LOGINPasca kejadian hari itu, Ariyan tidak pernah bertingkah lagi. Ia menjadi anak yang sangat penurut dan tekun dalam studinya.Setelah tamat SMU, Ariyan melanjutkan pendidikan di sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia. Padahal tadinya Jeandra dan Zelena tidak keberatan jika anak itu ingin kuliah di luar negeri. Zelena tidak ingin mengekang, apalagi untuk pendidikan Ariyan. Tapi entah mengapa sang putra satu-satunya memilih Indonesia. Sangat berbeda dengan teman-teman seangkatannya.Tanpa ada yang mengarahkan, Ariyan mengambil jurusan teknik sipil, sama seperti Jeandra. Di sela-sela jadwal kuliahnya, Ariyan mulai belajar dari Jeandra cara mengelola perusahaan. Kalau ada waktu luang ia akan ikut dengan Jeandra ke lokasi proyek, bertemu klien, atau sekadar ikut mendampingi Jeandra dalam rapat-rapat strategis di kantor pusat. Bagi Jeandra, melihat Ariyan yang begitu bersemangat mendalami dunia konstruksi adalah kebanggaan luar biasa. Ia melihat replika dirinya yang lebih muda, namun d
Ariyan menyambar ponsel Zelena dengan cepat. Ia segera menekan nomor Aira dan menghubungi melalui panggilan video. Wajahnya masih merah karena amarah yang tersisa. Cukup lama baru Aira menjawab dengan muka mengantuk karena di sana masih dini hari.“Ariyan? Kenapa nelpon jam segini?”"Kak, Mama udah di sini. Ini lagi sama aku. Sekarang batalkan kuliah S3-nya. Pulang ke Indonesia sekarang. Mama udah setuju. Nggak ada yang bisa maksa-maksa Kakak lagi!" ucap Ariyan dengan nada mendesak. Zelena hanya bisa mendengarkan dengan perasaan sedih. Kata-kata tajam Ariyan, tuduhan anak itu tentang kopi dan tangannya yang menggebrak meja masih terngiang dengan jelas di telinga Zelena. Ia menunggu kalimat kepulangan dari Aira yang akan semakin menghancurkan hatinya.Namun, di layar ponsel, ekspresi Aira tidak tampak bahagia. Ia malah terlihat tenang, bahkan sedikit menyesal."Ari... tunggu dulu," suara Aira terdengar lembut, sangat kontras dengan teriakan Ariyan sebelumnya."Tunggu apa lagi, Ka
Malam itu Aira tidak bisa tidur. Pikirannya tidak jauh-jauh dari Ariyan. Keesokan harinya setelah membeli handphone baru ia langsung menghubungi adiknya itu.Ariyan awalnya tidak mau menjawab karena masih kecewa. Tapi setelah Aira mengirim pesan permohonan maaf yang menjelaskan kondisinya, barulah Ariyan mau menerima panggilan darinya.“Kangen kamu, Ariyan,” ucap Aira dengan suara dan ekspresi penuh kerinduan. Ariyan hanya diam memandangi Aira di layar.“Masih marah ya sama aku?”Ariyan tetap belum membuka mulut.“Maaf deh, maaf. Aku rencananya, kan, mau kasih surprise. Mana kutahu kalau itu handphone bakalan rusak.”“Kapan kamu pulang?” Mendengar pertanyaan dingin nan menusuk dari Ariyan, Aira menarik napas panjang. Wajahnya berubah sedih."Itu dia masalahnya. Mama ngelarang aku pulang."Dahi Ariyan berkerut dalam. "Maksudnya? Bukannya kamu udah wisuda?”“Udah, tapi Mama maksa aku lanjut S3 di sini.”“Apa? Maksa? Mama udah gila ya?” kaget Ariyan tidak percaya.“Mungkin.” Aira men
“Ariyan mana, Ma?” Itu yang pertama kali ditanyakan Aira saat berjumpa dengan Zelena dan Jeandra, bukan kabar orang tuanya.“Ari nggak bisa ikut, Kak. Paspornya rusak kena kopi. Lagian Zivanya juga lagi sakit.”Aira merasa sangat kecewa setelah mengetahui Ariyan tidak ikut. Padahal ia sangat merindukan adiknya itu. Terlebih lagi beberapa hari belakangan mereka putus komunikasi akibat ponselnya yang rusak.Namun, yang membuatnya sakit hati adalah karena alasan Zivanya sakit. Ia memang sudah tahu tentang perjodohan keduanya dari Ariyan. Dan bagi Aira, perjodohan itu hanya perjodohan ecek-ecek akibat euforia Jeandra dan Abi yang bersahabat dekat. Tapi tetap saja Aira merasa cemburu.Dulu, rasa sayang Aira pada Ariyan murni sebagai rasa sayang kakak pada adiknya. Namun, saat mereka bertemu setelah empat tahun berpisah, dan melihat Ariyan tumbuh menjadi pemuda gagah dan tinggi, Aira tidak sanggup lagi mengendalikan perasaannya. Ia tidak bisa melihat Ariyan sebagai adiknya yang baru berumur
Ariyan bangkit dari tempat tidur tanpa memedulikan Zivanya yang masih meringkuk gemetar di balik selimut. Ia memungut kemejanya yang tergeletak di lantai, lalu mengenakannya kembali.Ia berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya yang berantakan. Ia melirik melalui pantulan cermin ke arah tempat tidur. Di sana, di atas sprei yang kini tampak kacau, ia dapat melihat bercak merah.Setelah berpakaian sepenuhnya, Ariyan kembali mendekat."Hapus air mata kamu, Ziva. Perbaiki riasanmu sebelum orang tua kita mencari," ucap Ariyan tanpa emosi. "Kamu udah dapat apa yang kamu mau, kan? Perhatianku?"Zivanya tersentak, tangisnya semakin menjadi mendengar ucapan kejam itu. "Kamu jahat, Ari. Kamu anggap aku apa?""Aku anggap kamu tunanganku. Milikku. Dan milikku nggak boleh disentuh orang lain seperti tadi. Anggap ini peringatan agar kamu tahu posisimu. Jangan pernah mencoba memancing amarahku lagi dengan laki-laki lain.”“Kalau memang aku milikmu, bukan begini cara memperlakukanku,” jawab Zi
Sejak pagi, Ariyan terus-terusan memeriksa ponselnya. Tapi tidak ada satu pun pesan yang ia nantikan masuk ke ponselnya, apalagi panggilan telepon.Hari ini adalah hari ulang tahun Ariyan yang ke-17, yang bertepatan dengan tiga hari sebelum keberangkatan ke Brazil.Ia sangat menantikan ucapan selamat dari Aira. Tapi gadis itu menghilang tepat di hari yang seharusnya mereka rayakan bersama. Ponselnya tidak aktif. Padahal, Aira pasti tahu betapa berartinya hari ini. Sikap Aira membuat emosi Ariyan berada di titik didih.Sampai malam ini saat pesta diadakan, notifikasi handphone Ariyan masih sunyi dari Aira.Pesta ulang tahun Ariyan dan Zivanya diadakan di villa milik keluarga Ariyan di kawasan Highland.Para tamu yang merupakan teman-teman sekolah internasional mereka memadati area poolside di villa bawah. Sementara itu para orang tua berada di bangunan utama yang letaknya agak tinggi. Mereka sedang menikmati jamuan makan malam formal yang lebih tenang.Ariyan berdiri di sudut villa. Ia
Sedan hitam itu melaju cepat membelah jalan raya. Sesekali sang pengemudi harus mengurangi kecepatan karena antrian yang mengular, membuat dua orang yang berada di dalamnya mengumpat kesal. Rosalia duduk di kursi penumpang. Dalam diam, matanya tajam menatap ke depan. Tidak ada obrolan. Hanya embu
Tidak sama dengan pagi-pagi lainnya, pagi ini terasa berbeda. Jeandra yang biasanya bangun sesukanya dan berangkat ke kantor jam berapa pun yang diinginkannya, kali ini harus bangun pagi karena harus mengurus Aira dan menyiapkannya untuk ke sekolah.Bahkan pagi ini Jeandra terbangun bukan oleh alar
Masih ada waktu cuti tersisa beberapa hari lagi sebelum Zelena kembali bekerja. Jadi ia menggunakannya dengan mengurus segala sesuatunya mengenai Aira sebelum ditinggal kerja nanti. Hari ini Zelena berencana mencari sekolah sekaligus daycare untuk anak itu.Zelena sudah siap-siap pergi ketika pint
Jeandra mematikan mesin mobil, namun tangannya masih berada di setir. Tatapannya tertuju lurus ke arah ibunya dan Valerie yang berdiri di beranda, tertawa dan bercengkerama seperti dua orang sahabat lama.Aira ikut memandang searah sang papa. “Pa, itu siapa?” tanyanya penasaran.Jeandra menghela n







