LOGINBeberapa hari berlalu setelah keluarga Kimberly menerima konsekuensi atas apa yang mereka lakukan.Untuk pertama kalinya setelah minggu-minggu yang berat, Nathan dan Loraine benar-benar terasa tenang.Pagi itu, Loraine berdiri di depan meja makan sambil memperhatikan Nathan yang masih membaca sesuatu di tablet.“Bukankah kau bilang sudah tidak mau membuka pekerjaan saat sarapan?”Nathan mengangkat wajah. “Aku tidak sedang bekerja.”Loraine menunjuk layar di tangannya. “Lalu itu apa?”Nathan melihat tabletnya sendiri sebelum tersenyum santai. “Laporan.”“Laporan itu pekerjaan.”“Ini hanya lima menit.”Loraine menarik napas panjang lalu mengambil tablet tersebut dari tangannya.“Nathan.”“Loraine.”“Sudah.”Nathan menatap istrinya yang dengan tenang meletakkan tablet itu jauh dari jangkauannya. “Kau sekarang mulai mengatur ya.”“Apa tak boleh?”Nathan tertawa kecil. “Baiklah. Aku menyerah.”Loraine kembali duduk di hadapannya. “Bagus.”Nathan memperhatikannya beberapa detik sebelum berk
Pagi itu, sebelum ayah Kimberly sempat melakukan apa pun terhadap bukti yang masih tersisa, suara ketukan keras terdengar dari pintu rumahnya.Pria itu baru saja turun dari tangga ketika beberapa orang berseragam berdiri di hadapannya dengan surat perintah penangkapan. Wajahnya seketika berubah saat salah satu penyidik menyebut namanya dan mengatakan bahwa ia diperiksa atas dugaan keterlibatan dalam rekayasa kecelakaan bus dua puluh tahun lalu.“Apa maksud kalian?” tanyanya dengan suara berat.“Kami memiliki cukup bukti untuk membawa Anda ke kantor kepolisian.”Pria itu sempat mencoba membantah, tetapi tidak ada lagi ruang untuk berkelit. Kesaksian mantan pekerja bengkel, catatan pembayaran, dokumen perusahaan, serta pengakuan Kimberly telah membentuk rangkaian bukti yang tidak mudah dipatahkan.Untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun, pria yang selama ini bersembunyi di balik nama besar keluarganya akhirnya dibawa pergi dengan tangan terikat. Dan kali ini, tidak ada seorang pun
Pagi berikutnya, suasana di rumah utama keluarga Green terasa jauh lebih berat daripada biasanya.Tidak ada percakapan santai seperti hari-hari sebelumnya. Para anggota keluarga yang mengetahui Kimberly sedang diperiksa polisi memilih diam, sementara August sejak pagi belum kembali ke rumah setelah meninggalkan kantor kepolisian tempat istrinya menjalani pemeriksaan lanjutan.~Di tempat lain di ruang keluarga West, Nathan duduk bersama Loraine, Clara, Daniel, Adrian, dan Daisy. Tidak seorang pun berbicara sampai suara pintu terbuka.Jackson masuk sambil membawa sebuah map tebal di tangannya.Nathan langsung menatapnya. “Bagaimana?”Jackson berjalan mendekat dan meletakkan map tersebut di atas meja. “Kami menemukan bukti terakhir yang kami butuhkan.”Adrian yang sejak tadi diam langsung mengangkat wajah. “Bukti apa?”Jackson membuka map itu perlahan. “Mantan pekerja bengkel yang saya ceritakan sebelumnya akhirnya memberikan keterangan lengkap. Setelah melihat kembali salinan surat pem
Ruangan pemeriksaan itu terasa jauh lebih dingin daripada yang Kimberly bayangkan.Ia duduk di salah satu sisi meja dengan seorang pengacara di sampingnya. Di seberang mereka, dua penyidik membuka beberapa map berisi dokumen yang sudah dikumpulkan selama penyelidikan ulang kecelakaan bus dua puluh tahun lalu. Kimberly berusaha mempertahankan wajah tenangnya, tetapi kedua tangannya yang sejak tadi saling menggenggam terlalu erat menunjukkan hal yang berbeda.“Sekali lagi kami tegaskan, Nyonya Kimberly. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memperoleh keterangan Anda mengenai sejumlah bukti yang ditemukan dalam penyelidikan ulang,” ujar penyidik di depannya.Kimberly mengangguk pelan. “Saya mengerti.”Penyidik membuka dokumen pertama.“Pada pemeriksaan kendaraan sebelum kecelakaan, tidak ditemukan kerusakan serius pada sistem pengereman bus tersebut. Namun setelah kecelakaan, ditemukan kerusakan yang cukup parah pada bagian yang sama.”Kimberly hanya diam.“Apakah Anda mengetahui hal tersebut
Pagi itu, rumah utama keluarga Green yang biasanya tenang mendadak kedatangan beberapa orang berseragam polisi.Beberapa pelayan yang sedang berada di ruang depan saling berpandangan ketika dua polisi masuk bersama seorang penyidik. Mereka tidak datang untuk sekedar bertamu, karena salah satu dari mereka membawa sebuah map berwarna cokelat yang sejak tadi berada erat di tangannya.“Maaf mengganggu. Kami ingin bertemu dengan Nyonya Kimberly,” ujar salah satu polisi.Kakek Green yang kebetulan sedang duduk di ruang keluarga langsung mengernyitkan dahi. “Ada urusan apa polisi datang ke rumah saya?”“Kami membawa surat perintah pemeriksaan terkait penyelidikan kecelakaan bus dua puluh tahun lalu.”Suasana seketika berubah.Nenek Green yang duduk tidak jauh dari Kakek langsung menatap polisi itu dengan wajah terkejut. Sementara beberapa anggota keluarga yang sedang berada di ruangan tersebut mulai saling berbisik.“Kecelakaan dua puluh tahun lalu?” ulang Kakek dengan suara berat.“Benar, T
Setelah berbicara dengan Jackson, Nathan dan Loraine sepakat bahwa Daisy dan Adrian serta orang tuanya harus diberi tahu setidaknya mengenai adanya kejanggalan dalam kecelakaan dua puluh tahun lalu. Namun, Nathan sengaja tidak membawa semua dokumen yang ditemukan Jackson karena ia tidak ingin membuat kesimpulan sebelum seluruh bukti benar-benar diperiksa.Mereka akhirnya tiba di kediaman West menjelang malam. Begitu pintu dibuka, Aurora langsung muncul dengan wajah ceria."Kak Loraine!"Loraine tersenyum ketika gadis itu langsung menghampirinya. "Aurora.""Kok pulang cepat? Bukannya seharusnya masih honeymoon?"Nathan menghela napas kecil. "Pertanyaan pertama setelah melihat kami adalah itu?"Aurora mengangguk polos. "Kan penasaran."Darren yang berdiri beberapa langkah di belakangnya hanya menggeleng. "Dia sudah bertanya begitu sejak tahu kalian pulang.""Karena Kak Loraine belum bawa oleh-oleh,” sela Aurora. Loraine tertawa kecil. "Nanti Kakak kasih.""Nah, itu baru alasan pulang."







