LOGINHujan gerimis di luar gedung cabang Prameswari Group Bandung perlahan memudar, menyisakan gemericik air yang menetes pelan dari sudut atap. Di dalam kabin SUV hitam yang hangat dan beraroma kayu cendana, Raka merengkuh jemari Dina rapat-rapat, enggan melepasnya meski hanya sekejap."Kita tidak pulang ke rumah Menteng," bisik Raka parau, mengusap punggung tangan Dina yang masih terasa dingin.Dina menoleh, menatap wajah suaminya yang nampak lelah namun memancarkan keteguhan utuh. "Terus kita mau ke mana, Mas?""Ke rumah kita sendiri," jawab Raka mantap, menatap mata Dina lurus-lurus. "Rumah di kawasan Selatan yang dulu kita beli sebelum menikah. Di sana tidak akan ada yang bisa mengganggu kita lagi. Tidak ada Mama, tidak ada Felisa."Dina menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya di bahu tegap Raka. "Tapi Mas... Ibu kamu pasti makin marah kalau kamu tinggalin gitu aja.""Biarkan saja," pangkas Raka dingin. "Mama harus belajar menghargai pilihan hidup saya. Ma
Cangkir teh porselen di tangan Elena bergetar hebat sebelum akhirnya terhempas kepingan-kepingannya ke atas lantai marmer, menciptakan dentang nyaring yang memotong keheningan mencekam di ruang tamu Menteng.Cairan teh hangat merembet basah mengenai ujung sepatu Felisa yang membeku di tempatnya berdiri, wajah gadis itu memucat pasi bagai mayat.Raka perlahan berdiri dari sofa. Meski tangannya masih terbebat gips dan dadanya terasa nyeri, postur tubuhnya yang tegap memancarkan intimidasi yang amat sangat membahayakan."Jawab Raka, Ma!" bentak Raka dengan suara bass yang bergetar menahan gunung kemurkaan di dadanya. "MAMA MEMBOHONGI RAKA?!""R-Raka... dengarkan penjelasan Mama dulu, Nak..." cicit Elena, langkah kakinya mundur dua tapak menatap sorot mata anaknya yang merah menyala. "Mama... Mama cuma melakukan ini demi kebaikanmu—""Kebaikan siapa?!" pangkas Raka lantang hingga gema suaranya memantul di dinding ruang tamu. "Kebaikan Mama dan Felisa?! Mama memfitnah istri saya! Mama bila
Cahaya matahari pagi membiaskan sinar hangat menembus kaca jendela ruang VIP Rumah Sakit Medika, menyinari nampan stainless steel berisikan sarapan yang belum tersentuh di meja samping ranjang. Aroma sup ayam hangat buatan Dina—yang seperti biasa dikirimkan secara sembunyi-sembunyi melalui Suster Melati tiga hari berturut-turut—masih menyisakan kehangatan yang amat dikenal oleh Raka. Raka yang sudah berpakaian rapi dengan kemeja putih dan celana kain hitamnya duduk di tepi ranjang. Tangan kanannya masih menyangga perban penopang gips, namun raut wajahnya jauh lebih segar meski guratan lelah dan luka di keningnya belum sepenuhnya sirna. CKELEK. Pintu kamar terdorong lebar. Elena melangkah masuk bersama Felisa, disusul dua petugas medis yang membawa berkas kepulangan. "Raka! Dokter sudah beri izin kamu pulang hari ini, Nak!" seru Elena berwajah ceria, melangkah anggun menghampiri anaknya. "Semua administrasi sudah Mama urus." Raka mendongak, matanya yang dingin menatap ibunya luru
Hujan di luar sudah mereda, menyisakan deretan titik air yang mengalir lambat di kaca jendela kamar VIP lantai tiga. Dari balik celah kecil gorden yang tidak tertutup rapat, Dina berdiri mematung di lorong luar, menatap sosok Raka yang terbaring lelah dengan tubuh penuh perban.Hatinya bagai diiris belati melihat pria tegap yang biasanya berdiri kokoh dan berkuasa itu kini tampak begitu rapuh, terkunci dalam manipulasi dan amukan emosi ibunya sendiri."Mas Raka..." bisik Dina sangat lirih, jemarinya mengusap kaca dingin yang memisahkan mereka.Dina melihat Raka terpejam rapat, napasnya memburu menahan sakit usai meluapkan kemarahannya pada Elena. Rasa bersalah yang teramat besar menghantam dada Dina. Ia tahu, makin ia bertahan di tempat ini, makin panas konflik keluarga itu, dan makin tersiksa Raka yang sedang butuh ketenangan untuk pulih.Dina membalikkan badannya perlahan, menahan tangis yang menyesakkan tenggorokan. Tanpa menoleh lagi, ia melangkah pergi menyusuri lorong Rumah Saki
Bau cairan antiseptik di koridor rumah sakit mendadak terasa begitu menyesakkan saat Dina berdiri gemetar di sudut tangga darurat. Kotak makanan transparan berisi sup ayam hangat buatan tangannya sendiri terikat rapi dalam pelukannya, terhimpit hangat di tengah tubuhnya yang lelah dan basah oleh keringat dingin."Suster... saya mohon, cuma ini yang bisa saya berikan buat suami saya," bisik Dina lirih, matanya yang sembap menatap Suster Melati dengan memohon.Suster Melati menatap Dina iba, lalu melirik ke arah lorong ruang VIP yang dijaga ketat oleh dua satpam bentukan Elena. "Mbak Dina... Bu Elena melarang keras siapa pun membawa makanan dari luar, apalagi dari Mbak.""Tolong, Suster..." tangis Dina pecah tanpa suara, meremas ujung selimut kecil penutup kotak supnya. "Mas Raka baru sadar. Dia pasti lapar dan butuh makanan rumah. Tolong berikan ini diam-diam tanpa sepengetahuan Ibu Elena atau Mbak Felisa."Suster Melati menghela napas panjang, meraihkotak makanan itu pelan dari tangan
Lampu neon putih di plafon ruang VIP Rumah Sakit Medika menyilaukan sepasang mata Raka yang perlahan terbuka. Rasa pening hebat akibat gegar otak ringan masih menusuk-nusuk tempurung kepalanya, sementara lengan kanannya terasa kebal terbebat gips tebal.Raka mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadarannya yang berserakan.Seseorang duduk di kursi sudut ranjang, sedang memotong buah apel dengan sangat hati-hati. Gaun pastelnya rapi, rambutnya terurai indah."Dina...?" bisik Raka dengan suara parau yang amat rapuh dari balik masker oksigen.Gadis itu mendongak kaget. Pisau di tangannya terlepas, jatuh berdenting di atas piring kaca."Mas Raka!" seru Felisa manis, matanya berbinar gembira saat melangkah mendekat. "Alhamdulillah... Mas akhirnya sadar penuh!"Raka menarik napas pendek, rasa kecewa seketika menghantam dadanya begitu melihat sosok di sampingnya. "Kamu... Felisa? Dina mana?"Felisa menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rasa prihatin buatan, mengusap punggung tanga







