Share

146. Kritis

Author: Ivorybeige
last update publish date: 2026-08-30 23:27:18

Keiran keluar dari galeri dengan langkah mantap, menyusuri trotoar Marina Bay yang dingin di bawah naungan pencakar langit.

Di dalam mobil, Shaluna menunggu dengan cemas. Begitu Keiran masuk dan memutar kunci kontak, wanita itu tidak mengajukan pertanyaan apa pun.

Ia bisa membaca ketegangan yang pekat dari raut wajah Keiran. Sebuah sinyal kuat bahwa pembicaraan dengan Julian telah mengubah konflik ini menjadi bentrokan terbuka yang tak lagi mengenal kata kompromi.

​"Kita kembali ke rumah saki
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    167. Ragan

    Dua tahun berlalu sejak Pengadilan Negeri melegalkan ketukan palu perceraian itu. Ragan memilih mengasingkan diri ke Melbourne.Kota yang cukup jauh dari jangkauan Tuan Dion dan radar Alvareno untuk merajut kembali sisa-sisa hidupnya yang hancur.​Di Melbourne, jauh dari tekanan patriarki keluarganya dan intrik korporat, Ragan mendedikasikan waktunya untuk menjalani terapi intensif, konseling psikologis, serta program rehabilitasi diri. Ia bertarung hebat dengan konflik internalnya. Berusaha keras menekan dorongan dan kecenderungan seksualnya yang selama ini dianggapnya sebagai sumber kehancuran hidup dan penyebab luka mendalam bagi Shaluna.​Dalam kesendiriannya di kota asing itu, Ragan belajar hidup tanpa topeng. Untuk belajar bertanggung jawab atas masa lalunya dan menjadi manusia yang tidak lagi mengorbankan orang lain demi kenyamanan pribadinya.Di Melbourne, musim dingin terasa lebih menggigit bagi Ragan.​Dari balik jendela lantai dua sebuah kafe sepi di Southbank, ia menatap b

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    166. Konsep

    Kamar utama menyerap seluruh keheningan malam, menyisakan pendar temaram lampu dinding yang membiaskan bayangan mereka di atas langit-langit kayu. Keiran membiarkan berat tubuhnya menopang di sisi tubuh Shaluna, jemari tangannya yang panjang menyusup ke sela-sela helai rambut hitam wanita itu yang terurai bebas di atas bantal linen.​Tidak ada kata-kata kaku atau pertimbangan strategis yang perlu diucapkan lagi. Di dalam ruang pribadi ini, Keiran Alvareno hanyalah seorang pria yang sepenuhnya menyerahkan hidup dan hatinya kepada wanita yang berbaring di bawah naungannya.​"Kamu lelah?" bisik Keiran rendah di dekat pelipis Shaluna. Suaranya serak, sarat akan kehangatan yang melelehkan sisa-sisa ketegangan hari itu.​Shaluna menggeleng pelan. Ia mengulurkan tangannya, menyusuri garis rahang tegas Keiran yang kini terasa begitu familiar di bawah jemarinya. Cincin berlian di jari manisnya bergesekan halus dengan kulit rahang Keiran, menimbulkan sensasi hangat yang menjalar cepat ke seluru

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    165. Restu

    Malam makin larut saat kendaraan mereka akhirnya berbelok memasuki pekarangan rumah tempat mereka menetap. Lampu-lampu taman berpendarkan cahaya keemasan yang lembut, menyambut kepulangan mereka dengan kehangatan yang bersahaja. Suara deru mesin mobil perlahan memudar sebelum akhirnya mati sepenuhnya, menyisakan keheningan malam yang tenang.​Keiran turun lebih dulu, lalu berjalan melintasi bagian depan mobil untuk membukakan pintu bagi Shaluna. Pria itu mengulurkan tangannya yang lebar, disambut oleh jemari Shaluna tanpa ragu. Saat wanita itu melangkah keluar dari kabin, Keiran tidak melepaskan genggamannya. Pria itu justru melingkarkan tangannya di pinggang Shaluna, menarik tubuhnya mendekat hingga tak menyisa jarak di antara mereka.​Di bawah naungan langit malam yang bertabur bintang, Keiran menatap lurus ke dalam iris mata Shaluna. Pendar mata gelap pria itu memancarkan intensitas murni dari seorang pria yang telah menemukan tempatnya berlabuh secara utuh.​"Malam ini terasa be

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    164. Janji Seumur Hidup

    Setelah momen haru di ruang tamu perlahan mereda, Tuan Dastan mengajak Keiran dan Shaluna berpindah ke teras belakang yang asri. Kebun kecil milik Tuan Dastan dipenuhi pepohonan rimbun dan tanaman hias yang terawat rapi, menciptakan suasana sore yang sejuk dan menenangkan. Suara gemericik air dari kolam ikan gurami di sudut halaman menambah kedamaian yang menyelimuti tempat itu.​Tuan Dastan menyeduh kopi hitam khas kegemarannya, sementara Shaluna sibuk memotong beberapa potong kue bolu kukus di dapur untuk disajikan. Di teras, Keiran duduk berhadapan langsung dengan sang calon mertua. Tidak ada lagi atmosfer ujian atau penilaian yang kaku; percakapan di antara kedua pria itu mengalir makin hangat dan penuh keterbukaan.​"Lalu, bagaimana rencana kalian untuk acara pernikahannya nanti?" tanya Tuan Dastan seraya menyesap kopinya perlahan, menatap Keiran dengan raut wajah ingin tahu yang bersahabat.​Keiran meletakkan cangkirnya di meja, menegakkan posisi duduknya dengan sikap penuh ra

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    163. Lamaran

    Pintu kayu jati rumah Tuan Dastan terbuka lebar, memperlihatkan sosok pria paruh baya bertubuh tegap dengan garis wajah tegas yang mirip dengan Shaluna. Tuan Dastan berdiri di ambang pintu, menatap dua sosok di hadapannya dengan pendar mata yang terkejut, namun berangsur-angsur melunak saat melihat betapa eratnya jemari Keiran dan Shaluna saling bertaut.​"Masuk," suara Tuan Dastan bergema hangat namun sarat wibawa, mengisyaratkan mereka untuk melangkah ke dalam ruang tamu berarsitektur klasik yang tenang.​Di dalam ruangan beraroma kayu cendana itu, mereka bertiga duduk mengelilingi meja kayu ukir. Keiran duduk berdampingan dengan Shaluna. Tidak ada ketegangan kaku di bahu Keiran, tidak ada pula aura dingin bertopeng yang biasanya ia kenakan saat berhadapan dengan dunia luar. Yang ada di sana hanyalah seorang pria yang datang dengan niat murni dan rasa hormat yang mendalam.​Tuan Dastan menuangkan teh hangat ke dalam tiga cangkir porselen, lalu meletakkannya di atas meja. Pandangann

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    162. Lamaran

    Pagi di pesisir selatan berganti menjadi siang yang teduh. Angin laut berembus perlahan, membawa aroma garam yang menenangkan ke dalam teras rumah kayu tempat Shaluna sedang membersihkan sisa-sisa cat minyak di jemarinya.​Keiran melangkah keluar dari dalam rumah dengan langkah tenang. Pria itu sudah berganti pakaian—bukan lagi kaus santai yang ia kenakan tadi pagi, melainkan kemeja linen putih berpotongan rapi yang lengannya digulung hingga ke siku. Ada pendar yang berbeda dari raut wajah Keiran hari ini. Tenang, mantap, dan dipenuhi oleh satu keputusan bulat yang tidak bisa diganggu gugat.​Keiran mendekati Shaluna dari belakang, melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu dan menyandarkan dagunya di bahu Shaluna.​"Sudah selesai melukisnya?" bisik Keiran rendah di dekat telinga Shaluna.​Shaluna tersenyum, menyandarkan kepalanya ke samping, menyentuh rahang tegap Keiran. "Sudah. Kenapa? Rapi banget bajunya, mau ke mana?"​Keiran tidak langsung menjawab. Pria itu memutar tubuh S

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status