Se connecterShaluna tertegun. Pertanyaan lirih Keiran menghantam pertahanan dirinya hingga retak berkeping-keping. Pertahanan yang selama setahun ini ia bangun dengan sangat rapi di negeri orang mendadak runtuh hanya oleh satu usapan lembut di pipinya.Matanya yang semula jernih mendadak memerah. Dinding emosi yang ia tahan mati-matian akhirnya jebol; tangis Shaluna pecah. Air mata yang selama ini ia sembunyikan mengalir deras, menyatu dengan sisa gerimis yang membasahi wajahnya. Dada Shaluna naik turun, napasnya tersengal menahan isolasi rindu yang teramat sangat.Cengkramannya di kemeja Keiran tidak jadi terlepas. Justru jemarinya kembali meremas kain basah itu jauh lebih erat, seolah menyalurkan seluruh rasa sakit, kehilangan, dan kerinduan terpendam yang tak pernah sanggup ia utarakan lewat kata-kata.Keiran membeku melihat Shaluna menangis sejadi-jadinya di depannya. Tanpa ragu lagi, pria itu menarik Shaluna ke dalam pelukannya, merengkuh tubuh wanita itu erat-erat dan menyembunyikan wa
Angin sore berembus pelan menyapu rerumputan hijau di pemakaman bernuansa tenang itu. Langkah kaki Shaluna terhenti beberapa meter dari gundukan tanah berisikan nisan kecil bertuliskan nama Arkaian Ashton Alvareno.Beberapa bulan menetap di Eropa membuat dada Shaluna jauh lebih lapang. Langkahnya yang dulu berat kini terasa ringan. Ia datang membawa seikat bunga daisy putih segar, bunga sederhana yang selalu mengingatkannya pada kepolosan buah hatinya.Namun, di samping nisan kecil itu, seorang pria sudah berdiri lebih dulu.Keiran. Pria itu mengenakan kemeja hitam polos dengan lengan yang tergulung santai, tubuhnya tampak sedikit lebih kurus namun raut wajahnya jauh lebih tenang dan dewasa dibanding terakhir kali mereka bertemu di Singapura. Ia baru saja meletakkan seikat bunga hydrangea biru di atas nisan Arkaian.Saat mendengar gesekan sepatu Shaluna di atas rumput, Keiran menoleh. Tatapan mereka bertemu. Tak ada lagi kemarahan, tak ada panik, dan tak ada lagi ego yang memburu
Sebuah kantor pribadi yang luas di kawasan bisnis Singapura menjadi saksi bisu konfrontasi tertutup antara dua pria yang terikat oleh darah yang tak pernah diakui.Pintu ruangan tertutup rapat. Dion berdiri di dekat jendela besar, mengenakan setelan jas kelabu yang mempertegas dominasi dan kekuasaannya yang tak tersentuh selama puluhan tahun. Di depannya, Julian duduk tenang di balik meja kerjanya. Julian sama sekali tidak bangkit, hanya memandangi pria paruh baya itu dengan sorot mata dingin yang sangat jernih."Saya sudah cukup sabar melihat kamu berkeliaran di sekitar keluarga Dastan," kata Dion, suaranya rendah namun dipenuhi tekanan yang mengintimidasi. "Tapi melangkah sejauh ini, mendekati Shaluna, membawa-bawa nama galeri kamu untuk menyusup ke lingkaran mereka, kamu sudah melewati batas, Julian."Julian menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan ironi. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menopang jemarinya secara santai."Lewati batas yang mana, Tuan Dion?" t
Setelah riuh tepuk tangan standing ovation untuk keputusan berani Shaluna mereda, acara bergeser ke after-party pribadi yang digelar di lounge eksklusif lantai paling atas galeri. Ruangan itu bernuansa hangat dengan dinding kaca raksasa yang memperlihatkan lanskap gemerlap lampu Singapura di bawah langit malam.Puluhan tamu VIP, kurator senior internasional, dan kritikus seni berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil. Shaluna berdiri anggun memegang segelas minuman, melayani obrolan santai dan ucapan selamat dari para tokoh seni dunia yang tak henti-hentinya memuji integritas serta kedalaman karyanya.Dastan berdiri tak jauh dari putrinya, berbincang hangat dengan direktur Galeri Nasional Singapura. Wajah Dastan memancarkan kebahagiaan yang begitu utuh, seorang ayah yang akhirnya melihat putrinya lepas sepenuhnya dari cengkeraman masa lalu dan berdiri tegak sebagai seniman besar yang mandiri.Saat kerumunan tamu perlahan mulai melandai, Julian melangkah mendekati Shaluna. Pria itu me
Malam puncak lelang karya seni internasional itu digelar di Grand Ballroom salah satu hotel bintang lima paling megah di kawasan Marina Bay. Pencahayaan di dalam ruangan dirancang hangat dengan lampu gantung kristal yang megah, memancarkan pendar keemasan di atas jajaran kursi beludru hitam yang telah dipenuhi oleh puluhan kolektor internasional, kurator museum, dan kalangan pengusaha papan atas Asia-Eropa.Empat karya terbaik Shaluna dipajang anggun di panggung utama, mendapat sorotan lampu podium yang presisi. Setiap sapuan warna biru dalam dan guratan emas pada kanvas-kanvasnya tampak seolah hidup, menyedot perhatian siapa pun yang melangkah masuk ke ruangan tersebut.Di barisan depan, Shaluna duduk anggun di antara Dastan dan Julian. Ia mengenakan gaun malam berpotongan simpel berwarna merah marun yang mempertegas kulit bahagianya yang bersih. Raut wajahnya sangat tenang, pancaran kecemasan yang dulu kerap menghantuinya telah sirna sepenuhnya. Di sisinya, Dastan tak henti-hentin
Shaluna yang baru saja hendak mematikan lampu nakas mendongak. Ia menatap Keiran yang kini berdiri di ambang pintu kamarnya dengan kemeja kusut, mata merah, dan raut wajah yang penuh keputusasaan."Keiran, aku kan udah bilang kamu tidur di sofa luar," kata Shaluna santai, suaranya tetap tenang tanpa nada membentak.Keiran tidak mendengarkan. Pria itu justru melangkah masuk dengan cepat, seolah takut jika ia berhenti bergerak sedikit saja, Shaluna akan benar-benar menguncinya di luar. Pria itu langsung berlutut di samping tempat tidur Shaluna, menyejajarkan posisinya lalu menggenggam kedua tangan Shaluna erat-erat sampai jemarinya dingin memucat."Tolong, Shaluna ... sekali ini aja, kasih saya kesempatan buat perbaiki semuanya," mohon Keiran dengan suara yang sangat parau dan bergetar hebat. "Saya bisa tinggalkan Jakarta, saya bisa ikut kamu menetap di Singapura atau ke mana pun kamu mau. Asal jangan buang saya seperti ini. Saya gak bisa hidup tanpa kamu."Keiran mencoba memajuka







