MasukZelena tentu terkejut mendengar ucapan Jeandra. Dari isi perkataan suaminya seolah-olah dia sangat mengenal perempuan itu cukup lama.“Jadi kamu kenal dia? Kenapa kamu hafal jam tangannya? Memangnya kamu lihat di mana? Siapa orang itu, Je?” rentet Zelena bertubi-tubi.“Dia Valerie, Zel," jawab Jeandra setelah helaan napas berat.Zelena tersentak kaget. “Valerie? Sahabat kamu sekaligus pacar yang nggak pernah mau kamu akui?”“Aku nggak pernah pacaran sama dia,” bantah Jeandra. “Kami memang dekat tapi nggak ada hubungan lebih dari itu.”Perasaan sakit kembali merayapi hati Zelena ketika ingat dulu Jeandra lebih mengutamakan dan meratukan Valerie. Padahaljelas-jelas Zelena istrinya. Tapi ia tidak memberi izin pada rasa itu untuk merusak kebahagiaannya. Semua sudah lewat. Zelena sudah berdamai dengan masa lalu.“Kalau aku jujur, kamu jangan marah ya, Sayang,” imbuh Jeandra tidak enak hati lantaran tidak ingin melukai Zelena lagi.“Ya, aku nggak akan marah. Bilang aja, Je.”“Soal jam tang
Setelah mendapatkan penanganan, kondisi Aira stabil dengan cepat. Karena tidak ada demam tinggi atau tanda infeksi sistemik yang membahayakan, dokter mengizinkan Aira pulang dengan syarat obat-obatan harus diminum di rumah dan apabila terjadi kondisi darurat harus segera dibawa secepatnya ke rumah sakit.Jadi, mereka pulang ke rumah malam itu juga.Mobil Nayaka berhenti di rumah tepat sebelum subuh. Aira sudah tertidur lelap di pangkuan Kavita. Wajahnya masih sangat pucat namun napasnya sudah teratur.Nayaka menggendong Aira dan melangkah masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Kavita yang berjalan gontai karena kelelahan luar biasa. Begitu sampai di kamar, Nayaka meletakkan Aira dengan sangat hati-hati di atas tempat tidur, menyelimutinya hingga sebatas dada.Kavita memandangi Nayaka dari belakang. Ada rasa kagum yang menyeruak di hatinya melihat bagaimana pria itu begitu lembut memperlakukan keponakannya."Om," panggil Kavita.Nayaka menoleh, memberikan isyarat agar mereka bicara di
Jeandra tidak segera menjawab. Ia mengambil ponsel Zelena, meletakkannya di meja, lalu merengkuh bahu istrinya."Zel, tenang dulu. Kalau itu orang suruhan Mama, dia nggak akan seceroboh itu menyerang ke sekolah Aira.”"Terus siapa, Je? Aku takut. Untuk apa coba orang itu ngasih kue sampai boneka?" Zelena meremas ujung kemeja Jeandra. "Gimana kalau dia orang jahat? Gimana kalau itu modus penculikan?"Jeandra menggeleng menidakkan dugaan Zelena. Ia langsung mengambil ponselnya sendiri dan men-dial sebuah nomor. "Beryl," sapa Jeandra begitu telepon diangkat. "Besok pagi sebelum ke kantor kamu jemput Aira, pastikan dia masuk ke sekolah dengan aman. Sebelum jam pulang sekolah, kamu harus stand by di sana setengah jam sebelumnya. Kamu perhatikan apa ada perempuan berhijab dengan kacamata hitam yang menemui Aira. Cari tahu dia datang pakai kendaraan apa, plat nomornya berapa. Saya mau data lengkapnya."Di seberang sana, Beryl terdengar sigap mengiyakan. Jeandra menutup telepon, lalu kem
Setelah panggilan video berakhir, Jeandra menarik tangannya yang tadi sempat berbuat nakal, namun ia tidak membiarkan Zelena menjauh. Ia membalikkan tubuh istrinya hingga mereka berdiri berhadapan."Je, kamu tuh benar-benar ya. Nayaka pasti canggung banget tadi," ujar Zelena dengan napas yang masih sedikit memburu karena tawa dan godaan Jeandra.Jeandra hanya tersenyum tipis, sorot matanya yang dalam menatap Zelena dengan penuh kepemilikan. "Aku cuma mau dia tahu, dan dunia tahu, kalau istriku ini lagi bahagia. Dan aku yang akan memastikan kebahagiaan itu nggak akan pernah hilang." Ia kemudian menangkup wajah Zelena dengan kedua tangannya. "Kamu dengar, kan, tadi? Nayaka janji mau bantu urus Aira. Jadi, nggak ada alasan lagi buat kamu ngerasa khawatir. Sekarang, fokusnya cuma satu, yaitu kita."Zelena mengangguk. Sebelum ia sempat berkata lagi, Jeandra sudah menariknya ke tempat tidur.***Malam harinya, resort tersebut menyiapkan private dinner untuk mereka di sebuah dek kayu ya
Begitu roda pesawat menyentuh landasan Bandara Ngurah Rai, udara khas Bali langsung menyapa. Jeandra menggandeng tangan Zelena dengan erat saat mereka berjalan menuju area penjemputan. Di sana, seorang staf dari resort mewah di Uluwatu sudah menunggu dengan papan nama dan senyum ramah.Perjalanan menuju selatan Bali terasa sangat menenangkan. Begitu memasuki area Uluwatu, pemandangan tebing kapur dan hamparan Samudera Hindia mulai terlihat. Mobil akhirnya berhenti di depan lobi resort, sebuah mahakarya arsitektur yang bertengger di bibir tebing. Aromaterapi yang memenuhi area lobi seketika menyerbu indra penciuman mereka.Staf resort mengantar mereka menuju private villa dengan infinity pool yang airnya seolah menyatu dengan cakrawala biru. Zelena melangkah ke balkon, membiarkan angin laut memainkan rambutnya. Jeandra datang dari belakang, melingkarkan lengannya di pinggang Zelena.Zelena memutar tubuhnya, menatap mata Jeandra yang teduh. "Aku suka view-nya, Je, cantik banget.”
Zelena dan Jeandra akhirnya menggunakan hadiah pernikahan dari Nayaka. Hari ini mereka akan berangkat ke Bali. Di saat Jeandra dibantu Beryl memasukkan koper ke dalam mobil, Zelena sedang memeluk Aira erat-erat."Aira sama Tante Kavita dulu ya. Nggak lama kok. Nanti Mama bawain hadiah yang banyak," ujar Zelena sambil menciumi pipi putrinya.“Tapi nanti siapa yang ngantar aku sekolah, Ma?” tanya anak itu.“Nanti sama Om Beryl sama Tante Kavita.”“Sama Om Nayaka juga,” sambar Kavita ikut masuk ke dalam pembicaraan.Zelena sempat tertegun sejenak mendengar nama itu disebut, sementara Jeandra yang baru saja masuk untuk menjemput koper terakhir langsung menghentikan langkahnya. Matanya menyipit menatap Kavita."Kenapa jadi ada Nayaka?" tanya Jeandra dengan nada selidik yang tidak bisa ia sembunyikan.Kavita tertawa kecil, berusaha menyembunyikan kegugupannya. “Ya maksudku dia, kan, orang kepercayaan juga. Jadi apa salahnya?”“Tapi nggak mungkin juga Nayaka terlibat terlalu jauh sampai m







