Share

3. Pertanyaan Ibra

last update Last Updated: 2026-01-15 10:37:51

"Halo, assalamualaikum, Mama." Putra tampanku berlari menghampiriku dengan ransel besarnya. Pagi ini wajahnya nampak lelah, tetapi rona gembira, jelas terpancar juga di wajahnya.

Putraku gembira dan puas. Kemping di sekolah ataupun di tempat lain, baginya selalu menyenangkan dan aku sudah tepat menyekolahkan Ibra di Sekolah Alam. Anakku lebih mandiri dan juga lebih bijak. Aku rasa saat aku memberitahu tentang papanya yang akan menikah lagi, putraku bisa lebih siap. Semoga saja.

"Bagaimana, happy, Nak?" tanyaku saat Ibra sudah duduk di sebelahku dan tengah memasang sit belt.

"Happy, Ma. Sangat Happy. Papa mana? Katanya yang mau jemput Ibra, papa?" tanyanya masih dengan wajah riang. Aku tersenyum tipis. Belum saatnya aku memberitahunya tentang prilaku papanya yang sok kecakepan dan sok punya duit lebih sedikit.

Aku kebanyakan uang Sekar, jadinya aku mau poligami. Uek!

Perut ini selalu saja mual jika kembali mengingat ucapan Bang Exel saat itu. Aku sengaja mengemudi mobil dengan kecepatan sedang, cenderung pelan agar Ibra bisa sedikit lebih lama tertidur di mobil. Sebenarnya jarak sekolah dan rumah yang aku sewa tidak jauh, naik mobil lima belas menit saja. Kalau naik motor mungkin bisa sepuluh menit, tetapi Ibra tertidur, sehingga aku mengajaknya berputar terlebih dahulu. Agar tidak langsung terbangun sampai rumah.

Setelah setengah jam berkeliling, aku mengusap pelan pipi Ibra, membangunkannya.

"Ibra, bangun, Nak. Kita sudah sampai." Ibra tersentak duduk. Ia menggosok matanya dengan kuat. Aku hendak membantu menurunkan tas ranselnya.

"Biar Ibra, Ma. Ibra bisa kok." Putraku masih belum sepenuhnya sadar, kami berada di rumah yang berbeda.

"Ayo, masuk!" Kataku saat melihat Ibra yang kebingungan. Pintu rumah aku buka lebar, senyuman ini pun tidak kalah lebar untuk Ibra. Anak lelakiku mengucek kedua matanya.

Kakinya tegak berdiri, tanpa mau melangkah maju. Putraku terdiam sejenak, bagaikan patung.

"Ini di mana, Ma?" tanyanya heran.

"Ini rumah kita untuk saat ini," jawabku masih berdiri di depan pintu.

"Loh, emangnya kita pindah? Rumah yang lama ke mana?" tanya Ibra lagi. Aku kembali tersenyum. Kuhampiri putraku, lalu menarik tangannya perlahan agar mau masuk ke dalam rumah.

"Iya, kita pindah ke sini ya, Nak. Mama janji akan cerita sama Ibra, asalkan Ibra mandi, makan yang banyak, santai-santai dulu, baru Mama cerita." Wajahnya tampak kaku dan kaki yang amat berat untuk melangkah maju.

"Ayo, Mama janji!" Aku menarik dengan tenaga kali ini, hingga akhirnya Ibra mau masuk ke dalam rumah sederhana tempat kami akan tinggal sementara.

"Kamar Ibra di sini," kataku sambil membuka pintu kamar lebar-lebar. Anakku tidak banyak berkomentar, ia masuk perlahan sambil melihat-lihat suasana kamar barunya. Untunglah semalam aku bisa mendapatkan tukang AC yang bisa langsung memasang AC kamar Ibra.

"Apa papa keluar kota lagi?"

"Mm... Sepertinya."

"Mama panaskan sup ayam kesukaan Ibra dulu ya. Kamar mandi kita ada di luar." Aku bergegas ke dapur. Kusiapkan sarapan untuknya dengan sempurna.

Lima belas menit kemudian, Ibra sudah menggunakan kaos rumah. Wajahnya segar dan juga aroma tubuhnya harum. Ibra menarik kursi makan di depanku.

"Makan dulu, Sayang," kataku sambil memberikan centong nasi pada Ibra. Putraku mengambil sendiri nasi dan lauk pauk, sesekali ia masih memperhatikan sekeliling dengan wajah tidak mengerti. Aku yakin, Ibra pasti bingung dan sedikit sedih karena suasananya berbeda dengan suasana di rumah lama.

"Oh, iya, Nak, Mama ada perlu keluar sebentar ya. Kamu habiskan saja makannya. Kunci pintu dari dalam dan jangan ijinkan siapapun masuk jika kamu tidak kenal, paham!" Ibra mengangguk. Aku pun menyambar tas yang sudah aku siapkan di kamar. Pagi hari, aku harap kantor pengadilan agama tidak ramai, sehingga aku bisa cepat pulang lagi setelah mendaftarkan gugatan. Ucapan Bang Exel bukan lelucon, karena baru saja aku membaca status W******p milik Delima; adik iparku yang menuliskan.

Gila, masa kakak ipar gue double dong! Ha ha ha

Oke, kita lihat nanti siapa yang akan menyesal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dijatah Tiga Minggu Sekali   56. Ibra Anakku

    POV ExelSiang itu juga, aku ke kantor untuk memastikan kabar dari Bobi. Bukan hanya Bobi yang memberi kabar, asistenku juga memberitahu. Aku tidak mau percaya dan sangat mustahil ada namaku pada list karyawan. Sekelas manager pemasaran dengan kemampuan sangat bagus, tentu mustahil aku dipecat. "Siang, Pak Exel," sapa Rini; asistenku. Ia menyambutku karena aku mengatakan aku akan ke kantor. "Siang, kamu yakin gak salah lihat?" tanyaku."Sebelah sini, Pak. Ada di monitor banner besar dengan lift utama," katanya sambil menunjuk lift bagian kira. Bukan hanya aku, tetapi beberapa karyawan lainnya ikut memperhatikan layar tersebut. Nama yang muncul per sepuluh orang disertai divisinya. Namaku ada dan aku benar-benar tidak percaya. "Pak Samuel ada?" tanyaku pada Rini. Gadis itu menggelengkan kepala. "Semua direksi hari ini ada meeting di Bali tiga hari, Pak." "Kamu kena juga?""Tidak tahu, Pak, karena saya statusnya kontrak, jadi tinggal menunggu surat saja," jawab Rini yang sama bingu

  • Dijatah Tiga Minggu Sekali   55. Pernyataan Sekar

    "Exel bantu Mami. Mami gak mau di sini," rengek Bu Rosa pedih. Matanya sayu seperti orang yang tidak tidur semalaman. Memang benar Bu Rosa tidak bisa memejamkan mata sejak ia sampai di kantor polisi sampai dengan keesokan harinya. "Ada apa sebenarnya, Mi? Kenapa Mami bisa sampai ditangkap? Apa yang Mami lakukan?" cecar Exel yang tidak mengerti. "Mami gak tahu. Mami khilaf. Bantu Mami, Exel!" "Iya, saya mau bantu Mami, tapi gimana kalau saya gak tahu apa yang terjadi sama Mami. Apa Mami udah hubungi pengacara?" Bu Rosa menggelengkan kepala."Oke, Mami ceritakan pada saya apa yang terjadi, lalu saya akan carikan pengacara tepat untuk Mami. Saya juga akan ajukan juga penangguhan penahanan, gimana?" Rosa mengangguk pelan. Lalu mengalir cerita dari wanita itu, bahwa ia telah nekat melakukan hal yang sangat membahayakan dirinya dan juga mantan suaminya. Exel hanya bisa diam, terkejut dengan setiap kalimat yang meluncur dari bibir ibu mertua, tanpa berani berkomentar apapun. Ia tidak aka

  • Dijatah Tiga Minggu Sekali   54. Kondisi Probo

    "Bagaimana suami saya, Dok? A-apa sakit yang diderita suami saya?" tanya Sekar terbata, sembari menahan tangis. Dokter menghela napas,lalu menyodorkan kertas hasil pemeriksaan milik Probo untuk ia jelaskan pada istri pasiennya. "Dari hasil darah dan urin, ini ada infeksi ginjal dan kandungan obat tidur keras yang masuk ke tubuh Pak Probo selama beberapa Minggu ini memperparah kondisinya. Ditambah Pak Probo ada jantung." Sekar menelan ludahnya. "Menurut data pasien di rumah sakit ini, Pak Probo memang pasien kami dan rutin kontrol ginjal. Kondisinya belum parah, masih baru kena bahasa gampangnya. Stadium satu. Namun, ada zat yang dipaksa masuk ke dalam tubuhnya dan itu tentu memperparah kondisi beliau. Mengakibatkan jantung yang terus berdebar dan pasti berefek pada jantung, sehingga Pak Probo sesak napas.""A-apa yang bisa kita lakukan, Dok? Saya ingin suami saya dapat yang terbaik." Sekar menahan diri untuk tidak tersedu-sedan. Padahal ia ingin sekali berteriak sedih dan memeluk su

  • Dijatah Tiga Minggu Sekali   53. Kelakuan Busuk

    "Bodoh! Apa yang kamu lakukan? Keberadaan kita nanti diketahui oleh keluarganya.""Saya butuh HP-nya. Buat apa HP bagus malah seharga dua puluh juta ini dianggurin, mending saya pake!"Plak!"Sakit bego!" seorang pemuda menggosok kepalanya karena mendapatkan pukul."Cepat matikan!" Ponsel pintar berlogo apel digigit itu pun langsung dimatikan kembali. "Antar saya balik!" Pemuda itu pun mengangguk paham."Ponselnya boleh buat saya, Bu?" "Gak bisa!" Ponsel itu pun langsung diambil oleh Rosa. "Ini tuh bukti penting untuk saya. Udah, cepat bawa mobilnya balik ke hotel!" Pinta Rosa dengan wajah kesal. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju hotel tempat ia menginap hampir satu bulan. Kenapa bisa? Tentu saja bisa dan mudah, karena hotel itu adalah hotel milik keluarganya. Ada kamar khusus yang disiapkan di sana bagi keluarga yang ingin menginap lama. Bahkan mendapatkan fasilitas full. Khusus untuk anak, menantu, dan cucu saja. "Bu, kita udah sampai!" Ucap pemuda itu membangunk

  • Dijatah Tiga Minggu Sekali   52. Mencari Tahu

    "M-mami, a-apa yang Mami lakukan di sini?" Exel mendelik terkejut saat melihat mertuanya duduk di kursi roda, ditemani salah satu staf hotel. Bu Rosa tertawa."Kamu bersama pelacur? Udah berapa lama? Maksudnya udah berapa wanita?" tanya balik Bu Rosa tanpa menjawab pertanyaan Exel. Hati wanita itu panas dan sangat terbakar amarah saat melihat menantunya digandeng wanita lain, padahal istrinya sedang berada di jeruji besi. Apalagi tanda merah jelas sekali terlihat saat wanita yang diam saja itu menyugar rambut panjangnya. Sepanas apa malam yang dilewati menantunya dengan pelacur? Apa lebih hebat pelacur dari pada putrinya? Bu Rosa bermonolog.Exel melepas kasar tangan Elora, tentu saja wanita malam itu mengerti maksud Exel dan segera berjalan cepat meninggalkan lelaki itu. "Mi, ini baru pertama kali. Maafkan saya karena sudah tiga bulan lebih saya gak dapat nafkah dari Roro, untuk itu saya sewa wanita itu. Saya pakai pengaman Mi, bukan juga sembarangan karena saya gak mau sakit." Jawa

  • Dijatah Tiga Minggu Sekali   51. Kabar Baik atau Buruk?

    "Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Nak." Bu Erin menatap begitu itu putrinya yang saat ini terbaring di rumah sakit. Ia mengusap kepala Sekar dengan pelan dan penuh rasa keibuan."Mau minum?" tanyanya pada sang Putri. Sekar menggelengkan kepala."Sekar di mana, Ma?" Bu Erin menghela napas. "Di rumah sakit. Ipar kamu memberitahu Mama kalau kamu pingsan di kantor dan ini rumah sakit yang di depan kantor." "Kata dokter Sekar kenapa, Ma? Surat dari Mas Probo ada di mana?" suara Sekar bergetar menahan tangis. Bu Erin menatap nanar putrinya dan ikut juga berkaca-kaca."Sekar, mulai sekarang kamu gak boleh stres. Kamu harus jaga kandungan kamu." Bu Erin kemudian tersenyum."Apa, Ma? Kandungan? S-sekar hamil?" pekik Sekar tidak percaya. "Alhamdulillah, terima kasih ya Allah." Sekar tertawa dalam tangisnya. Bahunya bergetar hebat menahan haru, hingga Bu Erin pun ikut sama-sama menangis. Wanita itu memeluk putrinya yang sangat kuat, tetapi juga masih sangat manja. Bu Erin membiarkan Sekar men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status