Share

29. Ragan

Author: Ivorybeige
last update publish date: 2026-07-07 21:13:57

"Kamu pasti capek banget jadi istri yang sempurna," kata Keiran sewaktu mereka pulang bersama lagi.

Kalimat itu terdengar seperti pelukan paling jujur yang pernah Shaluna terima dalam tiga tahun terakhir. Dan yang paling menakutkan adalah ia ingin mendengarnya lagi.

Shaluna diam di dapur beberapa menit setelah Keiran pergi. Ia memegangi pinggiran meja, menggigit bibir, dan mengutuk detak jantungnya yang terlalu keras.

Detak yang tidak pernah ia rasakan bahkan saat bersama Ragan.

Tubuhnya teras
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    114. Ragan After Sex

    Asap rokok membumbung lambat di dalam kamar yang remang-remang, beradu dengan aroma parfum mahal dan keringat yang mulai mendingin. Di atas ranjang bertingkat dengan seprai satin yang kusut masai, keheningan pasca-intimidasi fisik terasa makin menghimpit.​Ragan telentang dengan mata menatap kosong ke langit-langit kamar. Napasnya masih tersengal tipis, berpadu dengan ketegangan yang sama sekali tak menyurut dari otot-otot tubuhnya. Satu tangannya menyepit sebatang rokok yang apinya membara merah di kegelapan.​Di sisinya, Alexander menyandarkan punggung tegapnya pada kepala ranjang. Pria itu menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan jemari yang santai. Tatapannya dingin, tajam, dan penuh dominasi saat memandangi Ragan. Kekasihnya yang selalu tampak rapuh dan kacau tiap kali topik tentang keluarga Alvareno mencuat ke permukaan.​Alexander meraih rokok dari selipan jari Ragan, menyesapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya perlahan ke udara di atas mereka.​"Pikiran kamu masih

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    113. Selesai?

    Shaluna menggenggam botol kaca di dadanya dengan kedua tangan yang bergetar pelan. Suasana kamar mendadak begitu senyap, hanya menyisakan deru napas Keiran yang patah-patah dan gemuruh hujan di luar jendela.​Pertanyaan dingin yang baru saja dilontarkan Shaluna menghantam Keiran persis di ulu hati. Pria tegap itu membeku, lidahnya kelu, dan matanya membelalak dipenuhi rasa sakit yang teramat sangat. Pria arogan yang biasanya memegang kendali atas segalanya itu kini hanya bisa menunduk dalam-dalam di depan kaki Shaluna, menyembunyikan wajahnya yang telah dibasahi air mata.​"Saya—" Suara Keiran tercekat, tenggorokannya terasa tersumbat duri yang tajam. "Saya tidak akan pernah membohongi kamu lagi, Shaluna. Demi Tuhan ... tidak akan pernah lagi."​Shaluna menatap Keiran tanpa kedipan. Tak ada kemarahan yang meluap-luap di matanya, hanya ada kehampaan yang begitu pekat dan keputusasaan yang telah mencapai titik dingin paling dasar.​"Kalau begitu," bisik Shaluna dengan nada datar yang

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    112. Produksi ASI

    Tubuh Shaluna seolah hidup dalam realitas yang berbeda dengan jiwanya. Jiwanya telah membeku dan membisu, memutus seluruh akses komunikasi dengan dunia luar. Namun tubuhnya secara kejam dan alami, masih setia menjalankan perannya sebagai seorang ibu.​Produksi ASI-nya tidak kunjung mereda. Malah, seolah merespons stres emosional dan jeritan batin yang terkunci rapat di dalam dadanya, cairan putih itu mengalir kian deras.​Setiap beberapa jam, kain gaun yang dikenakan Shaluna akan basah di bagian dada. Rasa hangat yang menjalar diikuti nyeri hebat akibat payudara yang mengeras dan membengkak seperti terbakar kembali menghantamnya. Namun Shaluna hanya diam. Ia tidak meringis, tidak mengeluh, dan tidak meminta bantuan siapa pun.​Di dalam kamar yang temaram, suara ritmis mesin pompa ASI kembali berdesung pelan.​Ssst... ssst... ssst...​Shaluna duduk kaku di tepi ranjang. Tangan kirinya yang tak terbalut perban memegangi corong pompa, sementara mata sembapnya menatap kosong pada cairan

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    111. Berkunjung

    Kabar burung itu menyusup halus di antara bisik-bisik kelas atas Jakarta. Meski Dastan sudah mengerahkan seluruh pengaruh dan kekuasaannya untuk membungkam media, nama besar keluarga Calvindra dan reputasi Dastan sebagai pengacara papan atas bukan hal yang mudah dihapus begitu saja. Gosip kecelakaan maut itu tetap berembus liar, menjadi rahasia umum di kalangan tertentu.​Di dalam ruang kerjanya yang remang, Ragan menyandarkan tubuhnya pada kursi kulit. Jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu mahogany dengan ritme yang lambat dan berat. Asap rokok menyesaki udara di sekitarnya, merefleksikan pikiran yang sama pekatnya.​Ia tahu berita itu. Ia tahu kecelakaan tragis yang hampir merenggut nyawa Shaluna. Dan ia juga tahu, bayi dalam kandungan wanita itu tak cukup kuat untuk bertahan hidup di dunia.​Ada rasa iba dan kesedihan tipis yang menyusup di sudut hatinya saat membayangkan keadaan Shaluna. Wanita itu tidak berhak mengalami penderitaan sehebat ini. Namun, di atas segala ras

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    110. Darah dan Luka

    PRANG!​Suara pecahan kaca tebal yang beradu hantam melengking membelah sunyi.​Keiran, yang sejak semalam tak memejamkan mata dan terus bersandar di koridor depan kamar, langsung mendobrak pintu tanpa berpikir panjang. Langkah kakinya mendadak terkunci di ambang pintu, pandangannya membeku saat menangkap pemandangan paling mengerikan di hadapannya.​Cermin besar di meja rias telah hancur berantakan. Kepingan-kepingan kaca tajam bertebaran di lantai marmer, memantulkan bayangan ruangan yang patah-patah. Di tengah kekacauan itu, Shaluna berdiri kaku. Gaun tidur putih yang dikenakannya terangkat sedikit di bagian depan, memperlihatkan garis jahitan pasca-operasi yang masih memerah dan perutnya yang kini tak lagi bulat. Perut hampa yang tak lagi berisi kehidupan.​Matanya yang sembap dan kosong menatap pantulan perutnya sendiri di sisa pecahan cermin. Ia benci bentuk tubuhnya. Ia benci kenyataan bahwa perut itu kini kosong tanpa sempat melihat bayinya ke dunia.​Di tangan kanannya, Shal

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    109. Hancur

    Suara mesin pompa ASI berdesung teratur dalam kamar. Ssst... ssst... ssst... Bunyi ritmis yang dingin itu memecah sunyi malam, bergema bagaikan detak jarum jam yang menghitung setiap detik kepedihan Shaluna.​Shaluna duduk kaku di tepi tempat tidur. Kaos longgar yang dikenakannya terangkat sebagian. Dua botol penampung berbahan kaca transparan menempel di dadanya, perlahan-lahan terisi oleh tetesan cairan putih pekat. Air susu ibu yang mengalir deras, merespons hormon tubuhnya yang menolak sadar bahwa bayi yang seharusnya meneguk cairan kehidupan itu tak pernah lagi ada.​Dua minggu di rumah sakit, Keiran selalu ada di sisinya tiap kali dadanya bengkak dan rasanya seperti terbakar. Keiran yang dengan telaten memijat punggungnya, Keiran yang menyapu keringat di pelipisnya, dan Keiran pula yang membawa pergi botol-botol ASI itu sambil tersenyum lembut dan berkata, "Saya simpan di freezer NICU ya, Sayang. Buat persediaan Arkaian kalau paru-parunya sudah makin kuat."​Bohong.​Semuanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status