Share

6. Rumit

Author: Losi
last update Last Updated: 2025-10-14 16:35:46

Nina berusaha membuka mata yang terasa berat. Dan setelah matanya menangkap cahaya, ia membuka matanya lebar.

“Nina, syukurlah kau sudah bangun.”

Nina menoleh ke sumber suara dan menemukan Rahayu duduk di sisi ranjang di sampingnya. Wajah wanita paruh baya itu tampak cemas.

Nina berusaha bangun untuk duduk di tengah sakit kepala yang kembali terasa. Rasanya ia ingin pingsan saja bahkan selamanya agar sakit kepalanya sirna.

“Jangan memaksakan diri,” ucap Rahayu seraya membantu Nina bangun menegakkan punggungnya.

“Jam berapa sekarang, Tante?” tanya Nina dengan suara parau. Ia ingin segera pulang berharap dengan begitu mengurangi beban pikiran. Melihat keluarga Ash membuatnya tidak tenang.

“Ini sudah malam, kau mau pulang? Menginap saja di sini, ya,” kata Rahayu sambil menggenggam tangan Nina.

“Ta- tapi ….”

“Tidur di kamarku.”

Sebuah suara tiba-tiba terdengar membuat Nina dan Rahayu menoleh dan menemukan Riyon berdiri di depan pintu kamar Ash.

Riyon mengambil langkah dan berhenti di depan ranjang tempat Nina berada.

“Aku yang akan menikahimu. Tidur di kamarku.”

Mata Nina membulat sempurna. Apa ia tak salah dengar? Ataukah, apakah ia sedang bermimpi sekarang? Riyon, kakak Ash mau menikahinya?

Di luar kamar, Ash berdiri di sisi pintu sambil mengepalkan tangan. Hanya mendengar ucapan kakaknya saja sudah membuatnya sakit, bagaimana jika melihat kakaknya dan Nina menikah nanti?

Ash memukul dinding kemudian keluar dari persembunyiannya. Dengan lantang ia pun mengatakan, “Biarkan Nina tidur di sini. Nina adalah tamuku. Kakak tidak berhak menyuruh Nina tidur di kamar kakak. Kalian belum menikah!”

Riyon setengah membalikkan badan dan menatap Ash yang berdiri di ambang pintu.

“Tapi dia berhak tidur di kamarku. Aku ayah bayi yang dia kandung.”

“Sudah cukup!”

Suara lantang Rahayu menghentikan ketegangan yang terjadi antara kakak beradik itu.

“Nina tidak akan tidur di kamar ini, atau kamarmu, Riyon! Nina akan tidur dengan ibu!”

Ucapan lantang Rahayu membuat Riyon dan Ash terdiam. Padahal, Riyon ingin Nina di kamarnya untuk bicara lebih dalam mengenai masalah ini. Begitupun dengan Ash, ia ingin Nina di kamarnya agar mereka bicara dari hati ke hati, memintanya memilihnya jika kedua orang tuanya memintanya menikah dengan kakaknya.

Rahayu membantu Nina turun dari ranjang dan membawanya keluar dari sana, meninggalkan kamar Ash. Ia berjalan bersama Nina melewati Riyon juga Ash.

Setelah Nina dan Rahayu pergi, hanya tinggal Riyon dan Ash yang masih berdiri dalam posisi sampai tiba-tiba Ash mengambil langkah maju dan mencengkram kerah baju Riyon

“Apa yang kakak inginkan?! Biarkan aku menikahi Nina!” teriak Ash tepat di depan wajah Riyon.

Riyon hanya diam, bahkan menatap Ash dengan ekspresi wajah yang datar. Mana mungkin ia membiarkan Ash menanggung kesalahannya? Meski hubungannya dengan Ash tidak terlalu hangat, tapi ia menyayangi Ash sebagai adiknya. Hanya saja, sifat dinginnya yang memang sejak lahir telah melekat, membuatnya tak bisa bersikap layaknya seorang kakak seperti orang lain pada umumnya.

Perlahan cengkraman Ash mulai mengendur hingga akhirnya terlepas saat ia berteriak.

“Agh!” Ash berteriak saat melepas cengkramannya dengan kasar lalu membalikkan badan. Ia tak pernah bisa melawan kakaknya. Sejak dulu hingga sekarang, hanya melihat ekspresi dingin kakaknya sudah membuatnya menciut.

“Kenapa kakak! Kenapa harus kakak?!” teriak Ash saat ia kembali berbalik menghadap sang kakak. “aku yang mencintai Nina, aku yang lebih dulu mengenalnya, kenapa harus kakak yang menghamilinya? Kenapa bukan orang lain? Kenapa?!” Ash menepuk keras dadanya, meluapkan perasaannya yang tak dapat dijelaskan dengan kata. “harusnya kakak diam saja, harusnya kakak membiarkan aku yang menikahinya!”

Riyon bergeming, hanya menatap Ash tanpa mengatakan apapun. Ia merasa Ash tak pantas mendapatkan Nina. Ash lebih pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari Nina, wanita yang bukan bekasnya atau bekas orang lain. Hanya saja, ia tak bisa mengatakannya, tak bisa mengutarakan maksud dan tujuan. Ia selalu merasa terdapat tembok pembatas antara dirinya dan Ash. Dan ia sadar, tembok pembatas itu diciptakan sendiri olehnya.

Brugh!

Kedua kaki Ash mencium lantai. Ia seolah tak sanggup menahan perasaannya hingga kakinya terasa lunglai tak mampu menahan berat tubuh. Ia menangis, sayangnya, tangisannya itu tak mampu membuat Riyon luluh.

“Kau tak pantas menggantikan tugasku. Cari lah wanita lain yang lebih pantas denganmu.” Hanya kalimat itu yang Riyon ucapkan sebelum ia pergi meninggalkan ruangan. Sementara, Ash masih tenggelam pada rasa sakit dan kecewa. Ia tak menyadari maksud ucapan kakaknya. Yang ada di kepala hanya Nina, dan Nina.

Tanpa Riyon dan Ash sadari, seseorang memperhatikan dan mendengarkan pertengkaran  mereka dari luar kamar. Ia pun berjalan mendekat berniat menjadi penengah. Namun, sebelum itu terjadi tiba-tiba langkahnya terhenti. 

Salim mengurungkan niat untuk menjadi penengah antara kedua putranya saat ia berpikir, mungkin kehadirannya justru membuat situasi semakin memanas. Ia pun membalikkan badan terlebih saat melihat Riyon berbalik dan melangkah keluar kamar.

Di tempat lain, Nina kini telah berada di kamar Rahayu. Rahayu benar-benar mengajak Nina tidur bersamanya dan menyuruh suaminya tidur di kamar Riyon atau Ash, atau di sofa.

“Sudah, jangan terlalu memikirkannya, Nin. Ingat, kau sedang hamil,” tutur Rahayu saat menuntun Nina duduk di tepi ranjang.

Nina menatap Rahayu yang duduk di sampingnya dengan senyuman begitu tipis. Ia tak mengira calon ibu mertuanya begitu baik dan memperhatikannya.

“Ibu tahu ini tidak mudah, tapi percayalah kau bisa melewati ini semua.”

Nina tak tahu harus mengatakan apa. Ia bahkan bingung saat Rahayu menyebutnya sebagai ibu, seolah menuntunnya memanggilnya demikian.

“Sejujurnya, ibu juga bingung siapa yang harus menikahimu. Ash sangat mencintaimu, tapi kau mengandung anak Riyon.”

Andai saja Rahayu tahu, Nina pun lebih bingung. Meski belum yakin akan perasaannya pada Ash, tapi ia menerima ketulusannya. Namun, ia harus menerima kenyataan ia mengandung anak Riyon, kakak Ash sendiri.

Rahayu mengusap lembut kepala Nina, menyentuh rambutnya hingga ujung dan menatapnya seperti seorang ibu kandung.

“Ibu tidak bisa menentukan pilihan. Bagi ibu, mau kau menikah dengan Riyon atau Ash, ibu tetap menerimamu sebagai menantu ibu. Tapi, ibu harap kau menentukan pilihanmu setelah memikirkannya dengan matang, memikirkan jangka panjang bahkan setelah cucuku lahir nantinya.”

Nina terdiam selama beberapa saat, memikirkan apa yang calon ibu mertuanya katakan. Ia lalu bertanya, “Tan, kenapa … kenapa Tante dan Om menerimaku?”

“Tan? Panggil ibu, Nina. Ibu kan calon ibu mertuamu,” tutur Rahayu.

“Ta- tapi ….”

“Bagi ibu, asal anak-anak ibu bahagia dengan wanita pilihannya itu sudah cukup. Ibu tidak mau menyuruh mereka mencari wanita seperti apa atau bahkan menjodohkan mereka,” ujar Rahayu menjawab pertanyaan Nina sebelumnya.

Nina menatap Rahayu dengan pandangan tak terbaca, ia tak mengira di zaman seperti ini ada orang tua sebaik dan sepengertian sepertinya.

“Tapi … aku tidak punya apa-apa, bukan siapa-siapa. Aku juga–”

“Sst ….” Telunjuk Rahayu menempel di bibir Nina, memintanya berhenti bicara jika hanya untuk merendahkan dirinya. “ibu sudah mengatakannya padamu, kan? Ibu tidak peduli semua itu, yang terpenting adalah kebahagiaan anak-anak ibu. Tapi ….” Rahayu menggantung ucapannya saat ia teringat sesuatu, teringat jika Nina bukan lagi calon pengantin Ash. Padahal kebahagiaan Ash adalah Nina.

Nina terdiam, ia seolah dapat menebak apa isi kepala Rahayu sekarang, seakan bisa menebak apa yang dia pikirkan. Tiba-tiba Nina menjadi murung, ia merasa bersalah.

“Ah, sudah, Nin. Ini sudah malam, sebaiknya kita beristirahat.” Melihat waktu semakin larut, Rahayu mengajak Nina beristirahat sekaligus untuk mengakhiri pembicaraan. Semakin membicarakan masalah Riyon dan Ash, membuat kepalanya semakin berdenyut ngilu. Dan pasti Nina pun merasakan itu.

Di lain sisi, Riyon telah berada di kamarnya, telah berbaring menatap langit ruangan. Ia tidak bisa tidur memikirkan Nina. Dan semakin memikirkannya, semakin membuatnya teringat kegiatan panas mereka malam itu. Meski telah berlalu sebulan lebih, tapi rasanya kegiatan panas itu baru terjadi kemarin. Ia masih mengingatnya dengan jelas, mengingat desahan Nina, mengingat saat wanita itu menggelinjang kala ia menjelajahi tubuhnya, juga mengingat teriakan Nina saat ia merobek selaput daranya.

Riyon memejamkan mata, ia harap ia segera terlelap agar semua ingatan itu sirna. Tapi, semakin ia berusaha, semakin ia tak bisa.

Pada akhirnya Riyon menyerah. Ia kembali menatap langit ruangan dengan lengan bertengger di jidat.

Sementara itu di kamar Ash, ia pun masih terjaga. Ia tak mengira kebahagiaan yang telah berada di depan mata, hancur dalam sekejap. Kenapa harus kakaknya? Kenapa? Adalah pertanyaan yang terus berputar dalam kepala.

“Agh!” Ash berteriak sambil menjambak rambutnya frustasi. Rasanya ia ingin membawa kabur Nina, menjalani hidup hanya berdua jauh dari kakaknya bahkan keluarganya.

Tok! Tok!

Perhatian Ash mengarah pada pintu saat terdengar ketukan dari luar.

“Ash, kau belum tidur?” Salim berjalan memasuki kamar dan duduk di sebelah Ash yang duduk di tepi ranjang. “karena Nina tidur dengan ibumu, ayah tidur di sini.”

Ash hanya diam. Ia masih sedikit kesal dengan ayahnya karena justru menyuruh kakaknya menikahi Nina.

“Kenapa … kenapa ayah menyuruh kakak menikahi Nina?” tanya Ash yang tertunduk sambil menahan air mata. Ia tak peduli disebut cengeng.

Salim menatap Ash dari posisi kemudian Hela napas panjangnya terdengar. Ia lalu mengatakan, “Kau pasti membenci ayah. Ayah tahu kau sangat mencintai Nina, jika tidak, kau tak mungkin berbohong pada ayah dan ibu bahwa anak yang dia kandung adalah anakmu. Tapi … anak yang dikandungnya adalah anak kakakmu, harusnya yang bertanggung jawab adalah kakakmu, bukan dirimu.”

“Tapi aku tak peduli, Yah! Aku tak peduli mau anak itu anak kakak atau bukan, aku tetap mencintainya. Aku sudah lama memendam perasaan padanya, Yah. Sudah sangat lama aku mencintainya. Sudah sangat lama,” Ash berucap lirih di akhir kalimat disertai derai air mata. Ia ingin ayahnya mengerti bahwa ia hanya ingin bersama Nina.

“Jika begitu, kenapa baru membawa Nina ke rumah ini?”

Ash mengalihkan muka dari ayahnya. Ia kembali tertunduk dengan kedua tangan menjambak rambut. “Karena aku terlalu pengecut. Aku terlalu pengecut mengungkapkan perasaanku. Aku takut jika mengatakannya, hubungan kami yang baik-baik saja akan buruk, dia akan menjauhiku.”

“Dan setelah apa yang Nina alami, kau berani mengatakannya? Kenapa? Apa karena kau ingin menjadi pahlawan? Kau berpikir dengan menjadi pahlawan dia akan membalas perasaanmu?”

Ash terdiam, merasa tertohok dengan ucapan ayahnya.

Salim menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan sedikit kasar. Meski sedikit menyesal dengan kata-katanya yang terasa pedas, tapi semua untuk kebaikan Ash. Ia tetap berpendirian bahwa Riyon lah yang berhak menikahi Nina.

Keesokan harinya, Nina bangun di waktu yang begitu pagi, bahkan terhitung masih fajar. Ia sengaja, ia ingin meninggalkan rumah Ash, bahkan berencana pergi mengasingkan diri.

Nina berjalan mengendap menuju pintu di tengah lampu yang belum menyala. Ia harap asisten rumah tangga di rumah itu sudah bangun dan mulai mengerjakan pekerjaan mereka, jadi ia bisa meminta tolong untuk membukakan pintu.

Kriet … Jbles ….

Nina menutup pintu kamar Rahayu dengan hati-hati, tak ingin membuat suara sekecil apapun. Dan setelah berhasil menutup pintu tanpa ada tanda-tanda Rahayu bangun, ia sedikit bernafas lega. Sekarang, tinggal menemukan asisten rumah tangga untuk membantunya keluar dari rumah besar itu.

“Mau ke mana kau?”

Nina tersentak hingga terjingkat. Ia menoleh kaku dan perlahan dan menemukan seseorang berdiri beberapa langkah di depannya. Orang itu pun mendekat, dan semakin mendekat membuat jantung Nina seakan berhenti berdetak, terlebih setelah orang itu berdiri tepat di hadapannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dihamili Kakaknya, Dicintai Adiknya   50. Akhir yang Bahagia

    Istirahat lah. Biar aku yang bereskan,” ujar Riyon. Ia dan Nina baru sampai di rumah mereka dan setelah istirahat sejenak, keduanya berniat menata pakaian ke lemari. Nina hanya diam. Posisinya masih duduk di tepi ranjang. Ia ingin membantu Riyon, tapi kepalanya masih sedikit pusing. “Maaf,” ucap Nina. Maaf karena ia membiarkan Riyon beberes seorang diri. Riyon yang hendak menata pakaian ke lemari, menoleh lalu menghampiri Nina. Ia lalu menata bantal dan menuntun Nina berbaring. “Tidak apa-apa. Istirahat lah,” titah Riyon. Nina mengangguk kemudian berbaring setengah dengan hati-hati. “Jadi, kau dulu tinggal di sini?” tanya Nina untuk memecah keheningan. Riyon mengangguk sambil kembali ke depan lemari untuk menata baju. “Tapi … rumah ini kelihatan tetap bersih padahal lama tidak kau tinggali.”“Aku menyuruh orang membersihkannya dua kali seminggu.”“Oh,” gumam Nina. Ia lalu memperhatikan Riyon dalam diam. Riyon sama baiknya dengan Ash, sama perhatiannya meski di awal pernikahan

  • Dihamili Kakaknya, Dicintai Adiknya   49. Kembali ke Rumah

    Bagaimana rasanya?” Moana bertanya, ingin mendengar pendapat Ash tentang masakannya. Tak terasa sudah berlalu beberapa hari sejak hari itu dan kondisi Ash semakin membaik meski dia belum mengingat semuanya, mengingat masa lalunya. Ia juga masih berada di rumah sakit untuk menjalani pemulihan. Ash terdiam seperti berpikir. “Enak.”Wajah Moana berbinar senang. Ia sampai menitikan air mata. Ia lalu kembali menyuapi Ash. Sementara itu di luar, Rahayu dan Salim tengah bicara dengan Riyon dan Nina. Keduanya datang ke rumah sakit untuk menjenguk Ash. “Moana sedang menyuapi Ash,” ujar Rahayu.Nina tersenyum tipis. Ia merasa senang Ash sudah bisa menerima Moana. “Jadi, kapan Ash akan pulang?” tanya Riyon. Ia harap adiknya bisa segera pulang, karen aitu artinya Ash sudah sembuh. “Belum tahu. Ash masih harus melakukan terapi untuk melatih motoriknya,” ujar Rahayu. Setelah cukup lama berbincang, Riyon dan Nina berjalan keluar dari rumah sakit. Padahal, keduanya belum bertemu langsung denga

  • Dihamili Kakaknya, Dicintai Adiknya   48. Pertemuan

    Ash hanya diam tanpa berhenti menatap Moana. Ia benar-benar tak mengingat siapapun dan apapun. “Tidak apa-apa, Ash. Jangan memaksakan dirimu untuk mengingat semuanya. Pelan-pelan saja. Melihatmu siuman, ibu sudah sangat senang,” ujar Rahayu dengan tutur kata yang begitu lembut. Ash menatap ibunya, ayahnya kemudian kembali pada Moana sampai tiba-tiba tangannya terangkat memegangi kepala sambil meringis seakan kepalanya benar-benar sakit. Kepanikan pun timbul membuat Salim segera memanggil dokter. Di lain sisi, Nina tak bisa berhenti memikirkan Ash. Mendengar Ash siuman tapi mengalami hilang ingatan membuatnya ingin melihat keadaan Ash sendiri. Ia seperti tak percaya Ash mungkin melupakannya. Tapi, jika itu benar, bukankah tak akan ada lagi hati yang terluka? “Apa kau ingin ke rumah sakit?” tanya Riyon saat memasuki kamar dan menemukan Nina duduk di tepi ranjang dan tampak melamun.Nina menoleh menatap Riyon hingga Riyon menghentikan langkah di depannya. “Boleh?” tanya Nina. Selama

  • Dihamili Kakaknya, Dicintai Adiknya   47. Berbohong

    Riyon terdiam mendengar ucapan sang ayah. Mungkin ayahnya benar, tapi entah kenapa hatinya terasa ngilu karenanya. Bukankah itu berarti, ia dan semua orang membohongi Ash? Rahayu yang juga mendengar ucapan sang suami, hanya bisa menahan perih di dada, membayangkan semua orang membohongi Ash. Akan tetapi, ucapan suaminya pun ada benarnya. Selama ini sesungguhnya ia tak bisa berhenti memikirkan Riyon, Ash dan Nina. Ia bahagia melihat Riyon dan Nina menjadi suami istri yang bertanggung jawab bagi calon cucunya, tapi ia juga merasakan sesak karena tahu Ash tak bisa melupakan Nina. “Tapi … bagaimana … jika Ash nanti mengingat semuanya?” tanya Riyon dengan wajah tertunduk mengingat Ash. Ia tak bisa membayangkan Ash membencinya jika kelak Ash mengingat semuanya. Ia sudah menyakiti Ash dengan merebut wanita yang dicintainya, lalu membohongi Ash di saat seperti ini. Rasanya dirinya benar-benar kejam. “Dokter bilang, kemungkinan membutuhkan waktu tapi juga tak bisa ditentukan apakah Ash bisa

  • Dihamili Kakaknya, Dicintai Adiknya   46. Siuman

    Hari terus berganti, tak terasa waktu cepat berlalu dan sudah hampir 2 bulan lamanya sejak kecelakaan yang menimpa Ash waktu itu. Di sana, di sisi ranjang di mana Ash terbaring, duduk Riyon yang tak berhenti menatap adik satu-satunya itu. Ia, kedua orang tuanya dan Moana, saling bergantian menjaga Ash setiap harinya. Meski ia sudah meminta Moana untuk tak setiap hari datang karena tak ingin merepotkannya, perempuan itu selalu datang bahkan saat ini menunggu di luar. Drt …Riyon tersentak merasakan getar ponsel dalam saku celana. Ia mengambil benda persegi miliknya itu dan mengangkat panggilan yang tak lain dari Nina. “Halo. Bagaimana dengan Ash? Apa … dia sudah siuman?” Riyon terdiam sejenak kemudian menjawab, “Belum.” Setiap hari jika Riyon ke rumah sakit, Nina akan selalu menanyakan keadaan Ash, apakah pria yang pernah mencintainya itu sudah siuman atau belum. Di tempat Nina sendiri, raut wajahnya tampak sendu setelah mendengar jawaban dari sang suami. “Aku tak pernah berhenti

  • Dihamili Kakaknya, Dicintai Adiknya   45. Koma

    Moana tak berhenti menangis, menangisi keadaan Ash sekarang. “Semua ini salahku, salahku ….” ucap Moana lirih. Ia menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab kecelakaan yang Ash alami. Karena ia memberitahu Ash mengenai rencana perjodohan mereka, Ash mengendarai mobilnya dalam keadaan emosi, dan karena itu lah pasti Ash kecelakaan.”Jangan menyalahkan dirimu, Nak … jangan ….” Rahayu merangkul Moana, mencegahnya terus menyalahkan dirinya. Meski ia pun terpukul dengan kejadian ini, ia tak ingin menyalahkan siapapun. Nina mengusap air matanya. Ia, Riyon dan kedua orang tuanya segera ke rumah sakit setelah mendapat kabar Ash mengalami kecelakaan. Masih ada banyak orang baik di dunia ini. Tepat setelah mobil Ash menabrak pembatas jalan, beberapa kendaraan yang melintas berhenti dan melakukan pertolongan. Suatu keberuntungan, sebuah ambulance kosong melintas dan segera membawa Ash ke rumah sakit. Riyon meremas tangannya di atas paha. Mendengar apa yang Moana katakan, ia jadi menyalahkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status