LOGINNathan duduk tegak di samping Loraine, memperhatikan setiap gerakan dokter yang sedang memeriksa berkas pemeriksaan istrinya. Sejak memasuki ruangan itu, ia sudah mengajukan begitu banyak pertanyaan hingga Loraine beberapa kali harus menyentuh lengannya untuk mengingatkan agar suaminya memberi kesempatan kepada dokter untuk berbicara.
“Dok, apakah ada kemungkinan istri saya benar-benar hamil?” tanya Nathan untuk kesekian kalinya.Dokter itu tersenyum maklum. “Kemungkinan ituNathan duduk tegak di samping Loraine, memperhatikan setiap gerakan dokter yang sedang memeriksa berkas pemeriksaan istrinya. Sejak memasuki ruangan itu, ia sudah mengajukan begitu banyak pertanyaan hingga Loraine beberapa kali harus menyentuh lengannya untuk mengingatkan agar suaminya memberi kesempatan kepada dokter untuk berbicara.“Dok, apakah ada kemungkinan istri saya benar-benar hamil?” tanya Nathan untuk kesekian kalinya.Dokter itu tersenyum maklum. “Kemungkinan itu memang ada, Tuan Nathan. Namun, kita perlu menunggu hasil pemeriksaan untuk memastikannya.”Nathan mengangguk serius, lalu kembali menatap Loraine. “Sayang, kau merasa baik-baik saja? Tidak pusing? Tidak mual? Perutmu tidak sakit?”Loraine menoleh dengan tatapan geli. “Nathan, aku baik-baik saja. Sepertinya kau yang lebih membutuhkan pemeriksaan daripada aku.”“Aku serius.”“Aku juga serius. Sejak tadi kau menanyakan hal yang sama berulang kali.”Nat
Mobil melaju membelah jalanan kota menuju rumah sakit. Di kursi belakang, Nathan masih menyandarkan kepalanya di bahu Loraine, sementara jemarinya menggenggam tangan sang istri seolah-olah perempuan itu satu-satunya obat yang bisa menyembuhkan penyakitnya.“Sayang, kepalaku masih terasa berat,” keluh Nathan pelan.Loraine menoleh, lalu mengusap rambut suaminya dengan lembut. “Sebentar lagi kita sampai. Nanti ayah akan memeriksamu, jadi bersabarlah.”Nathan mengangkat wajahnya sedikit. “Kau akan terus menemaniku, kan?”“Tentu saja.”“Jangan pergi ke mana-mana.”Loraine terkekeh. “Aku ini istrimu. Memangnya aku mau pergi ke mana?”“Bagus.” Nathan kembali menyandarkan kepalanya di bahu Loraine. “Kalau begitu, aku bisa tenang.”Di kursi pengemudi, Jackson nyaris menggigit lidahnya sendiri demi menahan komentar. Ia sudah mengenal Nathan selama bertahun-tahun, tetapi belum pernah sekalipun melihat pria itu bersikap seperti anak kecil yang takut ditinggal ibunya.“Pria ini benar-benar sudah
“Apa sebaiknya kita panggil ambulans saja?”Ucapan Loraine membuat Nathan terdiam sejenak di dalam kamar mandi. Beberapa detik kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Ia keluar dengan wajah yang masih sedikit pucat, lalu menatap Loraine dan Jackson bergantian.“Ambulans?” tanyanya. Loraine langsung berdiri. “Apa yang kau rasakan?”Nathan menghela napas. “Tidak perlu sampai ambulans.”Jackson yang sejak tadi terlihat cemas langsung mendekat. “Tapi Anda muntah dan sekarang wajah Anda juga pucat.”“Aku hanya merasa tidak enak badan.”“Justru itu—”“Jackson.”Jackson langsung diam.Nathan berjalan menuju mejanya lalu duduk di kursi. “Reschedule semua jadwalku hari ini.”Jackson mengangguk. “Baik.”“Dan jangan masukkan rapat apa pun.”“Baik, Pak.”Nathan kemudian menatap Loraine. “Kau tetap di sini.”Loraine mengerutkan kening. “Apa ada yang bisa kubantu?”“Aku tidak ingin sendirian.”Jackson yang berdiri di samping mereka langsung menatap langit-langit.“Ya Tuhan,” batinnya. Ia mulai meras
Loraine akhirnya kembali bekerja. Pagi itu, ia duduk di meja kerjanya yang berada tepat di luar ruangan Nathan. Di seberangnya, Jackson sudah sibuk memeriksa beberapa dokumen yang menumpuk. “Selamat datang kembali di dunia kerja,” ucap Jackson tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputernya. Loraine tertawa kecil. “Terima kasih.” “Bagaimana rasanya kembali?” “Lumayan.” Jackson meliriknya. “Tidak merasa ingin kembali libur?” “Kalau bisa, tentu saja.” Jackson mengangguk setuju. “Jawaban yang sangat jujur.” Loraine baru saja membuka salah satu dokumen ketika pintu ruangan Nathan terbuka. “Bu Loraine.” Loraine langsung menoleh. “Ya, Pak?” “Bisa masuk sebentar?” “Baik.” Loraine bangkit dari kursinya dan membawa sebuah map sebelum masuk ke ruangan Nathan. Jackson memperhatikan pintu yang kembali tertutup. Ia kemudian melihat jam. Lima belas menit telah berlalu. Jackson kembali menatap pintu itu. “Mentang-mentang sudah resmi menikah, sekarang terang-terangan berduaan,” gerut
Beberapa hari berlalu setelah keluarga Kimberly menerima konsekuensi atas apa yang mereka lakukan.Untuk pertama kalinya setelah minggu-minggu yang berat, Nathan dan Loraine benar-benar terasa tenang.Pagi itu, Loraine berdiri di depan meja makan sambil memperhatikan Nathan yang masih membaca sesuatu di tablet.“Bukankah kau bilang sudah tidak mau membuka pekerjaan saat sarapan?”Nathan mengangkat wajah. “Aku tidak sedang bekerja.”Loraine menunjuk layar di tangannya. “Lalu itu apa?”Nathan melihat tabletnya sendiri sebelum tersenyum santai. “Laporan.”“Laporan itu pekerjaan.”“Ini hanya lima menit.”Loraine menarik napas panjang lalu mengambil tablet tersebut dari tangannya.“Nathan.”“Loraine.”“Sudah.”Nathan menatap istrinya yang dengan tenang meletakkan tablet itu jauh dari jangkauannya. “Kau sekarang mulai mengatur ya.”“Apa tak boleh?”Nathan tertawa kecil. “Baiklah. Aku menyerah.”Loraine kembali duduk di hadapannya. “Bagus.”Nathan memperhatikannya beberapa detik sebelum berk
Pagi itu, sebelum ayah Kimberly sempat melakukan apa pun terhadap bukti yang masih tersisa, suara ketukan keras terdengar dari pintu rumahnya.Pria itu baru saja turun dari tangga ketika beberapa orang berseragam berdiri di hadapannya dengan surat perintah penangkapan. Wajahnya seketika berubah saat salah satu penyidik menyebut namanya dan mengatakan bahwa ia diperiksa atas dugaan keterlibatan dalam rekayasa kecelakaan bus dua puluh tahun lalu.“Apa maksud kalian?” tanyanya dengan suara berat.“Kami memiliki cukup bukti untuk membawa Anda ke kantor kepolisian.”Pria itu sempat mencoba membantah, tetapi tidak ada lagi ruang untuk berkelit. Kesaksian mantan pekerja bengkel, catatan pembayaran, dokumen perusahaan, serta pengakuan Kimberly telah membentuk rangkaian bukti yang tidak mudah dipatahkan.Untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun, pria yang selama ini bersembunyi di balik nama besar keluarganya akhirnya dibawa pergi dengan tangan terikat. Dan kali ini, tidak ada seorang pun







