Share

Bab 9

Author: Felix Harrington
Ryan merasakan sensasi dingin dan licin di antara kedua kakinya, tubuhnya refleks bergetar.

"Eh, kalian berdua kok cepat banget keluar dari kamar? Nggak terlalu cepat tuh?" Laura yang sudah heboh sejak tadi, akhirnya melihat Ryan dan Ivy. Dia langsung menyeringai nakal. "Anak Muda, apa kamu tadi terlalu bersemangat? Nggak bisa tahan ya?"

Semua orang mengira Ryan dan Ivy baru saja ke kamar untuk urusan pribadi.

"Jangan sembarangan!" Ivy melirik Laura sekilas. "Kalau mau main, kamu saja yang main."

"Cih, aku kan cuma mikirin kebahagiaanmu!" Laura mendengus, lalu kembali lagi bersenang-senang dengan yang lain.

Malam itu, Ivy tampak sangat berbeda. Biasanya dia tidak kalah heboh dibanding sahabatnya, tetapi kali ini dia hanya duduk di sudut, dengan tenang menemani Ryan minum dan mengobrol.

Sampai larut malam, setelah pesta selesai, Ryan mengantar Ivy pulang ke vila. Ivy terlihat begitu gembira malam itu. Dia minum terlalu banyak, jadi sekarang sudah mabuk berat. Tubuhnya limbung, bicara pun sudah tidak jelas, sampai berjalan harus dipapah Ryan.

Ryan menuntun Ivy ke sofa. Dia melepaskan sepatunya, jaketnya, lalu menuangkan segelas air. "Kak Ivy, minum air dulu ya," ucap Ryan dengan pelan.

Ivy bersandar malas di sofa. Matanya setengah terpejam, tatapannya linglung tetapi penuh pesona. "Ry ... an ...."

Dia bergumam, beberapa helai rambut jatuh menempel di bibir merah menyala. Tali gaun tipis yang basah karena alkohol tergelincir dari bahunya, menampakkan kulit putih yang mulus. Roknya melilit kaki jenjangnya, membuatnya terlihat begitu menggoda.

Saat ini, Ivy tampak seperti mawar malam yang mabuk anggur, menunggu seseorang yang berani memetiknya.

"Kak Ivy, aku di sini." Ryan buru-buru mengangkat gelas, berniat membantunya minum sedikit air agar merasa lebih baik.

"Ry ... an ...." Tiba-tiba, Ivy meraih Ryan dan mencengkeram kerah bajunya. Gelas seketika terjatuh dan air tumpah ke baju Ivy. Kain tipis yang tadinya sudah nyaris transparan kini semakin basah, menempel ketat di kulitnya.

Ryan maju karena tarikan Ivy dan tanpa sengaja tubuhnya jatuh menimpa tubuh Ivy. Kelembutan langsung menyelimuti, membuat Ryan seperti kesetrum.

Dia tahu "penyakit" Ivy sedang kambuh. Ivy mabuk, sementara tubuhnya resah, penuh gairah tak terkendali.

Saat itu, ponsel Ivy yang berada di meja berdering. Ryan yang masih berada di atas tubuh Ivy buru-buru meraih ponsel. Peneleponnya adalah Peter, anak Ivy.

Seketika, wajah menyebalkan Peter yang suka mengejeknya muncul di benaknya. Saat itu juga, pikiran jahat melintas di kepala Ryan. Namun, dia cepat-cepat menggeleng, mengusir pikiran itu jauh-jauh.

"Kak Ivy, ada yang telepon." Ryan duduk tegak sambil memanggil Ivy.

Namun, Ivy terlalu mabuk untuk menjawab. Ryan memanggil beberapa kali, lalu menyerah. Dia pun tidak mengangkat telepon itu, hanya meletakkannya di sisi Ivy.

Sepertinya malam ini Ivy tidak mungkin bangun. Namun, bajunya masih basah. Jika dibiarkan begini, bisa masuk angin.

Ryan melihat sekeliling dan menemukan selimut di dekat sofa. Dia pun mengambilnya, lalu menutup tubuh Ivy dengan lembut.

Baru saja berdiri untuk pergi, ponsel Ivy kembali berdering. Masih dari Peter. Ryan merasa kesal. Dia menggertakkan gigi, lalu mengangkat telepon. "Peter, Kak Ivy minum terlalu banyak. Dia nggak bisa angkat telepon. Besok saja kamu hubungi lagi!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 593

    "Bos, aku nggak bisa minum alkohol," kata Vania dengan suara pelan dan gugup."Datang ke tempat begini tapi bilang nggak bisa minum? Siapa yang percaya?""Sial, mau jual diri tapi masih pura-pura suci. Mau cari uang tapi nggak mau nurut!""Lepas dulu bajunya. Pakai setebal itu mau ditunjukkan ke siapa?"....Di bawah pengaruh alkohol, sekelompok pria itu meluapkan hasrat primitif mereka. Satu orang berteriak, yang lain ikut menyahut. Seolah memaksa orang yang tidak mau menjadi seperti mereka adalah sesuatu yang memberi kepuasan.Sisi gelap manusia yang larut dalam hawa nafsu.Kotor dan menjijikkan."Aku nggak mau tipnya. Aku akan memainkan satu lagu lagi untuk semua orang. Semoga kalian menyukainya."Vania tidak berani menatap para pria yang brutal itu. Dia menggerakkan akordeonnya dan mulai menyanyikan lagu rakyat yang paling dia kuasai."Lalala ...."Suara nyanyian kembali terdengar. Vania mengangkat kepalanya dengan tinggi, menggunakan sikap anggun untuk menutupi kegelisahan di dala

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 592

    "Bu Vania?"Ryan tiba-tiba teringat. Saat di kampung halamannya di Provinsi Jeria, Quinn pernah mengatakan kepadanya bahwa Vania sudah berhenti mengajar dan sekarang bekerja di dunia hiburan malam di Kota Shein.Ternyata memang benar.Ryan kembali teringat masa SMA, sosok yang dulu selalu terbayang di pikirannya.Saat itu, Vania memang pandai bernyanyi dan menari. Dia sering memeriahkan suasana saat pertemuan kelas dengan bernyanyi untuk semua orang.Sejak dulu Ryan sudah tahu, Vania sebenarnya tidak suka menjadi guru. Dia mencintai musik. Namun sebagai ibu tunggal, dia terpaksa menyingkirkan bakat dan kecintaannya demi kehidupan. Sekarang, akhirnya dia bisa menjalani apa yang diinginkannya.Memikirkan hal itu, Ryan malah merasa ikut senang untuknya.Saat ini di atas panggung, Vania mengenakan gaun putih panjang. Cahaya lampu kristal berwarna keemasan menyinari tubuhnya yang anggun. Lekuk tubuhnya yang indah tampak jelas di balik gaun yang pas di badan.Para penonton yang berada dekat

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 591

    Ryan tersenyum. "Acara seperti itu aku nggak ikutan. Kamu bawa saja aku ke tempat yang bisa duduk minum dan ngobrol."Kenny mengernyit. "Kak, aku malam-malam bawa kamu ke tempat seperti ini, masa cuma minum dan ngobrol? Nggak seru banget."Ryan hanya tersenyum tipis tanpa menjawab.Kenny tahu sifat Ryan. Dalam hati dia berpikir, 'Minum dulu saja. Nanti kalau suasananya sudah naik, baru aku beri kejutan besar.'Saat itu, Ryan tiba-tiba melihat sosok yang terasa tidak asing melintas di samping. Seorang gadis yang sangat cantik, dengan seorang pria muda berjalan di sampingnya. Ryan memutar ingatan di kepalanya, lalu akhirnya teringat siapa gadis itu.Merly, putri Salwa.Sebulan lalu, Salwa pernah membawa Merly ke rumah sakit untuk bertemu dengannya.Wajahnya yang halus, tubuhnya yang proporsional, serta aura bangsawan yang alami membuat Ryan memiliki kesan mendalam terhadapnya.'Dia juga datang ke tempat seperti ini?' pikir Ryan dalam hati.Tak lama kemudian, setelah membeli tiket masuk,

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 590

    Dalam sekejap, lebih dari satu bulan berlalu dengan cepat. Ryan sudah pulih dan keluar dari rumah sakit. Seharusnya dengan luka tembak separah itu, butuh waktu beberapa bulan untuk benar-benar pulih.Namun, Ryan mendapat bantuan dari ramuan Kitab Arghana. Setiap hari ayahnya merebuskan obat untuknya dan hasilnya sangat signifikan.Setelah lebih dari satu bulan, kondisinya sudah pulih sekitar 80%.Namun karena luka yang dideritanya cukup parah, pihak EPS Group untuk sementara memintanya beristirahat di rumah selama satu minggu dengan tetap menerima gaji. Selama masa itu, dia juga boleh sesekali bekerja dari rumah untuk menyesuaikan ritme dan setelah satu minggu baru kembali bekerja secara resmi.Ryan merasa hal itu sebenarnya tidak terlalu perlu, tetapi karena perusahaan memberikan fasilitas tersebut, dia pun menerimanya dengan senang hati.Hanya saja, terlalu lama di rumah terasa agak membosankan.Malam itu, Ryan sedang duduk di sofa menonton televisi ketika Kenny tiba-tiba datang berk

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 589

    Salwa mengerutkan kening. "Jangan sebut Darshen lagi. Aku nggak pernah menyetujui dia menjadi direktur utama."Merly menggigit bibirnya dengan erat. "Kak Darshen jelas-jelas sangat hebat. Ibu saja yang nggak suka dia. Ibu malah memaksaku belajar dari Ryan itu. Memangnya dia siapa?""Diam!" Salwa menatap Merly dengan dingin. "Selama bertahun-tahun di dunia bisnis, hal yang paling kubanggakan adalah kemampuanku menilai orang. Darshen itu bukan orang baik. Sebaiknya kamu putuskan hubungan dengannya. Aku ingin kamu lebih banyak belajar dari Ryan. Kalau bisa, sekalian bangun perasaan. Dia adalah aset potensial yang sangat besar.""Ibu!" Merly panik. "Apa salah Kak Darshen? Dia lulusan doktor luar negeri, punya kemampuan, punya rasa tanggung jawab, dan juga baik hati ....""Cukup! Kamu sudah dicuci otak sama dia!" teriak Salwa, dadanya naik turun karena marah. Akan tetapi, putrinya baru kembali ke tanah air. Jadi, dia juga tidak ingin bersikap terlalu keras terhadap Merly. "Merly, dengarkan

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 588

    Untuk sesaat, Ryan merasa otaknya tidak bisa memproses. 'Perusahaan bernilai ratusan miliar diberikan kepadaku?'Namun setelah tenang, semakin dipikirkan semakin terasa ada yang tidak beres.'Oriental Farma adalah anak perusahaan Waterfall Group. Dia bilang mau memberikannya kepadaku, tapi bagaimana caranya? Apa maksudnya aku disuruh menjadi direktur di sana? Bukankah itu berarti aku tetap bekerja untuk Salwa?'Salwa menangkap keraguan Ryan dan berkata, "Oriental Farma akan aku pisahkan secara mandiri, lalu dialihkan sepenuhnya atas namamu. Perusahaan itu akan benar-benar menjadi milikmu dan nggak ada lagi hubungan apa pun dengan Waterfall Group. Bagaimana?"Ryan benar-benar tertegun.Perusahaan bernilai ratusan miliar diberikan begitu saja? Kenapa rasanya sulit dipercaya?"Kak Salwa, kamu terlalu murah hati. Perusahaan sebesar itu, rasanya aku nggak sanggup menerimanya," kata Ryan dengan halus.Bagaimanapun juga, pengusaha papan atas seperti Salwa tidak mungkin memberikan sesuatu tanp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status