Short
Sebelum Aku Melupakan Namanya

Sebelum Aku Melupakan Namanya

作者:  Jasmine Flower已完成
語言: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10章節
2閱讀量
閱讀
加入書架

分享:  

檢舉
作品概覽
目錄
掃碼在 APP 閱讀

故事簡介

Cinta Toxic

Cinta Terpendam

Mafia

Mengejar Istri

Seorang profesor psikologi sosialku memberi kami sebuah tugas sederhana: kirimkan pesan teks berisi kata-kata [Aku mencintaimu] kepada anggota keluarga yang paling dekat dengan kami, lalu rekam reaksi pertama mereka. Orang tuaku sudah meninggal tujuh tahun lalu dalam sebuah penyergapan yang ditujukan untuk Keluarga Diandra. Karena tidak ada orang lain yang bisa kukirimi pesan, maka aku mengirim pesan itu kepada Rian Diandra, Sang Ketua Mafia termuda dalam dunia mafia Kota Nerolan dan orang yang pernah ditunjuk pengadilan sebagai wali sementaraku. Gelembung ketikan muncul dan menghilang sepanjang malam. Pada pukul dua pagi, jawabannya akhirnya datang. [Maria, jangan samakan ketergantungan dengan rasa cinta. Apa pun yang terjadi di antara kita tidak akan pernah melewati batasan itu.] … Keesokan harinya, dia mencabut semua hak istimewa yang pernah dia berikan kepadaku, lalu memutuskan saluran telepon pribadi kami, dan memerintahkan wakilnya, Lukas, untuk berhenti melaporkan apa pun tentang diriku. Ketika aku pergi ke Menara Diandra, petugas keamanan menghalangiku tepat di pintu putar. "Instruksi jelas dari Bos adalah bahwa kami boleh membiarkan keluarga lawan untuk masuk malam ini, tetapi tidak denganmu." Setelah itu, setiap kali Rian melihatku di pesta atau sebuah lorong, maka dia akan selalu pergi duluan. Dia terus melakukannya selama enam bulan. Kemudian, seorang dokter memberitahuku bahwa tumor ganas telah tumbuh di dalam otakku. Tumor itu menekan bagian yang menyimpan kemampuan berbahasa dan ingatan, dan waktu yang tersisa bagiku mungkin hanya cukup untuk sebuah salam perpisahan.

查看更多

第 1 章

Bab 1

Pada musim semi yang mungkin akan menjadi musim semi terakhir di hidupku, aku setuju untuk terus menemui Edy Rusada, pria yang telah dipilihkan Rian untukku. Setidaknya, mungkin hal itu bisa meyakinkannya bahwa aku bukan lagi sebuah kesalahan yang perlu dia perbaiki.

Malam itu, Rian pulang ke kediaman Keluarga Diandra di Weston Barat untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu. Dia berdiri di depan perapian ruang kerja dengan lengan kemeja hitamnya yang digulung hingga ke siku, sambil memutar-mutar cerutu yang belum dinyalakan di antara jari-jarinya. Dia tidak pernah merokok di dekatku. Bahkan, setelah enam bulan kami menghabiskan waktu dengan saling menghindar, dia tetap mempertahankan kebiasaan itu.

"Bagaimana kabarnya Edy?" tanya Rian tanpa menatapku. "Kau sudah menemuinya berapa kali?"

"Empat kali."

"Apa dia sudah melamarmu?"

Aku hampir saja tertawa. Edy itu hanya seorang teman yang menjaga rahasia, bukan seorang kekasih. Dia bahkan tidak pernah menggenggam tanganku. Namun, nada bicara Rian terdengar begitu tenang, seolah-olah dia sedang memeriksa sebuah kesepakatan yang akhirnya telah rampung.

"Dia sudah mulai ke arah sana."

Jari-jari Rian berhenti bergerak pada cerutu itu.

Aku tidak ingin menyia-nyiakan percakapan nyata pertama kami setelah berbulan-bulan, jadi aku mulai menggambarkan pernikahan yang dulu sering kubayangkan. "Kalau itu terjadi, aku ingin bunga anemon menggantung dari atap kaca. Tidak perlu berlian putih. Aku ingin batu permata berbentuk oval berwarna madu. Setelah upacara usai, tidak perlu ada iring-iringan mobil mewah. Cukup sebuah mobil konvertibel tua berwarna biru dan perjalanan menyusuri Sungai Hayura ke arah utara."

Ekspresinya berubah menjadi kelam seiring dengan setiap detail yang kusebutkan. "Cukup. Asalkan kau bersedia memulai hidupmu sendiri, hanya itu yang penting."

Dia mengembalikan cerutu itu ke kotaknya seolah-olah membutuhkan kedua tangannya bebas untuk melontarkan kata-kata berikutnya. "Orang tuamu sudah memercayakanmu padaku, Maria. Aku adalah walimu secara hukum. Tanggung jawab itu tidak akan hilang begitu saja. Kau akan selalu memiliki satu kamar di rumah ini."

Aku menatap dua kotak yang ditumpuk di dekat pintu. Pakaian, buku-buku, dan foto-foto peninggalan orang tuaku sudah lebih dulu dalam perjalanan menuju Swisa. Hanya beberapa barang lama yang tertinggal di kamar tidur agar tidak ada yang menyadari bahwa aku akan pergi.

"Kau tidak perlu menyediakan kamar untukku. Aku mungkin tidak akan tinggal di Nerolan lagi."

Kemungkinan besar, memang tidak. Entah apakah lampu ruang operasi akan kembali menyala untukku kedua kalinya atau tidak, aku tetap tidak akan pernah kembali.

Pusat neuro-onkologi di Zurikos telah setuju untuk melakukan prosedur kraniotomi dalam keadaan sadar dan memeriksaku untuk uji coba vaksin yang disesuaikan secara personal. Dalam dua hari, aku akan meninggalkan Nerolan pada pagi yang sama saat Rian seharusnya menikahi Sherly Candio.

Rian mendongak, sebuah pertanyaan tampak tersirat di sorot matanya, namun aku bicara lebih dulu. "Bunga apa yang disukai Sherly?"

"Bunga Yolanda merah." Jawaban itu meluncur tanpa jeda.

Dadaku terasa sesak, meski aku tetap mempertahankan senyum di wajah. "Apa dia menyukai barang antik atau perhiasan?"

"Dia tidak butuh apa-apa. Jangan kirim hadiah, dan jangan ganggu dia."

Dia mengira aku mungkin akan merusak pernikahan itu. Wajar saja. Enam bulan lalu, aku pernah membuntutinya di rumah ini sambil menuntut jawaban mengapa dia bisa duduk di sampingku sepanjang malam saat aku demam, namun tidak bisa mengakui bahwa kehilanganku akan terasa menyakitkan baginya.

Kini, aku hampir tidak ingat kata-kata apa saja yang pernah kami lontarkan satu sama lain.

Tumor itu perlahan merenggut kemampuan berbahasaku, ingatanku akan waktu, dan jalan-jalan yang familier. Kemarin, aku sempat berdiri di dapur selama sepuluh menit hanya karena lupa apa sebutan untuk mesin pembuat kopi. Namun, aku masih ingat bagaimana rupa Rian saat dia mencintai seseorang dengan penuh perhatian. Dia mengingat jenis bunga, ukuran gaun, nomor penerbangan, dan keinginan-keinginan yang hanya disebutkan sekali.

Sherly telah memiliki pria itu. Dia tidak butuh apa-apa dariku.

Aku hanya ingin melunasi utangku pada Keluarga Diandra sebelum aku pergi.

Bau tajam sesuatu yang terbakar menusuk hidungku. Dokter saraf sudah memperingatkanku bahwa itu bukan bau sungguhan. Iritasi pada lobus temporalku menyebabkan sensasi bau semu, yang sering kali muncul beberapa detik sebelum serangan kejang.

Aku mencengkeram sandaran kursi dan menunggu hingga bintik-bintik hitam di penglihatanku menghilang.

Rian melangkah mendekatiku. "Ada apa?"

"Gula darah rendah."

Dia mengangkat tangan ke arah dahiku, lalu berhenti tepat sebelum menyentuh kulitku. Tangan yang sama, yang dulu pernah menuntunku menjauh dari pemakaman orang tuaku, kini mengepal dan jatuh terkulai di sisi tubuhnya.

"Istirahatlah," ujarnya.

Aku naik ke lantai atas tanpa memberitahunya bahwa itu mungkin terakhir kalinya aku mendengar nada kepedulian dalam suaranya.

展開
下一章
下載

最新章節

更多章節

致讀者

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

暫無評論。
10 章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status