Share

4. Pengadilan Agama

last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-15 10:44:47

Semua pertanyaan di dalam formulir pengajuan gugatan perceraian, sudah aku isi. Tidak ada satu pun yang terlewat. Tinggal mentransfer uang perkara di loket bank yang sudah tersedia di kantor pengadilan juga. Sambil menunggu antrean, aku pun membuka pesan W******p. Tidak ada pesan dari siapapun, sehingga kuputuskan untuk melihat-lihat pembaruan status teman-teman yang ada di kontakku. Kontak Bang Exel aku blokir, sehingga aku tidak bisa melihat statusnya. Tidak apa, dari pada aku harus tekanan batin jika dia memposting calon bini mudanya.

Ingin sebenarnya aku menangis, tapi air mataku seolah-olah kering. Yang ada di dalam hatiku saat ini adalah ingin meluapkan kekecewaan dan juga kemarahan pada Bang Exel. Disaat rumah tangga kami sedang harmonis-harmonisnya, dengan kondisi keuangan lebih dari cukup, suamiku malah mencari masalah dengan menikahi perempuan lain. Astaghfirullah, bener-bener keterlaluan!

Sebuah pembaruan status dari ibu mertua yang sangat membuatku mual.

Selamat bergabung di keluarga Exel Probo Hadiraja, Roro.

Seorang wanita muda nan cantik dipotret candid oleh mertuaku saat gadis itu tengah membuka majalah. Majalah favoritku yang ada di ruang tamuku.

Wanita itu tidak tahu malu, Ma. Mendekati pria beristri dan punya anak. Memangnya habitat lelaki single habis? Sampaikan salam saya untuk Pororo itu. Bilang, jangan sampai dia bertemu saya, maka akan saya ....

Send

Panas. Itu yang hatiku rasakan saat ini. Suami ingin poligami dengan gadis muda yang cantik dan sepertinya dari keluarga kaya. Aku mengira mertua akan membelaku, ternyata ia malah mendukung suamiku untuk poligami. Ingin menangis, tapi percuma. Karena hati suamiku sudah lepas dari genggaman ini. Aku harus tegak dan bisa membalas sakit hati. Aku gak boleh sedih lama-lama, apalagi sampai meratapi nasib. Bukan sifatku sama sekali.

Segera aku membuka akun media sosial si Pororo. Untung saya tidak di-private, sehingga aku bisa mengakses dan mengikuti sebagian teman-temannya, termasuk papanya dan juga ibunya. Papanya tampan, meskipun aku taksir usianya belum ada lima puluh tahun. Lalu ibunya juga cantik, tapi wajahnya sedikit pucat .

Oke, sebuah foto Pororo tengah duduk di kursi, seperti dalam sebuah ruangan. Ini menarik karena aku yakin, ruangan itu adalah ruangan papanya. Segera aku mencatat nama kantor tersebut, agar aku lebih mudah untuk memulai semua pembalasan ini.

Selesai melakukan semua yang kuperlukan untuk gugatan, aku pun langsung pulang. Tidak lama, semua urusanku selesai hanya satu jam lima belas menit dan aku sudah tiba di rumah. Ibra tidur di kamarnya dengan pintu terbuka. Anakku lelah dan aku tidak ingin menganggunya.

Selagi Ibra tidur, aku pun masuk ke kamar, mengambil laptop dari dalam lemari. Sepertinya ini tiba waktunya aku menggunakan ijazah sarjana Ekonomi Universitas Negeri terkemuka di Jakarta dengan jaket kuningnya. Nama kantor milik keluarga Pororo kutelusuri lewat web dan akhirnya lamaran pekerjaan ini pun sudah aku kirimkan.

Ting!

Mama Mertua

Nama kontak yang tertera di layar ponselku. Sebuah pesan masuk dari ibu mertuaku.

Sayang, kenapa marah?Kata Exel, kamu minggat karena Exel mau poligami. Gak papa toh, Exel poligami. Dalam agama juga boleh kan? Dari pada zina di luaran, masih untung Exel jujur. Coba kalau Exel berani open BO, apa nggak lebih serem lagi. Jadi, jangan salahkan Exel karena dalam agama diperbolehkan poligami. Kamu kapan pulang? Jangan lama-lama ngambeknya ya.

Aku tertawa miris. Langsung saja aku tekan panggilan di nomor mertuaku.

"Halo, Ma. Menurut Mama apa ini adil bagi Sekar?"

"Sekar, kamu kenapa marah, Nak? Semua kebutuhan kamu dicukupi Exel kan? Mobil, motor, umroh, sepeda puluhan juta juga kamu punya. Terus, saat Exel mau poligami kamu malah gak bolehin? Itu namanya serakah, Sayang. Punya rejeki harus bagi-bagi."

"Ha ha ha ... sepertinya percuma bicara sama Mama karena tidak akan paham. Baiklah, keputusan saya sudah benar untuk ajukan gugatan cerai kepada Bang Exel. Bilang Bang Exel, tidak perlu datang sidang biar urusan ini cepat selesai."

Aku menutup panggilan dengan emosi yang menumpuk di dada.

"Mama, apa itu gugatan cerai?" aku menoleh terkejut saat Ibra sudah berdiri di depan pintu kamarku.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dijatah Tiga Minggu Sekali   10. Kelakuan Pelakor

    "Mas, aku gak suka warna cat kamar ini. Masa warna biru, norak dan gak elegan! Aku mau ganti warna abu-abu gelap. Biar terkesan cantik dan menggoda," rengek Roro pada Exel. Keduanya baru saja mengarungi tujuh samudra dan menyebrangi lautan di rumah Exel. Di kamar yang sama saat ia masih bersama Sekar. Pria itu sama sekali sudah melupakan Sekar, wanita yang sudah memberikannya keturunan."Nanti kita ganti warna catnya," jawab Exel sembari menyentuh kulit halus lengan istri mudanya. Sebuah kecupan ia daratkan di kening Roro dengan penuh khidmat, seolah-olah menikahi Roro adalah berkat paling baik dalam hidupnya. Pria yang dibutakan oleh cinta dan hasrat yang semu."Lemari dan ranjangnya juga aku mau ganti, Mas. Ini bekas Mbak Sekar semua. Masa aku dapat bekas. Biar ditukar saja sama toko furniture.""Boleh, Sayang. Apa sih yang gak boleh untuk kamu? Semua yang ada di kamar ini boleh kamu ganti, kecuali saya ha ha ha ...." Exel tertawa bahagia, begitu juga Roro yang bersemu merah. Ini ke

  • Dijatah Tiga Minggu Sekali   9. Calon Suami Baru

    "Kerja bagus, Anggi," puji Pak Probo padaku. "Terima kasih, Pak. Sudah menjadi tugas saya," jawabku sopan dan profesional. Kaki ini mengekori langkah lebarnya dengan tergopoh karena kakiku tidak sebesar kakinya. Pria itu menoleh ke belakang sambil tersenyum padaku. "Apa jalan saya terlalu cepat sampai kamu seperti tengah jadi atlet lari?" tanyanya lagi. "Maaf, Pak, kalau berkenan, Bapak jalan pelan-pelan aja sedikit, Pak. Karena saya bawa banyak barang dan berkas ini," kataku tanpa berani mengangkat wajah untuk melihat ekspresinya. Sebuah kesalahan yang aku buat di hari pertama, pasti aku dikira mengatur bos."Saya gak bisa pelan, saya mau ke WC. Nanti keburu itu ha ha ha ...." aku pun akhirnya ikut tertawa. Pria itu berbelok ke kanan setelah melewati lorong. Ia masuk ke toilet lelaki, sedangkan aku ke toilet wanita. Wajah ini kucuci bersih agar kantuk hilang. Pelembab pun koleskan merata di kulit wajah agar terasa segar kembali. "Mau makan?" tanyanya. "Mau, Pak. Kalau Bapak?""T

  • Dijatah Tiga Minggu Sekali   8. Aturan Poligami

    PoV SekarAku mengernyit saat melihat nomor yang muncul di layar panggilan ponselku. Nomor asing yang tidak aku kenali. Merasa tidak penting, maka panggilan itu aku abaikan. Aku bergegas mandi karena kata bos yang menjadi targetku, hari ini aku tidak boleh terlambat. Sampai aku selesai mandi, ponsel masih berkelap-kelip. Mungkin saja dari bosku dan penting. Aku berdeham dua kali, agar suara serak ini tidak menganggu. Masih dengan memakai handuk saja, aku pilih mengangkat panggilan itu. "Halo." Kusapa dengan ramah."Apa yang kamu lakukan dengan kartu kreditku, Sekar? Ada tagihan tiga puluh lima juta. Apa yang sudah kamu beli? Kamu mau bikin aku bangkrut?""Ya ampun, kirain siapa yang nelpon, rupanya pengantin baru. Saya beli alat olah raga. Saya merasa mungkin saya tidak seksi, sehingga suami saya selingkuh dengan pinguin yang jago berlenggak-lenggok.""Sekar, hentikan! Kamu tidak perlu pergi juga sebenarnya bisa. Masalah ini menjadi rumit karena kamu tidak mau menerima aturan agama

  • Dijatah Tiga Minggu Sekali   7. Status Pernikahan

    PoV ProboNamaku Probo Hadiraja, biasa dipanggil Pak Probo oleh rekan bisnis, maupun teman sejawat. Aku pria mapan dan matang di usia empat puluh tujuh tahun. Aku memiliki anak perempuan satu-satunya yang bernama Ratu Roro Handayani yang biasa dipanggil Roro.Istriku Rosa Herdiyanti, wanita dari keluarga kaya yang saat ini terkena penyakit stroke. Istriku kerap marah-marah karena sakit yang ia derita tak kunjung sembuh, padahal kami sudah berobat keluar negeri. Oleh karena itu, ia pun menyerah dan membolehkan aku menikah lagi dengan Susan; seorang janda yang usianya lebih tua dua tahun dari istriku. Susan belum lama meninggal karena sakit jantung. Aku terkadang berpikir, apa salahku pada Tuhan sehingga aku selalu dihadapkan pada pasangan yang penyakitan. Mungkin sudah takdir untuk menguji kesabaranku. InsyaAllah aku sabar dan ikhlas, tentunya. Mereka berdua wanita baik dan terutama Rosa, adalah wanita cerdas yang memberikanku anak perempuan cantik yang cerdas dan juga berprestasi. Ha

  • Dijatah Tiga Minggu Sekali   6. Air Mata Terakhir untuk Suamiku

    "Mama kenapa nangis?" suara Ibra membuatku menoleh. Rupanya aku lupa menutup pintu kamar. Segera kuhapus air mata agar putraku tidak khawatir."Mama rasa ini karena Mama terlalu lama di depan laptop," jawabku asal. Tidak boleh sebenarnya berbohong pada anak, tetapi semua ini terpaksa aku lakukan. Ibra masih terlalu dini mengetahui papanya menikah lagi. Cepat atau lambat Ibra memang harus diberi tahu, tapi bukan sekarang. Aku saja masih belum benar-benar siap, apalagi Ibra! aku gak mau sampai mentalnya kena dengan kabar pernikahan sang Papa. "Mama lagi gak di depan laptop. Mama lagi marahan sama papa ya? " aku tersenyum, lalu berjalan menghampiri Ibra. "Sayang, besok akan ada mbak di rumah ini. Mama harus kerja karena Mama mau lebih pintar lagi jika Mama kerja. Ibra gak papa kan?" anak lelakiku itu mengganggukkan kepala. "Mama belum jawab pertanyaan Ibra. Mama marahan sama papa, terus pergi dari rumah? kayak yang di sinetron televisi itu.""Sayang, Mama dan papa memang ada sedikit m

  • Dijatah Tiga Minggu Sekali   5. Pertanyaan Tetangga

    "Itu urusan papa dan Mama yang harus diselesaikan, Nak. Nanti jika Ibra sudah lebih besar, Mama pasti cerita. Udahan tidurnya? Mau ikut Mama jajan es krim?" wajahnya berubah terang. "Mau, dong! Ibra cuci muka dulu ya, Ma." Putraku berlari masuk ke kamar mandi. Aku pun menutup laptop. Balasan email bisa aku buka dari ponsel. Aku harap, Tuhan membantuku kali ini. Aku membawa Ibra berkeliling tempat tinggal baru kami. Aku juga mengenalkan Ibra pada ibu tetangga kanan kiri, agar mereka kenal siapa saja anggota keluarga yang ikut tinggal bersamaku. Tidak lupa Ibra juga aku daftarkan mengaji di mushola terdekat agar ia bergaul dengan teman-teman seusianya. "Jadi tinggal berdua aja, Bu Sekar? Suaminya ke mana? Bu Sekar emang janda? Wah, kalau jandanya cantik kayak Bu Sekar, suami kita perlu dipakaikan kaca mata buibu, biar gak naksir Bu Sekar," tanya Bu Heru, tetangga depan rumahku. "Iya, Bu, untuk saat ini saya tinggal berdua Ibra karena ayah Ibra lagi banyak urusan keluar kota. Nanti k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status