LOGINCahaya dari lampu meja bercahaya temaram, memantulkan bayangan samar sosok pria itu yang duduk dalam diam di balik meja kerjanya. Di hadapannya, kotak beludru hitam berisi cincin berlian kustom yang tadi sore ia bawa dari pemakaman masih tergeletak bisu. Di sebelahnya, kelopak-kelopak bunga peoni putih yang sempat teremas di jarinya mulai melayu, menyebarkan aroma samar yang ironis.Julian memandangi kotak perhiasan itu tanpa kedipan. Senyum lepas Shaluna saat diputar dalam pelukan Keiran, cara wanita itu membalas ciuman Keiran di bawah sisa gerimis, dan binar kepasrahan yang tak pernah ia dapatkan. Semua rekaman visual itu terus berputar berulang-ulang di kepalanya bagai kaset rusak.Selama ini, Julian berusaha menjadi pria yang bermartabat. Ia meredam seluruh kepahitan masa lalunya sebagai anak yang tak diakui, menahan diri untuk tidak menghancurkan Dion secara brutal, dan memilih membangun nama besarnya sendiri secara bersih. Semua itu ia lakukan semata-mata agar ia memiliki te
Mobil hitam milik Julian berhenti perlahan di tepi jalan setapak area pemakaman. Di jok penumpang sampingnya, tergeletak seikat bunga peoni putih segar. Bunga favorit Shaluna, serta sebuah kotak beludru hitam kecil berisikan cincin berlian berdesain kustom yang telah ia siapkan dengan penuh perhitungan sejak tiga bulan lalu di London.Julian mengambil kotak beludru itu, menggenggamnya sejenak di dalam telapak tangannya. Bagi Julian, keputusan ini bukan diambil atas dasar impulsif. Ia telah mendampingi Shaluna melewati masa-masa paling kelam, membangun kembali karier seninya dari nol, dan menjadi benteng tak tergoyahkan saat konfrontasi dengan Dion meletus. Ia yakin, momen kepulangan Shaluna kali ini adalah waktu yang tepat untuk membawa hubungan mereka ke jenjang yang resmi.Dengan setelan kemeja rapi dan seikat bunga segar di tangannya, Julian melangkah turun dari mobil. Udara sore pascahujan terasa dingin dan lembap. Suasana pemakaman begitu hening, hanya ada suara tetesan air d
Shaluna tertegun. Pertanyaan lirih Keiran menghantam pertahanan dirinya hingga retak berkeping-keping. Pertahanan yang selama setahun ini ia bangun dengan sangat rapi di negeri orang mendadak runtuh hanya oleh satu usapan lembut di pipinya.Matanya yang semula jernih mendadak memerah. Dinding emosi yang ia tahan mati-matian akhirnya jebol; tangis Shaluna pecah. Air mata yang selama ini ia sembunyikan mengalir deras, menyatu dengan sisa gerimis yang membasahi wajahnya. Dada Shaluna naik turun, napasnya tersengal menahan isolasi rindu yang teramat sangat.Cengkramannya di kemeja Keiran tidak jadi terlepas. Justru jemarinya kembali meremas kain basah itu jauh lebih erat, seolah menyalurkan seluruh rasa sakit, kehilangan, dan kerinduan terpendam yang tak pernah sanggup ia utarakan lewat kata-kata.Keiran membeku melihat Shaluna menangis sejadi-jadinya di depannya. Tanpa ragu lagi, pria itu menarik Shaluna ke dalam pelukannya, merengkuh tubuh wanita itu erat-erat dan menyembunyikan wa
Angin sore berembus pelan menyapu rerumputan hijau di pemakaman bernuansa tenang itu. Langkah kaki Shaluna terhenti beberapa meter dari gundukan tanah berisikan nisan kecil bertuliskan nama Arkaian Ashton Alvareno.Beberapa bulan menetap di Eropa membuat dada Shaluna jauh lebih lapang. Langkahnya yang dulu berat kini terasa ringan. Ia datang membawa seikat bunga daisy putih segar, bunga sederhana yang selalu mengingatkannya pada kepolosan buah hatinya.Namun, di samping nisan kecil itu, seorang pria sudah berdiri lebih dulu.Keiran. Pria itu mengenakan kemeja hitam polos dengan lengan yang tergulung santai, tubuhnya tampak sedikit lebih kurus namun raut wajahnya jauh lebih tenang dan dewasa dibanding terakhir kali mereka bertemu di Singapura. Ia baru saja meletakkan seikat bunga hydrangea biru di atas nisan Arkaian.Saat mendengar gesekan sepatu Shaluna di atas rumput, Keiran menoleh. Tatapan mereka bertemu. Tak ada lagi kemarahan, tak ada panik, dan tak ada lagi ego yang memburu
Sebuah kantor pribadi yang luas di kawasan bisnis Singapura menjadi saksi bisu konfrontasi tertutup antara dua pria yang terikat oleh darah yang tak pernah diakui.Pintu ruangan tertutup rapat. Dion berdiri di dekat jendela besar, mengenakan setelan jas kelabu yang mempertegas dominasi dan kekuasaannya yang tak tersentuh selama puluhan tahun. Di depannya, Julian duduk tenang di balik meja kerjanya. Julian sama sekali tidak bangkit, hanya memandangi pria paruh baya itu dengan sorot mata dingin yang sangat jernih."Saya sudah cukup sabar melihat kamu berkeliaran di sekitar keluarga Dastan," kata Dion, suaranya rendah namun dipenuhi tekanan yang mengintimidasi. "Tapi melangkah sejauh ini, mendekati Shaluna, membawa-bawa nama galeri kamu untuk menyusup ke lingkaran mereka, kamu sudah melewati batas, Julian."Julian menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan ironi. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menopang jemarinya secara santai."Lewati batas yang mana, Tuan Dion?" t
Setelah riuh tepuk tangan standing ovation untuk keputusan berani Shaluna mereda, acara bergeser ke after-party pribadi yang digelar di lounge eksklusif lantai paling atas galeri. Ruangan itu bernuansa hangat dengan dinding kaca raksasa yang memperlihatkan lanskap gemerlap lampu Singapura di bawah langit malam.Puluhan tamu VIP, kurator senior internasional, dan kritikus seni berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil. Shaluna berdiri anggun memegang segelas minuman, melayani obrolan santai dan ucapan selamat dari para tokoh seni dunia yang tak henti-hentinya memuji integritas serta kedalaman karyanya.Dastan berdiri tak jauh dari putrinya, berbincang hangat dengan direktur Galeri Nasional Singapura. Wajah Dastan memancarkan kebahagiaan yang begitu utuh, seorang ayah yang akhirnya melihat putrinya lepas sepenuhnya dari cengkeraman masa lalu dan berdiri tegak sebagai seniman besar yang mandiri.Saat kerumunan tamu perlahan mulai melandai, Julian melangkah mendekati Shaluna. Pria itu me







