Share

111. Berkunjung

Author: Ivorybeige
last update publish date: 2026-08-07 22:03:43

Kabar burung itu menyusup halus di antara bisik-bisik kelas atas Jakarta. Meski Dastan sudah mengerahkan seluruh pengaruh dan kekuasaannya untuk membungkam media, nama besar keluarga Calvindra dan reputasi Dastan sebagai pengacara papan atas bukan hal yang mudah dihapus begitu saja.

Gosip kecelakaan maut itu tetap berembus liar, menjadi rahasia umum di kalangan tertentu.

​Di dalam ruang kerjanya yang remang, Ragan menyandarkan tubuhnya pada kursi kulit. Jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    174. Protektif

    Keiran mengancingkan manset jasnya dengan presisi sebelum melangkah menuju pintu utama kamar. Langkah kakinya yang berat dan berirama konstan menggema pelan di atas lantai marmer, menandai dimulainya rutinitas di dalam hunian megah yang kini sepenuhnya menjadi ruang aman bagi Shaluna.​Shaluna memandangi punggung tegap pria itu hingga menghilang di balik pintu yang mengatup rapat. Suasana di dalam kamar utama kembali hening, namun bukan keheningan yang mencekam seperti yang biasa ia rasakan di masa lalu. Keheningan kali ini diisi oleh rasa kepastian yang kokoh. Jminan terselubung bahwa di luar sana, Keiran sedang memegang penuh kendali atas segala hal yang berpotensi mengusik ketenangannya.​Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian kasual yang nyaman, Shaluna melangkah keluar menuju ruang makan. Di atas meja kayu jati yang panjang, sarapan hangat sudah tertata rapi sesuai standar efisiensi yang disukai Keiran. Dua orang staf rumah tangga bekerja dengan cekatan tanpa menimbul

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    173. Penerbangan Ragan

    Udara malam di apartemen sewaan kawasan Docklands, Melbourne, terasa jauh lebih menusuk dari biasanya. Layar ponsel di tangan Ragan sudah mati, menyisakan pantulan wajahnya sendiri yang tampak kusam di bawah temaram lampu meja.​Tidak ada teriakan. Tidak ada bantingan barang. Ragan hanya duduk diam di tepi kasur sempitnya, menatap lurus ke dinding putih kosong di hadapannya dengan tatapan kosong. Pikirannya menolak merangkai kalimat, terjebak dalam lingkaran kebas yang mendalam.​Dua tahun.​Dua tahun ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya meninggalkan Jakarta adalah bentuk penebusan. Dua tahun ia menghabiskan waktu di ruang-ruang konseling yang dingin, merobek ego masa lalunya, menerima kenyataan bahwa ia cacat dalam cara yang tidak bisa diperbaiki, dan belajar hidup dalam keheningan tanpa tuntutan siapa pun.​Ia pikir ia telah membayar lunas harga dari kebohongannya.​Namun, majalah bisnis yang ia lihat di etalase sore tadi meruntuhkan seluruh ilusi itu dalam satu detik.​

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    172. Malam Pertama

    Pintu kamar utama tertutup rapat dengan dentung halus yang memutus seluruh suara dari luar. Cahaya di dalam ruangan sangat minim, hanya disokong oleh pendar remang lampu dinding bernuansa warm amber di sudut dekat meja kerja Keiran, membiarkan bayangan tubuh mereka jatuh memanjang di atas lantai kayu tebal.​Keiran tidak langsung menurunkan Shaluna ke ranjang. Pria itu berdiri sejenak di sisi tempat tidur king-size, menatap wanita di dalam gendongannya dengan intensitas yang begitu dalam dan dingin. Dalam jarak sedekat ini, Shaluna bisa merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh tegap Keiran, seolah pria itu adalah satu-satunya sumber energi di tengah kamar yang sejuk oleh hembusan AC.​Dengan gerakan yang sangat terkontrol dan hati-hati, Keiran merebahkan Shaluna ke atas kasur empuk berlapis sprei katun sutra hitam.​Shaluna membiarkan punggungnya menyentuh permukaan ranjang, rambut hitamnya yang terurai menyebar di atas bantal. Pandangannya tidak pernah lepas dari wajah Keiran ya

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    171. Pernikahan

    Pernikahan itu digelar di sebuah kapel privat berarsitektur batu alam di kawasan pinggiran kota yang terisolasi—sebuah tempat yang dipilih dengan presisi tinggi agar seluruh prosesi berjalan di bawah kendali penuh.​Di dalam ruang persiapan bernuansa kayu gelap, Shaluna berdiri seorang diri di depan cermin besar.​Gaun pengantin berwarna gilded-ivory yang membungkus tubuhnya memancarkan keanggunan yang tidak rumit. Potongannya jatuh dengan tegas, tanpa renda yang ramai, mencerminkan kesederhanaan yang sarat akan wibawa.​Jemari Shaluna mengusap permukaan dingin dari kalung mutiara hitam yang terlingkar di lehernya. Perhiasan langka yang dikirimkan ke kamarnya dua jam lalu tanpa catatan nama, namun ia tahu pasti siapa pemiliknya.​Pintu kayu tebal berderit halus saat terbuka.​Melalui pantulan cermin, Shaluna melihat Keiran melangkah masuk. Pria itu sudah mengenakan setelan jas hitam dengan garis kustom yang sempurna membingkai bahunya yang tegap.​Langkah kaki Keiran terdengar konstan

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    170. Menjelang Pernikahan

    Persiapan pernikahan itu tidak dirancang seperti pesta korporat yang bising, melainkan sebuah pertunjukan kekuasaan yang sunyi, presisi, dan mutlak.​Di penthouse Keiran yang menghadap lanskap Jakarta Selatan, suasana pagi itu terasa dingin dan tenang. Hanya ada beberapa staf senior dari rumah mode ternama serta tim keamanan internal Alvareno Group yang berjaga di luar pintu kaca.​Shaluna berdiri di atas podium bundar berlapis beludru di tengah ruangan, mengenakan gaun pengantin berpotongan haute couture berwarna putih gilded-ivory. Kain sutra yang membungkus tubuhnya jatuh dengan anggun, tanpa banyak payet yang mencolok, melainkan garis desain yang tajam, elegan, dan tegas. Mencerminkan status barunya sebagai calon pendamping tunggal sang penguasa Alvareno.​Seorang penjahit wanita paruh baya berkebangsaan Prancis sedang merapikan ujung gaun Shaluna dengan hati-hati.​"Sedikit lagi di bagian pinggang, Mademoiselle Dastan," gumam penjahit itu sopan. "Silakan berdiri tegap."​Shalun

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    169. Ikut

    Tangan Ragan yang memegang pinggiran etalase kaca itu berguncang halus. Napasnya terengah, mengembuskan uap putih yang makin memburu di tengah dinginnya malam Melbourne.​"Ragan?"​Sebuah suara pria beraksen Australia yang familier memecah keheningan di belakangnya.​Ragan dengan cepat menarik tangannya dari kaca, membalikkan badan dengan gerakan refleks yang agak panik. Berdiri beberapa langkah di depannya adalah Lian. Pria berkebangsaan Australia-Yunani yang merupakan seorang arsitek lanskap dan rekan satu timnya dalam proyek sukarelawan penataan taman kota yang Ragan ikuti selama enam bulan terakhir.​Julian menatap Ragan dengan kening berkerut halus, memperhatikan raut wajah Ragan yang pucat pasi bak tanpa darah.​"Kamu baik-baik saja?" tanya Lian, melangkah mendekat. Pria itu mengenakan jaket parka tebal dan membawa dua cangkir kopi takeaway. "Aku lihat kamu berdiri mematung di sini dari seberang jalan. Wajahmu seperti baru saja melihat hantu."​Ragan menelan ludah, berusaha ker

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status