidur renda itu. Setelah itu, barulah dia menoleh dan menatapku."Kalau kamu memang sudah berencana pindah, lalu untuk apa kamu masih membutuhkan aku? Sebagai pacarmu? Atau cuma seseorang yang kamu datangi saat merasa kesepian dan pintunya bisa kamu ketuk kapan saja?"Suaranya terdengar serak, tetapi dia belum selesai. "Kalau begitu, lebih baik kita putus saja."Seluruh tubuhku membeku. Pikiranku kosong sesaat, seolah-olah tidak mampu mencerna apa yang baru saja kudengar. Aku sama sekali tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu secepat ini.Sesingkat dan setegas itu.Mataku langsung terasa perih. Air mata yang sedari tadi kutahan kembali mendesak keluar.Kemudian, komentar-komentar itu muncul lagi dengan cepat, bersemangat, dan hampir terlihat gembira.[ Ariel akhirnya mengatakannya! Memang begitulah isi hatinya. Dia sudah lama mau putus. ][ Setidaknya Bella sekarang sadar diri. Dia sendiri yang lebih dulu bilang mau pindah. ][ Nggak, kalian salah. Dia

  • Dicintai Lebih Daripada yang Aku Kira   Bab 8

    Aku bangkit dari tempat tidur dan segera membersihkan diri, membasuh sisa-sisa kantuk di wajahku, sekaligus mungkin menghapus jejak air mata yang tidak ingin kupikirkan lagi.Kemudian, aku membuka pintu dengan perlahan, mengintip ke luar lebih dulu. Aku tidak ingin bertemu Ariel.Selama hampir satu menit aku tidak mendengar suara apa pun. Kukira dia sedang berada di ruang kerjanya ... atau mungkin sudah pergi keluar. Jadi, aku mengendap-endap menuruni tangga.Begitu berbelok di ujung lorong, aku langsung menabrak sesuatu yang keras.Aku mendongak. Ariel berdiri tepat di depanku, menatapku dengan wajah yang jelas-jelas tidak senang."Kamu kedatangan tamu," katanya, mengucapkan setiap kata dengan jelas.Pasti Steven sudah datang.Aku melewati Ariel dan berjalan menuju ruang tamu. Namun, baru beberapa langkah, Ariel berbalik lalu berjalan di sampingku."Aku juga sedang nggak ada kerjaan," katanya tenang. "Aku ikut gabung dengan kalian ya."....Ariel dan Steven duduk berhadapan, sementara

  • Dicintai Lebih Daripada yang Aku Kira   Bab 7

    Kemudian, ratusan komentar kembali memenuhi pandanganku.[ Ohhh, Alisia. Jadi ini pertama kalinya tokoh utama wanita datang ke rumah Ariel. Lihat baik-baik, Alisia. Sebentar lagi kamu yang akan tinggal di sini. ][ Ariel! Mana Ariel? Cepat temui calon istrimu. Cantik banget. ][ Dulu kupikir Bella lumayan cantik dan imut. Tapi kalau dibandingkan Alisia, dia jadi kelihatan biasa saja. ][ Pantas Ariel langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Alisia mungkin wanita paling sempurna yang pernah dia temui. ][ Kalau nggak salah, ini juga pertama kalinya Alisia bertemu Bella. Dia pasti datang buat melihat seperti apa wanita yang dulu bersama Ariel dan sekarang dia sadar bahwa wanita itu bukan saingannya. ][ Benar. Alisia jelas berada di level yang berbeda. ]Membaca komentar-komentar itu, tanpa sadar aku menunduk melihat diriku sendiri.Dibandingkan dengan gaun blazer hitam Alisia yang terlihat begitu rapi dan elegan, aku hanya mengenakan kemeja longgar dan celana pendek. Sederhana dan s

  • Dicintai Lebih Daripada yang Aku Kira   Bab 6

    Ariel tidak bergerak. "Kenapa?"Wajar saja kalau dia bingung. Bagaimanapun juga, akulah yang dulu memohon agar bisa pindah ke kamarnya. Sekarang, tanpa mengatakan apa pun, aku malah pindah ke kamar di seberang lorong.Aku menunduk menatap sandalku, lalu mendorong salah satunya dengan ujung kaki."Dulu kamu bilang kebiasaan tidurku kurang bagus."Aku bergumam pelan. "Aku suka menendang selimut ke mana-mana dan banyak bergerak waktu tidur. Jadi, kupikir lebih baik aku tidur sendiri. Dengan begitu, aku nggak akan mengganggumu."Ariel melangkah mendekat, nyaris memasuki kamar. Suaranya merendah."Nggak masalah. Aku bisa mengatasinya."Aku mendongak. "Apa?""Soal selimut itu," jawabnya dengan wajah yang tetap serius. "Kembalilah. Aku akan memastikan selimutnya tetap di tempatnya."Entah kenapa, tenggorokanku mendadak terasa kering. Aku bahkan tidak tahu harus mengalihkan pandangan ke mana.Kalimat itu sebenarnya biasa saja, tetapi saat keluar dari mulut Ariel, entah mengapa terdengar berbed

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status