LOGINUdara malam di apartemen sewaan kawasan Docklands, Melbourne, terasa jauh lebih menusuk dari biasanya. Layar ponsel di tangan Ragan sudah mati, menyisakan pantulan wajahnya sendiri yang tampak kusam di bawah temaram lampu meja.Tidak ada teriakan. Tidak ada bantingan barang. Ragan hanya duduk diam di tepi kasur sempitnya, menatap lurus ke dinding putih kosong di hadapannya dengan tatapan kosong. Pikirannya menolak merangkai kalimat, terjebak dalam lingkaran kebas yang mendalam.Dua tahun.Dua tahun ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya meninggalkan Jakarta adalah bentuk penebusan. Dua tahun ia menghabiskan waktu di ruang-ruang konseling yang dingin, merobek ego masa lalunya, menerima kenyataan bahwa ia cacat dalam cara yang tidak bisa diperbaiki, dan belajar hidup dalam keheningan tanpa tuntutan siapa pun.Ia pikir ia telah membayar lunas harga dari kebohongannya.Namun, majalah bisnis yang ia lihat di etalase sore tadi meruntuhkan seluruh ilusi itu dalam satu detik.
Pintu kamar utama tertutup rapat dengan dentung halus yang memutus seluruh suara dari luar. Cahaya di dalam ruangan sangat minim, hanya disokong oleh pendar remang lampu dinding bernuansa warm amber di sudut dekat meja kerja Keiran, membiarkan bayangan tubuh mereka jatuh memanjang di atas lantai kayu tebal.Keiran tidak langsung menurunkan Shaluna ke ranjang. Pria itu berdiri sejenak di sisi tempat tidur king-size, menatap wanita di dalam gendongannya dengan intensitas yang begitu dalam dan dingin. Dalam jarak sedekat ini, Shaluna bisa merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh tegap Keiran, seolah pria itu adalah satu-satunya sumber energi di tengah kamar yang sejuk oleh hembusan AC.Dengan gerakan yang sangat terkontrol dan hati-hati, Keiran merebahkan Shaluna ke atas kasur empuk berlapis sprei katun sutra hitam.Shaluna membiarkan punggungnya menyentuh permukaan ranjang, rambut hitamnya yang terurai menyebar di atas bantal. Pandangannya tidak pernah lepas dari wajah Keiran ya
Pernikahan itu digelar di sebuah kapel privat berarsitektur batu alam di kawasan pinggiran kota yang terisolasi—sebuah tempat yang dipilih dengan presisi tinggi agar seluruh prosesi berjalan di bawah kendali penuh.Di dalam ruang persiapan bernuansa kayu gelap, Shaluna berdiri seorang diri di depan cermin besar.Gaun pengantin berwarna gilded-ivory yang membungkus tubuhnya memancarkan keanggunan yang tidak rumit. Potongannya jatuh dengan tegas, tanpa renda yang ramai, mencerminkan kesederhanaan yang sarat akan wibawa.Jemari Shaluna mengusap permukaan dingin dari kalung mutiara hitam yang terlingkar di lehernya. Perhiasan langka yang dikirimkan ke kamarnya dua jam lalu tanpa catatan nama, namun ia tahu pasti siapa pemiliknya.Pintu kayu tebal berderit halus saat terbuka.Melalui pantulan cermin, Shaluna melihat Keiran melangkah masuk. Pria itu sudah mengenakan setelan jas hitam dengan garis kustom yang sempurna membingkai bahunya yang tegap.Langkah kaki Keiran terdengar konstan
Persiapan pernikahan itu tidak dirancang seperti pesta korporat yang bising, melainkan sebuah pertunjukan kekuasaan yang sunyi, presisi, dan mutlak.Di penthouse Keiran yang menghadap lanskap Jakarta Selatan, suasana pagi itu terasa dingin dan tenang. Hanya ada beberapa staf senior dari rumah mode ternama serta tim keamanan internal Alvareno Group yang berjaga di luar pintu kaca.Shaluna berdiri di atas podium bundar berlapis beludru di tengah ruangan, mengenakan gaun pengantin berpotongan haute couture berwarna putih gilded-ivory. Kain sutra yang membungkus tubuhnya jatuh dengan anggun, tanpa banyak payet yang mencolok, melainkan garis desain yang tajam, elegan, dan tegas. Mencerminkan status barunya sebagai calon pendamping tunggal sang penguasa Alvareno.Seorang penjahit wanita paruh baya berkebangsaan Prancis sedang merapikan ujung gaun Shaluna dengan hati-hati."Sedikit lagi di bagian pinggang, Mademoiselle Dastan," gumam penjahit itu sopan. "Silakan berdiri tegap."Shalun
Tangan Ragan yang memegang pinggiran etalase kaca itu berguncang halus. Napasnya terengah, mengembuskan uap putih yang makin memburu di tengah dinginnya malam Melbourne."Ragan?"Sebuah suara pria beraksen Australia yang familier memecah keheningan di belakangnya.Ragan dengan cepat menarik tangannya dari kaca, membalikkan badan dengan gerakan refleks yang agak panik. Berdiri beberapa langkah di depannya adalah Lian. Pria berkebangsaan Australia-Yunani yang merupakan seorang arsitek lanskap dan rekan satu timnya dalam proyek sukarelawan penataan taman kota yang Ragan ikuti selama enam bulan terakhir.Julian menatap Ragan dengan kening berkerut halus, memperhatikan raut wajah Ragan yang pucat pasi bak tanpa darah."Kamu baik-baik saja?" tanya Lian, melangkah mendekat. Pria itu mengenakan jaket parka tebal dan membawa dua cangkir kopi takeaway. "Aku lihat kamu berdiri mematung di sini dari seberang jalan. Wajahmu seperti baru saja melihat hantu."Ragan menelan ludah, berusaha ker
Ragan memasukkan ponsel itu ke dalam saku mantel tebalnya, membiarkan kegelapan di dalam saku itu menelan foto Shaluna sepenuhnya. Ia bangkit dari kursi, menarik resleting mantelnya hingga merapatkan kerah ke leher, lalu melangkah keluar dari kafe menuju udara dingin Southbank yang menusuk tulang.Langkahnya membawanya menyusuri pedestrian sepanjang Yarra River. Angin sore bertiup cukup kencang, membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering. Di kota ini, tidak ada satu pun orang yang mengenalnya sebagai Rag homoseksual. Di sini, ia hanyalah seorang pria asing dalam balutan mantel gelap yang berjalan sendirian di tengah kerumunan pejalan kaki.Di Melbourne, ia dipaksa menghadapi kenyataan paling brutally jujur dalam hidupnya. Bahwa ketakutannya akan penolakan Maria telah mengubahnya menjadi monster yang egois. Selama tiga tahun pernikahan, ia menyiksa Shaluna bukan dengan pukulan, melainkan dengan kebingungan psikologis. Ia membuat Shaluna merasa tidak sempurna sebagai wanita, hanya







