Share

Bab 8

Author: Felix Harrington
Ryan mengikuti Ivy keluar. Saat melihat sekeliling, matanya terbelalak kaget. Entah sejak kapan, di dalam ruangan itu sudah muncul beberapa pelayan pria.

Mereka semua mengenakan celana panjang putih, bertelanjang dada, menampilkan otot yang kekar, dengan gaya rambut rapi, sedikit riasan wajah. Tampak gagah dan memikat mata.

Salah satunya sedang asyik menari dengan penuh semangat, berpegangan pada tiang. Gerakannya sungguh menggoda.

"Ah, tariannya kurang gereget nih!" seru Laura dengan keras. Dia mengangkat dua botol bir, lalu menyiramkan ke kepala pria itu.

Buih bir mengalir dari rambut pria itu, melewati tulang selangka, turun ke dada bidang dan perut sixpack-nya, sampai membasahi celananya ....

"Nah, begini baru mantap!" Laura tertawa terbahak-bahak. Kalung permata di leher dan perhiasan emas di tangannya berkilauan, memancarkan kemewahan yang menyilaukan.

Pria itu pun berlutut seperti anjing, menjilat bir yang membasahi tubuhnya, berusaha keras untuk menyenangkan Laura.

Saat itu, Ryan baru sadar, alasan wanita-wanita ini sebelumnya bersikap ramah kepadanya hanya karena menghormati Ivy. Sekarang, barulah mereka menunjukkan wajah asli mereka.

"Aku ingin nyanyi!" kata Tania di samping.

"Sudah, sudah, berhenti dulu narinya!" Laura melambaikan tangan ke para pria itu. "Kakakmu itu mau nyanyi, cepat layani."

"Siap!" Seorang pria bersetelan putih merangkak mendekat, berlutut di belakang Tania, lalu dengan lembut menarik lengan bajunya.

Tania pun langsung duduk di punggung pria itu. Gerakannya natural, tanpa canggung sedikit pun.

Pria lain sudah lebih dulu menyerahkan mikrofon, bahkan masih berlutut sambil memilih lagu untuk Tania lewat tablet.

Wajah Tania dingin dan angkuh. Dia duduk di atas punggung pria itu seperti seorang ratu yang memancarkan aura menekan.

Tak lama kemudian, nyanyian Tania yang merdu memenuhi seluruh ruangan. Para pelayan pria bersorak, bertepuk tangan, dan berusaha mengambil hatinya.

Ryan hampir saja merasa seluruh pandangan hidupnya runtuh. Para pria itu sepertinya lebih muda darinya. Kemungkinan besar mereka putus sekolah di tengah jalan, lalu berakhir bekerja di bidang ini.

Melihat mereka menginjak harga diri sendiri demi bertahan hidup, hati Ryan terasa campur aduk.

Ivy menepuk bahu Ryan sambil tersenyum. "Kaget lihat sahabat-sahabatku ya?"

"Nggak ... nggak kok!" Ryan sedikit canggung. "Tapi kalau aku nggak datang hari ini, apa kamu juga akan ...."

Ivy tersenyum. "Ya, aku pun akan sama seperti mereka."

Ryan mendadak merasa kecewa.

"Tapi jangan salah paham. Kita cuma datang untuk melepas penat, nggak akan sampai kelewatan." Ivy menambahkan, "Teman-temanku ini kelihatan gila, tapi tetap ada batasnya. Mereka nggak bakal tidur sama gigolo beginian."

Kemudian, dia mendekatkan bibir mungilnya ke telinga Ryan, mengembuskan napas hangat sambil berbisik, "Pertama, mereka jijik. Kedua, nggak setara."

Ryan mengangguk dan kini paham. Bersama Ivy dan para sahabatnya, dia baru mengerti arti sesungguhnya dari kalangan sosialita kelas atas.

Para wanita kaya yang main ke kelab malam untuk mencari pria, paling-paling hanya mereka tidak puas sehingga mencari kesenangan seperti ini. Namun, mereka tidak akan melangkah ke tahap selanjutnya karena kelas yang berbeda.

"Ryan, temani aku minum segelas!" Ivy menuangkan dua gelas wiski, lalu menyerahkan satu ke Ryan.

Ryan menerima gelas itu, melirik ke arah beberapa pria yang sedang berlutut melayani, lalu bertanya, "Dengan suasana begini ... apa aku juga harus minum sambil berlutut?"

"Hahaha!" Ivy tertawa. Tangan halusnya bertengger di bahu Ryan, tubuhnya terguncang saat tertawa. "Ryan, kenapa aku baru sadar kamu ini humoris banget?"

"Dulu kita belum sedekat ini, aku nggak berani sembarangan bercanda," ucap Ryan dengan jujur.

"Kalau begitu, mulai sekarang kita harus lebih dekat lagi." Ivy kembali mendekat. Kakinya yang mulus bersentuhan dengan kaki Ryan. Dia menatapnya dengan mata berbinar sambil tersenyum. "Sekarang cukup dekat nggak?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 418

    Dalam hati, Ryan menghela napas kagum. Kedua wanita ini benar-benar hasil latihan profesional. Kemampuan mereka menggoda sungguh kelas atas.Bahkan dengan keteguhan hatinya sekalipun, hanya dengan sekali melirik saja, dia merasa hampir tak mampu menahan diri."Pak Ryan waktu itu terlalu tergesa-gesa, sampai aku nggak menyadari kalau tubuhmu ternyata sebagus ini!" Sakura melangkah mendekat, membungkuk dan sedikit menekan sisi tubuh Ryan. Tangan halusnya memercikkan air kolam, lalu meneteskan percikan ke dada Ryan.Di sisi lain, Yumi juga mendekat. Dia duduk di samping Ryan, lalu tersenyum tipis sambil berkata, "Pak Ryan, malam ini nginap di sini saja ya?""Ya, aku nggak pergi! Waktu itu aku malah nyesal setelah pergi! Hahaha!" Ryan tertawa lepas.Setelah itu, kedua wanita itu bermain air dan bercengkerama dengan Ryan, bak pasangan romantis. Sorot mata mereka penuh rayuan. Setiap gerak-gerik, bahkan senyuman dan lirikan kecil, semuanya berusaha ditampilkan sebaik mungkin untuk menggoda R

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 417

    Kalimat itu membuat Ryan teringat pada penampilan cosplay yang dikenakan Sakura sebelumnya. Benar-benar seksi."Boleh! Aku suka berendam air panas!" kata Ryan sambil tertawa riang.Memang itulah yang dia inginkan, mendekat tanpa batas pada dua wanita ini. Semakin dekat, semakin besar pula peluangnya untuk mengetahui kebenaran di balik kematian Marvin.Namun, Amanda tampak kurang senang. Dia mengerutkan kening dan bertanya, "Berendam air panas? Yang campuran pria dan wanita itu?""Ya dong! Kalau berendam terpisah, apa serunya?" balas Sakura."Aku capek. Kalian saja yang pergi!" Amanda berdiri dengan kesal.Dalam alam bawah sadarnya, dia tidak suka Ryan berendam bersama wanita lain. Karena itu, saat berdiri dia sengaja melirik Ryan, berharap Ryan bisa mengerti maksudnya.Namun, Ryan malah tersenyum sambil melambaikan tangan dan berkata, "Bu Amanda, kalau kamu capek, istirahatlah lebih awal!"Amanda pun memaki dalam hati, 'Dasar bajingan! Apa kamu benar-benar nggak paham arti tatapan mata

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 416

    Karena itu, Ryan bisa memastikan bahwa kematian Marvin tidak terlepas dari kedua wanita itu.Pada detik berikutnya, Ryan melanjutkan, "Kematian Marvin nggak ada hubungannya sedikit pun denganku. Jadi, kalau atasan ingin memecatku dengan alasan ini, itu nggak mungkin. Selama kebenaran kasus ini terungkap, aku punya alasan untuk dipulihkan ke jabatan semula.""Saat itulah, kesempatan kerja sama kita akan datang. Kalau kalian bertaruh padaku, peluang menangnya sangat besar. Selain itu, aku bisa memberi satu syarat yang menguntungkan. Kalau jabatanku nggak bisa dipulihkan dan aku nggak bisa bekerja untuk kalian, aku nggak akan ambil sepeser pun."Sakura dan Yumi kembali berpandangan, tidak terburu-buru memberi jawaban.Ryan tersenyum tipis, lalu melanjutkan, "Lagi pula, sekarang aku sudah menjadi penanggung jawab divisi litbang dan divisi teknologi. Inti riset EPS semuanya ada di tanganku. Bekerja sama denganku adalah pilihan yang paling praktis dan paling tepat bagi kalian berdua. Gimana

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 415

    "Pertanyaan pertama, jawab dengan sungguh-sungguh. Sepuluh hari lalu aku sudah berusaha sekuat tenaga menarikmu, tapi kamu sama sekali nggak menggubris. Sepuluh hari kemudian kamu malah datang sendiri untuk membicarakan kerja sama. Jangan bilang soal penyesalan atau semacamnya, nggak ada yang akan percaya!" kata Sakura."Hahaha!" Ryan tertawa lepas. "Kalian berdua sama-sama cerdas, mana mungkin aku bisa menipu kalian. Aku bilang aku menyesal, memang benar aku menyesal. Karena EPS telah membuatku kecewa!""Maksudmu?"Sakura dan Yumi serempak menatap Ryan.Ryan berkata, "Setelah terakhir kali aku pergi dari sini dan kembali ke EPS, aku mengalami pencemaran nama baik dan perundungan di tempat kerja.""Pertama, aku dijebak oleh manajemen EPS. Aku difitnah menyalahgunakan jabatan untuk melecehkan wanita, lalu ada rekaman video yang sengaja dipotong-potong dan dikirim lewat email ke seluruh perusahaan, membuat reputasiku hancur.""Setahuku, bukankah setelah itu sudah ada klarifikasi?" tanya

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 414

    Dia masih ingat ketika Marvin pertama kali masuk perusahaan. Keesokan harinya sudah akan diadakan rapat untuk mengumumkan penunjukan Marvin, sementara malam sebelumnya Ray baru meneleponnya untuk memberi tahu.Padahal Feliska adalah Direktur HR, tapi malah dia yang paling terakhir mengetahui urusan tentang personalia. Namun, beginilah perusahaan besar. Relasi antarindividu rumit, keseimbangan kekuasaan juga rumit."Nggak apa-apa, kasus Marvin ini seharusnya nggak akan berlangsung lama. Kalau nggak ada halangan, dalam satu minggu aku bisa kembali," kata Ryan."Kenapa kamu bisa sepercaya diri itu?" tanya Lucya tanpa basa-basi."Kamu sendiri yang bilang harus percaya diri," jawab Ryan. "Nggak usah banyak bicara lagi. Sekarang aku sudah dinonaktifkan sementara. Aku akan beres-beres dan pulang dulu."Melihat punggung Ryan yang menjauh, tampak sedikit kesepian. Hati semua orang terasa berat."Ryan sepenuh hati bekerja untuk perusahaan. Kenapa selalu saja ada orang yang sengaja mengincarnya?"

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 413

    Sore hari, Ryan kembali ke kantor pusat EPS Group untuk bekerja. Ray mengadakan rapat rahasia mendadak. Peserta rapat hanya sedikit, tetapi semuanya adalah orang penting.Yang hadir adalah Larry, Direktur HR Feliska, Direktur Penjualan Lucya, Direktur Litbang Jesse, serta Kepala Gabungan Litbang dan Teknologi, Ryan."Hari ini saya mengumpulkan rapat ini karena ada satu keputusan yang sangat menyakitkan untuk diumumkan," kata Ray. "Beberapa hari lalu, Pak Marvin menghilang secara misterius, lalu ditemukan tewas di pegunungan. Pihak kepolisian telah melakukan penyelidikan besar-besaran.""Dalam proses penyelidikan itu, Pak Ryan dari perusahaan kita untuk sementara ditetapkan sebagai salah satu tersangka ....""Apa?" Jesse dan Feliska sama-sama terkejut.Namun, Larry dan Lucya tampak seolah sudah menduga hal ini sejak awal. Ekspresi mereka relatif tenang."Bagaimana mungkin kematian Marvin ada hubungannya dengan Ryan?" kata Jesse. "Kenapa polisi bisa sembarangan menduga seperti itu?""Jes

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status