LOGINDetik berikutnya, Ryan muncul di depan tangga, menatap ke arah mereka dengan sorot mata tajam."Ryan!" Saat ini, Bianca terikat di samping akuarium. Riasan wajahnya luntur karena air mata. Dia tampak sangat menyedihkan."Lepaskan Bianca! Urusan di antara kita, kita berdua yang selesaikan!" Suara Ryan terdengar dingin saat dia melangkah mendekati Bianca.Theo mengangkat pistol dan mengarahkannya ke Ryan. "Ryan, kamu nggak benar-benar mengira kamu sudah menang, 'kan?"Ryan berhenti melangkah dan menatap Theo."Jangan!" Bianca berteriak histeris, "Theo, apa pun yang ingin kamu lakukan, lakukan padaku saja. Tolong lepaskan Ryan!"Dengan gigi terkatup, Ryan berkata, "Bianca, hari ini sekalipun aku mati, aku nggak akan membiarkanmu terluka lagi!""Sialan, kamu pikir dirimu pahlawan ya?" Theo menarik pengaman pistol, mengarahkannya ke Ryan sambil berteriak, "Berani maju satu langkah lagi, aku langsung kirim kamu ketemu Raja Neraka!""Kalau aku ketemu Raja Neraka, aku juga akan menarikmu ikut.
"Gila, bocah itu ... ternyata menang?" seru Theo dengan kaget."Ryan terlalu licik," ujar Lutfi dengan wajah serius. "Dia masuk ke hutan. Orang-orang kita jadi nggak bisa bergerak leluasa. Ditambah pandangan yang buruk, pasti sesama orang kita saling melukai, lalu dia memanfaatkan celah itu.""Sudah kubilang, orang ini nggak gampang dihadapi. Kalau nggak, mana mungkin aku, pembunuh bintang lima ini, bisa gagal?" kata Steven."Diam!" Theo dan Lutfi berteriak bersamaan."Kak Theo, semua anak buah kita sudah kalah. Tinggal aku yang harus turun tangan sendiri." Dalam pandangan Lutfi, meskipun Ryan punya sedikit kemampuan, sekarang tubuhnya penuh luka dan sudah bertarung begitu lama. Daya tempurnya pasti menurun drastis dan akan mudah dibereskan.Namun, di hati Theo, timbul firasat tidak enak. Dia berkata kepada Steven, "Kamu dan Lutfi turun tangan bersama, habisi Ryan.""Kenapa aku juga harus turun tangan?" kata Steven."Kenapa?" Theo berkata dengan dingin sambil mencabut pistol dan mengar
Kepungan itu bagaikan badai. Ryan seperti kapal rusak yang terombang-ambing, susah payah menghindari kilatan pisau."Ryan!" Dari layar, Bianca melihat sosok pria yang mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan dirinya. Air matanya tak terbendung. Hatinya tersentuh hingga dia menangis tersedu-sedu.Saat itu, seseorang mengayunkan parang lurus ke arah tenggorokan Ryan. Ryan tiba-tiba memiringkan kepala. Ujung pisau menancap dalam ke batang pohon, membuat serpihan kayu beterbangan.Dia memanfaatkan kesempatan itu untuk menghantam tulang hidung lawan dengan sikunya, merebut parang, lalu berguling ke belakang dan masuk ke hutan lebat di samping."Kejar dia!" teriak algojo yang memimpin.Ryan menebas ranting-ranting yang menghalangi, berkelit di antara pepohonan."Bocah ini benar-benar berani." Lutfi menghela napas dengan emosional."Tentu saja. Kalau nggak, mana mungkin aku, pembunuh bintang lima, bisa gagal di tangannya?" balas Steven."Mau seberani apa pun juga percuma. Sekarang dia sudah
Pukul 8 malam, Ryan tiba di lokasi yang telah ditentukan. Tak lama kemudian, sebuah mobil van bisnis berwarna hitam berhenti di samping Ryan. Pintu geser elektrik terbuka. Orang di dalam melambaikan tangan ke arahnya. "Naik."Ryan tidak ragu sedikit pun dan langsung naik ke mobil.Setelah itu, orang-orang di dalam mobil memeriksa apakah Ryan membawa senjata, sementara mobil melaju kencang memasuki Gunung Umara dan tiba di sebuah vila perkebunan.Perkebunan itu tidak besar, luas keseluruhannya sekitar 1.000 meter persegi. Perkebunan dibangun di lereng gunung, jalanan menanjak ke atas, dikelilingi bebatuan dan pepohonan. Di titik tertinggi berdiri sebuah vila putih empat lantai, tampak kuno dan kokoh seperti sebuah kastel.Ketika tiba di sebuah tanah lapang di depan, mobil tidak bisa melanjutkan perjalanan. Di depan terdapat deretan anak tangga batu dan vila itu berada di ujung tangga tersebut."Ryan, nyalimu benar-benar besar! Kamu benar-benar berani datang ke tempatku sendirian tanpa s
Ryan tiba-tiba merasakan nyeri menusuk di hatinya. "Kak, jangan panik dulu. Aku akan langsung ke tempat tinggalnya untuk cari dia. Mungkin dia cuma ngambek.""Ryan, aku benar-benar menyesal sekarang ....""Kak, jangan menyalahkan diri sendiri." Ryan menghela napas. "Aku akan segera menemukannya.""Baiklah."....Ryan pulang kerja lebih awal dan langsung menuju tempat tinggal Bianca. Tidak peduli seberapa keras dia mengetuk pintu, tidak ada yang membukakan. Ryan takut sesuatu terjadi padanya, jadi memanggil tukang kunci dan memaksa membuka pintu dari luar.Namun, Bianca sama sekali tidak ada di rumah. Yang aneh, semua barangnya masih ada, bahkan tas ransel yang biasa dia bawa pun masih berada di dalam rumah."Barang-barangnya ada semua, lalu ke mana orangnya pergi?"Ryan kemudian menelepon teman Bianca, Villy. Villy mengatakan bahwa beberapa hari ini mereka tidak saling menghubungi dan dia tidak tahu Bianca pergi ke mana. Dia mencoba menelepon Bianca dan mendapati ponselnya dalam keadaa
Feliska ini bukan direktur HR, melainkan kakak Bianca.Ryan berpamitan dengan Laila, lalu mengangkat telepon dari Feliska. "Halo, Kak, ada apa?"Nada suara Feliska terdengar agak cemas. "Ryan, kamu lihat Bianca?""Bianca?" Ryan bertanya balik. "Dia di kantor kok.""Syukurlah!" kata Feliska. "Tolong kamu ke tempatnya ya. Biar aku bisa bicara beberapa kata dengannya. Ponselnya nggak bisa dihubungi sama sekali."Ryan merasa ada yang janggal, lalu bertanya, "Kenapa nggak bisa dihubungi?"Feliska berkata dengan cemas, "Kami sempat bertengkar sedikit. Nanti aku ceritakan. Sekarang kami sekeluarga nggak bisa menghubunginya. Kami semua panik. Tolong bantu aku dulu ya?""Nggak masalah, aku akan ke tempatnya sekarang." Ryan bangkit, menuju divisi administrasi, lalu mendorong pintu dan masuk.Yang duduk paling dekat dengan pintu divisi administrasi adalah Alisha. Begitu mengangkat kepala dan melihat Ryan, dia berseru, "Ryan? Eh, Pak Ryan!"Kantor yang tadinya agak berisik langsung menjadi sunyi.







