Share

Part 3

last update Last Updated: 2025-12-01 16:49:46

Sepeninggal Jeandra, Zelena hanya bisa berbaring lemah di tempat tidur. Demamnya tidak kunjung reda. Tubuhnya panas seperti dibakar, tetapi tangannya dingin dan gemetar. Setiap kali ia mencoba berdiri ia kembali jatuh ke tempat tidur.

Ia sudah meminum sisa obat penurun panas yang ditemukannya di laci, tetapi tidak banyak membantu.

Melihat jam sudah menunjukkan pukul enam sore, Zelena memaksakan diri untuk bangun.

Dengan sisa tenaga yang ada, Zelena berjalan terhuyung ke kamar mandi sambil berpegangan pada dinding. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, yang langsung membuatnya menggigil semakin hebat.

Saat Zelena keluar dari kamar mandi, Jeandra sudah berdiri di depannya. Lelaki itu baru saja pulang.

“Ada acara makan malam keluarga malam ini,” beritahunya datar.

“Aku nggak bisa ikut, Je, aku masih sakit,” tolak Zelena lemah.

Penolakan itu membuat Jeandra menunjukkan sedikit ketidaksenangannya.

“Jangan cari masalah. Kamu udah cukup buruk di mata keluargaku. Kalau kamu nggak ikut, mereka akan bertanya kamu ke mana. Dan aku harus bilang apa? Bahwa istriku nggak bisa ikut gara-gara manja kayak anak kecil?”

Jeandra masih saja meremehkan keadaan Zelena, padahal kondisinya sangat mengkhawatirkan.

“Aku takut pingsan di sana dan merepotkan orang lain.”

“Sudahlah, Zel, jangan berlebihan,” jawab Jeandra yang tampak muak.

Zelena terdiam. Jeandra bersikap seolah Zelena memang sedang mencari perhatian. Padahal, sejak pagi ia berjuang sendirian. Demam tinggi, muntah, dan hampir jatuh di kamar mandi.

“Je, tapi—“

Jeandra mendekat, menatap Zelena dengan lebih intens. “Apa sulitnya datang ke sana? Kamu hanya perlu duduk manis dan senyum sama semua orang.”

“Tapi aku benar-benar nggak kuat.”

Ekspresi Jeandra sedikit mengeras. “Aku nggak nanya kamu kuat atau nggak. Kamu harus ikut,” titah Jeandra tidak ingin dibantah.

Jeandra berjalan menuju lemari. Ia mengambil sebuah gaun milik Zelena, lalu melemparnya ke tempat tidur. “Pakai ini. Jangan bikin aku ngomong dua kali.”

Zelena memandang gaun itu dengan tatapan sayu. Tubuhnya terasa lemah, seluruh persendiannya nyeri, dan kepalanya seperti dipukul palu. Namun ia tahu, menolak hanya akan membuat Jeandra semakin tidak senang.

Dengan lesu ia mengambil gaun itu dan mengenakannya dengan gerakan yang sangat lambat.

Zelena memaksa diri melangkah ke cermin. Rambutnya berantakan, wajahnya benar-benar pucat. Tangannya gemetar saat mencoba mengaplikasikan sedikit riasan. Namun, tetap saja tidak bisa menutupi keadaannya.

Tepat pukul tujuh malam mereka tiba di kediaman orang tua Jeandra.

Seluruh keluarga sudah berkumpul. Begitu Jeandra dan Zelena melangkah masuk ke ruang makan keluarga besar itu, suasana langsung hening beberapa detik. Semua orang memandang ke arah mereka, lebih tepatnya ke arah Zelena. Namun, tidak ada yang menyapa Zelena. Semua hanya tersenyum kepada Jeandra.

“Selamat malam semuanya, maaf sedikit terlambat.” Jeandra menyapa sebelum duduk.

“Nggak apa-apa, Je. Kamu, kan, baru pulang dari kantor. Bukan pengangguran yang kerjanya hanya tidur seharian,” jawab ibu Jeandra.

Zelena tahu, sindiran itu ditujukan padanya. Ia memilih untuk tidak menanggapi.

“Zelena, kamu pucat,” komentar Tante Wita, salah seorang tante Jeandra. Namun, nadanya bukannya khawatir, melainkan mengejek. “Apa karena terlalu banyak tidur ya, Zel? Itu sebabnya kamu nggak bisa hamil. Tidur-tiduran terus nggak baik untuk kesehatan. Harus aktif, harus sehat. Jangan malas. Perempuan yang malas rahimnya juga jadi malas.”

Telinga Zelena terasa panas oleh hinaan itu. Apalagi beberapa orang tampak tertawa.

“Aku nggak malas, Tante. Aku lagi—“

“Lagi apa?” potong Tante Wita cepat. “Lagi capek? Lagi nggak enak badan? Ya gimana mau hamil kalau sakit-sakitan terus?”

Zelena diam. Ia tidak malas. Ia tidak tidur-tiduran karena ingin bermanja-manja. Ia sakit. Tubuhnya benar-benar sakit. Tetapi tidak ada yang mau mendengar. Ia berharap Jeandra akan membelanya. Namun, lelaki itu malah sibuk berbicara dengan sepupunya di sebelah.

“Kamu udah ke dokter kandungan belum, Zel?” tanya tante yang lain dengan nada sok prihatin. “Atau kamu takut? Biasanya perempuan yang mandul itu suka paranoid sendiri.”

Zelena tidak mandul. Dulu ia pernah dua kali mengandung, tetapi tidak bertahan lama. Kandungannya yang lemah membuat Zelena mengalami keguguran, juga sebanyak dua kali. Dan ia tidak pernah berani bercerita pada keluarga ini. Karena ia tahu, mereka hanya akan mencemooh dan menyalahkannya, karena pada dasarnya mereka tidak suka pada Zelena. Satu-satunya yang sayang pada Zelena hanyalah nenek Jeandra. Tetapi sayang, wanita tua itu sudah tiada.

“Oh, atau jangan-jangan kamu memang sudah periksa dan hasilnya buruk?” tanya sepupu perempuan Jeandra dengan nada penasaran yang terdengar seperti ingin bergosip. Ia menyipitkan mata menatap Zelena dari atas hingga bawah. “Karena kalau melihat dari kondisi tubuhmu, sepertinya kamu yang bermasalah.”

“Aku sudah—“

“Sudah apa?” potong tante yang lain sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. “Sudah coba? Sudah usaha? Tetapi hasilnya tetap nol, kan? Sudah berapa tahun menikah? Satu? Dua?”

“Tiga tahun,” jawab ibu Jeandra menyela. “Tiga tahun dan masih nggak ada tanda-tanda apa pun.”

“Ya Tuhan, sayang sekali,” ujar Tante Wita sambil menggelengkan kepala. “Jeandra itu laki-laki sempurna. Wajahnya tampan, keuangannya mapan, masa nggak dikaruniai keturunan karena istrinya bermasalah?”

Bibir Zelena bergetar halus. Dengan suara nyaris tidak terdengar ia mencoba menyangkal. “I-itu bukan karena aku nggak—“

“Kamu jangan membantah orang tua,” tegur ibu Jeandra, tatapannya menyorot Zelena dengan tajam. “Perempuan kalau belum bisa memberi keturunan ya harus tahu diri.”

Suasana meja makan kembali dipenuhi gumaman, bisikan, senyum mencemooh, dan tawa kecil, yang semua mengarah pada satu orang, yaitu Zelena.

Situasi itu membuat Zelena sangat tersiksa. Ia masih berharap Jeandra akan membelanya. Tetapi Jeandra tampak tidak peduli.

Sepanjang makan malam berlangsung Zelena terus di-bully atas kekurangannya.

Zelena yang sejak awal tadi makan dengan terpaksa, kini tidak kuat lagi menahan mual.

“Hueeeek ....”

Zelena spontan membekap mulutnya dengan telapak tangan. Dan seluruh mata refleks memandang padanya.

“Nggak sopan kamu, Zelena! Orang lagi makan kamu malah muntah!” bentak ibu mertuanya marah.

Begitu pun Jeandra. Lelaki itu mengirim tatapan dinginnya pada Zelena.

“Maaf, Ma, nggak sengaja. Aku ke toilet dulu.”

Begitu Zelena bangkit dari kursinya, seluruh yang hadir di sana membicarakannya, bahkan Zelena belum sepenuhnya pergi dari sana.

Di kamar mandi, Zelena kembali muntah. Perutnya benar-benar tidak enak. Ia menahan diri agar tidak menangis walau saat ini hatinya sangat sedih dan sakit.

Begitu Zelena selesai membasuh wajahnya, ia menarik napas panjang. Tangannya gemetaran saat meraih gagang pintu kamar mandi. Ia berharap ketika keluar nanti setidaknya suasana sudah sedikit reda.

Pelan-pelan ia membuka pintu. Namun, baru selangkah keluar, Zelena langsung terhenti.

Jeandra berdiri tepat di depan pintu. Menunggu dan menatapnya dengan dingin.

Wajah lelaki itu tampak datar, rahangnya sedikit mengeras, menunjukkan sedikit ketidaksenangan.

“Je, maaf, aku benar-benar nggak sengaja,” cicit Zelena berusaha menjelaskan.

Jeandra tidak menjawab. Tapi tatapannya yang tidak hanya dingin—tapi juga tajam—membuat Zelena ketakutan.

Lelaki itu maju selangkah.

Zelena sontak memundurkan tubuh dan memejamkan mata saat melihat tangan Jeandra terkepal erat.

Mungkin lelaki itu akan menamparnya.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dikejar Cinta Mantan Suami   Part 69

    Hari ini adalah pagi terakhir Jeandra bersama Aira. Sore nanti anak berkulit sawo matang tersebut akan kembali pada Zelena."Makan yang banyak ya," kata Jeandra pada Aira saat mereka sarapan pagi.Anak itu mengangguk patuh.Ketika Jeandra akan menyuapkan oatmeal dengan sendoknya, Aira langsung menolak."Nggak usah disuapin, Pa. Aku bisa sendiri. Aku bukan anak kecil."Celetukan polos putrinya itu membuat Jeandra terkekeh. Ia menarik kembali sendok di tangannya, lalu menyandarkan punggung ke kursi sambil mengamati Aira yang berusaha menyendok oatmeal sendiri dengan wajah serius.“Baru bisa makan sendiri udah sombong,” godanya. “Ini bukan sombong. Ini mandiri.”Jeandra mengangkat alis. “Oh, jadi sekarang kamu sudah mandiri?”“Iya,” jawab Aira cepat. “Mama juga bilang aku sudah besar.”Nama itu—Mama—membuat gerakan Jeandra terhenti sepersekian detik. Tangannya yang sedang meraih cangkir kopi berhenti di udara, lalu perlahan melanjutkan gerakan seolah tidak terjadi apa-apa.Rosalia menya

  • Dikejar Cinta Mantan Suami   Part 68

    Di dalam unitnya, Zelena masih berdiri di tempat yang sama. Ada sedikit perasaan bersalah di hatinya karena baru saja mematahkan hati seseorang. Selama beberapa detik ia hanya bisa berdiri terpaku dengan punggung bersandar ke pintu unitnya tanpa dirinya tahu bahwa di balik pintu tersebut Nayaka juga ada di sana.'Aku nggak salah, kan?' bisik Zelena di dalam hati guna meyakinkan dirinya sendiri.Tapi dadanya tetap sesak.Bayangan wajah Nayaka saat menutup kotak cincin itu terulang. Perasaan kecewa yang begitu dalam terlukis begitu jelas di wajah lelaki itu meskipun Nayaka mencoba menyembunyikannya.Zelena mengusap muka, lalu melangkah pelan menuju sofa. Ia duduk, memeluk lutut, menatap kosong ke arah hujan di balik jendela. Ia tahu penolakannya benar. Ia juga tahu penolakannya menyakitkan.Setelah sekian menit Zelena akhirnya bangkit. Ia melangkah ke kamar dan berbaring di ranjang. Tapi matanya tidak bisa dipejamkan. Bagaimana mungkin ia bisa tidur setelah mematahkan hati orang?Zele

  • Dikejar Cinta Mantan Suami   Part 67

    Zelena menutup laptop. Ia baru saja membalas email dari klien. Tubuhnya terasa pegal. Bahu dan lehernya kaku karena terlalu lama duduk dan menatap layar. Setelah ini ia bermaksud untuk langsung tidur. Apalagi di luar sana hujan yang turun rintik-rintik mengirim udara dingin sangat mendukung untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.Ia beranjak dari sofa, mematikan lampu utama, menyisakan cahaya temaram dari lampu lantai di sudut ruang tamu. Hari ini terlalu panjang untuk diingat ulang.Baru saja ia melangkah menuju kamar, bel berbunyi.Zelena langsung memandang ke arah pintu dan mengesahkan napas. Baru juga mau istirahat.Melangkahkan kakinya, pintu Zelena buka dan seketika ia langsung dihadapkan pada presensi Nayaka."Malam, Zel. Aku mengganggu?" ujar lelaki itu."Udah mau tidur sih," jawab Zelena jujur. "Kenapa, Ka?""Oh, kalau gitu besok aja," jawab Nayaka agak kecewa. Sebelah tangannya yang berada di saku celana meremas kotak cincin. Rasa-rasanya ia tidak sanggup menunda sampai

  • Dikejar Cinta Mantan Suami   Part 66

    Zelena sedang sibuk di depan laptop ketika ponselnya bergetar di sebelah benda itu.Satu pesan masuk. Melalui bilah notifikasi ia bisa melihat bahwa pesan tersebut adalah dari Jeandra. Yang ada di pikiran Zelena adalah bahwa setiap kali Jeandra menghubunginya itu adalah berkaitan dengan Aira. Jadi ia langsung membukanya.[Zel, kamu udah makan siang?]Zelena menatap layar handphone beberapa detik. Jarinya sempat menggantung sebelum akhirnya membalas.[Belum. Lagi sibuk kerja. Nggak sempat keluar.]Balasannya terkirim. Zelena menghela napas, lalu kembali menatap layar laptop dan memusatkan perhatian pada pekerjaannya. Ia harus mengejar deadline seorang kliennya. Ponselnya kembali bergetar tak sampai satu menit kemudian.Masih dari Jeandra.[Kenapa nggak bilang dari tadi?][Buat apa?]Tidak ada lagi balasan dari Jeandra. Zelena mengira percakapan itu sudah selesai. Ia mencoba kembali fokus pada desain di depannya. Tapi pikirannya sudah terlanjur terdistraksi.Tiga puluh menit kemudian,

  • Dikejar Cinta Mantan Suami   Part 65

    Zelena tidak mengerti apa yang dilakukan Jeandra. Kenapa lelaki itu mendekat justru setelah mereka berpisah. Setelah jarak yang susah payah ia bangun terancam runtuh begitu saja.Ia hanya bisa menghela napas melihat mobil Jeandra di belakang melalui kaca spion. Mungkin lelaki itu juga akan ikut makan bersamanya dan Nayaka. Itu yang ada di pikiran Zelena sekarang.Nyatanya dugaan Zelena salah. Alih-alih akan ikut ke dalam restoran dan makan, Jeandra kembali keluar dari area restoran dan melaju kencang meninggalkannya."Kok dia pergi lagi?" Nayaka bertanya heran.Zelena tidak langsung menjawab. Pandangannya masih tertambat pada jalanan di depan restoran, pada titik kosong tempat mobil Jeandra tadi melintas lalu menghilang. “Mungkin dia memang cuma mau memastikan aku sampai di sini,” jawab Zelena akhirnya, meski ia sendiri tidak sepenuhnya yakin.Nayaka mendengkus halus. “Aneh. Kalau memang niatnya cuma itu, kenapa ribet amat?”Zelena tersenyum tipis. Ia tahu Nayaka tidak benar-benar m

  • Dikejar Cinta Mantan Suami   Part 64

    Ekspresi Nayaka seketika berubah setelah melihat wajah Jeandra muncul di layar, apalagi mendengar kata-katanya barusan. "Maaf, Pak Jeandra. Saya masih menghargai Anda. Sekarang tolong berikan handphone pacar saya." Nayaka berujar kesal.Ucapan Nayaka membuat telinga Jeandra panas karena lelaki itu terang-terangan menunjukkan kepemilikannya."Zelena sedang bekerja dengan saya. Dia nggak bisa diganggu."Nada itu. Cara dia menyebut nama Zelena seolah memiliki.Nayaka tersenyum sinis. “Dia pacar saya. Status itu lebih penting daripada sekadar klien.”Jeandra terkekeh pelan. Bukan kekehan geli tapi meremehkan. “Status pacar nggak bisa membayar tagihan, Nayaka. Saya yang membayar Zelena. Mahal. Jadi selama jam kerja waktunya milik saya.”Zelena tersentak. “Je!”Nayaka langsung membalas. Nada suaranya meninggi begitu saja. “Jaga mulut Anda, Pak. Dia bukan barang yang bisa Anda klaim seenaknya!”Jeandra mendekatkan wajah ke kamera. Tatapannya tajam dan mengintimidasi. “Dan kamu jangan sok m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status