LOGINBab 5. Lamaran
Alea menghela napas panjang sambil merentangkan tangan. Pekerjaannya akhirnya selesai setelah berjam-jam duduk tanpa banyak bergerak. Di meja, tiga gelas kosong berjejer—teh, kopi, dan minuman ringan—bersama sisa permen serta camilan kecil. “Makan siang.” Fania, teman kerjanya, mendekat sambil tersenyum. “Boleh. Tapi aku gak bawa bekal,” Alea meringis. “Aku traktir. Hari ini aku ulang tahun. Kita makan di kafe dekat sini.” Fania menarik tangannya. “Dengan senang hati.” Alea mengambil tasnya dan berjalan bersama Fania. Hanya butuh tujuh menit berjalan kaki. Begitu sampai, mereka memilih tempat di sudut kafe. “Pesan apa saja, bebas. Aku gak ada acara spesial di ulang tahun ini.” Fania menyerahkan menu. “Terima kasih,” jawab Alea. Untuk sesaat, kekalutan di kepalanya mereda. Bersama Fania, ia bisa berpura-pura baik-baik saja. “Alaaah, kayak sama orang asing aja.” Fania terkekeh. “Aku ke toilet dulu,” ujar Alea, bangkit dari kursi. Namun langkahnya terhenti. Dari pintu toilet pria, Javier keluar. Tatapan mereka bertemu. Tubuh Alea langsung menegang, jemarinya bergetar. Semua kenangan malam itu berkelebat, membuat dadanya sesak. “Lelaki berengsek!” bentak Alea. Tangan terangkat hendak menampar Javier, tapi lelaki itu menahan. “Kau mau buat onar di sini?” Melepas kasar tangan Alea. “Ini kafe.” Beberapa pasang mata menatap ke mereka. “Aku tidak peduli!” ujar Alea. Javier menyunggingkan senyum sinis membuat Alea semakin marah. “Aku membencimu, Javier. Hidupku hancur karena kau.” Menunjuk ke wajah Javier. Javier menghela napas kasar. “Alea, dengar. Malam itu kau yang datang padaku. Aku membantumu. Selesai.” Suaranya pelan. “Aku tidak mempercayai omonganmu. Kau—” “Jadi kau mau apa? Bertanggung jawab?” selidik Javier. Alea terdiam. Dia mau apa? Javier mengakui perbuatannya dan minta maaf, atau Javier mau bertanggung jawab? “Aku—” “Sudahlah.” Javier pergi begitu saja menyisakan Alea sendiri. “Alea, kamu kenapa?” Fania mengernyitkan keningnya melihat Alea menangis Alea menghapus air matanya. “Ak-aku gak apa.” Ia berbohong. “Ayo makan.” Fania mengangguk, mengikuti langkah Alea. Alea sempat menatap perginya Javier, tapi lelaki itu sudah tidak terlihat lagi. Ternyata Javier sedang berada di tempat pemotretan dekat kantor Alea, menunggu Aleza yang lokasi kerjanya tak jauh dari sana. Aleza kemudian menceritakan tentang Alea kalau saudara kembarnya itu sudah 3 tahun bekerja di sini sebagai desain grafis. Javier hanya tersenyum kecut. Dia tidak tahu kalau perjodohan kemarin akan membawanya sedalam ini menuju kehidupan Alea. Aleza kemudian menghela napas kasar. Pemotretan hari ini menguras tenaganya, tapi ia sudah terbiasa. Namanya juga dunia modeling yang sudah membesarkan namanya. Keduanya pun inisiatif pulang setelah sesi selesai. Sempat Aleza menawari Javier untuk berbincang bertiga dengan Alea perihal perjodohan ini, tapi Javier menolak. Saat ditanya alasannya, dia hanya bilang kalau itu surprise untuk Alea. Javier tiba-tiba berbisik ketika mobil berbelok di restoran sepi dengan lampu gemerlap menyala. “Aku sudah menyewa untuk malam ini. Tamunya hanya kita berdua.” “Serius? Kamu menghabiskan uang sebanyak itu hanya untuk makan malam?” Aleza terkejut mendengarnya. Javier mengangguk. “Aku gak mau ada yang ganggu kita.” Pipi Aleza merona mendengarnya. Keduanya masuk ke dalam, disambut musik romantis dari para pemain musik. Di atas meja sudah tersusun makanan dan minuman, serta buket bunga dan kotak merah berpita kuning keemasan. Aleza tidak menutupi kebahagiaannya. “Romantis,” gumamnya. “Kamu menyiapkan semua ini?” Javier mengangguk. Mempersilakan Aleza duduk setelah menarik kursi. “Kamu suka?” Ia duduk. Aleza hanya menjawab dengan anggukan. Senyumnya melebar. Dia tidak menyangka Javier menyiapkan semua ini untuknya. Perlakuan kecil membuat pipi Aleza merona. Sungguh berbanding terbalik dengan sikap Javier ke Alea! “Hampir lupa.” Javier mengambil buket bunga mawar merah itu dan memberikannya ke Aleza. “Untukmu.” “Ya Tuhan, Javier. Terima kasih.” Dia mencium buket bunga itu. Ia kembali terkejut saat Javier memberikan kotak merah maron ukuran sedang ke Aleza. “Lagi?” Javier mengangguk. Aleza meletakkan buket bunga ke kursi kosong. Membuka kotak merah maron itu. Matanya terbelalak melihat isinya. Kalung berlian edisi terbaru dan juga cincin. “Ini ...,” kata Aleza gugup. “Hubungan kita atas dasar bisnis, tapi tetap saja aku harus melamarmu.” Javier mengambil cincin dan memasangkan di jari Aleza. “Mau kah kau menikah denganku?” Tanpa basa basi, Aleza mengangguk cepat. “Tentu!” Aleza menatap cincin berlian di jarinya. Sangat cocok. Sebentar lagi, dalam hitungan minggu ia akan menjadi nyonya Javier—istri dari lelaki tampan yang dijuluki Dewa Bisnis. Siapa yang menolak menikahi CEO tampan yang penuh cinta? Siapa pula yang tidak menginginkannya? Hanya satu orang dan dia masih meratap di kamar. Sampai malam tiba, Alea masih mengurung diri, tidak berbincang pada siapa pun, bahkan dengan Emilia. Sebenarnya, setelah selesai makan tadi, Aleza langsung pulang dan beberapa kali mengetuk pintu kamar Alea untuk menceritakan kabar bahagia ini. Namun, tak kunjung ada jawaban. Untuk kesekian kalinya, Aleza mencoba lagi. Kesal karena tidak ada jawaban, Aleza menerobos masuk. Ternyata pintu tidak dikunci. “Ada apa? Kau kelihatan bahagia.” Alea bertanya, seperti orang tidak bergairah untuk menjalani hidup. Aleza mengangguk. Ia menunjukkan buket bunga ke Alea. “Aku dapat buket bunga. Dan kau tahu ... aku bentar lagi nikah. Aku udah dilamar” Mendengar kabar itu, Alea coba menyesuaikan diri. Dia ikut tersenyum, meski hatinya sedang hancur. Dia bahagia melihat kebahagiaan kembarannya itu. “Dari?” tanya Alea. Ia menerima buket itu saat Aleza menyerahkan kepadanya. “Dari calon suami dong.” Aleza menunjukkan jarinya lagi. “Cincin lamarannya waw banget, kan?” Alea mengangguk. “Siapa? Aktor muda yang digosipkan itu?” “Ya gaklah. Ini laki lebih gagah, lebih tampan, lebih kaya dari aktor itu. Pokoknya sempurna untuk jadi suami.” Ia juga menunjukkan kotak berisi kalung berlian ke Alea. “Lihat. Edisi terbaru.” Alea tersenyum. Aleza memang pantas mendapatkannya. Dia cantik, berbakat dan terkenal. Dia selalu seperti bidadari di kalangan para lelaki. Dia iri sebenernya. Mereka kembar, tapi nasib mereka tidak sama. “Aku penasaran. Apa aku kenal sama dia?” Alea menggoyang-goyangkan tubuh Aleza. Aleza menggelengkan kepalanya. “Dia ... ah, nanti juga kamu pasti tau. Suprise!” Aleza terkekeh. Alea menghela napas. “Oke.” Ia kembali fokus pada pekerjaannya. Dia memilih untuk tidak bertanya karena Aleza bilang suprise. “Kapan?” “Lusa.” Aleza mengatakannya tanpa beban. Justru, pertanyaannya selanjutnya yang benar-benar membebani Alea. “Kira-kira kamu kapan sama Reivan?” Alea memejam mata sejenak. Perutnya kembali terasa mual. Entah kenapa, belakangan ini, dia terus-terusan merasa seperti ada yang salah dengan perutnya. Dia ingin berobat, tapi mungkin besok. Alea fokus kembali ke pekerjaannya, hingga pintu tiba-tiba terbuka. “Alea, di depan—” Kalimat Emilia terpotong lantaran Alea berlari cepat ke kamar mandi. Memuntahkan isi perutnya. Emilia segera menyusul dan mengelus punggung putrinya. “A-apa aku hamil?” bisiknya.Bab 103“Halo, Javier.”Itu kalimat yang keluar dari mulut papa mertuanya saat Javier menerima panggilan itu. Ia menyeringai tipis dan menyapa balik sang papa mertua.“Halo juga, Papa Mertua.” Nada suaranya mengejek. “Sepertinya merindukan menantumu ini.”Dengkusan kasar terdengar di ujung telepon.“Sepertinya iya. Dan aku ingin mengajakmu makan malam sambil berbicara penting.” Zardan berkata membuat Javier mengerutkan kening.“Membahas soal apa? Aku sangat penasaran.” Javier memutar-mutar pulpen yang ada di tangannya.“Soal istrimu.” Zardan berkata lagi. “Dan juga soal bisnis lainnya.” Zardan menambahkan.Javier terkekeh mendengarnya ucapan Zardan itu.“Soal istriku? Baiklah. Aku juga penasaran apa yang hendak Papa katakan soal itu.”“Datanglah ke rumah malam ini. Jam tujuh.” Zardan memberitahu waktu ke Javier.“Oke. Aku pasti akan datang.” Javier mematikan sambungan telepon setelah itu. Ia menyandarkan punggungnya di sofa, kemudian tertawa dengan lantang. Baginya terdengar sangat l
Bab 102Fania tersenyum mengejek lagi dan lagi. “Aku harap kau datang. Bagaimanapun kau itu mantan rekan kerjaku dan mantan pacarnya Reivan.”Alea menarik napas panjang. Ia menggenggam erat kartu udangan itu. Ya, walau pun dia sudah mulai jatuh cinta kepada Javier, tetap saja ada rasa kecawa dalam hatinya. Reivan memutuskan tidak menikahinya sesuai janji yang dibuat lelaki itu dan malah memilih menikahi rekan kerja yang sudah Alea anggap sebagai sahabat.Sakit?Pasti!Tapi apa pun itu, dia harus bisa melihat ke depan, bukan terpaku ke belakang.“Kenapa? Sakit, ya? Mau nangis? Oh ... maaf.” Cicit Fania pura-pura bersalah. “Bukan maksud hati meebut Reivan dari kamu, cuman ya ... gimana lagi, aku udah suka sama dia sejak pertama melihatnya. Niatnya mau rebut, tapi kasihan sama kamu.” Fania tertawa. “Terus pas kita dijodohkan, ya ... aku terima dong. Apalagi orang tuanya gak suka sama perempuan yang hamil di luar nikah.” Fania masih saja merendahkan Alea dan membanggakan dirinya.Alea men
Bab 101Alea masuk ke dalam mobil. Ia melirik Yuri yang ikut masuk dan duduk di sebelahnya, sementara di depan ada lelaki yang wajahnya sangar dan tubuhnya tinggi berisi lebih dari si lelaki yang menyetir.Kata Yuri, lelaki sangar itu disebut sebagai Big Body. Sementara yang menyetir dengan mimik wajah datar dan tanpa ekspresi itu bernama Billy.Alea heran, dari mana Javier mendapatkan orang-orang itu? Dan kenapa Javier bisa mempercayai mereka? Apa karena Javier membayar mereka dengan jumlah yang banyak?“Nona, kita ke mana?” Billy bertanya ke Alea.Alea mengerjap. “Aku mau membeli salad buah. Kebetulan di City Mall ada. Dan dulu pernah beli sih, rasanya enak.”“Baik. Kita ke sana.” Billy patuh pada Alea.Mobil itu langsung meninggalkan area apartemen dan menuju City Mall.Sebenarnya Alea sedikit trauma ke sana karena ia pernah diculik dan disiksa, tapi karena Javier percaya pada ketiga orang yang mengawalnya sekarang ini, ia memberanikan diri.“Setelah beli salad buah, Nona mau belan
Javier baru saja menurunkan diri ke kursi kebesarannya, kursi kulit hitam yang selalu memberi sensasi dingin sekaligus kekuasaan setiap kali ia menyandar, ketika ketukan halus terdengar dari balik pintu. Tanpa menunggu perintah, Billy masuk. Lelaki itu menunduk sopan—sikap yang sudah melekat padanya sejak lama.“Bos, orang kita sudah masuk ke rumah itu,” ucap Billy setelah pintu tertutup rapat. “Bela. Dia sudah resmi diterima sebagai pelayan baru.”Javier mengangguk pelan, wajahnya tenang, tapi matanya penuh penghitungan seperti biasa. “Pastikan dia tidak membuat kesalahan. Tidak ada gerak-gerik mencurigakan, tidak ada sikap agresif. Dia hanya pelayan biasa—mengerti?”“Mengerti, Bos.” Billy menunduk lagi.Javier mengetuk meja dengan jari-jarinya. “Ada laporan lain?”Billy mengangguk ragu seakan berita berikutnya mungkin tidak enak untuk diucapkan. “Ada, Bos. Soal Bram.”Alis Javier perlahan naik. “Ada apa dengan Bram? Dia masih memberontak?”Billy menggeleng. “Tidak, Bos. Dia ditemuka
Bab 99 Kamar itu remang, hanya diterangi sisa cahaya dari lampu kota yang menembus tirai tipis. Alea masih berada dalam pelukan Javier, tubuh mereka saling menempel, napasnya yang hangat masih berhembus di sepanjang lehernya.Alea merasakan tubuh Javier yang panas menempel di punggungnya, dan ketika lelaki itu kembali mengecup tengkuknya, aliran listrik halus merambat dari kulitnya hingga ke seluruh tubuh. Ia menggigit bibir, mencoba menahan suara kecil yang hampir lolos.“Javier .…” Napas Alea tercekat.Javier merespons dengan mengeratkan pelukannya, satu tangan melingkari pinggang Alea, menarik tubuh perempuan itu lebih dekat lagi. Ia mengubur wajahnya di cekungan leher Alea, menciuminya pelan, lalu lebih dalam dan lebih agresif.“Aku menginginkanmu, Alea,” gumam Javier parau. “Sangat menginginkanmu.”Nada suaranya seperti gesekan halus yang mampu mengaduk seluruh keberanian Alea. Ia membalik tubuh perlahan untuk menghadap Javier. Begitu wajah mereka saling berhadapan, mata Javier
Bab 98 Ponsel Javier yang berada di atas nakas berdering nyaring, memecah kesunyian kamar yang sebelumnya hanya dipenuhi suara napas halus Alea yang teratur. Javier yang semula terlelap sambil memeluk perempuan itu dari belakang, langsung terbangun. Ia mengerjap pelan, tubuhnya bergerak untuk bangun, namun tetap berhati-hati agar tidak mengguncang tubuh Alea.Tangannya terulur ke nakas, meraba-raba permukaannya sampai menemukan ponsel mewah yang terus bergetar dan berdering. Cahaya layar yang menyilaukan membuatnya menyipitkan mata, berusaha fokus membaca nama penelepon. Namun layar hanya menampilkan sederet angka asing, nomor yang sama sekali tidak ia kenal.Javier mendengkus kecil. “Nomor tidak dikenal, lagi …,” gumamnya dengan suara berat yang masih sarat kantuk.Ia tidak berniat menjawab. Bahkan, ia hampir menekan tombol merah ketika rasa penasaran itu hilang begitu saja. Jadilah ia mengabaikan panggilan itu dan mengintip jam digital yang tertera di layar.Jam 03.00 dini hari.Ia







