LOGINRiyon menatap Nina dengan raut wajah yang dingin dan sorot mata setajam elang, seakan Nina adalah ular kecil yang menjadi calon santapannya.
Nina menelan ludah susah payah kemudian menunduk mengalihkan pandangan. Ia seakan tak mampu menatap mata tajam Riyon lama-lama. “Aku … mau pulang,” ucap Nina dengan suara pelan. “Tidak punya sopan santun.” Tubuh Nina menegang, ulu hatinya seolah dicubit mendengar ucapan Ruyon. “Kau datang ke sini baik-baik, dan ingin pergi dengan cara seperti ini?” Nina menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia tahu caranya mungkin salah, tapi ia tak punya pilihan lain. Ia ingin kabur dari masalah ini. Tiba-tiba Nina mengangkat kepala menatap Riyon dengan keberanian. “Bagaimana jika kita selesaikan masalah ini sekarang? Aku akan pergi, kita tidak perlu menikah, dan aku tidak akan menikah dengan Ash,” ucap Nina dengan tegas. Ia sudah memikirkannya dan itu lah keputusan yang diambilnya. Riyon menatap Nina dalam diam, ia kemudian meraih tangan Nina dan menariknya. “A- apa yang kau lakukan? Le- lepaskan!” Nina berusaha melepaskan cengkraman tangan Riyon, tapi ia tak bisa. Sementara, ia tak mau membuat keributan dengan berteriak meminta pertolongan. Jika seperti itu, pasti ia akan lebih sulit kabur dari rumah itu. Riyon menarik paksa Nina membawanya keluar dari rumah. Ia lalu memaksa Nina masuk mobilnya diikuti dirinya sendiri lalu mengendarai mobilnya itu meninggalkan kediaman. “Kau mau membawaku ke mana?!” sentak Nina. “Bukankah kau ingin pergi dari rumahku? Dan aku sudah membawamu keluar dari sana sekarang,” kata Riyon tanpa mengurangi fokusnya mengemudi. Ia hanya melirik Nina sekilas. Nina menatap Riyon dengan jantung berdebar, bukan karena terpesona akan ketampanannya, tapi melihat Riyon membuatnya teringat kejadian malam itu. Ia masih tak mengerti kenapa malam itu dirinya bisa begitu gila, seperti ada yang tidak beres dengannya. Ia berusaha melupakan kenangan buruk itu, tapi pertemuannya dengan Riyon menghancurkan segalanya. “Tunjukkan alamat rumahmu.” Nina yang baru saja mengalihkan pandangan dari Riyon, terpaksa kembali menatapnya mendengar ucapan pria itu. “Turunkan saja aku di depan,” kata Nina. Ia tak mau Riyon mengetahui alamat rumahnya meski ia akan kabur nantinya. Riyon melirik Nina sekilas dan mengatakan, “Jangan pikir kau bisa kabur.” Nina sedikit terkejut. Apa Riyon tahu ia berniat kabur? “Aku tak akan membiarkanmu menikah dengan adikku, atau membiarkanmu kabur.” “Apa maksudmu? Jika kau tak ingin aku menikah dengan Ash, aku akan melakukannya. Bukankah sudah kukatakan?” “Dan seperti yang kukatakan, kau akan menikah denganku.” “Apa? Kenapa aku harus melakukannya? Jika karena aku hamil, aku tidak akan menuntut tanggung jawab darimu. Aku akan mengurus anak ini sampai dia lahir dan dewasa. Aku tak akan melibatkanmu!” Nina tak mengerti kenapa Riyon seperti begitu bersikeras untuk menikahinya. Bukankah harusnya pria itu tenang karena ia tak menuntut apapun darinya? “Jika bukan denganku, Ash akan tetap bersikeras menikahimu. Aku tidak mau adikku menikah denganmu. Dia pantas mendapatkan wanita yang lebih baik.” Ucapan Riyon membuat Nina tertohok. Sehina itu kah dirinya hingga Riyon berkata seperti itu? Padahal ia dalam keadaan seperti ini juga karena Riyon sendiri. Nina menunduk dan meremas roknya hingga kusut. Ia juga menggigit bibir bawahnya meluapkan perasaan campur aduk di dada. “Aku tidak peduli setuju atau tidak, kita harus tetap menikah. Jangan berpikir aku melakukannya karena dirimu. Aku melakukannya hanya karena darah dagingku juga adikku.” Hati Nina semakin terasa sesak. Kenapa setiap kata yang terucap dari Riyon terdengar amat menyakitkan? Di sisi lain, Rahayu berjalan keluar kamar dengan panik. Tak menemukan Nina saat ia membuka mata membuatnya begitu cemas. “Ibu, ada apa?” Ash berjalan dari arah kamarnya menghampiri sang ibu yang memanggil Nina. “Nina, Ash, Nina. Apa kau melihatnya? Saat ibu bangun, Nina sudah tidak ada,” ujar Rahayu. “Apa?” Ash segera ke kamar ibunya dan mencari Nina ke kamar mandi. Namun, nihil. Ia pun kembali keluar kamar dan berniat mencari Nina, tapi tiba-tiba saja ia teringat kakaknya yang membuatnya bergegas menuju kamarnya. “Nina!” Ash memanggil Nina sambil membuka kasar pintu kamar kakaknya yang tidak terkunci dan melihat kamar kakaknya kosong, ia segera berlari keluar rumah. “Ash! Ash!” panggil Rahayu melihat Ash berlari terburu-buru. “Ada apa, Bu?” tanya Salim yang sepertinya baru bangun. Mendengar keributan di luar membuatnya segera melihat apa yang terjadi. “Nina hilang, Yah,” ujar Rahayu memberitahu. “Apa? Ke mana?” “Entah, ibu tidak tahu. Saat ibu bangun, Nina sudah tidak ada.” “Lalu, ke mana Ash?” “Tadi Ash berlari keluar.” Salim mengarah pandangan ke arah pintu utama dan menghela napas berat sampai ia tiba-tiba ia teringat Riyon. “Bagaimana dengan Riyon?” Rahayu menggeleng. Ia lalu memberitahu suaminya itu bahwa sebelumnya Ash ke kamar Riyon dan pergi begitu saja setelahnya. “Apa mungkin … Nina pergi dengan Riyon?” monolog Rahayu sambil mengarah pandangan ke arah pintu. Sementara itu, Ash menendang udara melihat mobil kakaknya telah menghilang dari garasi. Ia menduga kakaknya ada hubungannya dengan hilangnya Nina. Ash pun segera kembali ke dalam rumah dan menuju kamarnya untuk mengambil ponsel. Namun, berkali-kali ia mencoba menghubungi kakaknya, sama sekali tak ada jawaban. Mencoba menghubungi Nina juga sia-sia. Ash meremas ponselnya dan mengeram, “Di mana kalian?” * Riyon memperhatikan rumah Nina dalam diam. Saat ini ia berdiri di depan rumah Nina, di depan teras. Pada akhirnya Nina terpaksa membawa Riyon ke rumahnya karena pria itu bersikeras memaksa. “Aku tidak akan mengucapkan terima kasih atau menyuruhmu singgah meski hanya basa-basi,” ucap Nina yang berdiri bersedekap dada di depan pintu rumahnya. Tiba-tiba perhatian Riyon teralihkan, menatap Nina dengan pandangan tak terbaca lalu mengatakan, “Kau benar-benar tak punya sopan santun.” “Kau tahu itu, jadi jangan paksa wanita yang tidak punya sopan santun ini menikah denganmu.” Riyon tak mengalihkan pandangan. Ia merasa Nina lebih berani dari sebelumnya, padahal semalam wanita itu tak berani menatapnya. Tiba-tiba saja Riyon membalikkan badan kemudian mengambil langkah meninggalkan rumah Nina. Entah apa yang ada di kepala pria itu dan Nina tidak peduli. Nina segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintu lalu menguncinya. Ia pun pergi ke kamarnya mencharger ponselnya yang mati, telah kehabisan baterai sejak ia meninggalkan rumah Riyon. Setelah menghidupkan ponselnya, ia terkejut mendapati banyak pesan dari Ash yang menanyakan keberadaannya. Nina mulai gusar. Ash benar-benar tak melepaskannya, tapi ia sudah membulatkan tekad, ia akan meninggalkan Ash demi kebaikan semuanya. Nina mencopot SIM cardnya kemudian meletakkan ponselnya untuk memberesi pakaian-pakaiannya. Ia benar-benar berniat kabur. Sementara itu di luar, Riyon masih berada dalam mobilnya, memperhatikan rumah Nina sampai tiba-tiba dering ponsel terdengar membuatnya mengangkat panggilan. “Riyon, kau di mana? Apa kau bersama Nina?” “Ya. Aku di rumahnya.” “Oh, ya ampun, syukurlah kalau begitu. Ibu sudah cemas saat tak menemukan Nina. Kau juga baru mengangkat panggilan. Jadi, kalian sudah bicara?” Riyon hanya diam. Ia terpikirkan jawaban Nina yang mana ia mengatakan tak membutuhkan tanggung jawabnya. Menurutnya Nina terlalu sombong. Namun, di sisi lain, ia merasa menemukan sesuatu yang berbeda darinya, sesuatu yang menarik perhatiannya. Riyon mengakhiri panggilan sepihak tanpa mengatakan apapun pada ibunya. Ia kemudian menghubungi Ash yang memenuhi riwayat panggilan tak terjawab di ponselnya. “Halo, ke mana kakak membawa Nina pergi?!” Bahkan Riyon belum membuka suara, tapi suara Ash lebih dulu mengudara. “Sudah kukatakan aku yang akan menikahi Nina.” “Aku tak peduli! Kenapa kakak begitu egois? Aku yang membawanya sebagai calon istriku!” “Dan dia mengandung anakku. Bayi di perut Nina membutuhkanku, ayah biologisnya. Kau harus menerima kenyataan, hanya aku yang berhak menikahinya.” Riyon mengakhiri panggilan setelah mengatakan itu. Menurunkan ponsel dari telinga, ditatapnya layar sekilas kemudian memutuskan meninggalkan rumah Nina. Di tempat Ash, ia masih meremas ponsel di tangan. Sebagian hatinya membenarkan ucapan kakaknya, tapi sisi egoisnya yang mencintai Nina masih tak terima. Beberapa waktu setelahnya, saat matahari telah berada di atas kepala, Nina telah bersiap meninggalkan rumah. Satu koper berisi barang-barang dan pakaian telah siap ia bawa. Mobilnya pun sudah ia panasi, ia juga sudah menemukan kontrakan sementara yang akan ia datangi. Nina kembali mengecek barang-barang yang akan ia bawa dan memastikan tak ada yang tertinggal, ia pun menarik kopernya bersiap meninggalkan rumah. Namun, tepat saat ia membuka pintu, ia dikejutkan dengan berdirinya seseorang di di hadapan.Istirahat lah. Biar aku yang bereskan,” ujar Riyon. Ia dan Nina baru sampai di rumah mereka dan setelah istirahat sejenak, keduanya berniat menata pakaian ke lemari. Nina hanya diam. Posisinya masih duduk di tepi ranjang. Ia ingin membantu Riyon, tapi kepalanya masih sedikit pusing. “Maaf,” ucap Nina. Maaf karena ia membiarkan Riyon beberes seorang diri. Riyon yang hendak menata pakaian ke lemari, menoleh lalu menghampiri Nina. Ia lalu menata bantal dan menuntun Nina berbaring. “Tidak apa-apa. Istirahat lah,” titah Riyon. Nina mengangguk kemudian berbaring setengah dengan hati-hati. “Jadi, kau dulu tinggal di sini?” tanya Nina untuk memecah keheningan. Riyon mengangguk sambil kembali ke depan lemari untuk menata baju. “Tapi … rumah ini kelihatan tetap bersih padahal lama tidak kau tinggali.”“Aku menyuruh orang membersihkannya dua kali seminggu.”“Oh,” gumam Nina. Ia lalu memperhatikan Riyon dalam diam. Riyon sama baiknya dengan Ash, sama perhatiannya meski di awal pernikahan
Bagaimana rasanya?” Moana bertanya, ingin mendengar pendapat Ash tentang masakannya. Tak terasa sudah berlalu beberapa hari sejak hari itu dan kondisi Ash semakin membaik meski dia belum mengingat semuanya, mengingat masa lalunya. Ia juga masih berada di rumah sakit untuk menjalani pemulihan. Ash terdiam seperti berpikir. “Enak.”Wajah Moana berbinar senang. Ia sampai menitikan air mata. Ia lalu kembali menyuapi Ash. Sementara itu di luar, Rahayu dan Salim tengah bicara dengan Riyon dan Nina. Keduanya datang ke rumah sakit untuk menjenguk Ash. “Moana sedang menyuapi Ash,” ujar Rahayu.Nina tersenyum tipis. Ia merasa senang Ash sudah bisa menerima Moana. “Jadi, kapan Ash akan pulang?” tanya Riyon. Ia harap adiknya bisa segera pulang, karen aitu artinya Ash sudah sembuh. “Belum tahu. Ash masih harus melakukan terapi untuk melatih motoriknya,” ujar Rahayu. Setelah cukup lama berbincang, Riyon dan Nina berjalan keluar dari rumah sakit. Padahal, keduanya belum bertemu langsung denga
Ash hanya diam tanpa berhenti menatap Moana. Ia benar-benar tak mengingat siapapun dan apapun. “Tidak apa-apa, Ash. Jangan memaksakan dirimu untuk mengingat semuanya. Pelan-pelan saja. Melihatmu siuman, ibu sudah sangat senang,” ujar Rahayu dengan tutur kata yang begitu lembut. Ash menatap ibunya, ayahnya kemudian kembali pada Moana sampai tiba-tiba tangannya terangkat memegangi kepala sambil meringis seakan kepalanya benar-benar sakit. Kepanikan pun timbul membuat Salim segera memanggil dokter. Di lain sisi, Nina tak bisa berhenti memikirkan Ash. Mendengar Ash siuman tapi mengalami hilang ingatan membuatnya ingin melihat keadaan Ash sendiri. Ia seperti tak percaya Ash mungkin melupakannya. Tapi, jika itu benar, bukankah tak akan ada lagi hati yang terluka? “Apa kau ingin ke rumah sakit?” tanya Riyon saat memasuki kamar dan menemukan Nina duduk di tepi ranjang dan tampak melamun.Nina menoleh menatap Riyon hingga Riyon menghentikan langkah di depannya. “Boleh?” tanya Nina. Selama
Riyon terdiam mendengar ucapan sang ayah. Mungkin ayahnya benar, tapi entah kenapa hatinya terasa ngilu karenanya. Bukankah itu berarti, ia dan semua orang membohongi Ash? Rahayu yang juga mendengar ucapan sang suami, hanya bisa menahan perih di dada, membayangkan semua orang membohongi Ash. Akan tetapi, ucapan suaminya pun ada benarnya. Selama ini sesungguhnya ia tak bisa berhenti memikirkan Riyon, Ash dan Nina. Ia bahagia melihat Riyon dan Nina menjadi suami istri yang bertanggung jawab bagi calon cucunya, tapi ia juga merasakan sesak karena tahu Ash tak bisa melupakan Nina. “Tapi … bagaimana … jika Ash nanti mengingat semuanya?” tanya Riyon dengan wajah tertunduk mengingat Ash. Ia tak bisa membayangkan Ash membencinya jika kelak Ash mengingat semuanya. Ia sudah menyakiti Ash dengan merebut wanita yang dicintainya, lalu membohongi Ash di saat seperti ini. Rasanya dirinya benar-benar kejam. “Dokter bilang, kemungkinan membutuhkan waktu tapi juga tak bisa ditentukan apakah Ash bisa
Hari terus berganti, tak terasa waktu cepat berlalu dan sudah hampir 2 bulan lamanya sejak kecelakaan yang menimpa Ash waktu itu. Di sana, di sisi ranjang di mana Ash terbaring, duduk Riyon yang tak berhenti menatap adik satu-satunya itu. Ia, kedua orang tuanya dan Moana, saling bergantian menjaga Ash setiap harinya. Meski ia sudah meminta Moana untuk tak setiap hari datang karena tak ingin merepotkannya, perempuan itu selalu datang bahkan saat ini menunggu di luar. Drt …Riyon tersentak merasakan getar ponsel dalam saku celana. Ia mengambil benda persegi miliknya itu dan mengangkat panggilan yang tak lain dari Nina. “Halo. Bagaimana dengan Ash? Apa … dia sudah siuman?” Riyon terdiam sejenak kemudian menjawab, “Belum.” Setiap hari jika Riyon ke rumah sakit, Nina akan selalu menanyakan keadaan Ash, apakah pria yang pernah mencintainya itu sudah siuman atau belum. Di tempat Nina sendiri, raut wajahnya tampak sendu setelah mendengar jawaban dari sang suami. “Aku tak pernah berhenti
Moana tak berhenti menangis, menangisi keadaan Ash sekarang. “Semua ini salahku, salahku ….” ucap Moana lirih. Ia menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab kecelakaan yang Ash alami. Karena ia memberitahu Ash mengenai rencana perjodohan mereka, Ash mengendarai mobilnya dalam keadaan emosi, dan karena itu lah pasti Ash kecelakaan.”Jangan menyalahkan dirimu, Nak … jangan ….” Rahayu merangkul Moana, mencegahnya terus menyalahkan dirinya. Meski ia pun terpukul dengan kejadian ini, ia tak ingin menyalahkan siapapun. Nina mengusap air matanya. Ia, Riyon dan kedua orang tuanya segera ke rumah sakit setelah mendapat kabar Ash mengalami kecelakaan. Masih ada banyak orang baik di dunia ini. Tepat setelah mobil Ash menabrak pembatas jalan, beberapa kendaraan yang melintas berhenti dan melakukan pertolongan. Suatu keberuntungan, sebuah ambulance kosong melintas dan segera membawa Ash ke rumah sakit. Riyon meremas tangannya di atas paha. Mendengar apa yang Moana katakan, ia jadi menyalahkan







