LOGIN"Mas, pelan-pelan! Kakiku sakit!" keluh Siska meringis saat ditarik paksa menembus lorong hotel. "Cepat jalan! Kamu mau wajah kita dipajang di majalah bisnis besok pagi sebagai pasangan kriminal?!" sentak Bramantyo tanpa memedulikan keluhan istrinya. Keesokan harinya, di lantai paling atas gedung kantor pusat perusahaan Bramantyo... Suasana kantor yang biasanya sibuk dan teratur mendadak berubah menjadi kekacauan. Derap langkah kaki para pegawai terdengar terburu-buru di sepanjang lorong. Telepon di meja Sekretaris Utama berdering tanpa henti, membunyikan nada dering nyaring yang saling bersahutan. Bramantyo melangkah lebar memasuki ruang kerjanya dengan mata merah karena tidak bisa tidur semalaman. Wajahnya kusut, dasinya longgar, dan rambutnya berantakan. "Pak Bramantyo! Akhirnya Bapak datang juga!" seru Pak Surya, Manajer Keuangan perusahaan, langsung menerobos masuk tanpa mengetuk pintu. Wajah pria paruh baya itu pucat pasi, memegang tumpukan berkas tebal di dadanya. Br
"Hubungan bisnis?" sela Tuan Hendra Mahendra dingin, melangkah mendampingi istrinya dengan ekspresi penuh wibawa. "Perusahaan Mahendra Group tidak pernah sudi menjalin hubungan bisnis dengan penjahat dan perampas hak orang lain!" "Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian yang hadir malam hari ini!" seru Nyonya Elena dengan suara lantang yang menggema di seluruh ruangan, menoleh ke kanan dan kiri untuk menarik perhatian ratusan pasang mata dan kamera wartawan yang mulai menyorot. "Pria yang berdiri sebagai tuan rumah malam ini, Tuan Bramantyo... adalah mantan suami tidak bertanggung jawab yang tega merampas ruko usaha tempat mantan istri dan anaknya mencari makan!" Suara kasak-kusuk seketika terdengar di seluruh penjuru ruangan. Wajah Bramantyo berubah menjadi pucat pasi. "Ya ampun! Seriusan Bramantyo sejahat itu?" "Tega banget merampas ruko mantan istri sama anaknya sendiri?!" "Padahal kelihatannya sukses dan dermawan, ternyata kelakuannya licik banget!" "Pantesan tadi istrinya ket
Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit ballroom hotel memantulkan kilau kemewahan yang meriah. Musik klasik yang mengalun lembut tadinya menciptakan suasana elegan untuk memanjakan ratusan tamu kalangan atas. Namun, ketenangan itu mendadak hilang , berganti menjadi aura yang mencekam."Mas Bram... itu beneran Arini kan?" bisik Siska dengan suara bergetar ketakutan sekaligus iri, matanya membelalak tak percaya menatap wanita bergaun marun dengan kalung berlian di samping Devan. "Kenapa dia bisa ada di sana? Kenapa dia bisa pakai gaun sama perhiasan mahal kayak gitu?!"Bramantyo tidak langsung menjawab. Tangannya yang memegang gelas mengepal sangat erat hingga kuku-kuku jarinya memutih dan gelas itu berderit pelan. Tenggorokannya terasa kaku, dipenuhi amarah dan rasa terhina yang membakar dada. Mantan istri yang dulu dicampakkannya begitu saja tanpa belas kasihan, kini berdiri sangat anggun di tengah jajaran keluarga paling berkuasa dan berpengaruh di kota ini."Nggak..
"Aku janji, aku bakal selalu memperlakukan kamu sebaik yang aku bisa. Kamu berhak atas semua kebahagiaan ini."Melihat kalung berlian indah di lehernya dan mendengar janji tulus Devan, Arini tidak sanggup lagi menahan air matanya. Tanpa menghiraukan keberadaan para pekerja di sekitarnya, Arini langsung menghambur memeluk Devan dengan sangat erat. Ia menyandarkan wajahnya di dada tegap Devan, menangis terharu."Terima kasih... terima kasih banyak ya, Devan..." bisik Arini berkaca-kaca di dalam pelukan hangat pria itu.Devan tersenyum tulus, mengelus lembut rambut Arini dan membalas pelukannya dengan penuh perlindungan. Sementara itu, para pekerja dan penata rias di sekeliling mereka hanya bisa berdiri terdiam, menatap pemandangan romantis itu dengan rasa kagum dan segan, tidak berani lagi mengeluarkan bisik-bisik miring sedikit pun.Begitu Devan dan Arini melangkah keluar menuju mobil, suasana di dalam butik seketika pecah oleh gosip heboh dari para staf."Demi apa woy! Itu beneran cal
"Devan... aku beneran harus ikut ya?" bisik Arini lirih, memandangi pakaiannya dengan jemari gemetar. "Tapi... penampilan aku cuma kayak gini, Devan. Baju aku cuma kaus dan rok biasa. Rasanya aku gak pantas banget datang ke acara mewah kayak gitu..."Devan tersenyum lembut, mengikis jarak dan memegang pundak Arini. "Siapa bilang kamu bakal datang pakai baju ini? Makanya sekarang kamu ikut aku, kita pergi ke salon dan butik dulu buat dandan."Arini langsung menggeleng cepat, matanya membelalak kaget. "A-apa? Ke salon dan butik mewah? Enggak usah, Devan! Itu terlalu berlebihan buat aku. Aku gak enak banget sama kamu dan keluarga kamu...""Gak ada kata enggak enak, Arini," jawab Devan tegas namun lembut, menarik perlahan jemari Arini.Arini terpaku. Di dalam hatinya, timbul ketakutan yang sangat besar. Jika ia menolak dan tetap tampil seadanya, ia sangat takut akan mempermalukan Devan serta keluarga besar Mahendra di hadapan para pengusaha. Demi Devan yang sudah begitu banyak berkorban
Suasana ruang keluarga di mansion megah Mahendra terasa sangat hangat dan tenang pada sore hari itu. Suara gemericik air dari kolam ikan di halaman belakang terdengar samar, berpadu dengan alunan musik lembut yang mengalun dari sistem audio ruangan. Devan melangkah masuk dengan santai, melepas dua kancing teratas kemejanya, lalu melonggarkan ikatan dasinya. Ia mendudukkan tubuhnya di sofa tepat di samping ibunya, Nyonya Elena, yang sedang merangkai bunga segar di vas kristal. Di hadapan mereka, Tuan Hendra, ayah Devan sedang menyandarkan punggungnya di sofa sambil menyesap teh chamomile hangat. "Gimana pekerjaan kamu hari ini di kantor, Devan? Hasil rapat dengan tim hukum Mahendra & Partners tadi lancar?" tanya Tuan Hendra hangat, menurunkan cangkirnya perlahan. Devan tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. "Lancar, Pa. Semua urusan dokumen dan laporan hukum sudah ditangani dengan sangat baik oleh Pak Danu." Nyonya Elena menoleh, menatap putra tunggalnya dengan







