MasukDina makan dengan cepat, tapi pikirannya sedang bekerja keras menyusun rencana.
"Dina, waktumu sudah habis! Selesaikan pekerjaanmu sekarang!" Suara bariton Fikri membuyarkan semua imajinasi Dina. Tanpa membuang waktu, Dina segera menyelesaikan pekerjaannya. Setidaknya dia sudah memiliki tenaga sekarang. Jam kerjanya tinggal dia jam lagi. "Tuan, pekerjaan saya sudah selesai!" lapor Dina. Fikri melempar berkas ke hadapan Dina. "Antar berkas itu ke ruang Direksi! Jangan kembali sebelum mendapat tanda tangan dari Pak Adrian." Dina mengangguk. Lalu keluar dengan langkah pasti. Di ujung lorong menuju lift, dia membuka ponselnya mencari kontak Pengacara keluarga. Setelah sering ke tiga, seorang pria menjawab panggilannya. "Pak, bisa tolong kirim nama-nama karyawan yang berpihak pada Papa dan parasit yang menumpang hidup di perusahaan saya?" "Itu tugasmu, Nak. Kamu bisa mengamati secara langsung siapa yang bisa kamu pertahankan setelah kamu mengambil alih perusahaan itu nanti dan siapa yang akan kamu ganti dengan karyawan baru. Tapi kamu harus ingat, segera kirim surat nikah ke kantor saya agar kamu bisa mengambil kendali penuh perusahaan itu!" tidak ada percakapan lebih lanjut karena panggilan diputus sepihak. Dina segera berlari menuju lift saat benda kotak itu terbuka. Dina melangkah cepat menuju ruang Direksi di lantai paling atas. Kata-kata sang pengacara keluarga masih terngiang di kepalanya. *Surat nikah.* Satu syarat konyol namun mutlak agar dia bisa mengambil alih kendali penuh atas perusahaan mendiang ayahnya. Ketika pintu berukir megah itu diketuk dan dibukakan, Dina melangkah masuk dengan tenang. Namun, pandangannya langsung tertuju pada dua sosok pria di dalam ruangan. Selain Adrian—Direktur Operasional yang selama ini licik menutupi kebusukan Fikri—ada seorang pria lain yang duduk berseberangan dengannya. Raka. CEO dari perusahaan raksasa yang sedang menjajaki kerja sama. Pria itu memancarkan aura dingin, tegas, dan tak tersentuh. Dari gerak-geriknya yang minim basa-basi, Dina bisa langsung tahu: Raka adalah tipe pria pragmatis yang membenci drama. "Pak Adrian, saya membawa berkas dari Pak Fikri yang membutuhkan tanda tangan Anda," ujar Dina dengan nada profesional dan tenang. Adrian menoleh sekilas, menyunggingkan senyum tipis yang meremehkan. "Tunggu sebentar di sofa, Dina. Saya sedang ada pembahasan penting dengan Pak Raka." Dina mengangguk sopan tanpa membantah. "Baik, Pak." Ia berjalan menuju sofa di sudut ruangan, duduk dengan anggun, lalu meletakkan map di pangkuannya. Sementara kedua pria itu melanjutkan pembicaraan bisnis, mata Dina mulai mengamati dengan cermat. Pikirannya bekerja secepat kilat, menimbang dan membandingkan. Menurut nalisis Singkat Dina, Adrian seorang yang berpengalaman, tapi serakah dan memuakkan. Menikah dengannya sama saja menyerahkan leher ke sarang serigala. Coret. Sedangkan Raka: adalah pria tampan, sukses, berkuasa, dan tampak sangat rasional. Jika butuh suami kontrak yang tidak akan melibatkan perasaan atau drama keluarga, Raka adalah kandidat sempurna. Tanpa membuang waktu, Dina mengeluarkan ponselnya dari saku. Tangannya menari lincah di atas layar, mencari seluruh data dan latar belakang kedua pria tersebut melalui internet. Ia mendalami profil Raka: status masih lajang, rekam jejak bisnis bersih dari skandal, dan dikenal sangat mematuhi kontrak. Senyum tipis terukir di bibir Dina. Pilihan sudah dibuat. "Dina, sini berkasnya," panggil Adrian, memecah konsentrasi Dina. Dina berdiri, menyerahkan dokumen tersebut, dan menunggu hingga tanda tangan dibubuhkan. Raka sempat melirik Dina sekilas dengan tatapan tajam dan datar, namun Dina menyambut lirikan itu dengan tatapan profesional tanpa cela. "Terima kasih, Pak. Saya permisi," ucap Dina lugas setelah menerima berkasnya kembali. Langkah Dina terasa lebih ringan saat kembali ke kubikel kerjanya. Namun, begitu ia sampai, meja Fikri sudah bersih dan kosong. Pria itu rupanya sudah pulang lebih awal, meninggalkan sisa pekerjaan begitu saja. Dina hanya terkekeh sinis. "Kamu benar-benar kejam, Fik. Heran, kenapa dulu aku bisa sampai suka sama pria laknat macam kamu!" maki Dina. Ketika Dina melangkah keluar menuju lobi utama, gemuruh langit menyambutnya. Hujan deras mengguyur kota, menciptakan tirai air yang lebat dan angin dingin yang berembus kencang. Dina berdiri di bawah naungan atap lobi, memperhatikan tirai hujan sambil memikirkan langkah selanjutnya. Tepat saat itu, pintu kaca lobi terbuka kembali. Raka dan Adrian berjalan keluar berdampingan, dikawal oleh seorang asisten yang memegang payung besar. Raka menghentikan langkahnya sebentar tepat di samping Dina untuk menunggu mobil jemputannya tiba. Dalam diam yang mencekam di antara derasnya hujan, Dina menoleh pelan ke arah Raka. Kesempatan itu ada di depan matanya—tinggal bagaimana cara dia mengeksekusinya.Pendar cahaya keemasan dari mentari sore membiaskan kehangatan di atas tatanan meja panjang yang terhias anggun di halaman belakang rumah utama kawasan Jakarta Selatan. Aroma wangi bunga sedap malam dan harum hidangan ayam bakar bumbu rujak memenuhi udara sore yang sejuk, menyatu dengan gelak tawa renyah anak-anak yang berlarian di atas rumput hijau.Arkanza yang kini sudah berusia satu tahun melangkah gontai dengan kaki mungilnya, mengejar Arkan yang sibuk membawa balon gas berwarna merah."Arkanza! Jangan lari cepat-cepat, nanti jatuh, Nak!" seru Dina penuh kehangatan, berdiri dari kursi ayunan kayu sembari merapikan gaun cantiknya.Raka yang berdiri di sampingnya bergegas merangkul pinggang Dina dari belakang, mendaratkan kecupan lembut di pelipis sang istri. "Biarkan saja, Sayang. Kan ada Rian sama Fikri yang menjaga mereka di rumput."Dina memiringkan wajahnya, menyunggingkan senyum tulus yang memancarkan pendar kebahagiaan sempurna. "Aku cuma terlalu bahagia, Mas... Melihat mere
Langkah kaki berbalut sepatu kets kusam itu membeku tepat di ambang pintu jati berukir klasik yang memancarkan aroma kayu tua. Fikri menatap bingung deretan rak buku mahoni yang menjulang tinggi di dalam ruang kerja almarhum ayah Felisa, sementara sinar matahari pagi menerobos celah gorden, membiaskan pendar keemasan pada meja kerja besar yang tertata rapi.Di atas meja kayu tua itu, sebuah plakat kuningan mengilap bertuliskan Direktur Utama terpajang gagah di samping tumpukan map laporan keuangan."Mas Fikri... kenapa malah melamun di pintu?" tegur Felisa lembut, melangkah mendekat sembari membawa cangkir kopi hangat yang aroma harumnya memenuhi ruangan.Fikri membalikkan badan, mengusap tengkuknya dengan raut wajah serba salah dan canggung. "Felisa... aku... aku masih terasa seperti bermimpi. Rumah sebesar ini... lalu ruang kerja ini..."Felisa meletakkan cangkir kopi di atas meja, lalu tersenyum manis memegang kedua tangan suaminya. "Ini bukan mimpi, Mas. Ini rumah kita sekarang. A
Suara gema takbir dan selawat yang mengalun lembut dari speaker Masjid Al-Ikhlas masih membekas hangat di udara pagi yang cerah. Aroma wangi melati segar bercampur asap tipis wewangian kayu cendana melayang halus, menyelimuti ruang serbaguna masjid yang tertata sederhana namun amat anggun dengan hiasan kain putih gading dan bunga krisan kuning.Di sudut meja akad nikah, Fikri yang mengenakan beskap putih sederhana masih mendekap dada, napasnya memburu lega dengan mata yang memerah berkaca-kaca usai mengucapkan ijab kabul dalam satu tarikan napas mantap."Selamat ya, Fikri... Felisa..." panggil Pak Hendra hangat, melangkah mendekati pelaminan kecil bersama Raka dan Dina.Felisa mencium punggung tangan Om Bram yang berdiri di samping penghulu dengan mata yang basah oleh air mata haru."Om Bram... terima kasih banyak ya..." cicit Felisa parau, suaranya tercekik oleh keharuan mendalam. "Terima kasih sudah mau jadi wali nikah Felisa dan merestui kami..."Om Bram menghembuskan napas panjang
Sinar lampu jalanan yang temaram membiaskan pendar hangat di atas aspal basah lorong gang kontrakan Felisa. Udara malam yang dingin bercampur bau harum martabak telur hangat yang dibawa Fikri, mengiringi langkah kaki pria itu yang bergegas mendekati pintu kayu sederhana di ujung jalan.Meski pakaian kerjanya masih berbau oli tipis usai seharian membanting tulang di bengkel, senyum di bibir Fikri tak pernah luntur.TAK! TAK! TAK!"Felisa... Arkan..." panggil Fikri pelan dari luar pintu usai mengetuknya tiga kali.CKELEK!Pintu terdorong terbuka. Arkan yang mengenakan piyama beruang langsung berlari kecil dengan langkah kakinya yang masih agak sempoyongan, menerjang lutut Fikri."Papa! Papa pulang!" seru Arkan gembira, mengangkat kedua tangan mungilnya minta digendong.Fikri seketika berlutut di lantai teras, merengkuh tubuh balita dua tahun itu ke dalam pelukannya dengan pendar kasih sayang yang meluap-luap. Ia mencium pipi gembul Arkan berulang kali."Anak Papa... Kangen Papa ya?" bis
Sinar keemasan matahari pagi menembus celah gorden ruang tamu rumah baru di Jakarta Selatan, membiaskan cahaya hangat di atas karpet bulu empuk tempat Arkanza—bayi mungil berusia dua bulan—sedang menendang-nendangkan kakinya riang.Aroma harum bubur bayi dan seduhan teh krisan memenuhi udara, menyelimuti pagi yang tenang. Namun, kedamaian itu seketika terusik saat suara ketukan pintu pagar depan terdengar tegang dan terburu-buru.TAK! TAK! TAK!Rian yang sedang mengelap mobil di halaman bergegas membuka pintu pagar. Raut wajah asisten pribadi itu seketika menegang saat melihat sosok wanita yang berdiri canggung di luar."P-Pak Raka! Bu Dina!" panggil Rian setengah berbisik usai berlari kecil ke dalam rumah.Raka yang sedang menyeduh susu di dapur menghentikan gerakannya. "Ada apa, Rian?""Bu Elena... ada di depan pagar, Pak," bisik Rian cemas. "Beliau... kelihatan beda sekali. Penampilannya sangat sederhana, tidak pakai perhiasan atau gaun mewah seperti dulu."Dina yang sedang memangk
Pendar sinar matahari sore yang hangat menerobos tirai tipis ruang perawatan VIP lantai empat, membiaskan cahaya keemasan di atas sprei putih yang rapi. Bau harum aroma terapi lavender bertabrakan dengan uap sup kaldu hangat di atas meja, menyelimuti suasana kamar yang tenang namun sarat akan keharuan yang mendalam.Dina bersandar di tumpukan bantal empuk. Wajahnya yang semula pucat pasi kini perlahan kembali memancarkan rona kehidupan, meski selang infus masih menempel di punggung tangan kirinya.Di sisi ranjang, Raka berlutut di lantai. Pria tegap itu tak berhenti menggenggam jemari kanan Dina, menciuminya berulang kali dengan linangan air mata bahagia yang mengalir tanpa henti di pipinya."Mas... sudah, Mas," bisik Dina lembut, suaranya masih agak parau namun amat menyejukkan. Jemari cantiknya mengusap lembut rahang tegas Raka yang dihiasi jambang tipis. "Nanti kalau suster masuk, Mas Raka dikira anak kecil yang sedang merajuk.""Biarkan saja," sahut Raka parau, mendongak menatap m







