Mag-log inWajah Ash begitu pucat. Sama seperti Nina, ia pun begitu terkejut mendengar penjelasan dari dokter wanita di hadapannya.
“Mual dan muntah sering terjadi di awal kehamilan, Anda tidak perlu khawatir. Tapi anda juga tetap harus menjaga kondisi tubuh, jangan terlalu lelah atau stress karena bisa berpengaruh pada perkembangan janin.” Nina tak sanggup berucap, sekedar menganggukkan kepala saja ia tak sanggup. Berita yang didengarnya begitu membuatnya terpukul. Ia tak mengira, hanya sekali melakukannya bisa membuatnya hamil dengan cepat. Beberapa saat setelahnya, Nina dan Ash telah meninggalkan ruang dokter. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing hingga tak ada yang membuka suara meski sebenarnya ada banyak pertanyaan di kepala Ash. Rasanya Ash tak mau percaya, sebab Nina adalah wanita baik-baik. Baik saat masih kuliah hingga detik ini. Sepengetahuannya pula, Nina tidak memiliki kekasih. Tapi, bagaimana bisa Nina hamil? Tiba-tiba langkah Ash terhenti. Kepalanya tertunduk, tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. Dengan menahan berbagai perasaan yang berkecamuk, ia membuka suara. “Siapa … siapa ayah dari bayi itu, Nina?” Tubuh Nina mematung mendengar pertanyaan Ash di mana suaranya terdengar bergetar. Haruskah ia memberitahunya? Sementara, ia sendiri tidak mengenal siapa pria waktu itu, pria yang sudah menanam benih di rahimnya hingga tumbuh. Tap! Nina tersentak merasakan genggam tangan Ash. Ash menggenggam tangannya begitu erat. Dan saat Ash kembali membuka suara, ia hanya mampu melebarkan mata. “Aku mencintaimu, Nina. Sejak dulu, sudah sangat lama. Tapi aku begitu pengecut untuk mengatakannya. Aku terlalu takut perasaanku akan menghancurkan hubungan kita. Sekarang aku menyesal, harusnya aku mengatakannya sebelum semua ini terjadi. Tapi ….” Ucapan Ash menggantung, genggam tangannya pada tangan Nina semakin menguat. Dengan mata yang sedikit basah ia menatap Nina dengan keseriusan dan kembali mengatakan, “tidak peduli siapa ayah dari anak yang kau kandung. Menikah lah denganku. Menikah lah denganku.” *** Nina tak bisa tidur. Ia masih memikirkan ucapan Ash tadi siang, yang mana pria itu mengajaknya menikah. Bagaimana mungkin? Karena saat ini telah tumbuh janin di rahim dan merupakan anak dari pria asing. Nina mengubah posisi menjadi berbaring miring. Sambil mengusap perut ratanya, ia tak bisa berhenti berpikir. Memikirkan nasib jabang bayi dalam perutnya. Meski ia sama sekali tak menginginkan calon bayi dalam rahimnya sekarang, tapi ia tak akan melenyapkannya. Calon bayi itu tidak bersalah, tak pantas menanggung kesalahan yang ia perbuat. Nina memejamkan mata dan perlahan tetes demi tetes air mata lolos dari ujung mata dan membasahi bantal. Ia tak mau menggugurkan calon bayinya, tapi tak sanggup membayangkan kehidupannya di masa depan. Selain itu, ia tak bisa berhenti memikirkan Ash. Andai saja Ash menyatakan perasaannya sejak dulu, andai ia tak hamil, ia akan dengan senang hati menerima tawaran pernikahan darinya. Namun, untuk saat ini, sepertinya itu tidak mungkin. Tak mungkin ia mengorbankan Ash, menumbalkan pria baik-baik itu demi nama baiknya juga masa depan calon buah hatinya. Nina meremas bantal dan kian meringkuk meratapi nasibnya. Tangisnya yang selalu berusaha ia tahan, pada akhirnya pecah. Ia menangis sejadi-jadinya, menangisi penyesalannya yang tiada guna. Keesokan harinya, Ash mendatangi rumah Nina di waktu yang masih sangat pagi. Pria itu juga membawa beberapa kantong plastik berisi makanan juga buah. Hari ini hari libur membuatnya punya banyak waktu. “Untuk apa makanan sebanyak ini, Ash?” Nina bertanya sambil menatap banyaknya makanan di atas meja ruang tamunya. Bukan hanya makanan, tapi juga ada beberapa kotak susu untuk ibu hamil. “Tentu saja untukmu, Nina. Kau tidak lupa pesan dokter kemarin, bukan? Kau harus banyak mengonsumsi makanan sehat. Selain itu, aku mencari banyak hal tentang ibu hamil di internet dan menemukan, susu hamil dapat mengurangi mual dan muntah,” papar Ash seraya mengambil sekotak susu untuk ibu hamil. “tapi aku tidak tahu mana susu yang cocok jadi aku membeli beberapa jenis merek susu.” Rasanya Nina ingin menangis. Ash begitu antusias seakan-akan ia adalah ayah dari calon bayi dalam rahimnya. Nina duduk di kursi dengan lemas dan mengusap setitik air mata membuat Ash menatapnya dengan wajah sendu. “Terima kasih, Ash, tapi … kau tidak perlu melakukan semua ini. Apa yang kau lakukan justru membuatku merasa bersalah.” Ash meletakkan kotak susu di tangan ke atas meja kemudian duduk di sofa berhadapan dengan Nina. “Apa maksudmu, Nin. Sudah kukatakan aku siap bertanggung jawab–” “Tapi ini bukan anakmu,” potong Nina sebelum Ash selesai bicara. “anak ini ada karena kesalahanku, kau tidak pantas menanggungnya!” “Bukankah sudah kukatakan? Aku mencintaimu, apapun yang terjadi. Aku menerimamu seperti apapun kondisi dan keadaanmu, Nin.” Nina menatap Ash dengan mata berkaca-kaca. Ia dapat merasakan ketulusan yang terpancar dari cara Ash memandangnya. Tapi tetap saja, rasanya tak tega jika harus menerima Ash mengingat keadaannya. Tangan Ash saling meremas saat ia ingin menanyakan sesuatu pada Nina. Nina belum memberinya jawaban mengenai siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Nina juga belum memberinya jawaban mengenai lamarannya. Namun, ia tak akan menyerah membuat Nina menerimanya. “Nin, mengenai pertanyaanku kemarin, apakah kau bisa memberitahuku siapa ayah anak itu? Tapi … jika kau tak ingin membicarakannya, aku–” “Aku tidak tahu.” Sekali lagi, Nina kembali memotong ucapan Ash. Ia pun melanjutkan dengan memberitahu Ash tentang kejadian di malam itu, saat ia berakhir di ranjang dengan pria tak dikenalnya. Ash tampak terkejut. Dugaannya benar, kehamilan Nina pasti tidak disengaja olehnya. Ia masih sangat yakin Nina adalah wanita baik-baik. “Jadi … kau sama sekali tidak mengenal pria itu?” tanya Ash dengan bibir bergetar. Ada sedikit kelegaan di dadanya mengetahui Nina tak memiliki hubungan bahkan mengenal pria asing itu. Dengan begitu, ia tak perlu khawatir jika pria asing itu merebut Nina jika ia dan Nina bersama. Nina menggeleng pelan. Namun, ia masih ingat wajah pria itu cukup jelas. Pria itu tinggi, mungkin beberapa centi lebih tinggi dari Ash. Dia tampan dan memiliki sorot mata cukup tajam dengan rahang tegas. Dengan potongan rambut model slanted sweep, pria tampan itu tampak gagah dan sempurna. “Kalau begitu, bagaimana dengan tawaranku kemarin? Menikahlah denganku, Nin."Istirahat lah. Biar aku yang bereskan,” ujar Riyon. Ia dan Nina baru sampai di rumah mereka dan setelah istirahat sejenak, keduanya berniat menata pakaian ke lemari. Nina hanya diam. Posisinya masih duduk di tepi ranjang. Ia ingin membantu Riyon, tapi kepalanya masih sedikit pusing. “Maaf,” ucap Nina. Maaf karena ia membiarkan Riyon beberes seorang diri. Riyon yang hendak menata pakaian ke lemari, menoleh lalu menghampiri Nina. Ia lalu menata bantal dan menuntun Nina berbaring. “Tidak apa-apa. Istirahat lah,” titah Riyon. Nina mengangguk kemudian berbaring setengah dengan hati-hati. “Jadi, kau dulu tinggal di sini?” tanya Nina untuk memecah keheningan. Riyon mengangguk sambil kembali ke depan lemari untuk menata baju. “Tapi … rumah ini kelihatan tetap bersih padahal lama tidak kau tinggali.”“Aku menyuruh orang membersihkannya dua kali seminggu.”“Oh,” gumam Nina. Ia lalu memperhatikan Riyon dalam diam. Riyon sama baiknya dengan Ash, sama perhatiannya meski di awal pernikahan
Bagaimana rasanya?” Moana bertanya, ingin mendengar pendapat Ash tentang masakannya. Tak terasa sudah berlalu beberapa hari sejak hari itu dan kondisi Ash semakin membaik meski dia belum mengingat semuanya, mengingat masa lalunya. Ia juga masih berada di rumah sakit untuk menjalani pemulihan. Ash terdiam seperti berpikir. “Enak.”Wajah Moana berbinar senang. Ia sampai menitikan air mata. Ia lalu kembali menyuapi Ash. Sementara itu di luar, Rahayu dan Salim tengah bicara dengan Riyon dan Nina. Keduanya datang ke rumah sakit untuk menjenguk Ash. “Moana sedang menyuapi Ash,” ujar Rahayu.Nina tersenyum tipis. Ia merasa senang Ash sudah bisa menerima Moana. “Jadi, kapan Ash akan pulang?” tanya Riyon. Ia harap adiknya bisa segera pulang, karen aitu artinya Ash sudah sembuh. “Belum tahu. Ash masih harus melakukan terapi untuk melatih motoriknya,” ujar Rahayu. Setelah cukup lama berbincang, Riyon dan Nina berjalan keluar dari rumah sakit. Padahal, keduanya belum bertemu langsung denga
Ash hanya diam tanpa berhenti menatap Moana. Ia benar-benar tak mengingat siapapun dan apapun. “Tidak apa-apa, Ash. Jangan memaksakan dirimu untuk mengingat semuanya. Pelan-pelan saja. Melihatmu siuman, ibu sudah sangat senang,” ujar Rahayu dengan tutur kata yang begitu lembut. Ash menatap ibunya, ayahnya kemudian kembali pada Moana sampai tiba-tiba tangannya terangkat memegangi kepala sambil meringis seakan kepalanya benar-benar sakit. Kepanikan pun timbul membuat Salim segera memanggil dokter. Di lain sisi, Nina tak bisa berhenti memikirkan Ash. Mendengar Ash siuman tapi mengalami hilang ingatan membuatnya ingin melihat keadaan Ash sendiri. Ia seperti tak percaya Ash mungkin melupakannya. Tapi, jika itu benar, bukankah tak akan ada lagi hati yang terluka? “Apa kau ingin ke rumah sakit?” tanya Riyon saat memasuki kamar dan menemukan Nina duduk di tepi ranjang dan tampak melamun.Nina menoleh menatap Riyon hingga Riyon menghentikan langkah di depannya. “Boleh?” tanya Nina. Selama
Riyon terdiam mendengar ucapan sang ayah. Mungkin ayahnya benar, tapi entah kenapa hatinya terasa ngilu karenanya. Bukankah itu berarti, ia dan semua orang membohongi Ash? Rahayu yang juga mendengar ucapan sang suami, hanya bisa menahan perih di dada, membayangkan semua orang membohongi Ash. Akan tetapi, ucapan suaminya pun ada benarnya. Selama ini sesungguhnya ia tak bisa berhenti memikirkan Riyon, Ash dan Nina. Ia bahagia melihat Riyon dan Nina menjadi suami istri yang bertanggung jawab bagi calon cucunya, tapi ia juga merasakan sesak karena tahu Ash tak bisa melupakan Nina. “Tapi … bagaimana … jika Ash nanti mengingat semuanya?” tanya Riyon dengan wajah tertunduk mengingat Ash. Ia tak bisa membayangkan Ash membencinya jika kelak Ash mengingat semuanya. Ia sudah menyakiti Ash dengan merebut wanita yang dicintainya, lalu membohongi Ash di saat seperti ini. Rasanya dirinya benar-benar kejam. “Dokter bilang, kemungkinan membutuhkan waktu tapi juga tak bisa ditentukan apakah Ash bisa
Hari terus berganti, tak terasa waktu cepat berlalu dan sudah hampir 2 bulan lamanya sejak kecelakaan yang menimpa Ash waktu itu. Di sana, di sisi ranjang di mana Ash terbaring, duduk Riyon yang tak berhenti menatap adik satu-satunya itu. Ia, kedua orang tuanya dan Moana, saling bergantian menjaga Ash setiap harinya. Meski ia sudah meminta Moana untuk tak setiap hari datang karena tak ingin merepotkannya, perempuan itu selalu datang bahkan saat ini menunggu di luar. Drt …Riyon tersentak merasakan getar ponsel dalam saku celana. Ia mengambil benda persegi miliknya itu dan mengangkat panggilan yang tak lain dari Nina. “Halo. Bagaimana dengan Ash? Apa … dia sudah siuman?” Riyon terdiam sejenak kemudian menjawab, “Belum.” Setiap hari jika Riyon ke rumah sakit, Nina akan selalu menanyakan keadaan Ash, apakah pria yang pernah mencintainya itu sudah siuman atau belum. Di tempat Nina sendiri, raut wajahnya tampak sendu setelah mendengar jawaban dari sang suami. “Aku tak pernah berhenti
Moana tak berhenti menangis, menangisi keadaan Ash sekarang. “Semua ini salahku, salahku ….” ucap Moana lirih. Ia menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab kecelakaan yang Ash alami. Karena ia memberitahu Ash mengenai rencana perjodohan mereka, Ash mengendarai mobilnya dalam keadaan emosi, dan karena itu lah pasti Ash kecelakaan.”Jangan menyalahkan dirimu, Nak … jangan ….” Rahayu merangkul Moana, mencegahnya terus menyalahkan dirinya. Meski ia pun terpukul dengan kejadian ini, ia tak ingin menyalahkan siapapun. Nina mengusap air matanya. Ia, Riyon dan kedua orang tuanya segera ke rumah sakit setelah mendapat kabar Ash mengalami kecelakaan. Masih ada banyak orang baik di dunia ini. Tepat setelah mobil Ash menabrak pembatas jalan, beberapa kendaraan yang melintas berhenti dan melakukan pertolongan. Suatu keberuntungan, sebuah ambulance kosong melintas dan segera membawa Ash ke rumah sakit. Riyon meremas tangannya di atas paha. Mendengar apa yang Moana katakan, ia jadi menyalahkan







