LOGINSaat kembali dari luar kota setelah diberi libur seminggu, Azkara, seorang kuli bangunan muda, mendapati istrinya Shafira, menghilang, rumahnya yang bobrok dipasangi banner "dijual cepat" dan tabungan umroh mereka hilang dibawa istrinya itu. menurut desas-desus Shafira kabur bersama pria lain yang diduga bernama Angga, yang belakangan diketahui sepupu Satria, sahabat Azkara, membawa tabungan umroh mereka dan menggadaikan sertifikat rumahnya. Bagaimana Azkara membalas perbuatan Shafira dan orang-orang yang mengkhianatinya?
View MoreSatria duduk di meja kerja di kantornya dengan wajah muram. Ucapan sang calon istri terngiang di benaknya. Begitu membekas dan meninggalkan luka tersayat di hatinya. Kata-kata wanita yang selalu berpenampilan modis dan anggun itu selalu saja membuat harga dirinya terjun bebas hingga ke dasar tak bertepi. "Kamu harusnya sadar diri, bisa kaya gini sekarang karena aku, jadi kalo macem-macem... tunggu aja akibatnya! " Wajah Satria yang sudah gelap jadi semakin gelap mengingat kata-kata itu. Selalu saja seperti itu. Bukannya wanita sombong itu tergila-gila padanya. Terus kenapa s3lalu menekannya seperti ini. Tatiana Gustav, putri tinggal pemilik CV. Bintang Abadi, matrial yang lumayan besar di Bandung itu dulu mengejarnya saat masih kuliah. Melihat usaha kecil pengisian air mineral isi ulang milik orang tuanya yang kecil-kecilan, tentu saja Satria merasa seperti ketiban durian runtuh. Saat di semester akhir ia sengaja mencari kesempatan untuk terlihat hebat dimata wanita itu. Taria
Azkara manggut-manggut setuju. "Siap lah!" pekiknya semangat Jovan langsung menyodorkan telapak tangannya mengajak tos. Widiyanto tersenyum senang karena tugasnya berkurang. Ada orang lain yang bakal dikerjain si bos sekarang. Semoga gajiku dan bonusnya ga berkurang, do'anya tulus buat diri sendiri. "Kapan lo bila mulai kerja? besok? minggu depan?" kejar Jovan tak sabar Azkara termenung beberapa saat. Mempertimbangkan banyak hal, termasuk renovasi rumahnya yang akan dimulai besok. Pekerjaannya di proyek, ia sempat berpikir akan meninggalkannya saja. Mungkin harus ke proyek dulu mengambil gaji terakhirnya. "Bulan depan apa kamu nggak keberatan? Aku masih harus ke proyek ngambil gaji terakhir sama benerin rumahku yang udah nggak layak huni." Jovan manggut-manggut mencoba memahami situasi sahabatnya itu. "Oke, awal bulan depan lo harus udah mulai bertugas di divisi desain dan perencanaan. Sebagai salah satu asisten desainer. Jangan lupa untuk mendaftar kuliah jurusan des
"Selamat pagi, Pak Azkara, perkenalkan, saya widyanto, asisten pribadi Pak Jovan," pria muda itu mengulurkan tangan sambil tersenyum ramah "Eh, iya, saya Azkara," Azkara gugup menyambut ukuran tangannya dengan ragu, merasa bingung memilih menyalaminya atau menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada seperti bersalaman dengan yang buka marham. Ini karena karena ia tak pernah bersalaman akrab dengan orang-orang dari kalangan berada. Azkara merasa minder sendiri. "Silahkan masuk, Pak, Pak Jovan sudah menunggu." Widiyanto membuka pintu lebar-lebar mempersilahkan Azkara masuk ke ruang megah. Azkara tertegun di depan pintu. Begitu pintu terbula lebar, ia dapat melihat sebuah ruangan CEO yang mewah dengan perabotan berkelas. Tata letak perabotan dan desain interiornya menunjukkan jiwa seni yang tinggi. Di belakang meja kantor berukuran besar dengan setumpuk dokumen dan laptop serta tulisan CEO bertengger di atasnya, duduk seorang pemuda seusianya yang hampir tak dikenaliny
Azkara menatap bangunan berlantai 18 di hadapannya takjub. Kekaguman terhadap sosok sang sahabat, Jovan tak dapat disembunyikan dari ekspresinya. Ia tak percaya akan menjadi bagian dari perusahaan yang sedang berkembang ini. PT. MAZ grup, nama yang dipakai Jovan merupakan gabungan nama mereka berdua, Jovan Mahendra dan Azkara, M dari Mahendra dan Az dari Azkara. Azkara mengamati orang-orang yang berlalu lalang di sekelilingnya. Kebanyakan mereka pegawai perusahaan ini dilihat dari seragam formal yang dipakai. Ada juga pria wanita dengan setelan jas seperti petinggi perusahaan. Azkara seketika menghentikan langkahnya, mengamati penampilannya sendiri. Meski memakai celana bahan dan kemeja, tapi terlihat bekel dan murahan. Kepercayaan dirinya luntur seketika. Berbagai kekhawatiran menghampirinya. Antara diusir atau diolok-olok. Harapan untuk masuk ke dalam kantor dengan lancar menguap entah kemana. Azkara tertegun. Meski penampilan bukan yang utama, dan bukan pula jaminan seseorang
Azkara menatap pasangan tak punya malu di hadapannya dan berkas bertuliskan gugatan cerai di tangannya bergantian. Sebuah senyum terbit di wajah tampannya. Dengan santai melemparkannya kembali berkas itu ke tangan Shafira seraya menggeleng-geleng tak percaya dengan tingkah laku istrinya itu. Shaf












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.