Mag-log inKeiran berdiri kaku di tengah ruang tamu yang gelap. Ia membelakangi dinding kaca besar yang memperlihatkan gemerlap lampu Jakarta di bawah guyuran hujan gerimis.Dua minggu sejak hari di pemakaman Arkaian, Keiran seperti sosok mati yang masih bernapas. Rambutnya berantakan, kemejanya kusut, dan wajah tegapnya kini tampak tirus dengan lingkaran hitam pekat di sekitar mata merahnya. Pria arogan yang biasanya memegang kendali atas segala hal itu kini hancur berkeping-keping.Pintu kamar terbuka. Dion melangkah masuk dengan setelan jas rapi. Raut wajah tegas pria paruh baya itu sama sekali tidak memancarkan dinginnya seorang penguasa bisnis. Melainkan kecemasan mendalam seorang ayah yang tak sanggup lagi melihat anaknya pelan-pelan membunuh diri sendiri.Dion mendekat, lalu meletakkan telapak tangannya yang hangat di bahu tegap Keiran."Keiran," panggil Dion, suaranya sarat akan rasa prihatin dan duka yang ditahan. "Kamu belum makan dari kemarin, Nak. Jangan seperti ini."Keiran t
Sudah dua minggu sejak hari di pemakaman itu. Namun bau tanah basah dan dinginnya ukiran kayu nama Arkaian seolah masih menempel tebal di ingatan Shaluna.Pagi ini, untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu mengurung diri di kamar yang remang-remang, Shaluna membiarkan sinar matahari menembus jendela kamar mandi. Suara gemericik air pancuran yang membasahi tubuh tirusnya terdengar ritmis, beradu dengan helaan napasnya yang pelan dan teratur.Ia berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya pucat, matanya dalam dan menyisa lingkaran hitam tipis. Sementara bekas luka di tubuhnya, baik yang terlihat di kulit maupun yang tersembunyi jauh di dalam dada masih terasa ngilu. Namun hari ini, tidak ada lagi histeria. Tidak ada lagi tangis meraung-raung. Yang tersisa hanyalah rasa lelah yang amat sangat, dan sebuah kesadaran bahwa ia tidak bisa terus-terusan membiarkan jiwanya membusuk dalam ruang hampa.Shaluna memakai pakaian serba longgar berwarna abu-abu redup,
Asap rokok membumbung lambat di dalam kamar yang remang-remang, beradu dengan aroma parfum mahal dan keringat yang mulai mendingin. Di atas ranjang bertingkat dengan seprai satin yang kusut masai, keheningan pasca-intimidasi fisik terasa makin menghimpit.Ragan telentang dengan mata menatap kosong ke langit-langit kamar. Napasnya masih tersengal tipis, berpadu dengan ketegangan yang sama sekali tak menyurut dari otot-otot tubuhnya. Satu tangannya menyepit sebatang rokok yang apinya membara merah di kegelapan.Di sisinya, Alexander menyandarkan punggung tegapnya pada kepala ranjang. Pria itu menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan jemari yang santai. Tatapannya dingin, tajam, dan penuh dominasi saat memandangi Ragan. Kekasihnya yang selalu tampak rapuh dan kacau tiap kali topik tentang keluarga Alvareno mencuat ke permukaan.Alexander meraih rokok dari selipan jari Ragan, menyesapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya perlahan ke udara di atas mereka."Pikiran kamu masih
Shaluna menggenggam botol kaca di dadanya dengan kedua tangan yang bergetar pelan. Suasana kamar mendadak begitu senyap, hanya menyisakan deru napas Keiran yang patah-patah dan gemuruh hujan di luar jendela.Pertanyaan dingin yang baru saja dilontarkan Shaluna menghantam Keiran persis di ulu hati. Pria tegap itu membeku, lidahnya kelu, dan matanya membelalak dipenuhi rasa sakit yang teramat sangat. Pria arogan yang biasanya memegang kendali atas segalanya itu kini hanya bisa menunduk dalam-dalam di depan kaki Shaluna, menyembunyikan wajahnya yang telah dibasahi air mata."Saya—" Suara Keiran tercekat, tenggorokannya terasa tersumbat duri yang tajam. "Saya tidak akan pernah membohongi kamu lagi, Shaluna. Demi Tuhan ... tidak akan pernah lagi."Shaluna menatap Keiran tanpa kedipan. Tak ada kemarahan yang meluap-luap di matanya, hanya ada kehampaan yang begitu pekat dan keputusasaan yang telah mencapai titik dingin paling dasar."Kalau begitu," bisik Shaluna dengan nada datar yang
Tubuh Shaluna seolah hidup dalam realitas yang berbeda dengan jiwanya. Jiwanya telah membeku dan membisu, memutus seluruh akses komunikasi dengan dunia luar. Namun tubuhnya secara kejam dan alami, masih setia menjalankan perannya sebagai seorang ibu.Produksi ASI-nya tidak kunjung mereda. Malah, seolah merespons stres emosional dan jeritan batin yang terkunci rapat di dalam dadanya, cairan putih itu mengalir kian deras.Setiap beberapa jam, kain gaun yang dikenakan Shaluna akan basah di bagian dada. Rasa hangat yang menjalar diikuti nyeri hebat akibat payudara yang mengeras dan membengkak seperti terbakar kembali menghantamnya. Namun Shaluna hanya diam. Ia tidak meringis, tidak mengeluh, dan tidak meminta bantuan siapa pun.Di dalam kamar yang temaram, suara ritmis mesin pompa ASI kembali berdesung pelan.Ssst... ssst... ssst...Shaluna duduk kaku di tepi ranjang. Tangan kirinya yang tak terbalut perban memegangi corong pompa, sementara mata sembapnya menatap kosong pada cairan
Kabar burung itu menyusup halus di antara bisik-bisik kelas atas Jakarta. Meski Dastan sudah mengerahkan seluruh pengaruh dan kekuasaannya untuk membungkam media, nama besar keluarga Calvindra dan reputasi Dastan sebagai pengacara papan atas bukan hal yang mudah dihapus begitu saja. Gosip kecelakaan maut itu tetap berembus liar, menjadi rahasia umum di kalangan tertentu.Di dalam ruang kerjanya yang remang, Ragan menyandarkan tubuhnya pada kursi kulit. Jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu mahogany dengan ritme yang lambat dan berat. Asap rokok menyesaki udara di sekitarnya, merefleksikan pikiran yang sama pekatnya.Ia tahu berita itu. Ia tahu kecelakaan tragis yang hampir merenggut nyawa Shaluna. Dan ia juga tahu, bayi dalam kandungan wanita itu tak cukup kuat untuk bertahan hidup di dunia.Ada rasa iba dan kesedihan tipis yang menyusup di sudut hatinya saat membayangkan keadaan Shaluna. Wanita itu tidak berhak mengalami penderitaan sehebat ini. Namun, di atas segala ras







