แชร์

Lima

ผู้เขียน: Cahaya Asa
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-24 21:32:23

"Baiklab, sebagai tugas pertamamu serahkan semua file fisik perusahaan sepuluh tahun terakhir ke meja saya sebelum jam empat sore!"

Dina yang baru saja bernapas lega langsung tersentak. "Sepuluh tahun terakhir, Tuan?"

Fikri menyandarkan punggungnya ke kursi kulit mewahnya, menyilangkan tangan di dada dengan sudut bibir yang terangkat sinis. "Kenapa? Katanya lulusan terbaik dan mau melakukan apa saja? Di ruangan sebelah ada lima lemari arsip. Susun semuanya berdasarkan tahun dan pilah rapi sesuai jenis kerja samanya."

Dina menelan ludah, menatap pintu ruangan arsip yang sedikit terbuka. Di dalam sana, tumpukan map tebal berwarna cokelat dan putih menggunung hingga hampir menyentuh langit-langit rak.

"Tapi, Tuan... ini sudah jam sebelas," cicit Dina, sengaja memelankan suaranya agar terlihat gentar. "Waktu istirahat makan siang sebentar lagi. Saya... saya belum makan apapun dari pagi."

"Tidak ada istirahat untuk karyawan magang yang kinerjanya belum teruji," potong Fikri dingin, mengetuk-ngetuk jarum jam tangannya. "Selesaikan semuanya dulu, baru kamu boleh menyentuh makanan. Kalau ada satu berkas yang salah susun, gaji pertamamu saya potong."

Dina mengepalkan tangannya di balik lipatan kemeja putihnya. "Baik, Tuan Fikri. Akan saya kerjakan sekarang."

Dina berbalik dan melangkah masuk ke dalam ruangan arsip. Begitu pintu kaca tebal itu tertutup rapat, senyum patuh di wajahnya luruh seketika, digantikan oleh tatapan mata yang penuh kilat kemarahan.

Dina menarik sebuah kursi besi, lalu menyapu debu tipis di atas tumpukan map tahun 2016 dengan kibasan tangan yang kasar.

"Dasar pria gila!"maki Dina dalam hati sambil melempar map berkas investasi ke atas meja dengan ketukan keras. "Kamu pikir kamu siapa, Fikri?! Nyuruh-nyuruh pemilik perusahaan seperti budak! Mentang-mentang jadi manager, lalu mau berbuat sesukanya?"

Debu-debu kertas berterbangan, membuat hidung Dina gatal. Seorang pewaris tunggal dengan kekayaan ratusan milyar mengerjakan pekerjaan rendahan.

"Om Heri, ini semua karena Om! Dasar serakah! Mata duitan! Tukang Judi!" Dina memilah berkas dengan mulut terus mengomel. Memaki orang-orang yang membuat hidupnya sengsara.

Perut Dina yang hanya diisi segelas air putih sejak pagi mulai menyuarakan protes dengan dentuman halus yang perih. Ia melirik jam dinding—pukul satu siang. Dari balik kaca buram, ia bisa melihat Fikri berjalan santai keluar ruangan membawa jasnya, siap untuk makan siang mewah di luar.

'Lihat saja nanti,' batin Dina, memindahkan seonggok berkas kerja sama energi dengan sentakan kuat hingga lengannya pegal. 'Begitu aku berhasil mendapatkan pria yang cocok dan membawa akta nikah ke hadapan Pak Januar, orang pertama yang bakal aku tendang dari gedung ini adalah kamu!'

Dina mengusap keringat yang mulai membasahi pelipisnya. Jemarinya yang lentik kini ternoda tinta hitam dan debu kertas tua. Baju formalnya mulai sedikit kotor.

"Aku bakal bikin kamu berlutut di lantai marmer ini, Fikri. Aku pecat kamu tanpa pesangon sepeser pun, lalu aku lemparkan surat pemecatan itu tepat di depan wajah sombongmu itu! Kita lihat siapa yang bakal mengemis pada siapa!"

Dina menghembuskan napas keras-keras, lalu kembali menarik tumpukan map tahun 2018 dengan gerakan kasar, menyalurkan seluruh rasa jengkelnya pada lembaran-lembaran kertas di hadapannya.

"Tapi... kira-kira siapa pria yang bisa diajak menikah dalam waktu sebulan?" Dina melamun memikirkan langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya untuk mengembalikan semua aset yang diwariskan padanya.

Tiba-tiba sebuah ide melintas di otak Dina. "Yup, aku tau apa yang harus kulakukan sekarang!"

Tepat pukul dia siang, kepala Dina seperti berputar-putar. keringat dingin membasahi pelipis dan lehernya yang tertutup kerudung segi empat. Jangan ditanya bagaimana perihnya lambung gadis yatim piatu itu.

"Dina! mana berkas yang saya minta? Sekarang sudah jam dia dan kamu belum mendapatkan apa-apa?" Lengkingan suara Fikri memecah konsentrasi Dina.

Dengan gerakan cepat, Dina mengangkat berkas yang diminta dan membawanya ke hadapan Fikri.

"Ini, Tuan. "

Fikri menatap wajah Dina yang pucat. Namun tidak ada sedikitpun rasa iba di hatinya. ia menyodorkan nasi kotak yang isinya sudah dingin ke hadapan Dina.

"Nih, makan! Jangan sampai kamu menuduh saya kejam karena mempekerjakan kamu tanpa memberi makan!"

Dina menatao kotak nasi kotak di hadapan dan Fikri bergantian. Lalu mengambil nasi kotak itu dan berjalan menuju mejanya. "Terima kasih, Tuan!"

"Hm. Setelah makan, kamu susun lagi berkas ini di rak!"

Seketika Dina ingin melempar kursi ke wajah pria itu.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dijebak Mantan, Nona Pewaris Kirim Balasan   Seratus Duapuluh Tiga

    Sinar matahari pagi yang hangat menerobos di antara sela-sela pepohonan taman kota, membiaskan pendar cahaya keemasan di atas rumput hijau yang basah oleh embun. Suara tawa mungil Arkan pecah saat balita itu menepuk-nepuk bola plastik merah di atas tikar piknik, dikelilingi oleh suasana taman yang tenang di akhir pekan.Felisa duduk bersila di samping Dina, memperhatikannya dengan senyum tipis. Di sudut lain dekat ayunan, Fikri berdiri kaku, menggenggam erat sebuah mainan mobil-mobilan kayu. Pria itu mengenakan kemeja polos sederhana dengan lengan digulung, raut wajahnya tampak penuh keraguan dan rasa canggung yang mendalam."Mbak Felisa..." bisik Dina lembut, menyikut pelan lengan Felisa. "Lihat Fikri dari tadi cuma berdiri mematung di sana. Dia kelihatan takut banget mau mendekat."Felisa membuang napas pelan, menatap Fikri yang sejak setengah jam lalu hanya berdiri berjarak beberapa meter tanpa berani mengusik mereka."Aku masih agak bingung, Din..." cicit Felisa parau, jemarinya m

  • Dijebak Mantan, Nona Pewaris Kirim Balasan   Seratus Duapuluh Dua

    Suara deru mesin mobil SUV hitam Raka perlahan mati di depan pekarangan rumah minimalis kawasan Jakarta Selatan. Mentari sore membiaskan warna jingga keemasan yang hangat, menembus kaca jendela dan menyinari dua wanita yang sedang tertawa renyah di kursi belakang.Dina turun perlahan dibantu Raka, sementara Felisa menyusul keluar sembari menggendong Arkan yang sibuk mengunyah biskuit bayi."Mas Raka, tolong bawakan tas perlengkapan Arkan di bagasi ya," minta Dina lembut sembari merangkul lengan Felisa menuju teras."Siap, Kanjeng Ratu," sahut Raka terkekeh, menggeleng pelan melihat keakraban dua wanita yang dulu pernah berada di garis perselisihan itu.Felisa menatap rumah hangat di hadapannya, lalu menoleh pada Dina dengan raut wajah yang mendadak emosional. "Dina... terima kasih ya. Kamu selalu repot-repot jemput aku dan Arkan setiap pulang praktik.""Astaga, Mbak Felisa, repot dari mananya?" senyum Dina tulus, mengusap pipi gembul Arkan. "Rumah sakit sama rumah kan searah. Lagian,

  • Dijebak Mantan, Nona Pewaris Kirim Balasan   Seratus Duapuluh Satu

    Pendar lampu jalanan yang berkedip di luar jendela menyisakan bayangan hitam yang menari-nari di atas plafon kamar kontrakan yang kusam. Felisa masih berdiri mematung di balik gorden, jemarinya meremas kain kain gorden hingga memutih kaku, menatap lurus ke arah lorong gang yang kini kosong melompong usai sosok Fikri menghilang di dalam kegelapan.Napas Felisa memburu parau, dadanya terasa begitu sesak oleh hantaman memori kelam dan rasa cemas yang mendadak meledak."Non Felisa... Ya Allah, Non! Kenapa berdiri di situ terus?" panggil Mbok Nah panik, menarik pelan lengan Felisa. "Preman-preman tadi sudah pergi kan, Non?"Felisa tersentak kaku, membalikkan badannya dengan raut wajah yang amat pucat dan mata berkaca-kaca. "M-Mbok... orang berjaket hitam tadi... orang yang mengintai rumah ini dari siang...""Iya, Non? Siapa dia sebenarnya? Maling kah?" cecar Mbok Nah cemas."Bukan maling, Mbok..." bisik Felisa dengan suara pecah yang bergetar hebat. "Dia... Fikri. Ayah kandungnya Arkan..."

  • Dijebak Mantan, Nona Pewaris Kirim Balasan   Seratus Dua Puluh

    Hawa dingin sisa hujan malam merayap naik menembus celah ubin semen kontrakan sederhana itu. Felisa masih berdiri mematung di balik daun pintu, jantungnya berdegup kencang bak ditabuh tambur sementara bayinya, Arkan, mulai terlelap kembali dalam dekapan hangatnya.Mbok Nah, wanita paruh baya yang menjadi pengasuh Rian sehari-hari, keluar dari dapur kecil membawa segelas air hangat dengan raut wajah penuh cemas."Non Felisa... Non kenapa? Kok mukanya pucat sekali?" tanya Mbok Nah pelan, menyodorkan gelas kaleng ke tangan Felisa.Felisa menerima gelas itu dengan jemari gemetar. Ia menyesapnya sedikit, berusaha menguasai napasnya yang masih memburu. "Mbok... tadi waktu Mbok di sini sampai sore, ada orang mencurigakan tidak di luar gang?"Mbok Nah tersentak, menutup mulutnya dengan tangan. "Aduh, Non... justru Mbok mau cerita dari tadi! Sejak siang bolong tadi, ada laki-laki tinggi pakai jaket hitam berdiri terus di dekat warung depan."Felisa membelalakkan mata, cengkeramannya pada selim

  • Dijebak Mantan, Nona Pewaris Kirim Balasan   Seratus Sembilan Belas

    Matahari pagi menyusup halus di balik gorden kamar utama, membiaskan garis-garis cahaya keemasan yang jatuh tepat di atas piring berisi potongan buah naga dan secangkir teh jahe hangat. Dina sedang mematut diri di depan cermin besar, merapikan lipatan jilbabnya sembari menyunggingkan senyum lega."Mas, mualnya benar-benar sudah jauh berkurang hari ini. Sumpah, aku rasanya fit banget!" ujar Dina bersemangat, menoleh pada Raka yang sedang mengancingkan manset kemejanya.Raka menghentikan jemarinya, mengamati raut wajah istrinya dari cermin dengan kening yang bertaut cemas. Pria tegap itu melangkah mendekat, memegang kedua bahu Dina dengan kelembutan yang sangat protektif."Yakin tidak mau istirahat di rumah satu atau dua hari lagi, Dina?" bisik Raka parau, matanya menatap intens ke arah perut Dina. "Usia kandungan kamu ini baru mau masuk trimester kedua. Mas masih cemas kalau kamu kelelahan."Dina terkekeh pelan, berbalik lalu mencubit gemas lengan suaminya. "Mas Raka ini protektifnya b

  • Dijebak Mantan, Nona Pewaris Kirim Balasan   Seratus Delapan Belas

    Aroma gurih kaldu ayam kampung yang mendidih lembut di atas kompor memenuhi seluruh sudut dapur bersih rumah baru mereka di Jakarta Selatan. Sinar matahari pagi menerobos dari celah gorden tipis, membiaskan pendar hangat di atas meja makan kayu yang tertata rapi dengan dua mangkuk sup dan piring berisi potongan buah segar.Dina berdiri di depan kompor, memegangi perutnya yang mulai sedikit membuncit dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya perlahan mengaduk kaldu.Raka melangkah pelan dari arah kamar, mengenakan kemeja santai yang sudah terpasang rapi. Tangan kanannya yang dulu digips kini sudah lepas, hanya menyisakan sedikit perban elastis di pergelangan tangan."Sayang... jangan berdiri terlalu lama," bisik Raka lembut dari belakang, merangkul pinggang Dina dan mendaratkan kecupan hangat di pipi istrinya.Dina tersenyum manis, memiringkan wajahnya menatap suaminya. "Mas, aku cuma masak sup ayam sebentar. Dokter Felisa kan bilang minggu lalu kalau usia kandungan enam minggu ini

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status