Share

Bab 570

Penulis: Felix Harrington
Kebencian Theo terhadap Ryan sudah merasuk hingga ke tulang. Dia bertekad malam ini harus menentukan hidup dan mati mereka.

Setelah itu, dia melirik Steven di sampingnya dan bertanya, "Hei, kalau malam ini kita bergerak, seberapa besar keyakinanmu?"

Steven balik bertanya, "Ada pistol nggak?"

"Ada kepalamu!" Theo membentak dengan kesal. "Aturan pasar gelap, begitu senjata api jatuh ke tangan polisi, semua senjata yang tersisa harus ditarik kembali tanpa syarat oleh pedagang pasar gelap. Sekarang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 573

    Ryan tiba-tiba merasakan nyeri menusuk di hatinya. "Kak, jangan panik dulu. Aku akan langsung ke tempat tinggalnya untuk cari dia. Mungkin dia cuma ngambek.""Ryan, aku benar-benar menyesal sekarang ....""Kak, jangan menyalahkan diri sendiri." Ryan menghela napas. "Aku akan segera menemukannya.""Baiklah."....Ryan pulang kerja lebih awal dan langsung menuju tempat tinggal Bianca. Tidak peduli seberapa keras dia mengetuk pintu, tidak ada yang membukakan. Ryan takut sesuatu terjadi padanya, jadi memanggil tukang kunci dan memaksa membuka pintu dari luar.Namun, Bianca sama sekali tidak ada di rumah. Yang aneh, semua barangnya masih ada, bahkan tas ransel yang biasa dia bawa pun masih berada di dalam rumah."Barang-barangnya ada semua, lalu ke mana orangnya pergi?"Ryan kemudian menelepon teman Bianca, Villy. Villy mengatakan bahwa beberapa hari ini mereka tidak saling menghubungi dan dia tidak tahu Bianca pergi ke mana. Dia mencoba menelepon Bianca dan mendapati ponselnya dalam keadaa

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 572

    Feliska ini bukan direktur HR, melainkan kakak Bianca.Ryan berpamitan dengan Laila, lalu mengangkat telepon dari Feliska. "Halo, Kak, ada apa?"Nada suara Feliska terdengar agak cemas. "Ryan, kamu lihat Bianca?""Bianca?" Ryan bertanya balik. "Dia di kantor kok.""Syukurlah!" kata Feliska. "Tolong kamu ke tempatnya ya. Biar aku bisa bicara beberapa kata dengannya. Ponselnya nggak bisa dihubungi sama sekali."Ryan merasa ada yang janggal, lalu bertanya, "Kenapa nggak bisa dihubungi?"Feliska berkata dengan cemas, "Kami sempat bertengkar sedikit. Nanti aku ceritakan. Sekarang kami sekeluarga nggak bisa menghubunginya. Kami semua panik. Tolong bantu aku dulu ya?""Nggak masalah, aku akan ke tempatnya sekarang." Ryan bangkit, menuju divisi administrasi, lalu mendorong pintu dan masuk.Yang duduk paling dekat dengan pintu divisi administrasi adalah Alisha. Begitu mengangkat kepala dan melihat Ryan, dia berseru, "Ryan? Eh, Pak Ryan!"Kantor yang tadinya agak berisik langsung menjadi sunyi.

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 571

    "Maaf, Pak Tigor. Aku tahu aku harus kasih sebuah penjelasan," kata Theo."Nggak, aku nggak butuh penjelasanmu. Yang aku butuhkan adalah hasil!" Suara Tigor dipenuhi wibawa yang tak terbantahkan.Dengan nada rendah diri, Theo berkata, "Pak Tigor, mohon beri aku sedikit waktu lagi. Aku pasti akan mendapatkan data rahasia inti Waterfall Group."Di seberang telepon tiba-tiba terdiam. Udara seakan-akan membeku.Tigor tidak berbicara, Theo dan Lutfi pun tidak berani bersuara. Mereka begitu tegang sampai hampir tak berani bernapas. Dahi mereka dipenuhi keringat dingin tipis.Setelah beberapa saat, terdengar Tigor menghela napas. "Theo, selama tiga tahun ini, aku diam-diam menyuruh orang membantumu, menjadikan Oriental Farma masuk jajaran 500 besar di Kota Shein. Tujuannya untuk menunjukkan kemampuanmu agar Salwa memercayaimu.""Sekarang, dia sudah menerimamu sebagai anak angkat dan menganggapmu orang kepercayaannya. Tapi kamu malah bilang padaku agar aku memberimu waktu. Lalu katakan padaku,

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 570

    Kebencian Theo terhadap Ryan sudah merasuk hingga ke tulang. Dia bertekad malam ini harus menentukan hidup dan mati mereka.Setelah itu, dia melirik Steven di sampingnya dan bertanya, "Hei, kalau malam ini kita bergerak, seberapa besar keyakinanmu?"Steven balik bertanya, "Ada pistol nggak?""Ada kepalamu!" Theo membentak dengan kesal. "Aturan pasar gelap, begitu senjata api jatuh ke tangan polisi, semua senjata yang tersisa harus ditarik kembali tanpa syarat oleh pedagang pasar gelap. Sekarang kita nggak punya apa-apa!"Lutfi menggertakkan gigi sambil memaki, "Masih ngaku pembunuh bintang lima, dasar sampah!"Steven agak tak berdaya. "Aduh, nggak ada pistol juga nggak masalah. Aku sudah pernah bertarung dengan Ryan. Kalau cuma adu tangan kosong, peluangnya 50:50! Asal kamu carikan aku beberapa kaki tangan yang lebih bagus, membunuh dia bukan masalah!""Apa maksudmu kaki tangan yang lebih bagus?""Yang kayak dia saja sudah cukup!" Steven menunjuk Lutfi. "Tinggi, besar. Kelihatannya aga

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 569

    Untuk sesaat, Salwa merasa sangat tidak enak hati.Laila berkata, "Urusan masa lalu biarlah berlalu. Kita nggak perlu membahasnya. Sekarang kita bicara soal anak angkatmu itu, yang menyewa pembunuh untuk membunuh adikku. Gimana kamu mau menjelaskan hal ini?"Salwa menggertakkan gigi dan berkata, "Laila ....""Nggak perlu bertele-tele." Begitu teringat dirinya yang menaruh obat, tetapi justru menguntungkan Salwa, hati Laila langsung dipenuhi amarah. Dia berkata, "Sekarang aku butuh penjelasan darimu. Kalau nggak, hubungan kita sebagai sahabat sepertinya nggak bisa dilanjutkan."Salwa menghela napas panjang, lalu berkata, "Soal ini, aku akan menghukum Theo dengan berat dan memintanya minta maaf kepada Ryan. Aku juga menjamin kejadian seperti ini nggak akan terulang lagi."Laila mengangguk. "Kak Salwa, aku harap kamu menepati kata-katamu. Aku juga berharap anak angkatmu itu nggak lagi menyentuh adikku. Kalau nggak, aku nggak akan bersikap sungkan padanya. Saat itu, jangan bilang aku nggak

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 568

    Hanya dalam waktu satu pagi saja, ponsel Ryan hampir meledak karena terus berdering.Rekan kerja di perusahaan, teman kuliah, teman di luar, serta sejumlah mitra kerja dan klien, silih berganti menelepon untuk mengucapkan selamat.Angie, Susan, dan para kakak perempuan lainnya tentu saja tidak ketinggalan.Yang paling membuat Ryan terkejut adalah Ivy yang berada jauh di Amrik Utara ternyata juga menelepon untuk mengucapkan selamat. Setiap kali teringat Ivy, hati Ryan selalu dipenuhi rasa terima kasih.Jika bukan karena bantuan wanita yang seperti kakak tetangga itu, Ryan tidak akan bisa sampai di titik hari ini.Ryan nyaris menghabiskan sepanjang pagi itu hanya untuk menerima telepon.Namun, bagi Theo, pagi itu justru merupakan pagi yang sangat menjengkelkan. Saat ini, dia sedang duduk di dalam kantornya, menatap tajam pria yang tertunduk lesu di hadapannya, yaitu Steven."Aksi semalam gagal, kenapa kamu nggak datang menemuiku langsung?" bentak Theo.Steven berkata, "Setelah aksinya ga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status