LOGINAlea (24) hidupnya berubah jadi mimpi buruk ketika mabuk di sebuah bar dan dijebak Javier, pria yang pernah ia campakkan dua tahun lalu saat masih bekerja di perusahaan ayahnya. Dalam keadaan terpengaruh obat, ia dipaksa menyerahkan kesuciannya pada Javier, yang kini telah sukses menjadi presdir muda. Malam itu meninggalkan luka yang lebih dalam dari sekadar aib bagi Alea. Dia hamil anak Javier. Malapetaka bertambah saat ia menyadari Javier kini adalah suami sah saudara kembarnya sendiri, Aleza. Dua bulan setelah kehamilannya, Alea hanya terpuruk seorang diri. Tak lama kemudian, Javier datang dan bersimpuh di hadapannya. Dia mengakui kesalahannya. Fakta mengejutkan kemudian terungkap.
View MoreBab 1. Kesucian yang Direnggut
“Panas …,” lirih Alea. Gadis itu naik ke pangkuan Reivan tanpa ragu. “To-tolong aku!” Tangannya meraih kerah kemeja Reivan, menariknya mendekat. Tatapannya sayu, bibirnya menggodanya dengan jarak yang begitu dekat. “Alea, stop! Kamu kenapa?” Reivan, pacar Alea, mendorong bahunya. Gadis itu tak peduli. Alea malah menempelkan bibir ke lehernya, menciumi kulitnya dengan paksa. “Aku tidak mau menodaimu, kita belum menikah.” Kejadian itu menjadi tontonan para pengunjung bar, tak terkecuali Javier, laki-laki berbadan tegap tinggi 180 centi, sudah menunggu momen ini terjadi. “Alea, sadar!” Reivan mencoba menahan, suaranya penuh frustasi, tapi Alea semakin berontak, tangannya mulai meraba, dan bibirnya berhasil meraih bibir Reivan dengan paksa. “Cukup!” Reivan kehilangan kesabaran. Ia mendorong Alea dengan lebih keras hingga gadis itu jatuh kembali ke sofa, terengah, wajahnya memerah karena panas yang bukan berasal dari alkohol semata. Dengan napas kasar, Alea bangkit dan berlari ke arah toilet, seolah ingin kabur dari dirinya sendiri. “Tidak!” suara melengking gadis itu membuat seorang lelaki reflek menahan tubuhnya agar tidak jatuh. “Terima ka- … Javier, apa yang kau lakukan?!” “Bukannya aku yang harus bertanya, kenapa perempuan sepertimu bisa ada di klub malam?” Javier mengernyit heran. “Oh, mulutmu bau alkohol? Siapa yang memberimu obat, Alea?” “Jangan macam-macam atau aku lapor ke petugas!” Alea coba menghindari Javier, tapi entah kenapa, pria itu coba menutup-nutupi. “Sialan kau!” Alea mendorong Javier hingga tubuhnya menabrak pintu. Javier yang kesal, tidak peduli lagi dengan Alea. Dia meraih tangan kanan gadis itu, kemudian membungkam mulutnya dengan tangan kiri. “Berani-beraninya kau kasar padaku!” "Lepas! Aku bukan… Mmpphh." “Bau ini, tidak salah lagi!” Javier menyeringai. “Aku bisa membantumu. Aku tahu, panas ini tidak akan bisa hilang begitu ada seseorang yang memuaskanmu, Alea.” “Ti-tidak!” Alea coba berontak, tapi suaranya tiba-tiba hilang. Mulutnya dibekap kuat dan rapat oleh telapak tangan besar Javier. “Saat kau ingin mencumbu Reivan tadi, kau sudah dipenuhi hasrat, kan?” Javier masih tidak peduli walau Alea hampir menangis. “Ini mutualisme, kan?” Alea menggelengkan kepala sembari terus menggoyangkan tangannya kuat-kuat. Laki-laki itu terus memaksa Alea karena tahu, pengaruh obat perangsang belum sepenuhnya bekerja. Sembari membekap Alea, Javier kemudian membisikkan sesuatu yang membuat Alea syok berat. “Sudah dua tahun. Bukan. Hampir tiga tahun aku memulai karirku dari nol lagi. Kau pasti tahu, itu ulah siapa?” Javier kemudian menekan satu tombol yang ada di ponselnya hingga datang dua pengawal berbadan kekar. Alea dibawa ke kamar VVIP lantai dua. Lokasi tangga berada di dekat kamar mandi sehingga siapa pun yang naik ke atas, tidak akan terlihat oleh mereka yang ada di bar lantai satu, tak terkecuali Reivan yang tidak tahu Alea pergi ke mana. Lima menit berselang, akal sehat Alea runtuh. Dia tidak kuat menahan rasa panas akibat obat perangsang Javier. Obat itu menelan habis kesadarannya. “Kau pasti menginginkannya, bukan?” Javier melepas kancing bajunya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya masih membungkam mulut Alea. “Sekarang, aku akan memberikannya padamu!” Tak hanya menerima, Alea bahkan mencoba mendominasi, menghisap, menggigit, seakan haus dan tak ingin berhenti. “Mmhh … ahh ….” Suara Alea terputus-putus di sela ciuman, tubuhnya melengkung mengikuti ritme gila yang tak kunjung berhenti. Jemarinya menekan kulit punggung lelaki itu, semakin kuat, senada dengan kecepatan Javier yang terus meningkat. “Sedikit lagi, Alea ….” Bisikan itu lirih, nyaris seperti erangan. Gerakannya makin cepat, makin dalam, seakan tak mau memberi jeda sedikit pun. Hingga akhirnya—ia mencapai puncak, terhuyung dan tumbang, jatuh lelah di atas tubuh Alea. Javier sudah di puncak, tepat ketika Alea juga mengalami hal yang sama. Seketika seringai miring tercipta di bibir lelaki itu. Javier mendongak saat mendengar dering telepon dari tas kecil milik Alea di atas meja. Duduk dan memeriksa siapa yang menghubungi di tengah malam. Nama Reivan tertera di layar. Javier membukan ponsel itu, dan ternyata memakai kata sandi. Berpikir sejenak, dan memasukkan password lama yang ia ingat. Terbuka. Ternyata Alea tidak pernah mengganti sandi ponselnya. Segera membuka ikon pesan dan mengirimnya. [Maaf, Reivan. Aku pulang lebih awal. Kepalaku pusing dan perutku benar-benar mual.] Seringai puas Javier terlihat jelas. Ia menikmati malamnya bukan hanya dari alkohol, tapi juga dari tubuh seksi Alea. Sampai pagi tiba, Javier masih menunggu Alea. Dia sengaja tidak tidur sembari memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. “Javier, kau gila?!” teriak Alea saat terbangun dari tidurnya. Buru-buru mengeratkan selimut yang menempel di tubuh. Pandangannya liar, kepala pusing, rasa mual masih menekan lambungnya. Namun yang paling membuatnya gemetar adalah kenyataan: lelaki yang ada di sampingnya—tanpa busana—adalah Javier. Ia menggeleng, berulang kali. “Tidak … ini tidak mungkin. Tidak mungkin!” Javier terduduk di tepi ranjang, mengerjap. Ia terbangun karena teriakan Alea. “Apa yang kau lakukan padaku?” Suara Alea pecah, histeris. Air matanya langsung mengalir begitu saja. Javier mengusap wajahnya kasar. Tak ada penyesalan, hanya raut lelah dan sisa kantuk. “Jangan diam saja!” Alea menjerit lagi, suaranya parau. “Katakan sesuatu, Javier! Katakan!” Javier menghela napas, menoleh singkat. “Kau … tidak ingat?” Pertanyaan itu membuat Alea terdiam kaku. Ia mencoba mengingat, tapi ingatannya kabur—hanya pecahan adegan samar: dentuman musik, gelas berisi alkohol, tubuhnya yang ringan dan kehilangan kendali. Ia menutup mata, mencoba memaksa otaknya bekerja, tetapi yang muncul hanya potongan tak jelas. “Kenapa bisa begini?” Alea berbisik gemetar, menatap Javier yang kini sudah mengenakan kembali pakaiannya dengan tenang, seolah semua ini bukan bencana. “Maaf,” kata Javier singkat. Alea meremas selimutnya. “Kau mabuk,” ucap Javier datar. “Kau sendiri yang datang padaku. Menggoda lalu memaksaku.” Alea membeku, lalu menggeleng keras. “Tidak … aku tidak mungkin ….” Tatapannya liar, berusaha menangkap kebohongan di wajah Javier. Namun, ekspresinya tetap sama—datar, susah ditebak. “Kau bohong!” Suaranya meninggi. “Aku tidak bohong,” Javier menimpali, tenang. Alea memeluk lututnya. Tubuhnya bergetar hebat. “Kau menjebakku … ya kan? Katakan, Javier.” “Tidak.” Javier mengacak rambutnya kasar, matanya kosong. “Aku tidak menjebakmu. Kau yang datang … dan aku—” bibirnya terangkat tipis, “—ibarat predator diberi mangsa, bagaimana aku menolak?” Alea melempar bantal ke wajah Javier. “Laki-laki bejat!” Alea meraung. “Kau bajingan, Javier! Kau sudah merenggut kesucianku yang aku jaga selama ini!” Javier tak memberi respon. Tidak ada permintaan maaf, tidak ada penjelasan. Ia hanya berdiri, menyambar jasnya, lalu melangkah pergi tanpa menoleh. Pintu kamar tertutup keras. Alea memeluk dirinya erat, tangisnya semakin pecah tanpa henti. Rasa jijik, marah, dan hancur bercampur menjadi satu. Kehormatannya yang selama ini ia jaga, musnah dan lelaki itu pergi begitu saja. Kesedihan itu tak berlangsung lama sampai dia teringat sesuatu. Dia sadar, hari ini Minggu pagi. Artinya, Zardan ada di rumah. Zardan adalah Papa Alea yang keras kepala dan kasar. Sial! Mengetahui Alea pulang pagi dan menginap, Zardan pasti marah besar. Gadis itu berkemas dan meminta sopir taksi memacu mobilnya lebih cepat lagi. Begitu sampai, Alea menarik napas panjang, tepat di depan pintu. Tangannya sedikit bergetar saat ia berusaha merapikan rambutnya. Sekilas, ia menatap jam di pergelangan tangan—pukul sembilan pagi. Ia menutup mata sebentar, lalu mendorong pintu masuk dengan raut setenang mungkin, seolah malam tadi bukan mimpi buruk yang menghantam hidupnya. “Jam berapa ini? Kenapa baru pulang?” Suara dingin Zardan langsung memotong langkahnya. Alea terhenti. Suara itu tajam, penuh penekanan. Ia memutar tubuh perlahan, mencoba menyiapkan alasan, tetapi apa yang dilihatnya membuat darahnya berhenti mengalir. Rasa terkejutnya semakin bertambah ketika melihat seorang lelaki duduk santai di ruang tamu. Wajahnya tidak asing. Semakin Alea memfokuskan pandangan, semakin dia mengeraskan hentakan giginya. “Ja—Javier …,” bisiknya lirih, hampir tak terdengar. Lelaki yang telah merenggut segalanya darinya kini duduk di rumahnya, berbincang dengan papanya seperti keluarga sendiri.Bab 104“Kau masih mengharapkan dirinya?” tanya Javier lagi. “Masih mencintainya?” Alea duduk dan menetap Javier dalam. Ia menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku—”“Lalu kenapa kau terlihat bad mood seharian? Billy melaporkannya kepadaku.” Javier menyudutkan Alea. “Aku yakin ini bukan hanya soal mantan teman se kantormu mengejek, tapi juga karena mantan pacarmu yang menjadi pendampingnya di pelaminan.”Alea menggeleng. “Aku memang bad mood, tapi bukan karena calon suaminya itu Reivan.” Alea membela diri. “Aku kesal karena dia mengataiku yang gak-gak. Dia bilang aku simpan tua bangka dan lainnya.”Javier terdiam. “Ya, aku memang sempat marah saat tau lelaki yang menikahinya adalah Reivan. Bukan karena aku masih mengharapkannya, tapi karena aku gak nyangka Reivan memutuskan hubungan kami dan memilih Fania yang dulunya teman akrabku di kantor. Aku selalu berkeluh kesah padanya, tapi ia ternyata sudah lama menyukai Reivan.”“Itu sama saja kau masih mengharapkannya.” Javier bersikeras den
Bab 103“Halo, Javier.”Itu kalimat yang keluar dari mulut papa mertuanya saat Javier menerima panggilan itu. Ia menyeringai tipis dan menyapa balik sang papa mertua.“Halo juga, Papa Mertua.” Nada suaranya mengejek. “Sepertinya merindukan menantumu ini.”Dengkusan kasar terdengar di ujung telepon.“Sepertinya iya. Dan aku ingin mengajakmu makan malam sambil berbicara penting.” Zardan berkata membuat Javier mengerutkan kening.“Membahas soal apa? Aku sangat penasaran.” Javier memutar-mutar pulpen yang ada di tangannya.“Soal istrimu.” Zardan berkata lagi. “Dan juga soal bisnis lainnya.” Zardan menambahkan.Javier terkekeh mendengarnya ucapan Zardan itu.“Soal istriku? Baiklah. Aku juga penasaran apa yang hendak Papa katakan soal itu.”“Datanglah ke rumah malam ini. Jam tujuh.” Zardan memberitahu waktu ke Javier.“Oke. Aku pasti akan datang.” Javier mematikan sambungan telepon setelah itu. Ia menyandarkan punggungnya di sofa, kemudian tertawa dengan lantang. Baginya terdengar sangat l
Bab 102Fania tersenyum mengejek lagi dan lagi. “Aku harap kau datang. Bagaimanapun kau itu mantan rekan kerjaku dan mantan pacarnya Reivan.”Alea menarik napas panjang. Ia menggenggam erat kartu udangan itu. Ya, walau pun dia sudah mulai jatuh cinta kepada Javier, tetap saja ada rasa kecawa dalam hatinya. Reivan memutuskan tidak menikahinya sesuai janji yang dibuat lelaki itu dan malah memilih menikahi rekan kerja yang sudah Alea anggap sebagai sahabat.Sakit?Pasti!Tapi apa pun itu, dia harus bisa melihat ke depan, bukan terpaku ke belakang.“Kenapa? Sakit, ya? Mau nangis? Oh ... maaf.” Cicit Fania pura-pura bersalah. “Bukan maksud hati meebut Reivan dari kamu, cuman ya ... gimana lagi, aku udah suka sama dia sejak pertama melihatnya. Niatnya mau rebut, tapi kasihan sama kamu.” Fania tertawa. “Terus pas kita dijodohkan, ya ... aku terima dong. Apalagi orang tuanya gak suka sama perempuan yang hamil di luar nikah.” Fania masih saja merendahkan Alea dan membanggakan dirinya.Alea men
Bab 101Alea masuk ke dalam mobil. Ia melirik Yuri yang ikut masuk dan duduk di sebelahnya, sementara di depan ada lelaki yang wajahnya sangar dan tubuhnya tinggi berisi lebih dari si lelaki yang menyetir.Kata Yuri, lelaki sangar itu disebut sebagai Big Body. Sementara yang menyetir dengan mimik wajah datar dan tanpa ekspresi itu bernama Billy.Alea heran, dari mana Javier mendapatkan orang-orang itu? Dan kenapa Javier bisa mempercayai mereka? Apa karena Javier membayar mereka dengan jumlah yang banyak?“Nona, kita ke mana?” Billy bertanya ke Alea.Alea mengerjap. “Aku mau membeli salad buah. Kebetulan di City Mall ada. Dan dulu pernah beli sih, rasanya enak.”“Baik. Kita ke sana.” Billy patuh pada Alea.Mobil itu langsung meninggalkan area apartemen dan menuju City Mall.Sebenarnya Alea sedikit trauma ke sana karena ia pernah diculik dan disiksa, tapi karena Javier percaya pada ketiga orang yang mengawalnya sekarang ini, ia memberanikan diri.“Setelah beli salad buah, Nona mau belan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore