LOGINSemua pertanyaan di dalam formulir pengajuan gugatan perceraian, sudah aku isi. Tidak ada satu pun yang terlewat. Tinggal mentransfer uang perkara di loket bank yang sudah tersedia di kantor pengadilan juga. Sambil menunggu antrean, aku pun membuka pesan W******p. Tidak ada pesan dari siapapun, sehingga kuputuskan untuk melihat-lihat pembaruan status teman-teman yang ada di kontakku. Kontak Bang Exel aku blokir, sehingga aku tidak bisa melihat statusnya. Tidak apa, dari pada aku harus tekanan batin jika dia memposting calon bini mudanya.
Ingin sebenarnya aku menangis, tapi air mataku seolah-olah kering. Yang ada di dalam hatiku saat ini adalah ingin meluapkan kekecewaan dan juga kemarahan pada Bang Exel. Disaat rumah tangga kami sedang harmonis-harmonisnya, dengan kondisi keuangan lebih dari cukup, suamiku malah mencari masalah dengan menikahi perempuan lain. Astaghfirullah, bener-bener keterlaluan! Sebuah pembaruan status dari ibu mertua yang sangat membuatku mual. Selamat bergabung di keluarga Exel Probo Hadiraja, Roro. Seorang wanita muda nan cantik dipotret candid oleh mertuaku saat gadis itu tengah membuka majalah. Majalah favoritku yang ada di ruang tamuku. Wanita itu tidak tahu malu, Ma. Mendekati pria beristri dan punya anak. Memangnya habitat lelaki single habis? Sampaikan salam saya untuk Pororo itu. Bilang, jangan sampai dia bertemu saya, maka akan saya .... Send Panas. Itu yang hatiku rasakan saat ini. Suami ingin poligami dengan gadis muda yang cantik dan sepertinya dari keluarga kaya. Aku mengira mertua akan membelaku, ternyata ia malah mendukung suamiku untuk poligami. Ingin menangis, tapi percuma. Karena hati suamiku sudah lepas dari genggaman ini. Aku harus tegak dan bisa membalas sakit hati. Aku gak boleh sedih lama-lama, apalagi sampai meratapi nasib. Bukan sifatku sama sekali. Segera aku membuka akun media sosial si Pororo. Untung saya tidak di-private, sehingga aku bisa mengakses dan mengikuti sebagian teman-temannya, termasuk papanya dan juga ibunya. Papanya tampan, meskipun aku taksir usianya belum ada lima puluh tahun. Lalu ibunya juga cantik, tapi wajahnya sedikit pucat . Oke, sebuah foto Pororo tengah duduk di kursi, seperti dalam sebuah ruangan. Ini menarik karena aku yakin, ruangan itu adalah ruangan papanya. Segera aku mencatat nama kantor tersebut, agar aku lebih mudah untuk memulai semua pembalasan ini. Selesai melakukan semua yang kuperlukan untuk gugatan, aku pun langsung pulang. Tidak lama, semua urusanku selesai hanya satu jam lima belas menit dan aku sudah tiba di rumah. Ibra tidur di kamarnya dengan pintu terbuka. Anakku lelah dan aku tidak ingin menganggunya. Selagi Ibra tidur, aku pun masuk ke kamar, mengambil laptop dari dalam lemari. Sepertinya ini tiba waktunya aku menggunakan ijazah sarjana Ekonomi Universitas Negeri terkemuka di Jakarta dengan jaket kuningnya. Nama kantor milik keluarga Pororo kutelusuri lewat web dan akhirnya lamaran pekerjaan ini pun sudah aku kirimkan. Ting! Mama Mertua Nama kontak yang tertera di layar ponselku. Sebuah pesan masuk dari ibu mertuaku. Sayang, kenapa marah?Kata Exel, kamu minggat karena Exel mau poligami. Gak papa toh, Exel poligami. Dalam agama juga boleh kan? Dari pada zina di luaran, masih untung Exel jujur. Coba kalau Exel berani open BO, apa nggak lebih serem lagi. Jadi, jangan salahkan Exel karena dalam agama diperbolehkan poligami. Kamu kapan pulang? Jangan lama-lama ngambeknya ya. Aku tertawa miris. Langsung saja aku tekan panggilan di nomor mertuaku. "Halo, Ma. Menurut Mama apa ini adil bagi Sekar?" "Sekar, kamu kenapa marah, Nak? Semua kebutuhan kamu dicukupi Exel kan? Mobil, motor, umroh, sepeda puluhan juta juga kamu punya. Terus, saat Exel mau poligami kamu malah gak bolehin? Itu namanya serakah, Sayang. Punya rejeki harus bagi-bagi." "Ha ha ha ... sepertinya percuma bicara sama Mama karena tidak akan paham. Baiklah, keputusan saya sudah benar untuk ajukan gugatan cerai kepada Bang Exel. Bilang Bang Exel, tidak perlu datang sidang biar urusan ini cepat selesai." Aku menutup panggilan dengan emosi yang menumpuk di dada. "Mama, apa itu gugatan cerai?" aku menoleh terkejut saat Ibra sudah berdiri di depan pintu kamarku.POV ExelSiang itu juga, aku ke kantor untuk memastikan kabar dari Bobi. Bukan hanya Bobi yang memberi kabar, asistenku juga memberitahu. Aku tidak mau percaya dan sangat mustahil ada namaku pada list karyawan. Sekelas manager pemasaran dengan kemampuan sangat bagus, tentu mustahil aku dipecat. "Siang, Pak Exel," sapa Rini; asistenku. Ia menyambutku karena aku mengatakan aku akan ke kantor. "Siang, kamu yakin gak salah lihat?" tanyaku."Sebelah sini, Pak. Ada di monitor banner besar dengan lift utama," katanya sambil menunjuk lift bagian kira. Bukan hanya aku, tetapi beberapa karyawan lainnya ikut memperhatikan layar tersebut. Nama yang muncul per sepuluh orang disertai divisinya. Namaku ada dan aku benar-benar tidak percaya. "Pak Samuel ada?" tanyaku pada Rini. Gadis itu menggelengkan kepala. "Semua direksi hari ini ada meeting di Bali tiga hari, Pak." "Kamu kena juga?""Tidak tahu, Pak, karena saya statusnya kontrak, jadi tinggal menunggu surat saja," jawab Rini yang sama bingu
"Exel bantu Mami. Mami gak mau di sini," rengek Bu Rosa pedih. Matanya sayu seperti orang yang tidak tidur semalaman. Memang benar Bu Rosa tidak bisa memejamkan mata sejak ia sampai di kantor polisi sampai dengan keesokan harinya. "Ada apa sebenarnya, Mi? Kenapa Mami bisa sampai ditangkap? Apa yang Mami lakukan?" cecar Exel yang tidak mengerti. "Mami gak tahu. Mami khilaf. Bantu Mami, Exel!" "Iya, saya mau bantu Mami, tapi gimana kalau saya gak tahu apa yang terjadi sama Mami. Apa Mami udah hubungi pengacara?" Bu Rosa menggelengkan kepala."Oke, Mami ceritakan pada saya apa yang terjadi, lalu saya akan carikan pengacara tepat untuk Mami. Saya juga akan ajukan juga penangguhan penahanan, gimana?" Rosa mengangguk pelan. Lalu mengalir cerita dari wanita itu, bahwa ia telah nekat melakukan hal yang sangat membahayakan dirinya dan juga mantan suaminya. Exel hanya bisa diam, terkejut dengan setiap kalimat yang meluncur dari bibir ibu mertua, tanpa berani berkomentar apapun. Ia tidak aka
"Bagaimana suami saya, Dok? A-apa sakit yang diderita suami saya?" tanya Sekar terbata, sembari menahan tangis. Dokter menghela napas,lalu menyodorkan kertas hasil pemeriksaan milik Probo untuk ia jelaskan pada istri pasiennya. "Dari hasil darah dan urin, ini ada infeksi ginjal dan kandungan obat tidur keras yang masuk ke tubuh Pak Probo selama beberapa Minggu ini memperparah kondisinya. Ditambah Pak Probo ada jantung." Sekar menelan ludahnya. "Menurut data pasien di rumah sakit ini, Pak Probo memang pasien kami dan rutin kontrol ginjal. Kondisinya belum parah, masih baru kena bahasa gampangnya. Stadium satu. Namun, ada zat yang dipaksa masuk ke dalam tubuhnya dan itu tentu memperparah kondisi beliau. Mengakibatkan jantung yang terus berdebar dan pasti berefek pada jantung, sehingga Pak Probo sesak napas.""A-apa yang bisa kita lakukan, Dok? Saya ingin suami saya dapat yang terbaik." Sekar menahan diri untuk tidak tersedu-sedan. Padahal ia ingin sekali berteriak sedih dan memeluk su
"Bodoh! Apa yang kamu lakukan? Keberadaan kita nanti diketahui oleh keluarganya.""Saya butuh HP-nya. Buat apa HP bagus malah seharga dua puluh juta ini dianggurin, mending saya pake!"Plak!"Sakit bego!" seorang pemuda menggosok kepalanya karena mendapatkan pukul."Cepat matikan!" Ponsel pintar berlogo apel digigit itu pun langsung dimatikan kembali. "Antar saya balik!" Pemuda itu pun mengangguk paham."Ponselnya boleh buat saya, Bu?" "Gak bisa!" Ponsel itu pun langsung diambil oleh Rosa. "Ini tuh bukti penting untuk saya. Udah, cepat bawa mobilnya balik ke hotel!" Pinta Rosa dengan wajah kesal. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju hotel tempat ia menginap hampir satu bulan. Kenapa bisa? Tentu saja bisa dan mudah, karena hotel itu adalah hotel milik keluarganya. Ada kamar khusus yang disiapkan di sana bagi keluarga yang ingin menginap lama. Bahkan mendapatkan fasilitas full. Khusus untuk anak, menantu, dan cucu saja. "Bu, kita udah sampai!" Ucap pemuda itu membangunk
"M-mami, a-apa yang Mami lakukan di sini?" Exel mendelik terkejut saat melihat mertuanya duduk di kursi roda, ditemani salah satu staf hotel. Bu Rosa tertawa."Kamu bersama pelacur? Udah berapa lama? Maksudnya udah berapa wanita?" tanya balik Bu Rosa tanpa menjawab pertanyaan Exel. Hati wanita itu panas dan sangat terbakar amarah saat melihat menantunya digandeng wanita lain, padahal istrinya sedang berada di jeruji besi. Apalagi tanda merah jelas sekali terlihat saat wanita yang diam saja itu menyugar rambut panjangnya. Sepanas apa malam yang dilewati menantunya dengan pelacur? Apa lebih hebat pelacur dari pada putrinya? Bu Rosa bermonolog.Exel melepas kasar tangan Elora, tentu saja wanita malam itu mengerti maksud Exel dan segera berjalan cepat meninggalkan lelaki itu. "Mi, ini baru pertama kali. Maafkan saya karena sudah tiga bulan lebih saya gak dapat nafkah dari Roro, untuk itu saya sewa wanita itu. Saya pakai pengaman Mi, bukan juga sembarangan karena saya gak mau sakit." Jawa
"Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Nak." Bu Erin menatap begitu itu putrinya yang saat ini terbaring di rumah sakit. Ia mengusap kepala Sekar dengan pelan dan penuh rasa keibuan."Mau minum?" tanyanya pada sang Putri. Sekar menggelengkan kepala."Sekar di mana, Ma?" Bu Erin menghela napas. "Di rumah sakit. Ipar kamu memberitahu Mama kalau kamu pingsan di kantor dan ini rumah sakit yang di depan kantor." "Kata dokter Sekar kenapa, Ma? Surat dari Mas Probo ada di mana?" suara Sekar bergetar menahan tangis. Bu Erin menatap nanar putrinya dan ikut juga berkaca-kaca."Sekar, mulai sekarang kamu gak boleh stres. Kamu harus jaga kandungan kamu." Bu Erin kemudian tersenyum."Apa, Ma? Kandungan? S-sekar hamil?" pekik Sekar tidak percaya. "Alhamdulillah, terima kasih ya Allah." Sekar tertawa dalam tangisnya. Bahunya bergetar hebat menahan haru, hingga Bu Erin pun ikut sama-sama menangis. Wanita itu memeluk putrinya yang sangat kuat, tetapi juga masih sangat manja. Bu Erin membiarkan Sekar men







