LOGINData Jocelyn adalah yang paling banyak.Dia memberikan terlalu banyak informasi kepada Britani Farma. Hanya dari dokumen teks saja, sudah puluhan halaman yang padat.Selain itu, ada pula sejumlah bukti berupa gambar dan video, dikemas menjadi satu paket dengan ukuran penuh dua GB. Itu pun sudah dalam keadaan terkompres.Setelah semuanya dirapikan, langit sudah mulai tampak terang. Ryan begadang semalaman, ditambah lagi sebelumnya bertarung sengit dengan Laila di dalam mobil selama lebih dari sejam. Tubuhnya kini sangat lelah sehingga dia langsung terlelap.Pukul 9 pagi, di kantor ketua dewan EPS Group.Juno sedang berdiskusi dengan seorang pemegang saham perempuan bernama Della mengenai rencana selanjutnya terkait "kompetisi besar farmasi".Kompetisi besar farmasi adalah ajang adu kemampuan perusahaan obat dalam riset dan pengembangan obat baru. Setiap tahun memang selalu ada, tetapi skalanya kecil. Skala tahun ini belum pernah terjadi sebelumnya.Tahun ini, Jerova bekerja sama dengan
"Halo, Kak Laila, sudah beres?" tanya Salman dengan tergesa-gesa.Laila tidak menjawab langsung, malah bertanya balik, "Salman, sebelumnya kamu bilang Ryan telah mencelakakan anakmu. Sekarang, kamu masih berani mengatakan hal yang sama padaku?"Salman menelan ludah, lalu berkata dengan gemetar, "Kak Laila, maksudmu apa? Mana mungkin aku berani membohongimu?"Laila mendengus dingin dan berkata, "Tadi Ryan pergi ke Resor Greenlux di Gunung Umara. Dalam perjalanan pulang, aku menyuruh orang mengadangnya.""Terus, sudah kamu habisi?" tanya Salman dengan girang."Nggak! Aku membiarkannya pergi!" timpal Laila dengan nada datar. "Dia baru saja keluar dari mobilku."Saat mengatakan itu, Laila tiba-tiba teringat sosok Ryan yang gesit dan kuat. Nada bicaranya tanpa sadar mengandung sedikit ketakjuban."Kamu membiarkannya pergi?" Salman terkejut dan berteriak, "Kok bisa?!"Alis Laila berkerut. Dia bertanya dengan dingin, "Kamu tahu kamu lagi bicara dengan siapa?"Salman tersentak. Barusan nadanya
"Benaran bukan aku!" kata Ryan. "Marvin dipukuli habis-habisan oleh seorang wanita dari Negara Javan, lalu diusir dari Resor Greenlux. Setelah itu, dia sendiri celaka di gunung.""Tapi Salman bilang padaku, kalau bukan karena kamu, anaknya nggak akan sampai pada titik ini! Katanya kamu dan anaknya punya dendam yang sangat dalam!" ujar Laila. "Jadi, apa kamu yang mengatur pemukulan Marvin oleh wanita Negara Javan itu?"Ryan mengerutkan kening dan berkata, "Masalah ini sama sekali nggak ada hubungannya denganku. Marvin dipilih oleh wanita Negara Javan, digoda ke resor untuk transaksi kekuasaan dan seks. Tapi wanita Negara Javan itu kemudian tahu kalau Marvin sudah diskors dan nggak punya nilai apa pun. Merasa usahanya sia-sia, dia marah, lalu menyuruh orang memukulinya."Ryan menunjuk ke arah mobilnya di belakang. "Kalau kamu nggak percaya, di mobilku ada laptop milik rekan wanita Negara Javan itu. Di dalamnya ada rencana rinci mereka terhadap Marvin, juga ada rekaman CCTV Marvin bermesr
"Apa yang mau kamu lakukan?" Laila sangat terkejut.Meskipun bertanya demikian, sebenarnya dia juga tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Hanya saja, saat ini dia sama sekali tidak merasa panik atau menolak seperti yang dibayangkan sebelumnya. Bahkan dirinya sendiri pun terkejut.Sementara itu, Ryan terengah-engah seperti binatang buas, tidak berkata apa-apa, hanya tubuhnya yang semakin mendekat."Kamu ...." Suara Laila bergetar saat bertanya, "Apa harus sampai seperti ini?"Ryan tetap tidak menjawab.Saat ini, sopir di luar mobil mulai pulih. Dia membuka pintu pengemudi, masuk ke mobil, memegang pisau tajam sambil menusuk ke arah Ryan. "Lepaskan Kak Laila!"Ryan dengan cekatan menangkap pergelangan tangannya, memutarnya, dan pisau itu langsung terjatuh ke lantai.Kemudian, Ryan mengambil pisau tersebut. Tatapannya sedingin dewa kematian dan ujung pisau diarahkan ke sopir itu."Jangan melawan lagi!" Laila tiba-tiba berkata dengan dingin.Namun, melihat gaun Laila di dalam mobil sudah
Saat ini, Ryan teringat kembali penyiksaan yang dialami Milea, lalu teringat pula dirinya sendiri yang ditahan, terkurung di balik jeruji besi selama satu minggu penuh. Itu adalah pertama kalinya dalam hidupnya dia ditahan secara pidana. Semua itu disebabkan oleh Laila.Kemarahan Ryan terhadap Laila terus meningkat, bahkan dia mulai agak sulit mengendalikan amarahnya sendiri. Jika benar-benar kehilangan akal sehat, akibatnya tak terbayangkan.Menatap perempuan cantik di hadapannya, Ryan terus mengingatkan dirinya sendiri, 'Kamu hanya mengaktifkan titik-titik akupunktur hingga akalmu menjadi nggak jernih, tapi kamu bukan orang gila. Jangan sekali-kali punya pikiran untuk membunuh, itu hukuman mati!'Di dalam hatinya, Ryan menenangkan diri berulang kali. Namun, di dadanya seakan-akan ada segumpal api yang terpendam, tak bisa diluapkan, luar biasa menyiksa.Pada saat ini, melihat Ryan tertegun, Laila tiba-tiba mengerahkan tenaga untuk melepaskan diri. Dia mengayunkan kaki ke belakang ke a
Melihat situasi tidak menguntungkan, Laila segera menarik diri, hendak masuk kembali ke mobil. Namun, Ryan melangkah maju dengan cepat dan langsung menarik pintu mobil itu."Kak Laila!"Sopir itu menerjang maju untuk melindunginya. Ryan pun menendang perutnya. Rasa sakit langsung menjalar ke seluruh tubuh. Sopir itu menjerit kesakitan dan berlutut di tanah.Tadi saat berlari di hutan pegunungan, Ryan sudah mengaktifkan titik-titik akupunkturnya dan mengaktifkan Turunnya Sang Dewa. Dalam kondisi ini, kekuatan tendangannya jauh melampaui orang biasa.Sopir itu mencoba bangkit, tetapi perutnya terasa seperti ditusuk jarum. Dia berlutut di tanah, sama sekali tak mampu berdiri.Laila juga orang yang sudah sering melihat situasi besar. Dia memanfaatkan kesempatan untuk mundur ke dalam mobil, meraih pistol yang disembunyikan di kursi belakang, membuka pengaman, dan bersiap menembak Ryan.Namun, Ryan mana mungkin memberinya kesempatan. Dia mencengkeram pergelangan tangan Laila dan memutarnya.







